Bangunan Ikonik

Masjid Agung Tuban

di Tuban, Jawa Timur

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Kemegahan Akulturasi Visual: Arsitektur Masjid Agung Tuban di Jawa Timur

Masjid Agung Tuban bukan sekadar tempat ibadah; ia adalah narasi visual tentang sejarah panjang perdagangan, penyebaran agama, dan keberanian estetika di pesisir utara Jawa. Terletak strategis di jantung Kabupaten Tuban, tepatnya di sebelah barat Alun-alun dan berdekatan dengan kompleks makam Sunan Bonang, masjid ini berdiri sebagai ikon yang memadukan romantisme arsitektur Timur Tengah, India, dan Eropa tanpa meninggalkan akar budayanya sebagai simbol kejayaan Islam di "Kota Wali".

#

Konteks Historis dan Evolusi Pembangunan

Akar sejarah Masjid Agung Tuban membentang hingga abad ke-15. Didirikan pertama kali pada tahun 1894 oleh Bupati Tuban ketujuh, Raden Tumenggung Kusumodikoro, masjid ini awalnya memiliki struktur yang jauh lebih sederhana. Namun, transformasi radikal yang kita saksikan hari ini adalah hasil dari renovasi besar-besaran pada tahun 2004 oleh Pemerintah Kabupaten Tuban.

Perancang di balik kemegahan modern Masjid Agung Tuban adalah arsitek Andra Matin, yang meskipun dikenal dengan gaya minimalisnya, dalam proyek ini berhasil menerjemahkan keinginan masyarakat Tuban untuk memiliki rumah ibadah yang megah dan "bercerita". Renovasi tersebut tidak hanya memperluas area bangunan tetapi juga mengubah total fasadnya menjadi lebih berwarna dan eklektik, sebuah langkah berani yang sempat memicu diskusi arsitektural di tingkat nasional.

#

Filosofi Desain dan Gaya Arsitektur

Secara visual, Masjid Agung Tuban sering dijuluki sebagai "Masjid Seribu Satu Malam". Arsitekturnya mengadopsi gaya Indo-Saracenic yang dipadukan dengan elemen ornamen khas Persia dan Moorish. Keunikan paling mencolok terletak pada penggunaan warna-warna berani seperti biru, hijau, kuning, dan merah pada bagian kubah dan menaranya, yang sangat kontras dengan masjid-masjid kuno di Jawa yang biasanya didominasi warna terakota atau putih.

Desain masjid ini memecah tradisi atap tumpang (tajug) tradisional Jawa. Sebagai gantinya, arsitek menghadirkan kubah-kubah besar berbentuk bawang yang berlapis keramik warna-warni. Struktur ini mengingatkan pada keanggunan Taj Mahal di India atau Masjid Biru di Istanbul, namun dengan skala dan detail yang disesuaikan dengan konteks pesisir Tuban.

#

Elemen Struktural dan Inovasi Visual

Bangunan utama masjid terdiri dari dua lantai dengan area salat yang luas. Bagian eksteriornya ditandai dengan keberadaan enam menara yang menjulang tinggi. Menara-menara ini bukan hanya berfungsi sebagai tempat pengeras suara azan, tetapi juga sebagai penanda visual kota (landmark) yang dapat dilihat dari kejauhan.

Pintu masuk masjid mengadopsi bentuk lengkungan (arch) khas arsitektur Islam Timur Tengah yang dihiasi dengan pola geometris yang rumit. Salah satu fitur unik yang dipertahankan dari struktur lama adalah beberapa pilar kayu dan ukiran internal yang melambangkan penghormatan terhadap sejarah awal berdirinya masjid. Di dalam ruang utama, pengunjung akan disambut oleh langit-langit tinggi dengan ornamen kaligrafi yang melingkar di bawah kubah utama, menciptakan efek akustik dan visual yang megah.

Lantai masjid menggunakan marmer berkualitas tinggi yang memberikan kesan sejuk di tengah cuaca pesisir Tuban yang cenderung panas. Jendela-jendela besar dengan kaca patri atau teralis besi berpola bintang (star pattern) memastikan sirkulasi udara dan pencahayaan alami masuk dengan optimal, menciptakan permainan cahaya yang dramatis di dalam ruangan pada saat siang hari.

#

Akulturasi Budaya dalam Detail Ornamen

Meskipun tampak sangat dipengaruhi gaya luar, Masjid Agung Tuban tetap menyisipkan identitas lokal. Di beberapa sudut interior, terdapat pengaruh ukiran khas Jawa yang halus. Penggunaan warna-warni pada kubah juga dapat diinterpretasikan sebagai representasi karakter masyarakat pesisir yang terbuka, dinamis, dan ekspresif.

Keberadaan masjid yang berdampingan dengan Alun-alun dan makam Sunan Bonang menciptakan sebuah tata kota "Catur Gatra Tunggal" yang khas kerajaan Islam di Jawa, di mana pusat kekuasaan (pendopo), pusat ibadah (masjid), pusat ekonomi (pasar), dan ruang publik (alun-alun) saling terintegrasi. Hal ini menunjukkan bahwa secara arsitektural, masjid ini tetap memegang prinsip tata ruang tradisional meskipun kulit luarnya tampak sangat modern dan kosmopolitan.

#

Signifikansi Sosial dan Pengalaman Pengunjung

Bagi masyarakat Tuban, masjid ini adalah kebanggaan kolektif. Secara sosial, ia menjadi titik temu bagi ribuan peziarah yang datang ke makam Sunan Bonang. Arsitekturnya yang mencolok menjadi daya tarik wisata religi (religious tourism) yang signifikan bagi Kabupaten Tuban, meningkatkan perekonomian lokal di sekitar area masjid.

Pengalaman pengunjung saat memasuki kompleks masjid dimulai dari gerbang yang megah, diikuti oleh pelataran luas yang sering digunakan untuk kegiatan kemasyarakatan. Pada malam hari, sistem pencahayaan (lighting) yang dirancang khusus membuat kubah-kubah masjid berpendar, menciptakan siluet yang sangat fotogenik. Interior yang luas dan megah memberikan suasana khusyuk namun juga mengintimidasi dalam arti positif—mengingatkan manusia akan keagungan Sang Pencipta melalui keindahan karya arsitektur.

#

Kesimpulan: Warisan Masa Depan

Masjid Agung Tuban adalah bukti bahwa arsitektur Islam di Indonesia terus berevolusi. Ia tidak takut untuk meminjam elemen-elemen estetika dari berbagai belahan dunia dan menyatukannya ke dalam satu harmoni visual yang unik. Keberanian dalam pemilihan warna, kemegahan struktur kubah, dan integrasi dengan situs sejarah Sunan Bonang menjadikan masjid ini salah satu pencapaian arsitektur religi yang paling menonjol di Jawa Timur.

Sebagai bangunan ikonik, Masjid Agung Tuban berhasil menjalankan dua fungsi sekaligus: sebagai ruang sakral untuk berdialog dengan Tuhan, dan sebagai ruang budaya yang menunjukkan betapa kayanya proses akulturasi di tanah Jawa. Ia tetap berdiri kokoh sebagai penjaga tradisi sekaligus wajah modernitas Tuban di masa kini dan masa depan.

📋 Informasi Kunjungan

address
Jl. Bonang, Kutorejo, Kec. Tuban, Kabupaten Tuban
entrance fee
Gratis
opening hours
Buka 24 jam

Tempat Menarik Lainnya di Tuban

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Tuban

Pelajari lebih lanjut tentang Tuban dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Tuban