Makam Sunan Bonang
di Tuban, Jawa Timur
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Jejak Dakwah dan Arsitektur Makam Sunan Bonang: Simbol Sinkretisme Islam di Tuban
Makam Sunan Bonang bukan sekadar kompleks pemakaman religi, melainkan sebuah monumen sejarah yang merekam jejak transisi peradaban dari era Hindu-Buddha menuju era Islam di Nusantara. Terletak di Kelurahan Kutorejo, pusat Kabupaten Tuban, Jawa Timur, situs ini berdiri kokoh di belakang Masjid Agung Tuban, menjadi saksi bisu perjuangan salah satu anggota Walisongo yang paling berpengaruh dalam penyebaran Islam melalui jalur budaya.
#
Asal-Usul dan Sosok Sunan Bonang
Sunan Bonang, yang memiliki nama asli Raden Makdum Ibrahim, lahir sekitar tahun 1465 Masehi. Beliau adalah putra dari Sunan Ampel (Raden Rahmat) dan Nyai Ageng Manila. Nama "Bonang" sendiri diambil dari sebuah desa di daerah Rembang, namun ada pula yang mengaitkannya dengan instrumen musik "Bonang" dalam perangkat gamelan yang ia gunakan sebagai sarana dakwah.
Sunan Bonang dikenal sebagai ulama yang sangat intelektual dan piawai dalam seni. Beliau adalah pencipta tembang Tombo Ati yang melegenda dan penggubah perangkat gamelan untuk memasukkan nilai-nilai tauhid ke dalam telinga masyarakat Jawa tanpa kekerasan. Kewafatan beliau pada tahun 1525 Masehi sempat memicu perselisihan antara pengikutnya di Tuban dan Rembang (Lasem). Konon, sejarah mencatat adanya upaya perebutan jenazah, yang akhirnya mengakibatkan keberadaan dua makam yang diyakini sebagai makam beliau, namun situs di Tuban inilah yang secara administratif dan historis diakui sebagai lokasi pemakaman utama.
#
Arsitektur: Harmonisasi Gaya Majapahit dan Islam
Salah satu keunikan yang paling menonjol dari Makam Sunan Bonang adalah gaya arsitekturnya yang sangat kental dengan nuansa akulturasi. Berbeda dengan kompleks pemakaman modern, situs ini mempertahankan struktur bangunan yang mengacu pada konsep punden berundak dan estetika era akhir Majapahit.
Pintu masuk menuju kompleks makam ditandai dengan tiga lapis gapura. Gapura pertama berbentuk Candi Bentar (gerbang terbelah), yang merupakan ciri khas arsitektur Hindu-Jawa. Semakin masuk ke dalam, pengunjung akan menemui Gapura Paduraksa yang memiliki atap tertutup. Material bangunan didominasi oleh batu bata merah kuno tanpa semen (teknik gosok), yang disusun dengan presisi tinggi.
Di dalam area inti, terdapat cungkup makam Sunan Bonang yang dikelilingi oleh tembok rendah dengan hiasan piring-piring porselen dari Tiongkok (Dinasti Ming). Penggunaan porselen ini merupakan fakta unik yang menunjukkan hubungan dagang dan diplomatik yang erat antara Tuban sebagai pelabuhan utama Majapahit dengan bangsa asing pada masa itu. Atap cungkup berbentuk limasan yang sederhana namun elegan, melambangkan kerendahan hati sang wali.
#
Signifikansi Historis dan Peran Tuban
Pemilihan Tuban sebagai lokasi pemakaman Sunan Bonang memiliki signifikansi historis yang besar. Pada abad ke-15 dan 16, Tuban merupakan pelabuhan internasional yang menjadi pintu masuk utama bagi para pedagang dan ulama dari Gujarat, Persia, dan Tiongkok. Keberadaan makam ini di pusat kota menunjukkan betapa strategisnya peran Sunan Bonang dalam mengislamkan pusat-pusat kekuasaan dan perdagangan di pesisir utara Jawa.
Situs ini juga menjadi bukti sejarah tentang bagaimana Islam menyebar melalui jalur "Infiltrasi Damai" (Penetration Pacifique). Sunan Bonang tidak menghancurkan struktur sosial yang ada, melainkan memodifikasinya. Hal ini terlihat dari keberadaan Pendopo Rantai di area makam, sebuah bangunan terbuka yang digunakan untuk pertemuan lintas budaya dan agama pada zamannya.
#
Fakta Unik: Sumur Srumbung dan Gamelan Bonang
Di area kompleks makam, terdapat sebuah peninggalan yang sangat dikeramatkan, yaitu Sumur Srumbung. Menurut legenda setempat, sumur ini muncul dari bekas tongkat Sunan Bonang saat beliau beradu kesaktian dengan seorang pendeta Hindu. Secara historis, sumur ini mencerminkan kearifan lokal dalam penyediaan air bersih di wilayah pesisir yang cenderung memiliki air payau.
Selain itu, di museum lokal dekat makam, tersimpan beberapa artefak asli termasuk fragmen gamelan yang digunakan beliau. Sunan Bonang adalah orang yang menyempurnakan instrumen bonang dengan menambahkan "pencu" (tonjolan) di bagian tengah agar menghasilkan nada yang lebih jernih, sebuah inovasi teknis yang mengubah wajah musik Jawa selamanya.
#
Pelestarian dan Status Cagar Budaya
Makam Sunan Bonang telah ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya oleh Pemerintah Indonesia. Upaya pelestarian dilakukan secara berkala melalui Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI. Restorasi yang dilakukan sangat berhati-hati untuk tidak mengubah keaslian batu bata merah dan struktur gapura.
Meskipun telah mengalami beberapa kali renovasi pada bagian atap dan lantai untuk kenyamanan peziarah, struktur utama dinding dan tata letak makam tetap dipertahankan sesuai aslinya sejak abad ke-16. Kebersihan situs dijaga oleh yayasan keluarga dan pemerintah daerah, memastikan bahwa nilai estetika dan spiritual situs ini tidak luntur oleh zaman.
#
Makna Religius dan Budaya Masa Kini
Setiap tahun, terutama pada bulan Muharram (Suro) dan penanggalan tertentu dalam kalender Jawa, situs ini menjadi pusat gravitasi bagi jutaan peziarah. Tradisi Haul Sunan Bonang merupakan salah satu acara keagamaan terbesar di Jawa Timur. Peristiwa ini bukan hanya ritual doa, tetapi juga penggerak ekonomi kerakyatan bagi warga Tuban.
Keberadaan Makam Sunan Bonang menegaskan posisi Tuban sebagai "Kota Wali". Bagi masyarakat modern, situs ini berfungsi sebagai pengingat akan pentingnya toleransi. Sunan Bonang mengajarkan bahwa agama tidak harus berbenturan dengan budaya lokal. Dengan mengunjungi makam ini, seseorang tidak hanya berwisata religi, tetapi juga membaca kembali lembaran sejarah tentang bagaimana sebuah identitas nasional—Islam Nusantara—dilahirkan melalui dialektika keindahan seni dan keteguhan iman.
Secara keseluruhan, Makam Sunan Bonang adalah warisan dunia yang tak ternilai. Ia berdiri sebagai simbol keharmonisan antara arsitektur masa lalu, nilai-nilai spiritualitas, dan sejarah panjang perjuangan intelektual ulama Nusantara dalam membentuk peradaban yang inklusif.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Tuban
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Tuban
Pelajari lebih lanjut tentang Tuban dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Tuban