Minuman yang terasa seperti siang panas yang akhirnya mereda
Bayangkan sebuah lapak di pasar pada siang yang terik di Jawa: toples berisi jeli hijau pucat berbentuk seperti cacing kecil, satu ceret santan kental berwarna putih, dan sesendok kuah gula merah yang legit dan berbau sedikit karamel, semuanya disiram di atas es serut. Suapan pertama โ dingin, kenyal, manis, dan sedikit gurih dari santan โ itulah alasan cendol (atau dawet, tergantung di mana Anda berada) tetap bertahan selama berabad-abad di tengah gempuran tren jajanan Indonesia tanpa pernah benar-benar hilang dari peredaran. Harganya nyaris tak seberapa, tidak perlu sendok garpu mewah atau piring khusus, dan sederhananya, ini adalah salah satu minuman paling menyegarkan yang pernah diciptakan oleh negeri beriklim panas.
Apa sebenarnya cendol/dawet itu?
Pada dasarnya, cendol (yang juga dieja dawet) adalah minuman es yang dibangun dari empat unsur utama: jeli kenyal berbentuk cacing, santan, sirop gula merah, dan es serut atau es batu yang dihancurkan.
"Cacing" khas ini dibuat dari tepung beras atau tepung pati kacang hijau (hunkwe/aci) yang diaduk menjadi adonan, lalu secara tradisional diberi warna hijau menggunakan air perasan daun pandan atau daun suji โ daun yang sama yang memberi aroma khas nan lembut pada banyak kue tradisional Indonesia. Adonan itu dimasak hingga mengental, kemudian ditekan melewati saringan berlubang atau cetakan cendol khusus langsung ke dalam baskom berisi air dingin atau air es, tempat adonan tadi mengeras menjadi untaian pendek yang meruncing dan sedikit melengkung di ujungnya โ dari situlah julukan "cacing" yang selalu muncul di hampir setiap penjelasan tentang minuman ini.
Setelah jeli cendolnya siap, ia ditata di dalam gelas atau mangkuk bersama es yang melimpah, lalu disempurnakan dengan dua cairan: santan, biasanya dibiarkan sedikit gurih dengan tambahan sejumput garam, dan gula jawa atau gula merah (kadang disebut gula aren bila dibuat dari pohon aren), yang dilelehkan menjadi sirop legit berwarna gelap menyerupai karamel. Perpaduan santan yang gurih-manis dengan gula merah yang manis berbau smoky inilah yang membuat cendol punya rasa berbeda dari minuman es lainnya โ rasanya lebih ke arah gurih-manis ketimbang manis murni, dan tekstur kenyal cendolnya membuat setiap suapan terasa menyenangkan.
Sekilas tentang bahan-bahannya
- Cendolnya sendiri: adonan tepung beras atau pati kacang hijau, diberi warna hijau dari daun pandan atau daun suji, dicetak menjadi untaian pendek lewat saringan berlubang
- Santannya: santan segar, sedikit asin, disiram melimpah di atas es
- Sirop gula merahnya: gula jawa/gula merah/gula aren, dilelehkan bersama sedikit air menjadi sirop gelap beraroma karamel
- Esnya: es serut atau es batu yang dihancurkan, ditumpuk banyak agar minumannya tetap dingin sampai suapan terakhir
- Tambahan opsional: tergantung daerahnya, mulai dari pisang dan nangka sampai durian atau biji selasih
Tidak ada satu pun bahan ini yang eksotis atau sulit dicari, dan itulah salah satu alasan cendol tetap menjadi jajanan sehari-hari yang murah meriah, bukannya bergeser menjadi hidangan restoran mewah โ bahan-bahannya adalah bahan dapur biasa yang hampir selalu tersedia di rumah orang Indonesia.
Cendol atau dawet? Kisah dua nama (dan persaingan yang akrab)
Kalau Anda berkeliling Indonesia sambil mencicipi minuman ini, Anda akan segera menyadari bahwa namanya berubah tergantung daerahnya. Di Jawa Tengah โ daerah asal gaya "Es Dawet Ayu Banjarnegara" yang terkenal itu โ para penjual dan warga setempat hampir selalu menyebutnya dawet. Beranjak ke Jawa Barat, Jakarta, dan sebagian besar Sumatra, minuman yang sama justru dijual dengan nama cendol. Kedua nama ini pada dasarnya menggambarkan konsep yang sama โ jeli kenyal dalam santan โ dengan perbedaan regional yang lebih terletak pada bahan, tingkat kemanisan, dan topping ketimbang konsep dasarnya.
Nama "cendol" juga sudah melanglang jauh melampaui batas Indonesia. Di Malaysia dan Singapura, "cendol" adalah istilah yang lazim dipakai, dan minuman ini pun sangat populer di sana, sering masuk daftar makanan penutup favorit kawasan tersebut. Hal ini memunculkan perdebatan daring yang akrab dan sudah berlangsung lama โ kadang setengah bercanda disebut "perang cendol" โ soal negara mana yang berhak mengklaimnya. Sebagian besar penulis kuliner dan sejarawan cenderung sepakat bahwa Jawa, Indonesia, adalah tempat asal dawet/cendol, dengan hidangan ini diyakini menyebar ke Semenanjung Malaya seiring waktu melalui perdagangan dan migrasi. Di sisi lain, Malaysia pun telah merangkul dan mempopulerkan cendol sebagai bagian identitasnya sendiri, dan ada kebanggaan regional yang tulus dari kedua belah pihak. Bagi wisatawan, cara terbaik memandang hal ini bukan sebagai perselisihan yang perlu diselesaikan, melainkan sebagai bukti betapa jauh sebuah hidangan lezat bisa melanglang โ dan betapa banyak tempat yang akhirnya menjadikannya milik mereka sendiri.
Variasi daerah yang layak dicoba
Keluarga besar dawet/cendol di Indonesia jauh dari satu resep baku โ hampir setiap daerah yang membuatnya punya ciri khasnya sendiri:
Es Dawet Ayu (Banjarnegara, Jawa Tengah) bisa dibilang versi daerah yang paling terkenal, identik dengan kota Banjarnegara. "Ayu" berarti cantik, dan minuman ini memang pantas menyandang nama itu berkat perpaduan santan dan gula merah yang khususnya kaya rasa; sebagian penyajian menambahkan pisang matang atau nangka untuk kemanisan dan aroma tambahan.
Es Dawet Ireng (Purworejo, Jawa Tengah) membalik warna hijau yang biasa menjadi hitam. Cendol di sini secara tradisional diwarnai menggunakan abu dari bakaran merang (jerami padi) atau sabut kelapa, bukan pandan, sehingga menghasilkan warna hitam pekat yang khas serta sentuhan rasa yang sedikit lebih smoky.
Dawet Selasih, yang umum ditemukan di sekitar Yogyakarta dan Jawa Tengah, menambahkan biji selasih โ mirip dengan biji yang dipakai dalam falooda โ yang mengembang dan menjadi kenyal-licin ketika direndam, menambah tekstur licin nan ringan di samping kekenyalan cendolnya.
Cendol Durian, yang sangat populer di sebagian wilayah Sumatra, menambahkan durian segar atau yang sudah dihaluskan ke atas racikan klasiknya, memadukan kekayaan rasa durian yang creamy dengan kesegaran manis dari minuman esnya โ favorit para pencinta durian yang ingin menikmati buah ini dengan cara yang sedikit lebih ringan.
Es Cendol (Jawa Barat dan daerah lain) adalah versi yang lebih umum dan sehari-hari, ditemukan di hampir setiap lapak jajanan, kadang dilengkapi tambahan seperti kelapa muda, nangka, atau potongan cincau hitam untuk tekstur ekstra.
Setiap versi tetap mempertahankan "DNA" yang sama โ cendol kenyal, santan, gula merah, es โ sambil membiarkan bahan dan selera lokal membentuk detailnya masing-masing.
Di mana dan bagaimana cendol/dawet biasa dinikmati
Cendol/dawet selalu menjadi jajanan kaki lima dan makanan pasar, bukan hidangan restoran. Secara tradisional, para penjual membawanya dengan pikulan โ sepasang wadah yang digantung di ujung sebatang bambu yang dipanggul di pundak, satu wadah untuk cendol dan es, satu lagi untuk sirop-siropnya โ sambil berjalan berkeliling kampung dan berteriak menandai kedatangan mereka. Pemandangan itu kini sebagian besar telah bergeser menjadi lapak dan gerobak yang mangkal dekat pasar, sekolah, atau tepi jalan, dan semakin banyak pula cendol yang dijual dalam kemasan gelas plastik siap bawa, namun semangatnya sebagai jajanan murah dan praktis tidak pernah berubah.
Pasar tradisional tetap menjadi salah satu tempat terbaik untuk menemukan cendol yang benar-benar enak, biasanya dari penjual yang sudah menyempurnakan resep yang sama selama bertahun-tahun, sering kali resep turun-temurun dalam keluarga. Cendol juga menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari di cuaca panas โ cara alami untuk menyejukkan diri di iklim tropis Indonesia โ dan punya tempat istimewa selama bulan Ramadan, di mana cendol dan dawet menjadi salah satu minuman favorit untuk buka puasa. Rasa manis dan sensasi dingin setelah seharian berpuasa membuatnya menjadi favorit berbuka di seluruh penjuru negeri, dan jumlah lapak yang menjualnya biasanya melonjak di sekitar pasar dan "pasar Ramadan" di pinggir jalan selama bulan puasa, berjejer bersama jajanan berbuka lainnya seperti gorengan dan kolak.
Bagi wisatawan, ini membuat cendol menjadi cara yang benar-benar murah untuk merasakan budaya kuliner Indonesia sehari-hari, bukan sekadar hidangan "wisata" yang dikemas khusus โ Anda menikmati hidangan yang sama dengan yang dinikmati seorang pekerja kantoran, pelajar, atau nenek di pasar, di lapak yang sama, dengan harga yang sama.
Tips praktis untuk wisatawan
Cendol/dawet secara alami vegetarian dan bebas produk susu. Karena rasa creamy-nya berasal dari santan, bukan susu sapi, resep cendol/dawet klasik cocok untuk vegetarian maupun vegan. Tetap ada baiknya mengecek ulang di penjual modern atau versi fusion, karena sebagian versi baru menambahkan susu kental manis atau topping berbahan susu lainnya โ tapi resep tradisionalnya sama sekali tidak mengandungnya.
Cendol/dawet halal secara alami, dibuat dari bahan-bahan nabati yang mudah ditemukan, sehingga menjadikannya pilihan yang aman dan ramah bagi wisatawan di seluruh Indonesia, terlepas dari pantangan makanan terkait alkohol atau babi, yang memang tidak muncul dalam resep tradisional mana pun.
Gunakan kehati-hatian yang sama seperti saat mencoba minuman es kaki lima lainnya. Seperti halnya minuman apa pun yang disajikan dengan es atau dibuat dari santan segar, sebaiknya pilih penjual yang terlihat ramai pembeli dan cepat menghabiskan bahan-bahannya, serta tetap memperhatikan kualitas air dan es secara umum saat mencoba jajanan kaki lima di mana pun, terutama di awal perjalanan sebelum tubuh Anda beradaptasi. Ini bukan hal yang khusus berlaku untuk cendol saja โ berlaku untuk hampir semua minuman kaki lima berbahan es โ tapi tetap penting diingat.
Waktu terbaik untuk mencobanya adalah persis seperti kebiasaan warga lokal: di siang hari yang panas, di pasar tradisional pada pagi menjelang siang saat bahan-bahan penjual masih segar, atau pada sore-malam Ramadan bila Anda kebetulan sedang bepergian saat itu, ketika lapak-lapak takjil sedang paling ramai dan paling beragam.
Tanya jawab singkat
Apakah cendol sama dengan dawet?
Pada dasarnya, ya. Keduanya merujuk pada minuman inti yang sama โ jeli kenyal, santan, dan sirop gula merah di atas es โ dengan "dawet" lebih umum dipakai di Jawa Tengah dan "cendol" lebih umum di Jawa Barat, Jakarta, Sumatra, serta di luar Indonesia seperti Malaysia dan Singapura. Resep di tiap daerah bisa berbeda detail, tapi kedua nama ini pada dasarnya menggambarkan keluarga hidangan yang sama.
Apakah cendol berasal dari Indonesia atau Malaysia?
Sebagian besar sejarawan kuliner menunjuk Jawa, Indonesia, sebagai tempat asalnya, dengan hidangan ini menyebar ke Semenanjung Malaya seiring waktu. Malaysia kemudian mengembangkan dan mempopulerkan versinya sendiri yang juga sangat dicintai, dan kini kedua negara sama-sama bangga akannya โ sebuah persaingan yang akrab, bukan perselisihan yang perlu diselesaikan.
Amankah minum es dalam cendol?
Seperti halnya minuman kaki lima berbahan es di mana pun di dunia, kualitasnya bervariasi tergantung penjualnya. Memilih lapak yang ramai dan cepat berganti bahan umumnya menjadi pendekatan paling aman, dan wisatawan yang lambungnya sensitif bisa mencoba jajanan kaki lima secara bertahap alih-alih menghindarinya sama sekali โ cendol terlalu enak untuk dilewatkan begitu saja.