PanduanDiterbitkan Diverifikasi

Pulau Moyo: Air Terjun Mata Jitu dan Pulau yang Pernah Jadi Persembunyian Putri Diana

Pada Agustus 1993, Putri Diana terbang diam-diam ke sebuah pulau kecil di utara Sumbawa, menginap di tenda mewah tanpa AC, dan berjalan kaki lewat kebun jambu mete menuju air terjun bertingkat untuk berendam sendirian. Tidak ada paparazzi, tidak ada headline esok paginya — hanya laporan yang bocor bertahun-tahun kemudian.

Bagikan:WhatsApp

Pada Agustus 1993, Putri Diana terbang diam-diam ke sebuah pulau kecil di utara Sumbawa, menginap di tenda mewah tanpa AC, dan berjalan kaki lewat kebun jambu mete menuju air terjun bertingkat untuk berendam sendirian. Tidak ada paparazzi, tidak ada headline esok paginya — hanya laporan yang bocor bertahun-tahun kemudian. Tiga dekade berselang, kolam yang sama masih di sana, air terjun yang sama masih jatuh ke batu kapur yang sama, dan hampir tidak ada orang yang datang untuk melihatnya. Itulah Pulau Moyo: destinasi yang pernah disahkan langsung oleh seorang putri, tapi tidak pernah berubah jadi pusat wisata.

Pulau yang Terlewat dari Peta Wisata

Pulau Moyo terletak tepat di lepas pantai utara Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, dipisahkan dari daratan utama oleh selat sempit yang bisa diseberangi dengan perahu dalam waktu kurang dari satu jam. Pulau ini masuk dalam kawasan Taman Nasional Moyo Satonda, yang juga mencakup Pulau Satonda dengan danau kawahnya yang unik. Dibandingkan Lombok yang penuh turis atau Komodo yang sudah jadi ikon pariwisata nasional, Moyo nyaris tak punya jejak di media wisata arus utama Indonesia — padahal jaraknya dari Bali tidak jauh, dan cerita yang menyertainya termasuk salah satu yang paling menarik di antara pulau-pulau NTB.

Sebagian besar wilayah Moyo adalah hutan tropis dataran rendah dan sabana yang dilindungi sebagai kawasan konservasi, dengan hanya beberapa desa nelayan kecil di sepanjang garis pantai. Penduduknya hidup dari menangkap ikan dan berkebun jambu mete — komoditas yang sampai sekarang jadi andalan ekonomi desa-desa pesisir. Tidak ada jalan aspal yang mengelilingi pulau, tidak ada deretan restoran atau toko suvenir. Yang ada hanya jalan setapak tanah, pepohonan tinggi, dan suara yang nyaris hanya berisi angin serta burung.

Cara ke Pulau Moyo: Butuh Usaha, dan Memang Sebaiknya Begitu

Tidak ada bandara di Pulau Moyo, dan itu bukan kebetulan — justru itulah yang menjaga pulau ini tetap sepi. Rute paling umum dimulai dari Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin III di Sumbawa Besar, lalu perjalanan darat sekitar 2-3 jam ke arah utara menuju kawasan Air Bari atau Labuan Haji, tempat perahu-perahu kecil biasa menyeberang ke Moyo. Dari titik penyeberangan itu, waktu tempuh laut biasanya 30-45 menit tergantung ombak dan titik pendaratan yang dituju.

Opsi kedua, yang makin populer di kalangan wisatawan asing, adalah menyertakan Moyo sebagai salah satu pemberhentian dalam rute pelayaran phinisi atau liveaboard antara Lombok/Komodo dan Sumbawa. Banyak kapal yang berlayar dari Labuan Bajo menuju Lombok (atau sebaliknya) singgah semalam di perairan Moyo untuk snorkeling dan kunjungan singkat ke Mata Jitu. Ini cara paling nyaman kalau kamu memang sedang merancang perjalanan multi-hari di kawasan Nusa Tenggara.

Beberapa langkah praktis kalau kamu berangkat sendiri dari Sumbawa Besar:

  • Sewa mobil atau motor dari Sumbawa Besar menuju Air Bari/Labuan Haji (sekitar 60-70 km, jalan aspal tapi berkelok di beberapa titik)
  • Cari perahu nelayan atau operator lokal di titik penyeberangan — harga carter biasanya bisa dinegosiasikan, dan lebih murah jika datang dalam rombongan
  • Bawa uang tunai secukupnya; tidak ada ATM di pulau
  • Konfirmasi dulu apakah kamu menuju Desa Labuan Aji (pintu masuk umum ke jalur Mata Jitu) atau area lain di pulau
  • Siapkan waktu ekstra — jadwal perahu di sini fleksibel, bukan seperti jadwal bus kota

Ini bukan perjalanan yang bisa direncanakan dalam semalam, dan itu justru bagian dari daya tariknya.

Mata Jitu: Air Terjun yang Membuat Semuanya Sepadan

Mata Jitu, dalam bahasa setempat, kira-kira berarti "mata air yang tepat sasaran" — sumber yang benar-benar mengenai titiknya. Nama itu pas sekali begitu kamu melihatnya. Ini bukan air terjun tunggal, melainkan rangkaian kolam bertingkat yang terbentuk dari batu kapur, dengan air sebening kaca berwarna toska yang mengalir dari satu kolam ke kolam berikutnya seperti anak tangga raksasa.

Dari titik pendaratan atau desa terdekat, jalur menuju Mata Jitu memakan waktu sekitar 45 menit berjalan kaki. Ini bukan jalur setapak yang dibeton rapi — kamu akan melewati kebun jambu mete milik warga, masuk ke hutan yang makin rapat, dan mendaki tanjakan tanah yang bisa licin sehabis hujan. Bawa sepatu yang benar-benar bisa dipakai jalan, bukan sandal jepit, meskipun banyak wisatawan (dan sebagian pemandu lokal) tetap nekat pakai sandal. Rutenya moderat: tidak butuh keahlian mendaki gunung, tapi juga bukan jalan santai untuk yang jarang bergerak.

Begitu sampai, kolam utama Mata Jitu cukup luas untuk berenang bebas, dengan air yang terasa dingin menyegarkan setelah jalan kaki di udara tropis. Yang jarang diketahui banyak orang: sekitar 10 menit jalan kaki ke arah hulu dari kolam utama, ada kolam yang lebih kecil dan tenang yang oleh warga setempat disebut "Lady Pool" atau kadang "Queen Waterfall." Konon di kolam inilah Putri Diana menyendiri saat kunjungannya tahun 1993, menjauh dari rombongan demi privasi. Airnya lebih jernih, arusnya lebih tenang, dan hampir tidak pernah ramai — bahkan di hari ketika kolam utama sedang ada pengunjung lain.

Rusa Timor, Terumbu Karang, dan Isi Pulau Lainnya

Mata Jitu memang jadi alasan utama orang datang, tapi Moyo punya lebih dari satu air terjun untuk ditawarkan. Pulau ini terkenal dengan populasi rusa timor liar (Rusa timorensis) yang berkeliaran bebas di sabana dan tepi hutan — kalau kamu berjalan pagi-pagi atau menjelang senja, peluang bertemu kawanan rusa cukup besar, terutama di area sekitar Amanwana. Bagi pengamat burung, Moyo juga menyimpan kekayaan yang jarang dipublikasikan: berbagai spesies burung endemik dan migran singgah di hutan dan pesisirnya, menjadikannya destinasi menarik meski belum masuk radar komunitas birdwatching Indonesia secara luas.

Di bawah permukaan laut, terumbu karang di sekitar Moyo — terutama di sisi barat dan utara pulau — termasuk yang paling terjaga di kawasan NTB, berkat minimnya aktivitas wisata massal dan pengawasan kawasan taman nasional. Snorkeling dari perahu atau langsung dari pantai memberi pemandangan karang keras yang masih utuh, ikan-ikan karang berwarna-warni, dan sesekali penyu yang lewat. Beberapa operator liveaboard bahkan menyebut spot di sekitar Moyo sebagai salah satu titik snorkeling terbaik yang mereka singgahi di rute Lombok-Komodo, justru karena minim tekanan pengunjung.

Selain Mata Jitu, ada juga air terjun dan mata air kecil lain yang tersebar di pedalaman pulau, meski jauh lebih jarang dikunjungi dan biasanya butuh pemandu lokal untuk menemukannya — jalurnya tidak ditandai dan gampang membingungkan tanpa orang yang hafal medan. Kalau kamu berencana lebih dari sekadar day trip, tanyakan ke warga desa atau pengelola homestay soal opsi trekking tambahan ke arah bukit di tengah pulau; pemandangan dari sana mencakup garis pantai Sumbawa di kejauhan.

Menginap: Dari Tenda Termewah di Indonesia Timur Sampai Homestay Sederhana

Kontras di Moyo justru ada pada pilihan menginapnya. Di satu sisi ada Amanwana, resor tenda mewah yang sudah beroperasi sejak awal 1990-an dan menjadi tempat menginap Putri Diana saat kunjungannya. Amanwana menempatkan tenda-tenda safari besar di tepi hutan menghadap laut, lengkap dengan layanan butler, makanan fine dining, dan privasi yang jadi alasan kalangan selebritas dan royalti dunia memilihnya sebagai persembunyian. Ini bukan hotel murah — tarifnya masuk kategori resor mewah kelas dunia, dan reservasi biasanya perlu dilakukan jauh hari.

Di sisi lain, desa-desa di sepanjang pesisir Moyo punya homestay sangat sederhana yang dikelola warga lokal — kamar dasar, kadang tanpa AC, dengan listrik yang mengandalkan genset di jam-jam tertentu. Harganya jauh di bawah Amanwana, dan pengalamannya jauh lebih membumi: makan bersama keluarga tuan rumah, mendengar cerita tentang pulau dari orang yang benar-benar tinggal di sana, dan bangun pagi dengan suara ombak alih-alih AC. Bagi yang datang hanya untuk trekking ke Mata Jitu dan snorkeling sehari, homestay atau bahkan kunjungan tanpa menginap (day trip dari Sumbawa Besar) sudah cukup.

Tidak banyak pulau di Indonesia yang punya rentang akomodasi seekstrem ini — dari salah satu tenda termahal di kawasan timur Indonesia sampai kasur sederhana di rumah nelayan, dengan hampir tidak ada pilihan menengah di antaranya.

Waktu Terbaik Berkunjung

Musim kemarau, sekitar April hingga Oktober, adalah waktu paling ideal untuk ke Moyo. Jalur trekking ke Mata Jitu jauh lebih aman dan tidak licin, laut lebih tenang untuk penyeberangan dan snorkeling, dan visibilitas bawah air jauh lebih baik. Musim hujan (November-Maret) membuat jalur hutan berlumpur dan penyeberangan laut bisa tertunda karena ombak, meski debit air terjun justru lebih deras di musim ini kalau kamu tidak keberatan berjalan lebih hati-hati.

Bulan Juli-Agustus adalah puncak kunjungan liveaboard yang transit di Moyo, jadi kalau ingin benar-benar sepi, pertimbangkan April-Mei atau September-Oktober — cuaca masih bagus tapi kapal singgah lebih jarang.

Tips Praktis dan Perkiraan Biaya

Tiket masuk kawasan Taman Nasional Moyo Satonda sifatnya berjenjang dan bisa berubah, jadi selalu cek tarif terbaru sebelum berangkat. Sebagai gambaran kasar: wisatawan domestik dikenakan sekitar Rp50.000 di hari kerja dan Rp75.000 di akhir pekan/hari libur, sementara wisatawan asing sekitar Rp250.000 di hari kerja dan Rp275.000 di akhir pekan/hari libur. Angka ini indikatif — kebijakan taman nasional sering diperbarui.

Hal lain yang perlu disiapkan:

  • Bawa uang tunai dalam jumlah cukup — tidak ada ATM atau mesin EDC di pulau
  • Sinyal ponsel sangat terbatas, bahkan nyaris tidak ada di sebagian besar area hutan
  • Pakai alas kaki yang kuat untuk trekking, plus baju ganti untuk berenang di kolam
  • Bawa air minum sendiri dan sedikit bekal; warung di pulau jumlahnya minim
  • Hormati aturan kawasan konservasi — jangan memberi makan rusa liar, jangan menyentuh karang saat snorkeling
  • Kalau menginap di homestay, konfirmasi ketersediaan listrik dan air bersih sebelum datang
  • Kalau naik liveaboard, tanyakan sejak awal berapa lama kapal transit di Moyo — sebagian rute hanya berhenti 3-4 jam, cukup untuk snorkeling tapi mepet untuk trekking penuh ke Mata Jitu dan kembali

Kalau waktumu terbatas, prioritaskan kolam utama Mata Jitu dan sisakan tenaga untuk berjalan sedikit lebih jauh ke Lady Pool — bagian yang justru paling sering dilewatkan wisatawan yang buru-buru kembali ke perahu.

Kenapa Moyo Layak Masuk Rencana Perjalananmu

Ada sesuatu yang jarang ditemukan di destinasi wisata Indonesia hari ini: tempat yang pernah "disahkan" oleh figur seterkenal Putri Diana, tapi tidak pernah dieksploitasi jadi jualan murahan. Tidak ada baliho bertuliskan "kolam Putri Diana" di pintu masuk, tidak ada antrean foto, tidak ada pedagang yang menjajakan merchandise bertema kerajaan Inggris. Yang ada hanya jalur hutan menuju air terjun, rusa yang tetap berkeliaran seperti biasa, dan laut yang masih sebening dulu.

Pulau Moyo bukan destinasi untuk orang yang ingin liburan instan dan nyaman. Butuh perjalanan darat, penyeberangan laut, dan jalan kaki lewat hutan untuk sampai ke titik yang membuat semuanya sepadan. Tapi untuk siapa pun yang mencari sisi Indonesia yang belum ramai — versi NTB sebelum menjadi seperti Bali atau Lombok — Moyo adalah salah satu jawaban paling jujur yang masih tersisa.

Lokasi Terkait

Lanjut membaca

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?