Lewati ke konten utama
Aktivitasโ€ขDiterbitkan Diverifikasi

Naik Kuda Sandalwood di Pantai Sumba: Panduan Berkuda di Tanah Para Penunggang

Di kebanyakan pulau Indonesia, kuda adalah hewan beban yang sesekali terlihat menarik andong wisata. Di Sumba, kuda adalah identitas. Pulau di ujung selatan Nusa Tenggara Timur ini punya tradisi berkuda yang sudah berumur ratusan tahun, terikat pada upacara adat, status sosial, dan olahraga Pasola yang berbahaya โ€” dan justru dari akar budaya itulah tumbuh salahโ€ฆ

Bagikan:WhatsApp

Naik Kuda Sandalwood di Pantai Sumba: Panduan Berkuda di Tanah Para Penunggang

Di kebanyakan pulau Indonesia, kuda adalah hewan beban yang sesekali terlihat menarik andong wisata. Di Sumba, kuda adalah identitas. Pulau di ujung selatan Nusa Tenggara Timur ini punya tradisi berkuda yang sudah berumur ratusan tahun, terikat pada upacara adat, status sosial, dan olahraga Pasola yang berbahaya โ€” dan justru dari akar budaya itulah tumbuh salah satu pengalaman berkuda paling tak biasa di Asia Tenggara: menyusuri pantai kosong dan padang sabana kering di atas kuda Sandalwood, ras kuda kecil asli Sumba yang gesit dan tahan medan kasar.

Ini bukan wisata berkuda ala pantai Bali yang jalan pelan mengelilingi lapangan. Di Sumba, rute-rute yang ditawarkan operator lokal benar-benar melintasi sabana terbuka, turun ke tebing karang, dan berlari di sepanjang garis pantai yang sering kali tidak ada siapa pun selain rombongan sendiri.

Kuda Sandalwood: Kecil, Tangguh, dan Bagian dari Sejarah Pulau

Kuda Sandalwood (namanya diambil dari nama lama Sumba, "Pulau Cendana") adalah ras kuda pribumi yang telah beradaptasi dengan iklim kering dan padang rumput berbatu Sumba selama berabad-abad. Tingginya rata-rata hanya sekitar 12 tangan (sekitar 122 cm di bahu), jauh lebih kecil dari kuda tunggang pada umumnya, tapi ototnya padat dan kakinya sangat stabil di permukaan berpasir, berbatu, maupun berlumpur.

Kuda ini juga punya tempat khusus dalam budaya Sumba: dulu digunakan sebagai mahar pernikahan, alat tukar dalam perdagangan, dan penunggang utama dalam Pasola โ€” perang tombak tradisional di atas kuda yang digelar setiap Februariโ€“Maret di beberapa desa Sumba Barat dan Sumba Barat Daya. Wisatawan tidak diajak ikut Pasola (dan sebaiknya memang tidak, karena acara ini berisiko cedera serius bagi pesertanya sendiri), tapi banyak operator kuda wisata menjelaskan sejarah ini di awal perjalanan, sehingga aktivitasnya terasa lebih dari sekadar rekreasi.

Rute-Rute Populer

Pantai Nihiwatu dan sekitar Sumba Barat. Kawasan ini, dekat resor mewah Nihi Sumba, punya beberapa operator yang menawarkan susur pantai berkuda dengan latar tebing karang dan ombak besar khas pantai selatan Sumba. Rute umumnya berlangsung 1โ€“2 jam, dimulai dari desa nelayan setempat, menyusuri garis pantai saat air surut.

Pantai Marosi dan Watu Mandorak, Sumba Barat Daya. Kawasan berbukit hijau dengan pantai tersembunyi ini menjadi favorit untuk kombinasi trekking-berkuda: sebagian rute naik-turun bukit sabana sebelum turun ke pantai berpasir putih.

Danau Weekuri, Sumba Barat Daya. Laguna air asin biru kehijauan yang terpisah dari laut oleh formasi karang ini kadang dijadikan titik istirahat di tengah rute berkuda pantai โ€” cocok untuk berenang setelah turun dari kuda.

Tarimbang, Sumba Timur. Dikenal di kalangan peselancar sebagai "Bali tahun 1970-an", teluk berbentuk tapal kuda ini juga punya jalur berkuda menyusuri sabana kering di sisi timur pulau, dengan karakter lanskap yang jauh lebih gersang dan dramatis dibanding Sumba Barat.

Puncak-puncak sabana di sekitar Waingapu, Sumba Timur. Beberapa peternak kuda lokal di sekitar ibu kota kabupaten ini menawarkan rute lebih santai menyusuri padang rumput terbuka, cocok bagi pemula yang ingin merasakan berkuda tanpa medan ekstrem pantai.

Berapa Lama dan Berapa Biayanya

Sebagian besar operator menawarkan paket 1โ€“2 jam untuk sesi standar, dan paket setengah hari (3โ€“4 jam) bagi yang ingin menggabungkan beberapa titik โ€” misalnya sabana lalu pantai, atau pantai lalu danau. Harga bervariasi cukup luas tergantung operator dan apakah dipesan lewat resor mewah atau langsung dari peternak lokal di desa:

  • Sesi 1 jam bersama pemandu berjalan kaki memandu kuda (untuk pemula atau anak-anak): mulai sekitar Rp150.000โ€“300.000 per orang bila dipesan lewat operator desa.
  • Sesi 1โ€“2 jam dengan kuda yang dikendalikan sendiri (bagi yang sudah punya pengalaman dasar): sekitar Rp300.000โ€“600.000.
  • Paket premium lewat resor seperti yang ditawarkan di kawasan Nihiwatu, termasuk perlengkapan lebih lengkap dan pemandu profesional berbahasa Inggris: bisa mencapai USD 80โ€“150 per orang untuk sesi khusus di pantai privat.

Selisih harga besar ini mencerminkan siapa yang mengelola kudanya โ€” peternak desa biasa menawarkan harga jauh lebih terjangkau dibanding paket resor, meski kualitas pelana dan pengalaman pemandu bisa berbeda.

Perlu Pengalaman Berkuda Sebelumnya?

Tidak selalu. Banyak rute yang ditawarkan untuk pemula menggunakan kuda yang sudah terlatih jinak dan dipandu oleh penunggang lokal yang berjalan atau menunggangi kuda lain di samping. Namun ada beberapa hal yang perlu dipahami:

  • Kuda Sandalwood bertubuh kecil tapi bertenaga dan bisa berlari cukup cepat di pantai terbuka โ€” pemandu biasanya menjaga kecepatan tetap pelan untuk pemula, tapi beri tahu di awal jika Anda benar-benar belum pernah naik kuda sama sekali.
  • Pelana yang dipakai di beberapa peternak desa masih menggunakan gaya tradisional yang lebih sederhana dibanding pelana Barat modern โ€” bisa terasa kurang empuk bagi yang belum terbiasa duduk lama di atas kuda.
  • Rute pantai saat air surut relatif aman, tapi beberapa jalur sabana melibatkan tanjakan dan turunan yang cukup curam; sampaikan ke operator jika membawa anak kecil atau memiliki masalah punggung.

Bagi penunggang berpengalaman, Sumba menawarkan sesuatu yang sulit ditemukan di tempat lain di Indonesia: kesempatan memacu kuda berlari kencang di pantai kosong sepanjang ratusan meter tanpa kerumunan wisatawan lain.

Musim Terbaik

Musim kemarau Sumba, sekitar Mei hingga Oktober, adalah waktu terbaik untuk berkuda. Sabana yang menguning keemasan pada musim ini justru menjadi daya tarik visual utama โ€” foto-foto ikonik Sumba yang menampilkan padang rumput kering dan bukit bergelombang biasanya diambil pada periode ini. Jalur pantai dan sabana juga lebih kering dan mudah dilalui.

Musim hujan (Novemberโ€“April) membuat sabana berubah hijau segar, yang juga indah tapi berbeda karakternya, dan beberapa jalur tanah bisa becek dan licin. Sejumlah operator tetap beroperasi di musim hujan tapi dengan rute yang disesuaikan.

Apa yang Perlu Dikenakan dan Dibawa

Matahari sabana Sumba jauh lebih menyengat dibanding pantai Bali karena vegetasinya rendah dan hampir tanpa naungan sepanjang rute. Sebelum berangkat, siapkan:

  • Celana panjang tipis berbahan cepat kering โ€” bagian dalam paha akan bergesekan dengan pelana selama satu hingga dua jam, dan celana pendek membuat kulit lebih mudah lecet.
  • Topi bertepi lebar atau penutup kepala yang tidak mudah terbang saat berkuda, dilapis tabir surya dengan SPF tinggi.
  • Sepatu tertutup dengan hak sedikit (sepatu bot ringan atau sepatu hiking) โ€” sandal jepit berisiko terlepas di sanggurdi.
  • Air minum sendiri dalam botol yang bisa dibawa saat berkuda, karena beberapa rute sabana jauh dari desa dan tidak ada warung di sepanjang jalan.
  • Kamera atau ponsel dalam tas selempang yang tertutup rapat, terutama untuk rute yang melewati penyeberangan air dangkal.

Operator biasanya menyediakan helm, tapi standar helmnya bervariasi โ€” penunggang yang lebih berhati-hati bisa menanyakan langsung kondisi helm sebelum naik, atau membawa helm bersepeda sendiri sebagai cadangan.

Menggabungkan Berkuda dengan Sisa Perjalanan di Sumba

Karena jarak antarlokasi di Sumba cukup jauh, kebanyakan wisatawan menyusun rencana perjalanan berbasis wilayah, bukan berpindah-pindah setiap hari. Contoh susunan yang umum dipakai:

  1. Basis di Sumba Barat Daya (2โ€“3 hari): sesi berkuda pagi di sekitar Nihiwatu atau Marosi, dilanjutkan berenang di Danau Weekuri saat siang, dan menutup hari dengan kunjungan ke desa adat berumah megalitik seperti Ratenggaro.
  2. Basis di Sumba Timur (2โ€“3 hari): berkuda di sabana sekitar Waingapu atau Tarimbang, dikombinasikan dengan kunjungan pasar tenun ikat tradisional dan Bukit Wairinding yang terkenal dengan padang rumput bergelombangnya.

Menggabungkan kedua wilayah dalam satu perjalanan tetap mungkin, tapi perjalanan darat antarkabupaten di Sumba bisa memakan 4โ€“6 jam karena kondisi jalan pegunungan, sehingga sebagian besar operator dan resor menyarankan memilih salah satu basis wilayah kecuali punya waktu lebih dari lima hari di pulau ini.

Cara Sampai ke Sumba

Sumba dilayani dua bandara utama: Bandara Tambolaka di Sumba Barat Daya (kode SoA/TMC) untuk akses ke kawasan Nihiwatu, Marosi, dan Weekuri, serta Bandara Umbu Mehang Kunda di Waingapu, Sumba Timur, untuk akses ke Tarimbang dan sabana timur. Keduanya punya penerbangan langsung dari Denpasar (Bali) dengan waktu tempuh sekitar satu jam, meski frekuensi penerbangan masih terbatas dan sebaiknya dipesan jauh-jauh hari, terutama pada musim kemarau yang menjadi puncak kunjungan wisatawan.

Dari bandara, kebanyakan pantai dan lokasi berkuda berjarak 30 menit hingga 2 jam berkendara, tergantung sisi pulau yang dituju โ€” jarak antarwilayah di Sumba jauh lebih panjang daripada yang terlihat di peta karena kondisi jalan yang berkelok dan sebagian belum beraspal mulus.

Etika dan Kesejahteraan Kuda

Karena kuda adalah bagian sentral dari mata pencarian dan budaya Sumba, sebagian besar operator lokal sudah cukup berpengalaman merawat kudanya โ€” tapi seperti aktivitas wisata satwa lainnya, ada baiknya memperhatikan kondisi kuda sebelum memesan: apakah terlihat cukup gemuk dan sehat, apakah pelana pas dan tidak melukai punggung, serta apakah kuda diberi waktu istirahat di antara sesi. Menanyakan hal ini langsung ke operator, atau memilih operator yang direkomendasikan oleh akomodasi tempat menginap, adalah cara paling praktis untuk memastikan kesejahteraan hewan tetap diperhatikan.

Tanya Jawab Singkat

Apakah aman untuk anak-anak?

Banyak operator menawarkan sesi pendek dengan kuda dipandu berjalan kaki, cocok untuk anak-anak dengan pengawasan orang tua. Tanyakan langsung batas usia minimum ke operator yang dipilih.

Apakah perlu membawa perlengkapan sendiri?

Umumnya tidak โ€” helm dan pelana disediakan operator. Membawa topi, tabir surya, dan sepatu tertutup atau sandal gunung tetap disarankan untuk melindungi diri dari terik matahari sabana.

Bisakah menggabungkan berkuda dengan aktivitas lain di Sumba?

Ya โ€” banyak wisatawan menggabungkan sesi berkuda pagi hari dengan snorkeling di Danau Weekuri atau kunjungan ke desa adat berumah tinggi (megalitik) yang tersebar di seluruh pulau pada hari yang sama.

Apakah harus memesan jauh-jauh hari?

Untuk peternak desa kecil biasanya bisa dipesan langsung di tempat atau lewat pemandu lokal sehari sebelumnya. Untuk paket resor premium, pemesanan sebaiknya dilakukan bersamaan dengan reservasi akomodasi.

Tips Penutup

Datang di pagi hari sebelum matahari terlalu terik โ€” cahaya keemasan pagi juga jauh lebih fotogenik untuk sabana dan pantai Sumba. Jangan terburu-buru memilih paket termurah tanpa bertanya soal kondisi kuda dan pengalaman pemandu, karena kualitas antaroperator di Sumba masih jauh lebih beragam dibanding destinasi berkuda yang lebih mapan seperti Bali. Dan siapkan waktu ekstra untuk perjalanan darat โ€” jarak di peta sering menipu, sementara pemandangan sepanjang jalan menuju lokasi berkuda hampir selalu sepadan dengan waktu tempuhnya.

Lokasi Terkait

Lanjut membaca

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?