Lewati ke konten utama
Atraksiโ€ขDiterbitkan Diverifikasi

Taman Sari: Kompleks Pemandian Kerajaan Tersembunyi di Yogyakarta

Kebanyakan wisatawan menyusun rencana ke Yogyakarta di sekitar dua nama: Borobudur dan Prambanan. Keduanya memang layak jadi prioritas. Tapi hanya berjalan kaki lima menit dari Keraton โ€” istana Sultan yang masih berfungsi hingga kini โ€” ada satu situs yang jarang masuk daftar utama padahal termasuk yang paling fotogenik dan punya sejarah paling unik di kotaโ€ฆ

Bagikan:WhatsApp

Kebanyakan wisatawan menyusun rencana ke Yogyakarta di sekitar dua nama: Borobudur dan Prambanan. Keduanya memang layak jadi prioritas. Tapi hanya berjalan kaki lima menit dari Keraton โ€” istana Sultan yang masih berfungsi hingga kini โ€” ada satu situs yang jarang masuk daftar utama padahal termasuk yang paling fotogenik dan punya sejarah paling unik di kota ini: Taman Sari, kompleks pemandian kerajaan peninggalan abad ke-18.

Tidak ada tempat lain di Indonesia yang menyerupainya. Sebagian taman, sebagian benteng, sebagian kompleks pemandian, sebagian lorong pelarian, dan โ€” di sudut yang paling banyak difoto โ€” sebuah masjid bawah tanah yang sebagian atapnya terbuka ke langit. Taman Sari sepadan dengan dua sampai tiga jam yang dibutuhkan untuk menjelajahinya dengan benar. Berikut sebenarnya apa yang ada di dalamnya, bagian mana yang paling layak diberi waktu, dan bagaimana memasukkannya ke rencana perjalanan Yogyakarta tanpa sekadar berhenti sebentar untuk foto di kolam lalu pergi.

Di Mana Taman Sari dan Cara ke Sana

Taman Sari berada di kawasan Keraton, pusat kota Yogyakarta, cukup dekat dengan istana Sultan sehingga kebanyakan wisatawan berjalan kaki di antara keduanya. Dari pintu masuk utama Keraton, jaraknya sekitar 10โ€“15 menit jalan kaki ke arah barat daya melewati kampung padat penduduk di sekitarnya โ€” kawasan yang sebenarnya layak dinikmati perlahan tersendiri, bukan cuma dilewati (lebih lanjut di bawah).

Jika berangkat dari Jalan Malioboro atau hotel yang lebih jauh, becak, Grab, atau Gojek adalah pilihan paling praktis. Kompleks ini berada di ujung sejumlah gang sempit yang tidak terlihat jelas dari jalan besar, jadi pengemudi yang sudah tahu pintu masuknya akan menghemat cukup banyak waktu. Tidak ada area parkir besar khusus, itulah sebabnya kebanyakan orang datang dengan berjalan kaki atau kendaraan roda dua.

Taman Kesenangan Kerajaan dengan Sisi Pertahanan

Taman Sari dibangun pada masa Sultan Hamengkubuwono I, pendiri Kasultanan Yogyakarta, pada paruh kedua abad ke-18 โ€” pembangunannya umumnya diperkirakan berlangsung sekitar 1750-an hingga 1760-an, tidak lama setelah Perjanjian Giyanti memecah Kesultanan Mataram lama dan melahirkan Yogyakarta sebagai keraton tersendiri. Namanya secara harfiah berarti "taman yang indah," dan memang itulah fungsi awalnya: taman kesenangan kerajaan lengkap dengan kolam pemandian, danau buatan, dan paviliun untuk Sultan, keluarganya, serta para pejabat keraton.

Namun desainnya jauh lebih berlapis dari sekadar "taman istana." Tradisi arsitektur Jawa di sini berpadu dengan unsur arsitektur Islam dan โ€” detail yang sering dilewatkan banyak pemandu โ€” pengaruh Portugis dan Tionghoa, yang menurut sejumlah catatan melibatkan arsitek asing dalam pembangunan awalnya (catatan lokal berbeda-beda soal siapa persisnya). Hasilnya adalah kompleks yang tidak menyerupai bangunan lain di kawasan ini: lengkungan bergaya Eropa berdampingan dengan ornamen khas Jawa, dan jaringan bawah tanah di baliknya berfungsi bukan cuma sebagai saluran air untuk kolam-kolam di atasnya, tapi juga sebagai jalur pelarian sekaligus tempat bersemedi.

Sebagian besar kompleks asli โ€” yang diperkirakan awalnya membentang puluhan hektare, termasuk danau buatan besar yang konon bisa dicapai Sultan dengan perahu langsung dari istana โ€” rusak seiring waktu akibat gempa bumi, Perang Jawa pada abad ke-19, dan pelapukan alami, lalu semakin tertutup bangunan seiring berkembangnya kampung di sekitarnya. Yang bisa dikunjungi wisatawan hari ini hanyalah sebagian kecil yang telah dipugar dari kompleks kerajaan yang jauh lebih luas โ€” penting diketahui sebelum datang dengan bayangan "istana" tunggal yang utuh; yang tersisa lebih tepat disebut inti dari sebuah kota kecil yang sudah lama menghilang.

Umbul Binangun: Kompleks Kolam Pemandian

Bagian Taman Sari yang paling banyak difoto wisatawan adalah Umbul Binangun, kompleks kolam pemandian. Terdiri dari tiga kolam yang saling terhubung, yang menurut tradisi digunakan secara terpisah: satu untuk para selir dan istri Sultan, satu untuk Sultan sendiri, dan satu kolam lebih kecil untuk anak-anaknya. Sebuah menara yang menghadap ke kolam โ€” kadang disebut Pulo Panembung atau Cemeti โ€” dipercaya sebagai tempat Sultan mengawasi area pemandian dan, menurut kisah yang sering diceritakan pemandu, memilih teman untuk hari itu dengan melempar sekuntum bunga.

Terlepas dari seberapa akurat legenda tersebut, arsitekturnya sendiri nyata dan mengesankan: kolam batu yang lebih rendah dari permukaan tanah, lengkungan-lengkungan, saluran air, dan sebuah menara kecil dengan pemandangan ke seluruh area, semuanya dibangun dari batu vulkanik yang sama seperti arsitektur kerajaan Yogyakarta lainnya. Wisatawan tidak bisa lagi berenang di kolamnya โ€” situs ini dijaga sebagai warisan budaya, bukan pemandian yang masih aktif โ€” tapi bisa berjalan mengelilingi seluruh kompleks, naik ke menara, dan mengambil foto lebar yang membuat sudut ini paling sering dibagikan di media sosial.

Datanglah di luar jam siang hari jika ingin foto kolam tanpa kerumunan wisatawan lain di setiap bidikan; ini satu-satunya bagian kompleks yang benar-benar ramai.

Sumur Gumuling: Masjid Bawah Tanah

Alasan kedua orang datang jauh-jauh adalah Sumur Gumuling, struktur bundar bawah tanah yang dibangun sebagai masjid, dicapai melalui sistem lorong sempit dari kompleks utama. Ini bagian paling unik secara arsitektur di seluruh Taman Sari: ruangan batu berbentuk lingkaran dua lantai dengan lima anak tangga yang bertemu di satu platform tengah, terbuka ke langit lewat lubang di atapnya. Lima anak tangga ini umumnya dimaknai sebagai simbol lima rukun Islam dan lima waktu salat, yang bertemu pada satu titik ibadah bersama โ€” simbolisme keagamaan yang tertanam langsung dalam struktur batunya.

Pencahayaan di ruangan ini berubah sepanjang hari seiring pergerakan matahari melalui lubang atap terbuka, itu sebabnya interiornya terlihat sangat berbeda tergantung jam kedatangan โ€” datar dan berbayang di pagi hari, lalu berkas cahaya langsung menyorot anak tangga sekitar tengah hari. Jika mendapatkan foto bagus dari sudut ini penting bagi kamu, tanyakan ke pemandu lokal (lihat bagian di bawah) perkiraan jam terbaik pencahayaan pada hari kunjunganmu daripada menebak sendiri; waktunya bergeser mengikuti musim.

Untuk mencapai Sumur Gumuling dari kompleks kolam utama, kamu akan melewati sebagian jaringan lorong bawah tanah lama โ€” bagian lain yang membuat Taman Sari sepadan untuk dikunjungi.

Lorong-Lorong di Bawah Tanah

Di bawah kolam dan taman yang terlihat, Taman Sari dibangun dengan jaringan lorong bawah tanah yang luas, menghubungkan berbagai bagian kompleks satu sama lain dan, menurut sebagian besar catatan, langsung ke Keraton. Penjelasan yang paling umum diterima bersifat pertahanan: jalur pelarian bagi keluarga kerajaan jika istana terancam, sekaligus jalur yang lebih pribadi dan tenang bagi keluarga keraton untuk berpindah antar bangunan tanpa terlihat.

Sebagian besar lorong yang masih terbuka untuk wisatawan hari ini adalah ruas pendek yang mudah dilalui โ€” koridor batu yang sejuk dan remang-remang, menghubungkan area kolam ke Sumur Gumuling dan beberapa ruangan lain. Ini bukan pengalaman menyusuri gua yang ekstrem; sepatu yang nyaman dan senter ponsel sudah lebih dari cukup, dan anak-anak umumnya bisa melewatinya tanpa masalah. Tapi penting diketahui bahwa lorong-lorong ini termasuk dalam satu tiket yang sama, karena kunjungan yang terburu-buru kadang hanya fokus ke kolam saja dan melewatkan bagian ini.

Tiket, Pemandu, dan Berapa Lama Waktu yang Dibutuhkan

Tiket masuk Taman Sari tergolong murah โ€” untuk wisatawan domestik harganya kecil, sedikit lebih tinggi untuk wisatawan asing, sekitar harga jajanan biasa daripada tiket atraksi besar. Harga memang disesuaikan secara berkala, jadi anggap angka mana pun yang kamu baca di internet, termasuk yang ada di artikel ini, sebagai perkiraan awal โ€” cek papan informasi di lokasi atau tanyakan ke kantor pariwisata setempat saat tiba, jangan berpatokan sampai ke angka pastinya.

Pemandu lokal independen biasanya menunggu di dekat pintu masuk, dan di sini mereka benar-benar berguna โ€” lebih dari di banyak situs lain โ€” karena tata letaknya tidak langsung mudah dipahami. Pemandu yang baik akan menunjukkan pintu-pintu lorong, menjelaskan apa yang kamu lihat di masjid bawah tanah, dan bisa diajak bernegosiasi tarif secara informal di tempat (sepakati harga dan rute sebelum mulai berjalan, bukan sesudahnya). Kamu tidak wajib memakai jasa pemandu untuk menikmati situs ini, tapi kalau ingin memahami sejarahnya dan bukan sekadar berfoto, biaya kecil itu sepadan.

Sediakan waktu 60โ€“90 menit untuk kunjungan yang layak โ€” lebih lama lagi jika ingin menikmati lorong dan masjid bawah tanah, bukan sekadar terburu-buru foto di kolam. Pagi hari, tak lama setelah buka, adalah waktu paling sepi dan cahaya terbaik untuk area kolam; sore hari cocok untuk masjid bawah tanah.

Padukan dengan: Kampung Sekitar dan Keraton

Karena Taman Sari berada di tengah kampung padat penduduk, kebanyakan wisatawan menganggap gang-gang di sekitarnya hanya sebagai jalan menuju kolam, tidak lebih. Padahal ini kesempatan yang sering terlewat. Gang-gang di sekitar kompleks dikenal warga lokal karena mural jalanan dan usaha batik kecil-kecilan tempat kamu bisa melihat langsung proses pembuatan batik tulis, kadang cukup dengan membeli minuman atau barang kecil tanpa biaya masuk resmi. Ini sendiri bisa memakan setengah jam yang menyenangkan kalau tidak sedang terburu-buru.

Padukan Taman Sari dengan Keraton (istana Sultan yang masih ditempati) di pagi yang sama โ€” jaraknya cukup dekat untuk ditempuh jalan kaki, dan bersama-sama keduanya memberi gambaran sejarah keraton Yogyakarta yang jauh lebih lengkap dibanding hanya mengunjungi salah satunya. Kebanyakan wisatawan yang hanya mampir ke Keraton dan melewatkan Taman Sari, atau sebaliknya, pulang dengan perasaan baru melihat setengah cerita. Mengingat jaraknya yang begitu dekat, tidak banyak alasan untuk memilih salah satu saja.

Yang Sering Ditanyakan Sebelum Berangkat

Apakah Taman Sari tetap layak dikunjungi setelah sudah ke Borobudur dan Prambanan? Ya โ€” ini jenis situs yang sepenuhnya berbeda. Candi-candi itu monumen keagamaan; Taman Sari adalah kediaman kerajaan yang pernah benar-benar dihuni, dengan skala yang jauh lebih personal. Banyak wisatawan justru merasa ini jeda yang menyegarkan setelah seharian berkeliling candi.

Apakah kolamnya masih bisa dipakai berenang? Tidak. Umbul Binangun dijaga sebagai situs warisan budaya, dan berenang tidak diizinkan. Kolam-kolam ini hanya untuk dilihat dan difoto.

Apakah aman dan mudah dilalui untuk keluarga atau wisatawan lanjut usia? Ya, dengan satu catatan: bagian lorong memiliki langit-langit rendah, anak tangga batu yang tidak rata, dan pencahayaan remang, jadi siapa pun dengan keterbatasan gerak sebaiknya menanyakan rute yang lebih mudah ke pemandu, bukan langsung melewatkan masjid bawah tanah sepenuhnya โ€” biasanya ada cara untuk melihat sebagian besar area tanpa harus melewati lorong tersempit.

Harus pakai baju seperti apa? Pakaian sopan biasa sudah cukup โ€” Taman Sari adalah kediaman bersejarah, bukan tempat ibadah aktif, jadi tidak ada aturan wajib sarung atau penutup kepala seperti di pura atau candi. Sepatu yang nyaman lebih penting daripada aturan berpakaian di sini, karena kamu akan banyak melangkah di atas batu yang tidak rata.

Bagaimana dibandingkan dengan tiket Keraton? Keduanya tiket terpisah untuk situs terpisah, dan masing-masing tergolong murah. Membeli keduanya di hari yang sama adalah cara paling umum, dan tidak ada satu pun yang membutuhkan waktu sampai memenuhi satu pagi penuh sendirian.

Lewati saja versi Yogyakarta yang cuma Malioboro dan pagi yang terburu-buru di Borobudur. Taman Sari adalah situs yang menunjukkan seperti apa sebenarnya kehidupan sehari-hari kerajaan dulu โ€” dan ukurannya cukup ringkas untuk dimasukkan ke dalam satu sore tanpa mengacaukan sisa rencana perjalananmu.

Lanjut membaca

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?