Kuliner Legendaris

Kue Pelite

di Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Menelusuri Jejak Manis Kue Pelite: Legenda Kuliner Bangsawan dari Muntok, Bangka Barat

Di ujung barat Pulau Bangka, tepatnya di Kota Muntok, Kabupaten Bangka Barat, tersimpan sebuah khazanah kuliner yang melampaui sekadar pengganjal perut. Ia adalah Kue Pelite, sebuah kudapan lembut berwarna putih bersih yang terbungkus rapi dalam wadah pandan berbentuk perahu. Bagi masyarakat setempat, Kue Pelite bukan sekadar jajanan pasar; ia adalah simbol sejarah, saksi bisu pengasingan para tokoh bangsa, dan warisan budaya yang tetap lestari di tengah gempuran zaman.

#

Historiografi dan Jejak Bung Karno

Kue Pelite menyandang gelar "Kuliner Legendaris" bukan tanpa alasan yang kuat. Sejarah mencatat bahwa kue ini merupakan penganan favorit Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, selama masa pengasingannya di Muntok (Wisma Ranggam) pada tahun 1948-1949. Konon, setiap pagi, Bung Karno kerap memesan kue ini untuk menemani waktu membacanya.

Secara filosofis, nama "Pelite" sendiri diyakini merujuk pada bentuk wadahnya yang menyerupai lampu pelita (lampu minyak tradisional). Cahaya yang dihasilkan pelita disimbolkan melalui kelembutan tekstur dan rasa manis yang memberikan ketenangan. Dalam struktur sosial masyarakat Muntok yang kental dengan pengaruh Melayu dan Tionghoa, Kue Pelite dahulunya merupakan hidangan istimewa yang hanya disajikan untuk kalangan bangsawan atau tamu kehormatan di rumah-rumah panggung Melayu.

#

Anatomi dan Karakteristik Rasa

Sekilas, Kue Pelite mungkin terlihat mirip dengan kue talam atau kue sampan dari daerah lain di Nusantara. Namun, bagi lidah masyarakat Bangka Barat, terdapat perbedaan fundamental yang membuatnya tak tergantikan. Karakteristik utamanya terletak pada teksturnya yang sangat lembut, hampir menyerupai puding sutra atau custard, namun dengan cita rasa yang dominan gurih bersantan dan manis yang halus.

Kue ini terdiri dari satu lapisan utuh yang terbuat dari campuran tepung beras, santan kelapa kental, dan garam. Uniknya, di tengah-tengah kelembutan putih tersebut, terdapat "kejutan" berupa gula pasir yang tidak diaduk rata, melainkan diletakkan di dasar wadah sebelum adonan dituang. Saat dikukus, gula tersebut mencair dan membentuk karamel bening yang memberikan sensasi manis instan ketika sendok mencapai dasar kue.

#

Bahan Baku Pilihan dan Kearifan Lokal

Keistimewaan Kue Pelite terletak pada kesederhanaan bahan yang menuntut kualitas premium. Tidak ada bahan pengawet atau pewarna buatan dalam pembuatan kue ini.

1. Tepung Beras: Menggunakan beras pilihan yang digiling halus. Kualitas tepung sangat menentukan apakah kue akan menjadi kenyal atau lembut "lumer" di mulut.

2. Santan Kelapa: Harus menggunakan santan dari kelapa tua yang diperas manual tanpa tambahan air yang berlebihan (santan kental/pati santan). Ini memberikan aroma wangi yang kuat dan rasa gurih yang tertinggal di lidah (aftertaste).

3. Daun Pandan Besar: Ini adalah komponen krusial. Bukan sembarang daun pandan, melainkan jenis pandan besar yang kaku untuk dibentuk menjadi takir (wadah berbentuk kotak atau perahu). Daun pandan ini memberikan aroma khas yang meresap ke dalam adonan saat proses pengukusan.

4. Gula Pasir dan Garam: Penyeimbang rasa yang memberikan dimensi manis dan gurih.

#

Ritual Pembuatan: Teknis dan Tradisi

Proses pembuatan Kue Pelite masih mempertahankan teknik tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Tahap pertama adalah pembuatan takir. Daun pandan dibersihkan, dipotong dengan ukuran presisi, kemudian dilipat dan disemat dengan lidi (biting). Bentuk wadah ini harus kokoh karena adonan Kue Pelite sangat cair sebelum matang.

Adonan dibuat dengan mencampur tepung beras dan santan dengan perbandingan tertentu hingga mencapai konsistensi yang tepat. Rahasia kelezatannya terletak pada teknik pengukusan. Sebelum adonan dituang ke dalam wadah pandan, satu sendok teh gula pasir dimasukkan terlebih dahulu ke dasar wadah. Setelah itu, barulah adonan santan dituang hingga hampir penuh.

Kue kemudian dikukus dalam dandang panas selama kurang lebih 15 hingga 20 menit. Selama proses ini, aroma daun pandan yang dipanaskan akan bersenyawa dengan uap santan, menciptakan wangi yang memenuhi dapur. Para pembuat kue tradisional di Muntok biasanya menggunakan kayu bakar untuk menjaga kestabilan api, yang dipercaya memberikan aroma asap (smoky) yang samar dan menambah kekayaan rasa.

#

Dinasti Pembuat dan Pelestarian

Di Muntok, resep Kue Pelite biasanya dijaga ketat oleh keluarga-keluarga tertentu secara turun-temurun. Salah satu yang paling dikenal adalah garis keturunan yang menyuplai kue ini sejak zaman kemerdekaan. Meskipun saat ini banyak dijumpai di pasar-pasar tradisional seperti Pasar Muntok, namun para pencinta kuliner sejati biasanya mencari pembuat rumahan yang masih menggunakan resep orisinal tanpa campuran tepung tapioka atau bahan pengental lainnya.

Pemerintah Kabupaten Bangka Barat pun telah mengakui pentingnya nilai budaya Kue Pelite dengan menjadikannya sebagai salah satu ikon kuliner daerah. Dalam festival budaya atau penyambutan tamu negara, Kue Pelite selalu menempati posisi utama dalam daftar hidangan yang disajikan.

#

Konteks Budaya dan Cara Menikmati

Masyarakat Bangka Barat memiliki cara unik dalam menikmati Kue Pelite. Kue ini paling nikmat disantap dalam keadaan dingin atau suhu ruang. Karena teksturnya yang sangat lembut, Kue Pelite tidak bisa dimakan dengan tangan kosong; diperlukan sendok kecil untuk mengeruk kelembutan putihnya hingga mencapai lapisan gula di dasar.

Kue ini sering menjadi hidangan wajib dalam perayaan Sedekah Kampung atau saat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Dalam adat Melayu Muntok, menyajikan Kue Pelite kepada tamu dianggap sebagai bentuk penghormatan yang tinggi, melambangkan ketulusan hati tuan rumah (disimbolkan dengan warna putih) dan harapan akan hubungan yang manis (disimbolkan dengan gula di dalamnya).

#

Tantangan dan Eksistensi di Masa Depan

Meskipun menyandang status legendaris, tantangan terbesar Kue Pelite adalah sifatnya yang tidak tahan lama. Karena kandungan santan kental yang murni dan tanpa pengawet, kue ini biasanya hanya bertahan selama 12 hingga 15 jam di suhu ruang. Hal ini membuat Kue Pelite sulit untuk dijadikan oleh-oleh jarak jauh dalam bentuk segar, sehingga ia tetap menjadi kuliner eksklusif yang harus dinikmati langsung di tanah Bangka Barat.

Namun, keterbatasan ini justru menjadi daya tarik tersendiri. Para wisatawan yang berkunjung ke Pesanggrahan Menumbing atau Wisma Ranggam merasa belum lengkap perjalanannya jika tidak mencicipi langsung "Kue Bung Karno" ini di tempat asalnya.

#

Penutup: Merawat Warisan dalam Setiap Suapan

Kue Pelite adalah refleksi dari identitas Bangka Barat yang tenang namun kaya akan sejarah. Ia adalah perpaduan antara kesederhanaan bahan alam dengan ketelatenan tangan manusia. Bagi setiap orang yang mencicipinya, Kue Pelite menawarkan lebih dari sekadar rasa manis; ia menawarkan sepotong sejarah bangsa yang pernah singgah di sebuah kota kecil bernama Muntok. Menjaga eksistensi Kue Pelite berarti menjaga nyala api sejarah dan budaya agar tidak padam ditelan zaman, persis seperti namanya yang bermakna sebagai penerang.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Pasar Tradisional Muntok, Bangka Barat
entrance fee
Mulai dari Rp 2.000 per biji
opening hours
Pagi hari, 06:00 - 10:00

Tempat Menarik Lainnya di Bangka Barat

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Bangka Barat

Pelajari lebih lanjut tentang Bangka Barat dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Bangka Barat