Situs Sejarah

Masjid Jami' Muntok

di Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Peradaban Islam di Kota Timah: Sejarah Lengkap Masjid Jami' Muntok

Masjid Jami' Muntok bukan sekadar tempat peribadatan bagi masyarakat Muslim di Kabupaten Bangka Barat, melainkan sebuah monumen hidup yang merekam jejak panjang kolonialisme, kejayaan ekonomi timah, serta harmoni keberagaman di Kepulauan Bangka Belitung. Berdiri kokoh di jantung Kota Muntok, masjid ini menjadi saksi bisu transformasi wilayah ini dari sebuah pos perdagangan kecil menjadi pusat administrasi penting di masa lampau.

#

Asal-Usul dan Periode Pendirian

Masjid Jami' Muntok didirikan pada masa pemerintahan Abang Muhammad Ali, yang bergelar Tumenggung Kartanegara II, pada tahun 1883 Masehi (1300 Hijriah). Pembangunannya merupakan inisiatif dari para tokoh agama dan bangsawan lokal untuk menyediakan tempat ibadah yang representatif bagi masyarakat Melayu dan para pedagang Muslim yang singgah di Muntok.

Kota Muntok sendiri pada abad ke-19 merupakan pusat pemerintahan Karesidenan Bangka sekaligus pusat industri timah di bawah kendali pemerintah kolonial Hindia Belanda melalui perusahaan Bangka Tin Winning (BTW). Letaknya yang strategis di pesisir barat Pulau Bangka menjadikan masjid ini sebagai titik kumpul utama masyarakat saat itu. Menariknya, Masjid Jami' dibangun secara gotong royong dengan dukungan dana dari sumbangan sukarela masyarakat, yang mencerminkan kemandirian ekonomi masyarakat lokal di tengah dominasi ekonomi kolonial.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Secara arsitektural, Masjid Jami' Muntok menampilkan perpaduan unik antara gaya vernakular Melayu, pengaruh arsitektur Arab, dan sentuhan kolonial Belanda. Struktur bangunannya didominasi oleh material kayu berkualitas tinggi dan bata yang sangat kokoh.

Salah satu ciri khas yang paling menonjol adalah atapnya yang berbentuk limas bersusun tiga (tumpang), yang merupakan pengaruh kuat dari arsitektur masjid-masjid kuno di Nusantara, mirip dengan Masjid Agung Demak. Tingkatan atap ini dalam filosofi Islam Nusantara sering diartikan sebagai simbol Iman, Islam, dan Ihsan.

Bagian interior masjid didukung oleh tiang-tiang kayu besar yang disebut "soko guru". Jendela dan pintu masjid berukuran cukup besar dengan ventilasi kayu yang diukir halus, memungkinkan sirkulasi udara yang optimal di tengah iklim pesisir yang panas. Keunikan lainnya terletak pada lantai masjid yang sebagian masih mempertahankan ubin asli dari masa lalu, serta adanya menara kecil yang digunakan untuk mengumandangkan azan sebelum adanya pengeras suara modern.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Masjid Jami' Muntok memiliki posisi historis yang sangat vital karena letaknya yang berdampingan dengan Kelenteng Kong Fuk Miau. Keberadaan dua rumah ibadah ini dalam satu kompleks yang sangat berdekatan hanya dipisahkan oleh sebuah jalan kecil—menjadi simbol toleransi beragama yang telah mengakar sejak ratusan tahun lalu di Bangka Barat.

Selama masa perjuangan kemerdekaan, khususnya saat tokoh-tokoh bangsa seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Agus Salim, dan Mohammad Roem diasingkan ke Muntok (1948-1949), masjid ini menjadi salah satu tempat interaksi antara para pemimpin bangsa dengan masyarakat lokal. Meskipun para tokoh tersebut berada dalam pengawasan ketat Belanda di Wisma Ranggam dan Menumbing, pengaruh kehadiran mereka di Muntok memberikan semangat spiritual tersendiri bagi jamaah Masjid Jami'.

#

Tokoh dan Periode Terkait

Tokoh kunci di balik berdirinya masjid ini adalah keluarga Tumenggung dari keturunan bangsawan Palembang yang menetap di Bangka. Tumenggung Kartanegara II dipandang sebagai sosok visioner yang menyatukan struktur sosial masyarakat Bangka melalui pembangunan infrastruktur religi. Selain itu, para ulama lokal yang menimba ilmu di Mekkah pada akhir abad ke-19 juga turut memberikan kontribusi pada tata cara peribadatan dan pendidikan agama yang berpusat di masjid ini.

Pada masa pendudukan Jepang, masjid ini tetap berfungsi sebagai pusat kegiatan sosial, meskipun dengan berbagai pembatasan. Setelah kemerdekaan, Masjid Jami' menjadi pusat gerakan dakwah yang menyebar ke seluruh pelosok Bangka Barat.

#

Pelestarian dan Upaya Restorasi

Sebagai Situs Sejarah yang dilindungi di bawah Undang-Undang Cagar Budaya, Masjid Jami' Muntok telah mengalami beberapa kali renovasi. Namun, pemerintah daerah dan pengelola masjid (Badan Pengelola Masjid Jami') sangat berkomitmen untuk menjaga keaslian strukturnya.

Restorasi yang dilakukan biasanya berfokus pada penggantian kayu yang lapuk dengan jenis kayu yang sama (kayu bulian atau ulin), pengecatan ulang dengan warna putih dan hijau yang identik dengan warna Islam, serta penataan halaman untuk mendukung pariwisata sejarah. Penting untuk dicatat bahwa meskipun dilakukan modernisasi seperti pemasangan pendingin ruangan, bentuk asli mimbar kayu yang penuh ukiran khas Melayu tetap dipertahankan hingga saat ini.

#

Nilai Budaya dan Keagamaan

Bagi masyarakat Muntok, masjid ini bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah jantung kehidupan budaya. Tradisi "Nganggung"—yakni membawa makanan di atas dulang kuningan yang ditutup tudung saji ke masjid saat hari besar Islam—masih dipraktikkan secara rutin di sini. Masjid Jami' menjadi pusat utama pelaksanaan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha bagi masyarakat di pesisir barat Bangka.

Keberadaannya yang berdampingan dengan Kelenteng Kong Fuk Miau juga sering dijadikan objek studi bagi para sosiolog dan sejarawan mengenai konsep "Kerukunan dalam Perbedaan". Hal ini membuktikan bahwa sejak abad ke-19, masyarakat Bangka telah mengenal konsep koeksistensi damai antara etnis Melayu dan Tionghoa.

#

Fakta Sejarah Unik

Satu fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa sistem drainase asli di sekitar masjid dirancang sedemikian rupa untuk mengantisipasi luapan air laut saat pasang tinggi, menunjukkan kearifan lokal dalam konstruksi bangunan pesisir. Selain itu, konon kayu-kayu utama yang digunakan dalam pembangunan masjid ini dibawa menggunakan kapal dari pedalaman hutan Bangka dan Palembang, melewati proses perendaman bertahun-tahun agar tahan terhadap serangan rayap.

Kini, Masjid Jami' Muntok berdiri sebagai ikon pariwisata religi di Bangka Belitung. Wisatawan yang berkunjung ke kawasan Kota Tua Muntok tidak akan merasa lengkap tanpa menginjakkan kaki di masjid ini, merasakan hembusan angin laut sambil meresapi keheningan sejarah yang terpancar dari tiap sudut bangunannya yang bersahaja namun megah.

📋 Informasi Kunjungan

address
Jl. Imam Bonjol, Tanjung, Muntok, Bangka Barat
entrance fee
Gratis
opening hours
Setiap hari, Waktu Shalat

Tempat Menarik Lainnya di Bangka Barat

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Bangka Barat

Pelajari lebih lanjut tentang Bangka Barat dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Bangka Barat