Mercusuar Tanjung Kalian
di Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Konteks Sejarah dan Konstruksi Kolonial
Pembangunan Mercusuar Tanjung Kalian dilakukan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda melalui Loodswezen (Dinas Kepanduan) pada tahun 1862. Pembangunannya dipicu oleh meningkatnya volume lalu lintas kapal yang membawa timah dari Bangka menuju pasar internasional, serta perlunya navigasi yang aman di jalur sempit Selat Bangka yang rawan karang.
Secara teknis, menara ini merupakan bagian dari jaringan infrastruktur maritim yang dirancang oleh insinyur-insinyur Belanda pada masa itu. Meskipun nama arsitek spesifiknya sering kali terkubur dalam arsip Waterstaat, desainnya mengikuti pola standar menara suar kelas satu (Eerste Klas) yang mengutamakan ketahanan struktur terhadap korosi air laut dan tekanan angin lateral yang ekstrem.
Tipologi Arsitektur dan Desain Struktural
Mercusuar Tanjung Kalian memiliki gaya arsitektur kolonial fungsionalis dengan bentuk menara silindris yang mengerucut ke atas (tapered). Struktur setinggi kurang lebih 56 meter ini dibangun dengan material utama bata merah yang sangat tebal, yang kemudian dilapisi plesteran halus dan dicat putih bersih. Warna putih ini bukan sekadar estetika, melainkan berfungsi sebagai "daymark" atau penanda visual bagi pelaut di siang hari.
Secara struktural, menara ini terdiri dari 18 lantai yang dihubungkan oleh tangga melingkar (spiral) yang terbuat dari besi cor (cast iron). Tangga ini merupakan salah satu elemen interior paling ikonik, menunjukkan kemajuan teknologi metalurgi Eropa pada masa itu. Setiap anak tangga dipasang masuk ke dalam struktur dinding bata, menciptakan sistem pengaku internal yang membantu menara tetap stabil saat terjadi guncangan atau angin kencang.
Detail Arsitektural dan Inovasi Teknis
Salah satu keunikan arsitektural Mercusuar Tanjung Kalian terletak pada bagian "Lantern House" atau rumah lampu di puncaknya. Ruangan ini dikelilingi oleh kaca tebal dengan rangka baja tahan karat yang mampu menahan tekanan angin laut. Di dalamnya terdapat lensa Fresnel, sebuah inovasi optik yang memungkinkan cahaya dari lampu kecil diproyeksikan hingga jarak 20 mil laut (sekitar 37 kilometer).
Pada bagian dasar menara, terdapat bangunan pendukung yang dulunya berfungsi sebagai gudang minyak (bahan bakar lampu) dan tempat tinggal penjaga suar (Lighthouse Keeper). Bangunan dasar ini memiliki ciri khas arsitektur Indische Empire Style yang disederhanakan, dengan langit-langit tinggi dan jendela-jendela besar untuk sirkulasi udara optimal di iklim tropis yang lembap.
Signifikansi Sosial dan Budaya
Bagi masyarakat Muntok dan Bangka Barat, Mercusuar Tanjung Kalian adalah simbol ketangguhan. Menara ini menjadi saksi peristiwa sejarah kelam pada masa Perang Dunia II, khususnya peristiwa pengeboman kapal-kapal perawat Australia oleh pesawat Jepang di perairan depan mercusuar pada tahun 1942. Tragedi "Vyner Brooke" menjadikan kawasan di sekitar mercusuar ini sebagai situs memori bagi warga Australia dan komunitas internasional.
Secara sosial, mercusuar ini telah bertransformasi dari sekadar alat navigasi menjadi ruang publik. Ia menjadi pusat orientasi bagi masyarakat lokal. Keberadaannya memberikan rasa aman dan kebanggaan akan warisan sejarah yang masih terjaga keasliannya hingga saat ini.
Pengalaman Pengunjung dan Estetika Visual
Mengunjungi Mercusuar Tanjung Kalian menawarkan pengalaman arsitektural yang mendalam. Pengunjung diperbolehkan mendaki tangga spiral hingga mencapai balkon di puncak menara. Perjalanan menaiki 117 anak tangga memberikan sensasi ruang yang claustrophobic namun puitis, dengan cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela kecil (portholes) di sepanjang dinding silinder.
Dari balkon puncak, pengunjung disuguhi pemandangan panorama 360 derajat yang mencakup garis pantai Tanjung Kalian, pelabuhan feri yang sibuk, serta hamparan Selat Bangka. Di sini, interaksi antara arsitektur buatan manusia dan lanskap alam terlihat sangat kontras namun harmonis. Struktur putih menara tampak mencolok di antara birunya laut dan hijaunya vegetasi pesisir.
Pelestarian dan Fungsi Saat Ini
Hingga saat ini, Mercusuar Tanjung Kalian tetap berfungsi sebagai sarana bantu navigasi pelayaran (SBNP) aktif di bawah pengawasan Distrik Navigasi Kelas I Palembang. Keaslian strukturnya tetap terjaga meskipun telah berusia lebih dari satu setengah abad. Upaya konservasi terus dilakukan, termasuk pengecatan ulang secara berkala untuk melindungi dinding bata dari penggaraman (salt attack) yang umum terjadi pada bangunan tepi pantai.
Keberadaan bangkai kapal "SS Vyner Brooke" yang tenggelam di dekat pantai Tanjung Kalian menambah lapisan nilai sejarah pada situs ini, menjadikannya destinasi wisata sejarah yang kompleks. Integrasi antara fungsi teknis, nilai sejarah, dan potensi pariwisata menjadikan Mercusuar Tanjung Kalian sebagai aset arsitektural yang tak ternilai bagi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Sebagai bangunan ikonik, Mercusuar Tanjung Kalian mengajarkan bahwa arsitektur yang baik adalah arsitektur yang mampu melampaui fungsi teknisnya. Ia tidak hanya menerangi jalan bagi para pelaut, tetapi juga menerangi sejarah panjang perjalanan bangsa di atas jalur maritim dunia. Menara ini tetap berdiri tegak, memadukan kekuatan struktur bata abad ke-19 dengan pesona estetika yang tak lekang oleh waktu.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Bangka Barat
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Bangka Barat
Pelajari lebih lanjut tentang Bangka Barat dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Bangka Barat