Pendulangan Intan Cempaka
di Banjarbaru, Kalimantan Selatan
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Jejak Abadi Permata Bumi: Sejarah dan Eksistensi Pendulangan Intan Cempaka
Pendulangan Intan Cempaka bukan sekadar lokasi penambangan tradisional di Kalimantan Selatan; ia adalah monumen hidup yang merekam denyut nadi perekonomian, ketangguhan sosial, dan keajaiban geologis di Tanah Banjar. Terletak di Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru, situs ini merupakan salah satu pusat penambangan intan tertua di Indonesia yang masih beroperasi hingga hari ini dengan metode yang nyaris tidak berubah selama berabad-abad.
#
Asal-Usul Historis dan Periode Pembentukan
Aktivitas pendulangan di Cempaka diperkirakan telah berlangsung sejak masa Kesultanan Banjar, jauh sebelum kolonial Belanda memantapkan pengaruhnya di wilayah Kalimantan Tenggara. Secara geologis, kawasan Cempaka berada di atas formasi batuan yang kaya akan endapan aluvial, tempat kristal karbon murni atau intan terakumulasi selama jutaan tahun.
Pada abad ke-18 dan ke-19, Cempaka menjadi magnet bagi para pencari keberuntungan. Masyarakat lokal mengembangkan teknik "mendulang" menggunakan alat tradisional berbentuk kerucut yang disebut linggangan. Sejarah mencatat bahwa kemasyhuran intan dari Cempaka sempat menarik perhatian para pedagang dari India, Arab, hingga Eropa, yang mencari batu mulia berkualitas tinggi dengan tingkat kekerasan dan kejernihan yang unggul dibandingkan intan dari belahan dunia lain.
#
Arsitektur Lanskap dan Metodologi Konstruksi Tradisional
Berbeda dengan situs sejarah berupa bangunan statis, Pendulangan Intan Cempaka adalah situs lanskap budaya. Struktur yang dominan di sini adalah lubang-lubang galian manual yang disebut "lubang tikus". Kedalaman lubang ini bisa mencapai 10 hingga 15 meter di bawah permukaan tanah.
Konstruksi lubang dilakukan dengan perhitungan tradisional yang sangat presisi untuk mencegah longsor. Para pendulang menggunakan kayu galam (Melaleuca cajuputi) sebagai penyangga utama di dalam tanah. Kayu galam dipilih karena sifatnya yang unik: semakin lama terendam air di dalam tanah, seratnya justru semakin kuat dan tidak mudah busuk. Struktur penyangga ini dibuat menyerupai kerangka vertikal yang menahan dinding tanah agar para pekerja dapat turun ke dasar lubang untuk mengambil lapisan tanah yang mengandung intan (disebut tanah karangan).
#
Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Monumental
Peristiwa paling fenomenal dalam sejarah situs ini terjadi pada tanggal 26 Agustus 1965. Sebuah kelompok pendulang yang dipimpin oleh H. Madlam menemukan intan raksasa seberat 166,75 karat. Intan ini kemudian diberi nama "Intan Trisakti" oleh Presiden pertama RI, Ir. Soekarno. Penemuan ini mengguncang dunia perintanan internasional dan mengukuhkan posisi Cempaka sebagai produsen intan kelas dunia.
Selain Trisakti, beberapa penemuan besar lainnya mencatat sejarah penting, seperti Intan Galuh Cempaka (106 karat) pada tahun 1846 di masa kolonial, dan Intan Putri Malu yang ditemukan pada tahun 2008. Setiap penemuan besar sering kali dikaitkan dengan narasi mistis dan kearifan lokal, di mana masyarakat percaya bahwa intan adalah "makhluk" yang hanya menampakkan diri kepada orang-orang dengan hati yang bersih.
#
Tokoh dan Kaitan dengan Periode Kolonial
Pada masa penjajahan Belanda, pemerintah kolonial mencoba melakukan modernisasi penambangan di Cempaka melalui perusahaan Oost-Indische Ontginning Maatschappij. Namun, upaya industrialisasi ini sering kali gagal bersaing dengan efisiensi dan ketajaman insting para pendulang tradisional. Para pendulang lokal, yang sering disebut "Galuh" (sebutan sayang untuk intan yang belum ditemukan), memiliki pengetahuan taksonomi tanah yang tidak dimiliki oleh para ahli geologi Barat pada masa itu.
Tokoh-tokoh seperti para pemimpin kelompok pendulang (Ketua Kelompok) memegang peranan penting dalam struktur sosial di situs ini. Mereka bukan hanya pengatur kerja, tetapi juga pemelihara adat istiadat yang menjaga harmoni antara manusia dan alam di area pertambangan.
#
Status Pelestarian dan Upaya Konservasi
Saat ini, Pendulangan Intan Cempaka dikelola sebagai Situs Warisan Budaya dan Destinasi Wisata Sejarah oleh Pemerintah Kota Banjarbaru. Meskipun aktivitas penambangan masih berlangsung secara aktif (yang menjadikannya living heritage), tantangan besar muncul dari aspek lingkungan dan modernisasi.
Upaya pelestarian difokuskan pada perlindungan metode tradisional agar tidak tergerus oleh penggunaan mesin pompa mekanis yang berlebihan. Pemerintah daerah telah membangun infrastruktur pendukung seperti menara pandang dan pusat informasi untuk mengedukasi wisatawan mengenai sejarah panjang intan di Kalimantan Selatan. Restorasi di sini tidak bermakna memperbaiki bangunan, melainkan menjaga ekosistem sosial dan teknis agar ritual mendulang tetap autentik sesuai tradisi nenek moyang.
#
Signifikansi Budaya dan Religi
Mendulang intan di Cempaka bukan sekadar mencari nafkah, melainkan sebuah laku budaya yang sarat dengan nilai spiritual. Terdapat kode etik dan pantangan (pamali) yang harus dipatuhi. Misalnya, larangan menyebut kata "intan" saat berada di lokasi (diganti dengan sebutan "Galuh"), larangan bersiul, atau kewajiban menjaga kebersihan ucapan.
Masyarakat Cempaka yang religius memadukan kepercayaan lokal dengan nilai-nilai Islam. Sebelum melakukan penggalian lubang baru, biasanya dilakukan ritual doa bersama agar diberikan keselamatan dan keberkahan. Hal ini menunjukkan bahwa situs ini merupakan titik temu antara eksploitasi ekonomi, tradisi luhur, dan ketaatan spiritual.
#
Fakta Sejarah Unik: Intan yang "Bernapas"
Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah keyakinan para pendulang bahwa intan di Cempaka bersifat "hidup". Mereka percaya bahwa intan bisa berpindah tempat atau menghilang jika para pendulang bertindak serakah atau tidak jujur. Secara teknis, hal ini merujuk pada pergeseran lapisan tanah aluvial akibat arus air bawah tanah, namun secara sosiologis, keyakinan ini berfungsi sebagai kontrol sosial untuk menjaga kejujuran di antara sesama pendulang dalam pembagian hasil.
Pendulangan Intan Cempaka tetap berdiri sebagai simbol identitas Kalimantan Selatan. Ia adalah pengingat bahwa di balik kilau permata yang mendunia, terdapat peluh, keberanian, dan sejarah panjang ribuan manusia yang menggantungkan hidup pada kemurahan hati bumi Banjarbaru. Sebagai situs sejarah, Cempaka menawarkan narasi tentang ketahanan sebuah tradisi yang mampu melintasi berbagai zaman, dari era kesultanan, kolonialisme, hingga kemerdekaan modern.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Banjarbaru
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Banjarbaru
Pelajari lebih lanjut tentang Banjarbaru dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Banjarbaru