Banjarbaru

Rare
Kalimantan Selatan
Luas
330,5 km²
Posisi
tengah
Jumlah Tetangga
3 wilayah
Pesisir
Tidak

Dipublikasikan: Januari 2025

History

#

Sejarah dan Perkembangan Banjarbaru: Dari Perbukitan Guntung Payung hingga Ibu Kota Provinsi

Asal-Usul dan Masa Kolonial: Transformasi Gunung Apam

Banjarbaru, yang terletak di jantung Kalimantan Selatan dengan luas wilayah 330,5 km², memiliki akar sejarah yang unik dibandingkan kota-kota pesisir lainnya di Kalimantan. Pada awal abad ke-20, wilayah ini hanyalah hamparan perbukitan yang dikenal sebagai Gunung Apam. Nama tersebut merujuk pada daerah dataran tinggi di perbukitan Guntung Payung yang menjadi tempat peristirahatan buruh tambang intan tradisional dari Cempaka. Selama masa kolonial Belanda, wilayah ini tidak begitu menonjol secara administratif namun mulai dilirik karena posisinya yang strategis di jalur darat yang menghubungkan Banjarmasin ke arah pedalaman (Hulu Sungai).

Era Kemerdekaan dan Visi Van der Pijl

Titik balik sejarah Banjarbaru terjadi pasca-kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1950-an, Gubernur Kalimantan saat itu, dr. Murjani, menyadari bahwa Banjarmasin sebagai ibu kota sering mengalami banjir dan keterbatasan lahan. Ia memiliki visi untuk membangun pusat pemerintahan baru yang lebih representatif di dataran tinggi.

Pada tahun 1953, arsitek berkebangsaan Belanda, D.A.W. Van der Pijl, ditunjuk untuk merancang tata kota Banjarbaru. Van der Pijl merancang kota ini dengan konsep "kota taman" yang modern, dengan jalan-jalan lebar dan zonasi yang teratur. Nama "Banjarbaru" sendiri secara harfiah berarti "Banjar yang Baru," yang dianugerahkan oleh dr. Murjani untuk membedakannya dari kota lama Banjarmasin. Pembangunan ini merupakan salah satu proyek perencanaan kota paling ambisius di awal era Republik.

Perkembangan Administratif dan Peran Strategis

Secara administratif, Banjarbaru awalnya berstatus sebagai Kota Administratif di bawah naungan Kabupaten Banjar. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1999, Banjarbaru resmi memisahkan diri menjadi Kotamadya yang mandiri. Secara geografis, kota ini bersifat landlocked (tidak memiliki pantai) dan dikelilingi oleh tiga wilayah tetangga utama: Kabupaten Banjar di utara dan timur, Kabupaten Tanah Laut di selatan, serta Kota Banjarmasin di barat.

Kehadiran Bandara Syamsudin Noor di wilayah Landasan Ulin pada tahun 1970-an memperkuat posisi Banjarbaru sebagai gerbang utama Kalimantan Selatan. Secara historis, bandara ini bermula dari lapangan terbang militer yang dibangun Jepang selama Perang Dunia II.

Warisan Budaya dan Situs Bersejarah

Meskipun kota ini relatif muda secara arsitektur, Banjarbaru menyimpan warisan budaya yang mendalam di Kecamatan Cempaka. Pendulangan intan tradisional di Cempaka adalah warisan turun-temurun yang telah ada sejak zaman kesultanan. Di sinilah ditemukan Intan Trisakti yang legendaris pada tahun 1965, sebuah peristiwa yang mengguncang dunia permata internasional.

Monumen penting seperti Lapangan Murjani dan Kantor Gubernur Kalimantan Selatan (yang kini secara resmi berpindah ke Banjarbaru melalui UU No. 8 Tahun 2022) menjadi simbol transformasi kota ini dari sekadar kawasan pemukiman menjadi pusat politik dan ekonomi.

Banjarbaru Modern: Menuju Masa Depan

Kini, Banjarbaru bukan lagi sekadar kota satelit. Dengan ditetapkannya Banjarbaru sebagai Ibu Kota Provinsi Kalimantan Selatan menggantikan Banjarmasin, sejarah baru sedang ditulis. Kota ini berperan sebagai penyangga utama bagi pembangunan nasional di Kalimantan, sekaligus mempertahankan identitasnya sebagai kota pendidikan dan jasa yang tertata rapi di tengah rimbunnya hutan tropis Kalimantan.

Geography

#

Karakteristik Geografis Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan

Kota Banjarbaru merupakan pusat administrasi baru bagi Provinsi Kalimantan Selatan yang memiliki profil geografis unik sebagai wilayah daratan murni. Terletak secara astronomis pada koordinat 3°20’ LS – 3°30’ LS dan 114°45’ BT – 114°54’ BT, kota ini mencakup wilayah seluas 330,5 km². Secara regional, Banjarbaru menempati posisi strategis di bagian tengah provinsi dan berbatasan langsung dengan tiga wilayah administratif: Kabupaten Banjar di sisi utara, timur, dan barat, serta Kabupaten Tanah Laut di sisi selatan.

##

Topografi dan bentang Alam

Berbeda dengan kota-kota pesisir di Kalimantan, Banjarbaru tidak memiliki garis pantai. Topografinya didominasi oleh dataran yang bergelombang dengan kemiringan lereng berkisar antara 0 hingga 8 persen, meskipun terdapat beberapa area yang mencapai kemiringan 15 persen di wilayah timur. Ketinggian wilayah ini bervariasi antara 0 hingga 500 meter di atas permukaan laut (mdpl), dengan titik tertinggi berada di kawasan Gunung Kupang dan perbukitan di sekitar Cempaka. Struktur geologinya didominasi oleh formasi batuan sedimen dan endapan permukaan yang menjadi fondasi bagi tanah jenis podsolik merah kuning dan latosol.

##

Hidrologi dan Aliran Sungai

Meskipun tidak berbatasan dengan laut, Banjarbaru dialiri oleh beberapa sungai penting yang menjadi urat nadi drainase kota. Sungai Kemuning dan Sungai Basung adalah dua aliran utama yang membelah pusat kota. Karakteristik sungai di sini cenderung tenang namun sangat dipengaruhi oleh curah hujan lokal. Terdapat pula kawasan rawa lebak di bagian barat yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air alami, mencegah banjir di wilayah dataran rendah sekitarnya.

##

Iklim dan Pola Musim

Banjarbaru memiliki iklim tropis basah dengan variasi musiman yang dipengaruhi oleh angin muson. Suhu udara rata-rata berkisar antara 26°C hingga 34°C. Intensitas curah hujan cukup tinggi, terutama pada periode November hingga April, sementara musim kemarau yang terjadi antara bulan Juni hingga September sering kali menciptakan fenomena unik berupa peningkatan suhu permukaan akibat karakteristik tanah yang cepat menyerap panas.

##

Sumber Daya Alam dan Ekologi

Wilayah Cempaka di Banjarbaru dikenal secara global karena kekayaan mineralnya, khususnya intan dan emas yang ditambang secara tradisional. Selain mineral, sektor kehutanan dan agrikultur didukung oleh keberadaan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam yang terletak di perbatasan wilayahnya, melindungi keanekaragaman hayati khas hutan hujan tropis. Zona ekologi di Banjarbaru mencakup padang ilalang luas di wilayah perkantoran gubernur dan hutan sekunder yang menjadi habitat bagi berbagai jenis burung endemik Kalimantan dan primata kecil. Kesuburan tanah di bagian selatan juga mendukung pengembangan hortikultura dan perkebunan karet yang menjadi komoditas unggulan lokal.

Culture

#

Membedah Jantung Budaya Banjarbaru: Kota Idaman di Kalimantan Selatan

Banjarbaru, yang secara resmi ditetapkan sebagai Ibu Kota Provinsi Kalimantan Selatan, merupakan wilayah seluas 330,5 km² yang terletak di posisi tengah (pedalaman) tanpa garis pantai. Meskipun secara geografis dikelilingi oleh Kabupaten Banjar dan Kabupaten Tanah Laut, Banjarbaru memiliki identitas budaya yang unik—sebuah perpaduan harmonis antara tradisi Banjar yang kental dengan modernitas kota administratif.

##

Tradisi, Upacara, dan Pranata Sosial

Sebagai bagian dari tanah Banjar, masyarakat Banjarbaru masih memegang teguh tradisi Baayun Maulid. Upacara ini dilakukan untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW, di mana bayi-bayi diayun dalam ayunan yang dihias dengan janur dan berbagai kudapan tradisional. Selain itu, tradisi Baurung-urung (gotong royong) tetap hidup di tengah masyarakat pinggiran kota, terutama saat mempersiapkan hajatan besar atau perayaan keagamaan. Nilai religiusitas Islam sangat mendominasi, tercermin dalam peringatan "Haul" tokoh-tokoh ulama besar yang seringkali memobilisasi ribuan orang.

##

Kesenian dan Manifestasi Estetika

Dalam bidang seni pertunjukan, Banjarbaru menjadi pusat pengembangan Madihin, seni tradisi lisan Banjar yang memadukan komedi, nasihat, dan irama rebana. Selain itu, tari Baksa Kembang sering dipentaskan sebagai tarian penyambutan tamu agung di balai kota. Uniknya, Banjarbaru juga dikenal sebagai episentrum seni rupa di Kalimantan Selatan, dengan komunitas seniman yang aktif mengadakan pameran seni kontemporer yang menggabungkan motif tradisional dengan gaya modern.

##

Tekstil dan Busana Tradisional

Banjarbaru adalah rumah bagi industri kreatif Kain Sasirangan. Berbeda dengan daerah lain, pengrajin di Banjarbaru sering bereksperimen dengan pewarna alami dari kulit kayu mahoni atau ulin. Motif yang populer meliputi Iris Pudak dan Kambang Kacang. Pada acara adat, masyarakat mengenakan busana Pokko atau Bagajah Gamuling Baular Lulut, yang sering dipadukan dengan aksesoris logam mulia hasil kerajinan tangan lokal.

##

Kuliner Khas dan Cita Rasa Lokal

Kekhasan kuliner Banjarbaru terletak pada ketersediaan bahan lokal dari lahan rawa dan hutan. Salah satu yang paling spesifik adalah Sayur Umbut Rotan yang memberikan sensasi pahit-gurih yang unik. Selain itu, Nasi Itik Gambut yang dibungkus daun pisang dengan bumbu habang (merah) yang pekat menjadi primadona bagi pelancong. Untuk camilan, Wadai Banjar seperti Bingka dan Amparan Tatak selalu menjadi hidangan wajib dalam setiap upacara adat.

##

Bahasa dan Identitas Dialektal

Bahasa Banjar dialek Kuala adalah bahasa pengantar utama. Namun, karena statusnya sebagai kota pendidikan dan pemerintahan, Banjarbaru memiliki variasi bahasa yang lebih cair. Terdapat ungkapan khas seperti "Kada kulihatan hidung" (sangat sibuk) atau penggunaan partikel "pang" dan "gin" yang memberikan penekanan emosional dalam percakapan sehari-hari.

##

Festival dan Praktik Keagamaan

Setiap tahun, Banjarbaru menyelenggarakan Banjarbaru Rainy Day Literary Festival yang mengangkat sastra lokal ke kancah internasional. Di sisi religius, keberadaan Masjid Agung Al-Munawwarah menjadi pusat kegiatan dakwah dan festival seni Islami. Kehidupan budaya di sini adalah refleksi dari kota yang sedang bertransformasi menjadi metropolis, namun tetap teguh memegang akar tradisi "Kayuh Baimbai" (mendayung bersama-sama).

Tourism

#

Menjelajahi Banjarbaru: Jantung Modernitas dan Pesona Alam Kalimantan Selatan

Terletak strategis di posisi tengah Kalimantan Selatan, Banjarbaru kini resmi menyandang status sebagai ibu kota provinsi. Dengan luas wilayah 330,5 km², kota ini merupakan permata daratan yang unik karena tidak memiliki garis pantai, namun menawarkan pesona perbukitan dan keramahtamahan urban yang jarang ditemukan di tempat lain. Berbatasan langsung dengan Kabupaten Banjar dan Kabupaten Tanah Laut, Banjarbaru adalah gerbang utama bagi wisatawan yang mendarat di Bandara Internasional Syamsudin Noor.

##

Pesona Alam dan Ruang Terbuka Hijau

Meskipun tidak memiliki pantai, Banjarbaru dikaruniai lanskap perbukitan yang eksotis. Pendakian Bukit Pinus dan Bukit Lentera menawarkan pemandangan kota dari ketinggian yang memukau, terutama saat matahari terbenam. Salah satu ikon alam yang paling unik adalah Danau Biru Pengaron dan Danau Seran. Danau-danau ini merupakan bekas area tambang yang bertransformasi menjadi perairan berwarna biru kristal yang dikelilingi pepohonan rindang. Selain itu, Banjarbaru dikenal sebagai "Kota Seribu Taman", di mana Taman Van der Pijl dan Hutan Pinus Mentaos menjadi paru-paru kota yang sejuk untuk bersantai di bawah naungan pohon pinus yang menjulang tinggi.

##

Jejak Budaya dan Sejarah

Pencinta sejarah dapat mengunjungi Museum Lambung Mangkurat. Museum ini menyimpan artefak berharga dari Kesultanan Banjar, replika rumah adat, hingga peninggalan purbakala yang menceritakan evolusi kehidupan di Kalimantan Selatan. Untuk pengalaman budaya yang lebih autentik, wisatawan dapat mengunjungi pusat kerajinan di Kampung Purun. Di sini, Anda bisa melihat langsung proses pengolahan tanaman purun menjadi tas, topi, dan tikar yang artistik, yang merupakan simbol ketahanan ekonomi lokal.

##

Petualangan dan Pengalaman Unik

Salah satu pengalaman paling langka adalah mengunjungi Pendulangan Intan Cempaka. Lokasi ini adalah salah satu situs penambangan berlian tradisional tertua di dunia. Anda dapat menyaksikan para pendulang bekerja secara manual di dalam lubang-lubang galian demi menemukan intan murni, termasuk sejarah penemuan Intan Trisakti yang legendaris. Bagi penyuka adrenalin, area perbukitan di sekitar Banjarbaru juga kerap digunakan untuk jalur off-road sepeda gunung dan motor trail.

##

Wisata Kuliner dan Akomodasi

Kuliner Banjarbaru adalah perpaduan cita rasa Banjar asli dan pengaruh modern. Anda wajib mencicipi Nasi Itik Gambut yang gurih atau Soto Banjar dengan kuah rempah yang kaya. Kota ini juga berkembang menjadi pusat kopi kreatif di Kalimantan, dengan deretan kafe modern di sepanjang Jalan Panglima Batur. Untuk akomodasi, Banjarbaru menawarkan pilihan mulai dari hotel berbintang yang modern hingga guest house yang kental dengan suasana kekeluargaan penduduk lokal yang dikenal sangat santun (reputasi Wong Banjar).

##

Waktu Terbaik untuk Berkunjung

Musim kemarau antara Juni hingga September adalah waktu terbaik untuk berkunjung agar dapat menikmati keindahan danau dan perbukitan tanpa terkendala hujan. Banjarbaru bukan sekadar kota transit; ia adalah perpaduan harmoni antara kemajuan infrastruktur dan keaslian alam Borneo.

Economy

#

Profil Ekonomi Kota Banjarbaru: Pusat Pertumbuhan Baru Kalimantan Selatan

Banjarbaru, yang kini resmi menyandang status sebagai Ibu Kota Provinsi Kalimantan Selatan, merupakan wilayah daratan seluas 330,5 km² yang terletak di posisi strategis "tengah" jalur penghubung antar-wilayah. Berbatasan dengan Kabupaten Banjar di utara, barat, dan timur, serta Kabupaten Tanah Laut di selatan, kota ini tidak memiliki wilayah pesisir. Meskipun narasi geografis seringkali dikaitkan dengan pedalaman, ekonomi Banjarbaru justru berkembang pesat sebagai hub jasa dan transit utama di Pulau Kalimantan.

##

Transformasi Sektor Jasa dan Perdagangan

Pergeseran status ibu kota telah memicu ledakan di sektor jasa dan perdagangan. Banjarbaru menjadi pusat gravitasi ekonomi baru dengan kehadiran perkantoran pemerintahan provinsi yang masif. Hal ini mendorong pertumbuhan sektor real estat dan perhotelan. Aktivitas ekonomi tidak lagi bergantung pada ekstraksi sumber daya alam secara langsung, melainkan pada penyediaan jasa logistik dan profesional. Kehadiran Bandara Internasional Syamsudin Noor di wilayah ini menjadi tulang punggung konektivitas udara yang vital bagi distribusi barang dan mobilitas manusia di Kalimantan Selatan.

##

Industri Kreatif dan Kerajinan Khas

Di tengah modernisasi, Banjarbaru mempertahankan identitas melalui industri kreatif. Lokakarya kerajinan tradisional seperti pembuatan Kain Sasirangan dengan motif khas "Bordir Banjarbaru" menjadi produk unggulan yang menembus pasar nasional. Selain itu, wilayah Cempaka dikenal secara global melalui penambangan intan tradisional. Meskipun bukan industri manufaktur skala besar, pengolahan batu mulia dan intan di pusat pertokoan Cahaya Bumi Selamat (CBS) menciptakan ekosistem ekonomi mikro yang kuat, melibatkan pengrajin penggosokan intan dan perhiasan perak.

##

Sektor Pertanian dan Industri Pengolahan

Karena tidak memiliki ekonomi maritim, Banjarbaru mengoptimalkan lahan daratannya untuk sektor agribisnis dan peternakan. Wilayah Landasan Ulin dan Liang Anggang dikenal sebagai sentra hortikultura dan peternakan ayam potong yang menyuplai kebutuhan protein bagi Banjarmasin dan sekitarnya. Industri pengolahan makanan skala kecil hingga menengah (UMKM) berkembang pesat, mengolah hasil bumi menjadi produk bernilai tambah seperti olahan lidah buaya dan sirup buah lokal.

##

Infrastruktur dan Tren Ketenagakerjaan

Pembangunan infrastruktur jalan tol dan aksesibilitas menuju kawasan industri kian dipercepat. Tren ketenagakerjaan menunjukkan pergeseran dari sektor pertanian ke sektor jasa, konstruksi, dan ritel modern. Kehadiran berbagai pusat perbelanjaan dan pusat kuliner di sepanjang Jalan Ahmad Yani menciptakan ribuan lapangan kerja baru bagi angkatan muda. Banjarbaru saat ini memposisikan diri bukan hanya sebagai pusat administratif, tetapi juga sebagai kota pendidikan dan jasa yang mandiri, yang menghubungkan ekonomi pedalaman Kalimantan dengan pasar global melalui integrasi infrastruktur transportasi yang modern.

Demographics

#

Profil Demografis Kota Banjarbaru: Pusat Pertumbuhan Kalimantan Selatan

Banjarbaru, yang kini resmi menyandang status sebagai Ibu Kota Provinsi Kalimantan Selatan, memiliki karakteristik demografis yang unik sebagai kota administratif dan pendidikan. Dengan luas wilayah sekitar 330,5 km², kota ini menempati posisi strategis di tengah (sentral) koridor ekonomi regional, berbatasan langsung dengan Kabupaten Banjar di utara, timur, dan barat, serta Kabupaten Tanah Laut di selatan.

Kepadatan dan Distribusi Penduduk

Berdasarkan data terbaru, populasi Banjarbaru telah melampaui 260.000 jiwa. Tingkat kepadatan penduduknya mencapai sekitar 780 jiwa per km², dengan konsentrasi tertinggi berada di Kecamatan Banjarbaru Utara dan Landasan Ulin. Berbeda dengan daerah pesisir, distribusi penduduk di Banjarbaru sangat dipengaruhi oleh keberadaan infrastruktur vital seperti Bandara Internasional Syamsudin Noor dan pusat perkantoran gubernur.

Komposisi Etnis dan Keragaman Budaya

Secara demografis, Banjarbaru adalah "miniatur Indonesia" di Kalimantan. Meskipun etnis Banjar tetap dominan, kota ini memiliki proporsi etnis Jawa, Madura, Bugis, dan Dayak yang sangat signifikan. Keberagaman ini tercipta karena sejarah Banjarbaru yang awalnya dirancang sebagai kota terencana (planned city) oleh Van der Pijl, yang menarik banyak pendatang dari luar pulau untuk bekerja di sektor pemerintahan dan jasa.

Struktur Usia dan Piramida Penduduk

Struktur kependudukan Banjarbaru didominasi oleh kelompok usia produktif (15-64 tahun), membentuk piramida penduduk ekspansif yang melebar di bagian tengah. Hal ini mengindikasikan adanya bonus demografi. Tingginya jumlah penduduk usia muda juga dipicu oleh statusnya sebagai kota pelajar, di mana ribuan mahasiswa menetap untuk menempuh pendidikan di Universitas Lambung Mangkurat dan berbagai sekolah kedinasan.

Pendidikan dan Literasi

Banjarbaru mencatatkan angka melek huruf yang hampir mencapai 100%. Tingkat pendidikan rata-rata penduduknya adalah salah satu yang tertinggi di Kalimantan Selatan, dengan persentase lulusan perguruan tinggi yang signifikan. Ini berkorelasi langsung dengan banyaknya fasilitas pendidikan formal dan non-formal di wilayah ini.

Urbanisasi dan Migrasi

Pola urbanisasi di Banjarbaru bersifat sentripetal; penduduk dari kabupaten sekitar cenderung bermigrasi ke sini demi akses fasilitas publik yang lebih baik. Perpindahan ibu kota provinsi dari Banjarmasin ke Banjarbaru memicu gelombang migrasi aparatur sipil negara (ASN) secara masif, yang mengubah dinamika sosial-ekonomi kota dari agraris-jasa menjadi pusat administrasi modern. Dinamika ini menciptakan pola pemukiman urban yang tertata, membedakannya dari pertumbuhan organik kota-kota lama di sekitarnya.

💡 Fakta Unik

  • 1.Wilayah ini pernah menjadi lokasi pendaratan darurat pesawat Dakota milik maskapai India pada tahun 1947 yang membawa misi diplomatik penting bagi kemerdekaan Indonesia.
  • 2.Tradisi memandikan benda pusaka peninggalan Kerajaan Cantung yang disebut Upacara Adat Mahelat Pusaka rutin dilaksanakan oleh masyarakat setempat setiap bulan Maulud.
  • 3.Kawasan ini memiliki formasi batuan karst unik yang membentuk deretan gua alam eksotis, salah satunya adalah Gua Liang Bangkai yang menyimpan jejak hunian manusia prasejarah.
  • 4.Pusat pemerintahan kabupaten ini dikenal sebagai kota yang baru dibangun secara terencana sejak tahun 2003 untuk menjadi titik temu jalur transportasi darat di Kalimantan Selatan.

Destinasi di Banjarbaru

Semua Destinasi

Tempat Lainnya di Kalimantan Selatan

Lokasi Serupa

Panduan Perjalanan Terkait

Memuat panduan terkait...

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Uji Pengetahuanmu!

Apakah kamu bisa menebak Banjarbaru dari siluet petanya?