Bangunan Ikonik

Masjid Raya Sabilal Muhtadin

di Banjarmasin, Kalimantan Selatan

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Kemegahan Arsitektur Masjid Raya Sabilal Muhtadin: Simbol Spiritualitas dan Identitas Banua

Masjid Raya Sabilal Muhtadin bukan sekadar tempat ibadah; ia adalah manifestasi fisik dari sejarah panjang, kedalaman spiritual, dan ambisi arsitektural masyarakat Kalimantan Selatan. Terletak megah di jantung Kota Banjarmasin, tepatnya di tepi Sungai Martapura, masjid ini berdiri di atas lahan seluas 16 hektar yang dulunya merupakan kawasan benteng pertahanan Belanda, Fort Tatas. Sebagai masjid terbesar di Kalimantan Selatan, Sabilal Muhtadin menyajikan perpaduan unik antara modernisme abad ke-20 dengan kearifan lokal yang sarat makna.

#

Konteks Historis dan Filosofi Penamaan

Pembangunan Masjid Raya Sabilal Muhtadin dimulai pada tahun 1974 dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 9 Februari 1981. Nama "Sabilal Muhtadin" dipilih sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (1710–1812), seorang ulama besar dari Kerajaan Banjar yang pengaruhnya membentang hingga ke Asia Tenggara. Judul tersebut diambil dari kitab fikih monumental karangan beliau, Sabilal Muhtadin lit-Tafaqquh fi Amrid-din (Jalan bagi Orang-orang yang Mendapat Petunjuk untuk Mendalami Urusan Agama).

Pemilihan lokasi di bekas Fort Tatas memiliki signifikansi simbolis yang kuat: mengubah pusat kekuatan kolonial yang represif menjadi pusat spiritualitas yang membebaskan. Secara arsitektural, transisi ini menandai era baru desain bangunan publik di Kalimantan Selatan yang mulai meninggalkan gaya vernakular murni menuju gaya modern-monumental.

#

Karakteristik Arsitektur dan Inovasi Struktural

Gaya arsitektur Masjid Raya Sabilal Muhtadin sering digambarkan sebagai modern-tropis dengan sentuhan Timur Tengah yang disederhanakan. Tidak seperti masjid-masjid tradisional di Jawa yang menggunakan atap tumpang (meru), Sabilal Muhtadin mengadopsi kubah sebagai elemen dominan, namun dengan interpretasi yang sangat spesifik.

Kubah utama masjid ini berbentuk bulat pipih yang menyerupai "Tangguk" (alat penangkap ikan tradisional Banjar) atau "Topi Purun". Kubah ini terbuat dari bahan aluminium berwarna emas yang didatangkan khusus dari luar negeri pada masa itu, dengan diameter mencapai 38 meter. Struktur kubah ini tidak bertumpu pada kolom-kolom di tengah ruang shalat utama, melainkan didukung oleh struktur bentang lebar yang menciptakan ruang interior yang sangat lega dan tanpa hambatan pandang (clear span), memberikan kesan tak terhingga bagi jamaah yang berada di dalamnya.

Selain kubah utama, terdapat empat kubah kecil yang mengelilinginya, menciptakan komposisi visual yang dinamis. Di sudut-sudut bangunan, berdiri lima menara yang menjulang tinggi. Satu menara setinggi 45 meter dan empat menara lainnya setinggi 21 meter. Angka-angka ini tidak sembarangan; mereka melambangkan Rukun Islam serta semangat tahun kemerdekaan Indonesia (1945).

#

Detail Interior dan Materialitas

Memasuki bagian dalam masjid, pengunjung akan disambut oleh permainan material yang kontras namun harmonis. Dinding dan lantai masjid dilapisi oleh marmer berkualitas tinggi yang memberikan efek sejuk di tengah cuaca Banjarmasin yang terik. Salah satu fitur yang paling menonjol adalah penggunaan kaligrafi Arab yang dipahat dengan sangat halus pada material kayu dan logam.

Kaligrafi yang menghiasi dinding interior bukan sekadar dekorasi, melainkan kutipan ayat-ayat Al-Qur'an yang dipilih untuk merefleksikan kemuliaan ilmu pengetahuan dan ketaatan, sesuai dengan warisan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Lampu gantung kristal berukuran raksasa yang menggantung tepat di bawah pusat kubah utama menjadi titik fokus visual, menciptakan pantulan cahaya yang dramatis saat malam hari.

Pintu-pintu masjid dibuat dari kayu jati pilihan dengan ukiran khas Banjar yang rumit. Motif flora (daun dan bunga) mendominasi ukiran ini, mencerminkan kekayaan hayati hutan Kalimantan. Penggunaan ventilasi alami juga sangat diperhatikan; jendela-jendela tinggi dan celah-celah di bawah kubah memungkinkan sirkulasi udara silang (cross ventilation), membuat ruang tetap nyaman tanpa bergantung sepenuhnya pada pendingin udara mekanis.

#

Integrasi Lansekap dan Urbanitas

Salah satu keunikan Masjid Raya Sabilal Muhtadin adalah integrasinya dengan elemen air dan ruang terbuka hijau. Terletak di semenanjung kecil yang dikelilingi oleh aliran Sungai Martapura, masjid ini seolah-olah mengapung jika dilihat dari kejauhan. Keberadaan kanal-kanal kecil dan kolam di sekitar bangunan berfungsi sebagai pengatur suhu mikro (microclimate) yang mendinginkan suhu lingkungan sekitar.

Halaman masjid yang sangat luas berfungsi sebagai paru-paru kota Banjarmasin. Dengan ribuan pohon peneduh, kawasan ini menjadi ruang publik di mana interaksi sosial terjadi. Arsitek perancangnya, yang melibatkan tim dari berbagai disiplin, berhasil menciptakan transisi yang halus antara kesakralan ruang shalat dengan profanitas ruang publik kota.

#

Signifikansi Budaya dan Pengalaman Pengunjung

Bagi masyarakat Banjarmasin, Sabilal Muhtadin adalah "Titik Nol" spiritualitas. Masjid ini bukan hanya tempat shalat Jumat atau perayaan hari besar Islam, tetapi juga pusat kajian keislaman melalui perpustakaan dan lembaga pendidikan yang ada di dalam kompleksnya.

Pengalaman pengunjung yang datang ke sini sering kali dimulai dengan kekaguman pada skala bangunannya. Saat matahari terbenam, kubah emas masjid memantulkan cahaya jingga yang berpadu dengan riak air Sungai Martapura, menciptakan pemandangan ikonik yang sering diabadikan sebagai simbol Kalimantan Selatan. Di dalam ruangan, akustik yang dirancang dengan cermat memastikan suara imam atau penceramah terdengar jernih hingga ke sudut-sudut terjauh, menambah kekhusyukan ibadah.

#

Kesimpulan Arsitektural

Masjid Raya Sabilal Muhtadin adalah sebuah pencapaian teknik dan artistik pada zamannya. Ia berhasil menggabungkan teknologi konstruksi modern dengan nilai-nilai tradisional dan religius yang mendalam. Penggunaan kubah pipih, menara-menara simbolis, dan integrasi dengan ekosistem sungai menjadikan masjid ini salah satu karya arsitektur religi paling penting di Indonesia. Ia berdiri tegak sebagai monumen hidup yang menghubungkan masa lalu keemasan Kesultanan Banjar dengan masa depan Kalimantan Selatan yang modern, menjadikannya ikon yang tak tergantikan di tanah "Seribu Sungai".

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Antasan Besar, Kec. Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin
entrance fee
Gratis
opening hours
Setiap hari, 24 Jam

Tempat Menarik Lainnya di Banjarmasin

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Banjarmasin

Pelajari lebih lanjut tentang Banjarmasin dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Banjarmasin