Situs Sejarah

Museum Wasaka

di Banjarmasin, Kalimantan Selatan

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Perjuangan Rakyat Kalimantan Selatan: Narasi Sejarah Museum Wasaka

Museum Wasaka merupakan salah satu monumen sejarah terpenting di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Nama "Wasaka" sendiri bukan sekadar label, melainkan akronim dari semboyan perjuangan rakyat Kalimantan Selatan, yaitu "Waja Sampai Ka Puting". Dalam bahasa Banjar, semboyan ini berarti "Baja Sampai ke Ujung," yang mencerminkan tekad membaja dan semangat pantang menyerah dalam melawan kolonialisme hingga titik darah penghabisan. Terletak di Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara, museum ini berdiri megah di tepi Sungai Martapura sebagai saksi bisu heroisme masyarakat Banjar.

#

Latar Belakang Pendirian dan Masa Pembangunan

Gagasan pendirian Museum Wasaka lahir dari keinginan untuk mengabadikan memori kolektif perjuangan rakyat Kalimantan Selatan melawan penjajah Belanda, khususnya pada masa revolusi fisik tahun 1945-1949. Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan memandang perlunya sebuah wadah koleksi benda-benda bersejarah agar nilai-nilai patriotisme dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

Museum ini diresmikan pada tanggal 10 November 1991, bertepatan dengan Hari Pahlawan. Pemilihan tanggal tersebut sangat simbolis, menegaskan bahwa bangunan ini dikhususkan untuk menghormati jasa para pejuang kemerdekaan. Sebelum menjadi museum, bangunan ini merupakan rumah tinggal milik seorang warga bernama Haji Andir, yang kemudian dialihfungsikan dan direstorasi oleh pemerintah daerah untuk menjadi situs sejarah resmi.

#

Arsitektur Rumah Bubungan Tinggi: Filosofi dan Konstruksi

Salah satu daya tarik utama Museum Wasaka adalah bentuk bangunannya yang berupa Rumah Bubungan Tinggi. Ini adalah tipe rumah adat Banjar yang paling tinggi derajatnya dalam hierarki arsitektur tradisional Kalimantan Selatan. Dahulu, gaya bangunan seperti ini biasanya digunakan sebagai istana sultan atau kediaman bangsawan tinggi.

Konstruksi bangunan didominasi oleh kayu ulin (Eusideroxylon zwageri), kayu khas Kalimantan yang terkenal sangat kuat dan tahan air, bahkan sering dijuluki sebagai "kayu besi". Arsitektur rumah panggung ini dirancang untuk beradaptasi dengan lingkungan lahan basah dan pasang surut Sungai Martapura. Bagian atapnya yang curam dan menjulang tinggi melambangkan hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta. Ornamen ukiran bermotif flora, seperti kembang bogam dan pucuk rebung, menghiasi bagian pilar dan pagar, mencerminkan akulturasi budaya lokal dengan nilai-nilai Islam.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Terkait

Museum Wasaka memfokuskan koleksinya pada periode Revolusi Fisik di Kalimantan Selatan. Salah satu peristiwa sejarah yang paling erat kaitannya dengan museum ini adalah Proklamasi 17 Mei 1949. Peristiwa ini merupakan pernyataan sikap rakyat Kalimantan Selatan di bawah pimpinan Brigadir Jenderal H. Hassan Basry yang menyatakan bahwa Kalimantan Selatan tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Republik Indonesia, meskipun saat itu Belanda mencoba membentuk negara-negara boneka melalui Perjanjian Linggarjati dan Renville.

Di dalam museum, pengunjung dapat menemukan lebih dari 400 koleksi benda bersejarah. Di antaranya adalah senjata tradisional seperti mandau, keris, dan tombak, hingga senjata api modern hasil rampasan dari tentara Belanda seperti senapan laras panjang, pistol, dan mortir. Terdapat pula koleksi langka berupa baju zirah atau "baju rantai" yang digunakan pejuang Banjar, serta benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan spiritual (jimat) yang sering dibawa para pejuang ke medan laga.

#

Tokoh Penting dan Pergerakan ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan

Nama tokoh yang paling menonjol dalam narasi sejarah di Museum Wasaka adalah Brigadir Jenderal H. Hassan Basry, yang kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia. Beliau adalah pemimpin ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia) Divisi IV Pertahanan Kalimantan. Museum ini mendokumentasikan bagaimana koordinasi gerilya dilakukan dari pedalaman hutan hingga ke wilayah perairan sungai di Banjarmasin.

Selain Hassan Basry, museum ini juga mengenang peran tokoh-tokoh lokal lainnya dan organisasi perjuangan seperti Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI). Dokumen-dokumen penting berupa surat-surat rahasia, mesin ketik kuno yang digunakan untuk menyusun strategi, serta kamera tua yang merekam momen-momen krusial perjuangan, tersimpan rapi sebagai bukti otentik pergerakan kemerdekaan di tanah Borneo.

#

Upaya Pelestarian dan Restorasi

Sebagai situs sejarah yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya, Museum Wasaka terus mendapatkan perhatian dalam hal konservasi. Mengingat material utamanya adalah kayu ulin yang berada di lingkungan lembap dekat sungai, perawatan rutin terhadap rayap dan pelapukan menjadi prioritas pengelola.

Restorasi besar dilakukan untuk menjaga keaslian struktur bangunan tanpa menghilangkan nilai historisnya. Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, secara berkala melakukan penataan ulang tata pamer agar informasi sejarah dapat tersampaikan secara edukatif dan menarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Pemanfaatan teknologi digital kini mulai diintegrasikan untuk mendokumentasikan artefak agar data sejarahnya tidak hilang ditelan zaman.

#

Makna Budaya dan Religi dalam Perjuangan

Sejarah yang diusung Museum Wasaka tidak lepas dari pengaruh agama Islam yang kuat di Banjarmasin. Semangat "Waja Sampai Ka Puting" seringkali disandingkan dengan konsep "Jihad Fi Sabilillah" dalam melawan penjajah. Koleksi museum yang menampilkan naskah-naskah doa dan jimat bertuliskan ayat-ayat Al-Qur'an menunjukkan bahwa perjuangan fisik rakyat Banjar selalu dibarengi dengan landasan spiritual yang kuat.

Secara budaya, keberadaan museum ini di kawasan Sungai Jingah juga mendukung pelestarian kawasan kota lama Banjarmasin. Sungai Jingah dikenal sebagai area dengan deretan rumah-rumah banjar kuno yang masih lestari, menjadikan Museum Wasaka sebagai jangkar wisata sejarah yang menghubungkan masa lalu kejayaan kesultanan dan masa perjuangan kemerdekaan.

#

Fakta Unik dan Penutup

Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah adanya koleksi sepeda tua yang digunakan oleh para kurir pejuang untuk mengantarkan surat rahasia melewati barisan penjagaan Belanda. Selain itu, lokasi museum yang berada tepat di bawah Jembatan Banua Anyar memberikan perspektif visual yang kontras antara kemajuan infrastruktur modern dengan kekokohan bangunan tradisional masa lalu.

Museum Wasaka bukan sekadar gudang penyimpanan barang antik; ia adalah monumen harga diri. Setiap artefak di dalamnya menceritakan tetesan keringat dan darah masyarakat Kalimantan Selatan yang menolak tunduk pada hegemoni asing. Dengan mengunjungi museum ini, masyarakat diingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah pemberian, melainkan hasil dari tekad yang sekeras baja, dari awal hingga ke penghujung perjuangan.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Kampung Kenanga, Sungai Jingah, Kec. Banjarmasin Utara
entrance fee
Gratis / Sukarela
opening hours
Selasa - Minggu, 09:00 - 15:00

Tempat Menarik Lainnya di Banjarmasin

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Banjarmasin

Pelajari lebih lanjut tentang Banjarmasin dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Banjarmasin