Situs Sejarah

Museum ASI Mbojo

di Bima, Nusa Tenggara Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Asal-Usul dan Periode Pendirian

Istana yang kini dikenal sebagai Museum ASI Mbojo ini dibangun pada tahun 1927. Pembangunannya diprakarsai oleh Sultan Muhammad Salahuddin, Sultan Bima ke-14 yang memerintah antara tahun 1915 hingga 1951. Sebelum bangunan permanen ini berdiri, pusat pemerintahan Kesultanan Bima berada di istana kayu tradisional yang disebut Asi Pante.

Pembangunan istana ini memakan waktu sekitar tiga tahun dan selesai pada tahun 1930. Proyek ini melibatkan arsitek berkebangsaan Belanda bernama Obzicter Rehatta, namun pengerjaannya dilakukan secara gotong royong oleh rakyat Bima (Mbolo Ro Dampa). Kehadiran istana ini menandai era modernisasi administrasi kesultanan tanpa meninggalkan nilai-nilai feodalistik-religius yang telah mengakar kuat di tanah Dana Mbojo.

Arsitektur: Perpaduan Gaya Kolonial dan Simbolisme Lokal

Secara arsitektural, Museum ASI Mbojo mencerminkan gaya Indische Empire, sebuah tren arsitektur yang populer di Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Bangunan ini berbentuk persegi panjang dengan dua lantai yang megah. Struktur utamanya menggunakan batu bata tebal dengan langit-langit tinggi untuk sirkulasi udara yang optimal di tengah iklim tropis Bima yang panas.

Lantai pertama istana berfungsi sebagai pusat kegiatan administratif dan ruang penerimaan tamu formal. Di sini terdapat aula besar yang dahulu digunakan untuk pertemuan-pertemuan penting kesultanan. Sementara itu, lantai kedua bersifat lebih privat, berfungsi sebagai tempat tinggal sultan dan keluarga inti.

Keunikan bangunan ini terletak pada orientasinya. Meskipun bergaya Eropa, istana ini dibangun menghadap ke arah barat, searah dengan kiblat dan Masjid Agung Al-Muwahidin Bima. Di depan istana, terdapat lapangan luas yang disebut Serasuba, yang secara tradisional digunakan sebagai tempat berkumpulnya rakyat untuk mendengarkan maklumat sultan atau menyaksikan perayaan adat seperti U’a Pua.

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Museum ASI Mbojo adalah saksi dari berbagai peristiwa geopolitik besar. Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), istana ini sempat menjadi markas militer Jepang di wilayah timur Nusantara. Namun, momen paling bersejarah terjadi pada masa pasca-kemerdekaan.

Sultan Muhammad Salahuddin adalah salah satu pemimpin daerah yang sejak awal menyatakan dukungan penuh terhadap proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Melalui maklumatnya, ia mengintegrasikan Kesultanan Bima ke dalam Republik Indonesia. Istana ini kemudian menjadi pusat koordinasi pemerintahan daerah dalam menjaga stabilitas keamanan di wilayah Sunda Kecil pada masa revolusi fisik.

Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa Presiden Soekarno pernah menginap di istana ini dalam kunjungannya ke Bima. Kamar yang digunakan oleh Bung Karno hingga kini masih dirawat dengan baik dan menjadi salah satu daya tarik utama bagi pengunjung museum.

Tokoh Penting dan Koleksi Bersejarah

Tokoh sentral yang tak terpisahkan dari museum ini adalah Sultan Muhammad Salahuddin. Beliau dikenal sebagai sultan yang visioner, menguasai berbagai bahasa, dan sangat peduli pada pendidikan. Koleksi museum banyak menampilkan memorabilia pribadi beliau, mulai dari pakaian kebesaran, naskah khutbah yang ditulis tangan, hingga peralatan rumah tangga peninggalan keluarga kesultanan.

Di dalam museum, pengunjung dapat menyaksikan ribuan artefak yang terbagi dalam beberapa kategori:

1. Regalia Kesultanan: Mahkota emas, keris pusaka (seperti Keris Samparaja), dan payung kebesaran.

2. Naskah Kuno: Koleksi naskah Bo (catatan kuno Kesultanan Bima) yang ditulis dalam aksara Bima lama dan bahasa Melayu, berisi hukum adat, silsilah raja-raja, dan peristiwa penting.

3. Peralatan Perang: Meriam kuno peninggalan Portugis dan Belanda, serta senjata tradisional rakyat Mbojo.

4. Alat Musik Tradisional: Gendang, gong, dan serunai yang digunakan dalam protokoler istana.

Pentingnya Nilai Budaya dan Religius

Bagi masyarakat Bima, ASI Mbojo bukan sekadar museum, melainkan simbol identitas "Mojo" yang kental dengan nafas Islam. Hal ini tercermin dari struktur sosial di sekitar istana. Keberadaan istana yang berdekatan dengan masjid dan pasar (konsep Catur Gatra) menunjukkan bahwa kekuasaan sultan didasarkan pada ketuhanan dan kesejahteraan rakyat.

Tradisi U’a Pua, sebuah festival peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang melibatkan prosesi membawa pohon bunga telur dari istana ke masjid, masih terus dilestarikan hingga kini. Istana menjadi titik awal keberangkatan rombongan penari dan pemangku adat, menegaskan peran bangunan ini sebagai pusat gravitasi kebudayaan Islam di Nusa Tenggara Barat.

Upaya Pelestarian dan Restorasi

Setelah wafatnya Sultan Muhammad Salahuddin dan penghapusan sistem daerah swapraja, istana ini sempat mengalami masa-masa pengabaian. Namun, pada tahun 1980-an, atas prakarsa pemerintah daerah dan dukungan keluarga istana, bangunan ini mulai dipugar dan dialihfungsikan menjadi museum daerah.

Restorasi besar dilakukan untuk memperbaiki atap dan struktur kayu yang mulai lapuk dimakan usia. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan Museum ASI Mbojo sebagai Cagar Budaya Nasional. Saat ini, museum dikelola dengan manajemen yang lebih modern, mencakup digitalisasi naskah-naskah kuno agar dapat diakses oleh peneliti dari seluruh dunia tanpa merusak fisik naskah aslinya.

Sebagai destinasi wisata sejarah unggulan di Bima, Museum ASI Mbojo terus berbenah. Penataan taman di sekeliling museum dan pencahayaan artistik pada malam hari membuat situs ini tetap relevan bagi generasi muda. Ia berdiri sebagai jembatan yang menghubungkan kemegahan masa lalu Kesultanan Bima dengan semangat pembangunan masa kini, mengingatkan setiap orang bahwa di timur Indonesia, pernah berdiri sebuah kekuatan maritim dan spiritual yang sangat disegani.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Sultan Ibrahim, Pane, Rasanae Barat, Kota Bima
entrance fee
Rp 5.000 - Rp 10.000
opening hours
Senin - Sabtu, 08:00 - 16:00

Tempat Menarik Lainnya di Bima

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Bima

Pelajari lebih lanjut tentang Bima dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Bima