Bima

Epic
Nusa Tenggara Barat
Luas
4.223,61 km²
Posisi
selatan
Jumlah Tetangga
3 wilayah
Pesisir
Ya

Dipublikasikan: Januari 2025

History

#

Sejarah Bima: Kejayaan Maritim dan Spiritualitas di Timur Nusantara

Bima, yang terletak di ujung timur Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, merupakan wilayah dengan akar sejarah yang sangat kuat. Dengan luas wilayah mencapai 4223,61 km² dan garis pantai yang strategis, Bima telah memainkan peran krusial dalam jalur perdagangan maritim Nusantara selama berabad-abad.

##

Akar Prasejarah dan Masa Kesultanan

Sejarah Bima berawal dari masa Naka (pimpinan kelompok) yang kemudian berkembang menjadi kerajaan. Legenda lokal mencatat sosok Sang Bima sebagai leluhur raja-raja Bima yang membawa pengaruh Hindu-Jawa. Namun, transformasi paling signifikan terjadi pada abad ke-17. Pada tanggal 5 Juli 1640, La Kai resmi memeluk Islam dan bergelar Sultan Abdul Kahir. Momen ini menandai lahirnya Kesultanan Bima yang berlandaskan syariat Islam. Hubungan erat dengan Kerajaan Gowa-Tallo di Sulawesi memberikan pengaruh besar terhadap sistem pemerintahan dan penyebaran agama di wilayah ini.

##

Perlawanan Terhadap Kolonialisme

Selama masa kolonial, Bima dikenal karena keteguhannya melawan intervensi Belanda. Meskipun VOC mencoba menanamkan pengaruhnya melalui perjanjian dagang, rakyat Bima sering kali melakukan perlawanan gerilya. Salah satu tokoh pahlawan yang paling dihormati adalah Sultan Muhammad Salahuddin, sultan terakhir yang memimpin Bima dengan bijaksana di tengah tekanan pemerintah Hindia Belanda. Pada masa pendudukan Jepang, Bima menjadi basis pertahanan udara yang penting di wilayah selatan, yang menyisakan beberapa situs bunker di pesisir pantai.

##

Era Kemerdekaan dan Integrasi Nasional

Pasca Proklamasi Kemerdekaan 1945, Sultan Muhammad Salahuddin menunjukkan jiwa nasionalisme yang tinggi dengan menyatakan Kesultanan Bima sebagai bagian dari Republik Indonesia melalui maklumat 22 November 1945. Integrasi ini merupakan langkah berani yang memastikan Bima tetap menjadi pilar stabilitas di wilayah Timur. Status kesultanan kemudian bertransformasi menjadi daerah swapraja hingga akhirnya menjadi Kabupaten Bima di bawah Provinsi Nusa Tenggara Barat.

##

Warisan Budaya dan Situs Bersejarah

Kekayaan sejarah Bima tercermin dalam warisan budayanya yang unik. Asi Mbojo (Istana Bima) yang dibangun pada tahun 1927 dengan arsitektur perpaduan Eropa dan lokal kini menjadi museum yang menyimpan mahkota emas, keris pusaka, dan naskah kuno Bo Bima. Tradisi Pacu Jara (balap kuda tradisional) dan tarian Lenggo tetap dilestarikan sebagai identitas jati diri masyarakat. Selain itu, situs Wadu Pa’a yang merupakan relief tebing di pinggir laut menunjukkan jejak akulturasi budaya Hindu-Buddha yang langka di wilayah tersebut.

##

Pembangunan Modern dan Masa Depan

Saat ini, Bima berkembang menjadi pusat agribisnis dan maritim di selatan Indonesia. Sebagai daerah pesisir yang berbatasan langsung dengan Laut Flores dan Samudra Hindia, pembangunan pelabuhan dan sektor pariwisata sejarah menjadi fokus utama. Dengan mengandalkan semangat "Maja Labo Dahu" (Malu dan Takut kepada Tuhan), Bima terus berupaya menjaga keseimbangan antara modernitas dan pelestarian nilai-nilai sejarah yang luhur. Transformasi Bima dari kerajaan maritim yang disegani menjadi kabupaten yang dinamis membuktikan daya tahan historisnya dalam sejarah panjang Indonesia.

Geography

#

Profil Geografis Kabupaten Bima: Permata Pesisir di Gerbang Timur

Kabupaten Bima merupakan entitas wilayah strategis yang terletak di ujung timur Pulau Sumbawa. Secara administratif, wilayah ini berada di bagian selatan dari provinsi Nusa Tenggara Barat, berbatasan langsung dengan Samudera Hindia di sisi selatan, Laut Flores di utara, serta bersinggungan dengan wilayah Kabupaten Dompu dan Kota Bima. Dengan luas wilayah mencapai 4.223,61 km², Bima memiliki karakteristik geografis yang sangat kontras, mulai dari pesisir terjal hingga pegunungan vulkanik yang menjulang tinggi.

##

Topografi dan Bentang Alam

Topografi Bima didominasi oleh perbukitan dan pegunungan yang mencakup sekitar 70% dari total luas wilayahnya. Di bagian utara, bentang alam dipengaruhi oleh aktivitas vulkanik purba, dengan Gunung Tambora yang ikonik berdiri sebagai penjaga di semenanjung Sanggar. Pegunungan ini menciptakan lembah-lembah sempit namun subur yang menjadi pusat pemukiman. Di sisi selatan, wilayah ini memiliki garis pantai yang membentang di sepanjang Laut Indonesia, dicirikan oleh tebing-tebing curam dan teluk-teluk dalam seperti Teluk Waworada dan Teluk Sape yang menjadi urat nadi transportasi laut.

Sistem hidrologi di Bima didukung oleh beberapa sungai utama seperti Sungai Wanggu dan Sungai Padolo. Meskipun debit airnya sangat fluktuatif tergantung musim, sungai-sungai ini sangat krusial bagi irigasi di dataran rendah.

##

Karakteristik Iklim dan Cuaca

Bima memiliki iklim tropis semi-arid yang dipengaruhi oleh angin monsun Australia. Wilayah ini dikenal memiliki musim kemarau yang lebih panjang dibandingkan wilayah barat Indonesia, seringkali berlangsung dari bulan Mei hingga Oktober. Variasi musiman ini menciptakan pemandangan savana yang luas di beberapa area. Curah hujan tahunan berkisar antara 1.000 hingga 1.500 mm, dengan suhu udara rata-rata yang cukup tinggi, berkisar antara 24°C hingga 34°C, menjadikannya salah satu wilayah terpanas di Nusa Tenggara Barat.

##

Sumber Daya Alam dan Potensi Agraria

Kekayaan alam Bima bertumpu pada sektor pertanian dan kelautan. Secara spesifik, Bima adalah penghasil utama bawang merah nasional dan jagung, yang tumbuh subur di lahan-lahan kering berlereng. Di sektor kehutanan, terdapat potensi kayu jati dan hasil hutan non-kayu seperti madu hutan Sumbawa yang tersohor. Secara geologis, wilayah ini memiliki deposit mineral yang signifikan, termasuk potensi emas, perak, dan tembaga yang tertanam di struktur batuan vulkaniknya.

##

Ekologi dan Biodiversitas

Secara ekologis, Bima berada dalam zona transisi Wallacea, yang memadukan keanekaragaman hayati Asia dan Australia. Kawasan hutan lindung di Gunung Tambora dan pegunungan Donggo menjadi habitat bagi spesies endemik seperti burung Kakatua Kecil Jambul Kuning dan Rusa Timor. Ekosistem pesisirnya juga kaya akan terumbu karang dan hutan mangrove yang berfungsi sebagai benteng alami terhadap abrasi Samudera Hindia, sekaligus menjadi tempat pemijahan biota laut yang bernilai ekonomi tinggi.

Culture

Bima: Mutiara Budaya di Timur Nusa Tenggara Barat

Bima, atau yang secara lokal dikenal sebagai Dana Mbojo, merupakan wilayah seluas 4.223,61 km² yang terletak di ujung timur Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Sebagai daerah pesisir yang strategis di jalur pelayaran selatan nusantara, Bima memiliki kekayaan budaya "Epic" yang memadukan nilai-nilai Islam yang kuat dengan warisan luhur Kesultanan Bima.

#

Tradisi dan Upacara Adat

Kehidupan masyarakat Bima (Suku Mbojo) napasnya sangat dipengaruhi oleh filosofi *"Maja Labo Dahu"* (Malu dan Takut), yaitu rasa malu kepada sesama manusia dan takut kepada Tuhan. Salah satu upacara adat yang paling megah adalah Hanta Ua Pua, sebuah pawai budaya untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang kental dengan nuansa religius-historis. Selain itu, tradisi Pacu Jara (pacuan kuda tradisional) menjadi ikon unik di mana joki-joki cilik yang berani memacu kuda tanpa pelana, melambangkan ketangkasan dan keberanian masyarakat pesisir.

#

Kesenian dan Seni Pertunjukan

Dunia seni Bima diwarnai oleh gerak dinamis Tari Gantao, seni bela diri yang memadukan gerakan silat dengan iringan tabuhan gendang dan serunai. Ada pula Tari Lenggo, tarian klasik peninggalan kerajaan yang dibawakan dengan gerakan gemulai namun penuh wibawa. Dalam aspek musik, instrumen Sarone (alat musik tiup bambu) menghasilkan nada-nada melankolis yang sering mengiringi senandung Pacoa Jara atau puisi tradisional saat panen tiba.

#

Kerajinan dan Busana Tradisional

Salah satu identitas budaya yang paling menonjol adalah Tembe Nggoli, sarung tenun khas Bima yang dibuat dengan teknik *muna* (tenun tangan). Penggunaan kain ini melahirkan budaya Rimpu, yaitu cara berbusana perempuan Mbojo yang menggunakan dua lembar sarung untuk menutup aurat menyerupai cadar. Rimpu Colo diperuntukkan bagi wanita yang sudah menikah, sementara Rimpu Mpida bagi gadis remaja. Tekstil ini bukan sekadar pakaian, melainkan simbol kehormatan dan status sosial.

#

Gastronomi dan Kuliner Lokal

Kuliner Bima menawarkan cita rasa yang tegas, pedas, dan asam. Hidangan yang wajib dicicipi adalah Uta Maju Puru (daging rusa bakar) yang menjadi warisan berburu masyarakat zaman dulu. Untuk panganan sehari-hari, terdapat Uta Mbeche (sayur santan) dan Uta Loncha yang segar. Ikan bandeng dari perairan Bima juga diolah menjadi Bandeng Presto Bima atau Uta Palumara (sup ikan kuning) yang kaya akan rempah kunyit dan asam jawa.

#

Bahasa dan Dialek

Masyarakat setempat berkomunikasi menggunakan Bahasa Nggahi Mbojo. Bahasa ini memiliki tingkatan tutur yang unik guna menghormati lawan bicara, seperti penggunaan kata "Nahu" untuk menyebut diri sendiri secara santun atau "Mada" dalam konteks yang lebih formal/kerajaan. Dialeknya yang tegas mencerminkan karakter masyarakat pesisir yang jujur dan terbuka.

#

Praktik Religi dan Festival

Sebagai daerah yang dijuluki "Serambi Makkah" di NTB, praktik keagamaan merasuk ke dalam setiap sendi budaya. Festival seperti Festival Amanagappa atau perayaan pasca-panen selalu dimulai dengan doa bersama. Sinergi antara adat dan syariat Islam di Bima menciptakan tatanan sosial yang harmonis, menjadikan wilayah yang berbatasan dengan tiga wilayah tetangga ini sebagai pusat peradaban yang tak lekang oleh waktu di selatan nusantara.

Tourism

#

Menjelajahi Pesona Bima: Permata Epik di Selatan Nusa Tenggara Barat

Bima, sebuah wilayah seluas 4.223,61 km² yang terletak di ujung timur Pulau Sumbawa, merupakan destinasi berstatus "Epic" bagi para petualang. Berbatasan langsung dengan Laut Flores di utara dan Samudera Hindia di selatan, kabupaten ini menawarkan perpaduan kontras antara pegunungan vulkanik yang megah dan garis pantai yang dramatis.

##

Keajaiban Alam: Dari Puncak Tambora hingga Pantai Pink

Daya tarik utama Bima terletak pada Gunung Tambora, situs sejarah geologi dunia yang menawarkan jalur pendakian menantang menuju kaldera raksasa. Di sisi pesisir, Bima memiliki Pantai Lariti yang unik dengan fenomena "laut terbelah", di mana pengunjung dapat berjalan kaki menuju pulau kecil saat air surut. Jangan lewatkan Pantai Lambu yang mempesona dengan pasir berwarna merah muda dan air kristal, serta Pulau Satonda yang memiliki danau air asin purba di tengah kawahnya. Untuk penyegaran, Air Terjun Bombo Rincit di tengah hutan tropis menawarkan suasana tenang yang jauh dari keramaian.

##

Warisan Budaya dan Jejak Kesultanan

Sebagai wilayah yang kaya akan nilai sejarah, Bima menjaga warisan Kesultanan Bima dengan sangat baik. Museum ASI Mbojo, yang dulunya merupakan istana kesultanan, berdiri megah menampilkan arsitektur khas Eropa-Bima dan menyimpan koleksi mahkota emas, senjata tradisional, dan naskah kuno. Pengalaman unik lainnya adalah mengunjungi Desa Maria untuk melihat Lengge, lumbung pangan tradisional dengan atap kerucut yang melambangkan ketahanan pangan lokal sejak zaman megalitikum.

##

Petualangan dan Aktivitas Luar Ruangan

Bagi pencinta olahraga ekstrem, perairan di sekitar Teluk Bima dan Sape menawarkan titik penyelaman kelas dunia dengan keanekaragaman hayati laut yang masih perawan. Anda juga bisa mencoba pacuan kuda tradisional Pacoa Jara, di mana joki cilik lokal memacu kuda dengan kecepatan tinggi tanpa pelana—sebuah tontonan yang memacu adrenalin dan sarat nilai keberanian.

##

Gastronomi: Cita Rasa Autentik Mbojo

Wisata kuliner di Bima adalah penjelajahan rasa yang kuat. Cobalah Uta Mbeche (daging kuah santan) atau Uta Maju Puru (daging rusa panggang) yang menjadi hidangan istimewa. Untuk penyuka ikan, Uta Lonche yang berbahan dasar ikan segar dengan bumbu asam pedas adalah pilihan wajib. Lengkapi santapan Anda dengan Susu Kuda Liar asli Bima yang dikenal memiliki khasiat kesehatan tinggi.

##

Hospitalitas dan Waktu Kunjungan Terbaik

Masyarakat Bima dikenal dengan keramahan "Maja Labo Dahu" (Malu dan Takut), prinsip hidup yang menjunjung tinggi etika dan kesantunan. Akomodasi di sini mulai dari hotel di pusat kota hingga homestay berbasis komunitas di desa wisata. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah antara bulan Mei hingga September, saat cuaca cerah sangat mendukung untuk pendakian Tambora dan kegiatan pantai. Kunjungi Bima sekarang dan rasakan pengalaman autentik di selatan Nusa Tenggara Barat yang tidak akan Anda temukan di tempat lain.

Economy

#

Profil Ekonomi Kabupaten Bima: Sentra Agromaritim di Gerbang Timur NTB

Kabupaten Bima, yang membentang seluas 4223,61 km² di ujung timur Pulau Sumbawa, memiliki posisi geostrategis sebagai hub ekonomi di wilayah selatan Nusa Tenggara Barat. Dengan karakteristik wilayah yang berbatasan langsung dengan tiga wilayah administratif utama dan memiliki garis pantai yang membentang di sepanjang Laut Indonesia, Bima mengandalkan sinergi antara sektor agraris dan maritim sebagai motor penggerak ekonominya.

##

Sektor Pertanian dan Komoditas Unggulan

Pertanian merupakan tulang punggung ekonomi Bima dengan kontribusi PDRB tertinggi. Wilayah ini dikenal secara nasional sebagai lumbung bawang merah utama di Indonesia Timur. Budidaya bawang merah terkonsentrasi di wilayah pesisir seperti Kecamatan Sape dan Wera, di mana kondisi tanah dan iklim mikro sangat mendukung produktivitas tinggi. Selain bawang, jagung menjadi komoditas primadona yang mengalami ekspansi pesat melalui program integrasi lahan kering, yang didukung oleh kehadiran gudang-gudang logistik dan fasilitas pengeringan (dryer) skala besar.

##

Ekonomi Maritim dan Kelautan

Memiliki garis pantai yang panjang membuat ekonomi maritim menjadi pilar strategis. Pelabuhan Sape berfungsi sebagai urat nadi perdagangan lintas pulau yang menghubungkan NTB dengan NTT (Labuan Bajo). Sektor perikanan tangkap dan budidaya laut, khususnya rumput laut di Teluk Waworada, memberikan lapangan kerja bagi ribuan nelayan. Potensi garam rakyat di wilayah pesisir juga mulai dikembangkan melalui industrialisasi untuk memenuhi kebutuhan garam konsumsi dan industri secara nasional.

##

Industri Kreatif dan Kerajinan Tradisional

Kekuatan ekonomi lokal Bima juga terpancar dari sektor industri kreatif, khususnya tenun tradisional "Mbojo" (Tembe Nggoli). Kerajinan ini bukan sekadar warisan budaya, melainkan penggerak ekonomi rumah tangga di desa-desa seperti Donggo dan Wawo. Pemasaran kain tenun ini telah merambah pasar nasional dan internasional, didorong oleh digitalisasi UMKM. Selain itu, produk olahan susu kuda liar dan madu asli Bima tetap menjadi komoditas unik yang memiliki nilai tambah tinggi di pasar kesehatan.

##

Infrastruktur dan Tren Ketenagakerjaan

Pemerintah daerah fokus pada pengembangan infrastruktur transportasi untuk menurunkan biaya logistik. Peningkatan akses jalan menuju kawasan wisata dan sentra produksi pertanian menjadi prioritas. Dalam hal ketenagakerjaan, terjadi pergeseran bertahap dari sektor pertanian subsisten menuju sektor jasa dan perdagangan. Sektor pariwisata, yang mengandalkan keindahan alam seperti Pantai Lariti dan potensi wisata sejarah, mulai menarik investasi di bidang perhotelan dan kuliner.

Dengan statusnya sebagai wilayah "Epic" dalam peta ekonomi regional, Kabupaten Bima terus bertransformasi. Melalui optimalisasi konektivitas maritim dan modernisasi pertanian, Bima memposisikan diri sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang tangguh di bagian selatan kepulauan Indonesia.

Demographics

#

Profil Demografis Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat

Kabupaten Bima, yang terletak di ujung timur Pulau Sumbawa, merupakan wilayah pesisir strategis dengan luas wilayah mencapai 4.223,61 km². Sebagai daerah berstatus "Epic" dalam peta administratif Nusa Tenggara Barat, Bima memiliki karakteristik kependudukan yang dinamis dengan posisi kardinal di bagian selatan yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia serta tiga wilayah tetangga utama: Kabupaten Dompu di barat, serta Laut Flores dan Selat Sape.

Ukuran, Kepadatan, dan Distribusi Penduduk

Berdasarkan data terbaru, populasi Kabupaten Bima telah melampaui angka 530.000 jiwa. Kepadatan penduduk rata-rata berkisar di angka 130 jiwa/km², namun distribusinya tidak merata. Konsentrasi penduduk tertinggi berada di wilayah pesisir timur seperti Kecamatan Sape dan Wera yang menjadi pusat ekonomi maritim, sementara wilayah pedalaman di selatan memiliki kepadatan yang lebih rendah karena topografi perbukitan.

Komposisi Etnis dan Keragaman Budaya

Demografi Bima didominasi oleh suku asli Mbojo (Suku Bima). Uniknya, masyarakat Bima memiliki identitas linguistik dan budaya yang sangat kuat, berbeda dari suku Sasak di Lombok. Keberadaan pelabuhan-pelabuhan bersejarah juga menarik etnis pendatang seperti Bugis, Makassar, dan Arab, yang telah berasimilasi selama berabad-abad, menciptakan struktur sosial yang religius dengan pengaruh Islam yang sangat kental.

Struktur Usia dan Piramida Penduduk

Bima memiliki struktur penduduk muda (ekspansif). Piramida penduduk menunjukkan basis yang lebar pada kelompok usia 0-19 tahun, menandakan angka kelahiran yang masih cukup tinggi. Hal ini memberikan tantangan sekaligus peluang berupa bonus demografi, di mana usia produktif mendominasi komposisi penduduk, memerlukan lapangan kerja yang luas di sektor agraris dan kelautan.

Tingkat Pendidikan dan Literasi

Angka literasi di Kabupaten Bima terus merangkak naik, mencapai lebih dari 95%. Pemerintah daerah secara konsisten meningkatkan akses pendidikan menengah dan tinggi. Meskipun demikian, terdapat disparitas antara tingkat pendidikan di pusat-pusat kecamatan dengan wilayah terpencil di pegunungan selatan. Lulusan perguruan tinggi cenderung terkonsentrasi di pusat pemerintahan di Woha.

Urbanisasi dan Pola Migrasi

Dinamika kependudukan Bima ditandai dengan pola migrasi sirkuler. Banyak pemuda Bima melakukan migrasi keluar menuju Mataram, Makassar, atau Jakarta untuk menempuh pendidikan dan mencari kerja. Di sisi lain, terjadi pergeseran pusat urban dari sekadar pemukiman nelayan menjadi pusat perdagangan jasa di sepanjang lintas Sumbawa. Urbanisasi di Bima unik karena tidak menciptakan megacity, melainkan pertumbuhan titik-titik ekonomi berbasis komoditas unggulan seperti bawang merah dan perikanan.

💡 Fakta Unik

  • 1.Wilayah ini pernah menjadi pusat Kesultanan Islam yang berdaulat sejak abad ke-16 dan memiliki tradisi penulisan naskah kuno di atas daun lontar yang disebut Mbojo.
  • 2.Masyarakat setempat memiliki pakaian adat unik bagi perempuan bernama Rimpu, yang menggunakan dua lembar kain sarung tenun untuk menutupi kepala dan tubuh menyerupai cadar.
  • 3.Kawasan ini memiliki fenomena geologi unik bernama Gunung Pundu Nence yang merupakan titik tertinggi di wilayah tersebut dan sering menjadi lokasi pendakian untuk melihat samudra awan.
  • 4.Susu Kuda Liar merupakan produk ekonomi kreatif paling ikonik dari daerah ini yang dipercaya memiliki khasiat kesehatan tinggi dan dipasarkan hingga ke mancanegara.

Destinasi di Bima

Semua Destinasi

Tempat Lainnya di Nusa Tenggara Barat

Lokasi Serupa

Panduan Perjalanan Terkait

Memuat panduan terkait...

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Uji Pengetahuanmu!

Apakah kamu bisa menebak Bima dari siluet petanya?