Buton Selatan

Epic
Sulawesi Tenggara
Luas
548,48 km²
Posisi
tengah
Jumlah Tetangga
3 wilayah
Pesisir
Tidak

Dipublikasikan: Januari 2025

History

#

Sejarah dan Warisan Budaya Buton Selatan: Gerbang Peradaban Maritim Kesultanan

Asal-Usul dan Era Kesultanan Buton

Buton Selatan, yang secara administratif merupakan kabupaten di Provinsi Sulawesi Tenggara, memiliki akar sejarah yang sangat kuat dengan kemegahan Kesultanan Buton. Wilayah ini secara historis dikenal sebagai Kadie atau wilayah bawahan penting dalam struktur pemerintahan Kesultanan. Sejak abad ke-14, wilayah-wilayah seperti Sampolawa dan Batauga telah menjadi pilar pertahanan dan penyokong ekonomi bagi pusat kesultanan di Wolio. Pada masa kepemimpinan Sultan Buton pertama, Wa Kaa Kaa, Buton Selatan menjadi wilayah strategis yang menghubungkan jalur pelayaran antara Maluku dan Jawa, menjadikannya titik pertemuan budaya yang kaya.

Masa Kolonial dan Perlawanan Rakyat

Selama periode kolonial, Buton Selatan menjadi saksi bisu ketegangan antara otoritas lokal dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan kemudian pemerintah Hindia Belanda. Salah satu tokoh kunci dalam dinamika ini adalah Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi (Oputa Yi Koo) pada abad ke-18. Meskipun pusat pemerintahan berada di Bau-Bau, gerilya dan dukungan logistik dari masyarakat di wilayah Buton Selatan, khususnya di kawasan perbukitan dan pesisir tersembunyi, menjadi faktor krusial dalam melawan monopoli perdagangan Belanda. Struktur benteng-benteng kecil di wilayah ini menunjukkan bahwa Buton Selatan berfungsi sebagai lapis pertahanan luar bagi kedaulatan kesultanan dari ancaman bajak laut dan penetrasi kolonial.

Era Kemerdekaan dan Pembentukan Administratif

Pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia tahun 1945, wilayah Buton Selatan mengalami transisi dari sistem pemerintahan tradisional menuju sistem administratif modern. Integrasi wilayah ini ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dipertegas dengan pembentukan Kabupaten Buton. Namun, aspirasi untuk mempercepat pembangunan daerah mendorong lahirnya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2014, yang secara resmi menetapkan Buton Selatan sebagai kabupaten otonom. Pemekaran ini bertujuan untuk mengoptimalkan potensi daerah yang selama ini terfragmentasi oleh jarak geografis dari pusat pemerintahan lama.

Warisan Budaya dan Tradisi Unik

Buton Selatan memegang teguh tradisi Ma’acia dan Pesta Adat Bahari yang masih dipraktikkan hingga kini. Salah satu yang paling ikonik adalah tradisi di Desa Bahari, di mana masyarakat melakukan ritual syukur atas hasil laut. Secara arsitektural, keberadaan masjid-masjid tua dan makam para ulama penyebar Islam di Kadatua dan Siompu menjadi bukti peran wilayah ini dalam syiar Islam di nusantara. Bahasa daerah yang digunakan, seperti bahasa Cia-Cia (yang terkenal karena penggunaan aksara Hangul dalam eksperimen linguistik modern) dan bahasa Busoa, mencerminkan keragaman etnolinguistik yang luar biasa.

Pembangunan Modern dan Signifikansi Regional

Kini, dengan luas wilayah 548,48 km², Buton Selatan bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan baru di Sulawesi Tenggara. Meskipun tidak memiliki garis pantai yang bersentuhan langsung dengan laut lepas di sisi tertentu, posisinya di bagian tengah gugusan kepulauan Buton menjadikannya penghubung strategis. Dengan berbatasan langsung dengan Kabupaten Buton di utara, Kota Bau-Bau di barat, dan Laut Flores di selatan, kabupaten ini mengintegrasikan sejarah maritimnya ke dalam visi pembangunan pariwisata sejarah dan ekonomi kreatif, menjaga identitas "Epic" di tengah arus modernisasi Indonesia.

Geography

#

Profil Geografis Buton Selatan: Permata Tersembunyi di Sulawesi Tenggara

Buton Selatan merupakan sebuah wilayah administratif di Provinsi Sulawesi Tenggara yang memiliki karakteristik geografis unik. Meskipun secara administratif berbatasan dengan wilayah perairan di beberapa titik kedaulatannya, secara morfologi inti wilayah ini didominasi oleh bentang alam daratan yang kokoh dengan total luas wilayah mencapai 548,48 km². Sebagai wilayah dengan tingkat kelangkaan "Epic", Buton Selatan memegang peranan strategis sebagai titik simpul di bagian tengah provinsi, yang menghubungkan jalur-jalur ekonomi darat di jazirah tenggara Pulau Sulawesi.

##

Topografi dan Morfologi Daratan

Secara topografis, Buton Selatan menyajikan pemandangan alam yang kontras antara dataran rendah dan perbukitan karst yang terjal. Wilayah ini terletak di bagian tengah dari formasi geologi Pulau Buton, menjadikannya area yang dikelilingi oleh daratan dari tiga wilayah tetangga utamanya. Struktur tanahnya didominasi oleh batuan sedimen dan kapur, yang membentuk lembah-lembah sempit dan perbukitan gelombang merapi. Tidak seperti wilayah pesisir murni, bagian tengah Buton Selatan memiliki sistem drainase alami berupa sungai-sungai kecil yang mengalir melalui celah batuan kapur, menciptakan fenomena sungai bawah tanah yang eksotis di beberapa titik.

##

Iklim dan Pola Cuaca

Wilayah ini dipengaruhi oleh iklim tropis dengan variasi musim yang dipengaruhi oleh angin muson. Musim kemarau di Buton Selatan cenderung lebih panjang dibandingkan wilayah barat Indonesia, yang disebabkan oleh pengaruh massa udara kering dari benua Australia. Suhu udara rata-rata berkisar antara 24°C hingga 32°C. Curah hujan yang terkonsentrasi pada bulan Desember hingga April memberikan kehidupan bagi ekosistem hutan hujan tropis yang tumbuh di atas tanah berkapur, menciptakan mikroklimat yang sejuk di area lembah.

##

Sumber Daya Alam dan Keanekaragaman Hayati

Kekayaan alam Buton Selatan bertumpu pada sektor kehutanan dan pertanian lahan kering. Tanah di wilayah ini sangat cocok untuk budidaya komoditas spesifik seperti jambu mete dan kelapa. Selain itu, potensi mineral di perut buminya mencakup cadangan aspal alami—yang merupakan ciri khas Pulau Buton—serta batuan gamping berkualitas tinggi. Secara ekologis, wilayah ini merupakan rumah bagi fauna endemik Sulawesi seperti Anoa dan burung Maleo yang mendiami zona hutan lindung di pedalaman. Vegetasi dominan terdiri dari pohon jati dan berbagai jenis rotan yang tumbuh subur di lantai hutan.

##

Posisi Strategis dan Batas Wilayah

Secara astronomis, Buton Selatan terletak pada koordinat yang menempatkannya tepat di jantung aktivitas ekonomi regional. Wilayah ini dikelilingi oleh tiga wilayah tetangga yang saling terintegrasi secara geografis, memperkuat posisinya sebagai koridor penghubung. Keberadaan lembah-lembah hijau dan perbukitan yang menjulang menjadikan Buton Selatan sebagai benteng alam yang melindungi keanekaragaman hayati unik di Sulawesi Tenggara, menjadikannya wilayah dengan profil geografis yang kompleks dan penuh potensi.

Culture

#

Kemilau Budaya Buton Selatan: Warisan Bahari di Jantung Kepulauan

Kabupaten Buton Selatan, yang secara administratif terletak di Sulawesi Tenggara, merupakan wilayah dengan kekayaan budaya yang berakar pada tradisi Kesultanan Buton. Meskipun memiliki luas wilayah 548,48 km² dan berada di posisi strategis bagian tengah, daerah ini menyimpan keunikan tradisi yang tidak ditemukan di belahan Nusantara lainnya.

Tradisi, Upacara Adat, dan Kepercayaan

Salah satu pilar budaya Buton Selatan adalah filosofi *Pobini-binisi, Poma-maasi, Poangka-angkataka* (saling menyayangi, saling mengasihi, dan saling mengangkat derajat). Ritual adat yang paling ikonik adalah Sampua Anano, sebuah upacara peralihan bagi anak-anak menuju kedewasaan, serta Posuo (pingitan) bagi remaja putri. Dalam aspek spiritual, masyarakat menjaga harmoni melalui ritual Sedekah Laut atau Larung Sesaji di pesisir Batauga dan Siompu, sebagai bentuk syukur atas hasil laut, meskipun secara administratif wilayah ini memiliki karakteristik daratan yang kuat dengan perbukitan karst.

Seni Pertunjukan, Musik, dan Tari

Kesenian di Buton Selatan didominasi oleh tari-tarian penyambutan dan perang. Tari Mangaru adalah tarian patriotik yang melambangkan keberanian ksatria Buton dalam mempertahankan wilayah. Alunan musik pengiringnya menggunakan Ganda (kendang kecil) dan Gong, yang dimainkan dengan ritme cepat dan bertenaga. Selain itu, terdapat tari Linda, yang melambangkan keanggunan wanita lokal saat keluar dari masa pingitan.

Kriya, Tekstil, dan Busana Tradisional

Identitas visual Buton Selatan terpancar melalui Tenun Buton yang memiliki motif garis-garis vertikal dan kotak-kotak yang khas. Warna-warna cerah seperti kuning kunyit, merah marun, dan hijau botol mendominasi kain tenun mereka. Busana tradisional untuk pria disebut Baju Bhada, sementara wanita mengenakan Baju Kombo yang dihiasi dengan manik-manik dan kepingan logam berwarna emas. Setiap motif pada tenunan bukan sekadar hiasan, melainkan simbol status sosial dan identitas klan.

Bahasa dan Dialek Lokal

Masyarakat Buton Selatan menggunakan Bahasa Cia-Cia dan Bahasa Busoa. Keunikan luar biasa dari wilayah ini, khususnya di Kecamatan Sampolawa, adalah penggunaan aksara Hangeul (Korea) untuk mendokumentasikan bahasa Cia-Cia yang tidak memiliki aksara asli. Fenomena ini menjadi daya tarik global yang memperkuat posisi Buton Selatan dalam peta linguistik dunia.

Kuliner Khas dan Gastronomi

Kekayaan rasa Buton Selatan terepresentasi dalam Kasami, makanan pokok berbahan dasar parutan singkong yang dikukus dalam bentuk kerucut. Untuk lauk pauk, Parende (sup ikan bumbu kuning dengan asam jawa dan belimbing wuluh) menjadi sajian utama yang menggugah selera. Jangan lewatkan pula Kue Baru, kudapan manis tradisional yang sering disajikan dalam upacara-upacara adat sebagai simbol perekat silaturahmi.

Festival Budaya

Setiap tahun, perayaan Festival Buton Selatan menjadi ajang unjuk kekuatan budaya. Di sini, tradisi Pikande-kandea (makan bersama secara adat) digelar, di mana para gadis mengenakan busana tradisional dan menyuapi para tamu sebagai bentuk penghormatan dan keramah-tamahan tinggi khas masyarakat Buton.

Tourism

#

Menjelajahi Pesona Buton Selatan: Permata Tersembunyi di Sulawesi Tenggara

Kabupaten Buton Selatan, yang terletak di posisi tengah gugusan kepulauan Sulawesi Tenggara, merupakan destinasi berstatus "Epic" bagi para pelancong yang mencari keaslian alam dan kedalaman sejarah. Dengan luas wilayah mencapai 548,48 km² dan berbatasan langsung dengan tiga wilayah administratif utama, daerah ini menawarkan harmoni antara lanskap perbukitan karst yang dramatis dan garis pantai yang memukau.

##

Keajaiban Alam dan Bentang Pesisir

Meskipun secara administratif memiliki wilayah daratan yang luas, daya tarik utama Buton Selatan terletak pada interaksi antara daratan dan lautnya. Pantai Jodoh dan Pantai Bahari menjadi ikon dengan pasir putih halus dan air kristal yang tenang. Bagi pecinta ketinggian, Tebing Lande menawarkan pemandangan vertikal yang memacu adrenalin, sementara Puncak Gunung Sampolawa memberikan panorama 360 derajat ke arah Laut Banda. Tak ketinggalan, keasrian Pemandian Alam Sangia menyuguhkan kesegaran air tawar di tengah rimbunnya vegetasi tropis.

##

Warisan Budaya dan Jejak Sejarah

Buton Selatan adalah penjaga tradisi Kesultanan Buton yang masih kental. Wisatawan dapat mengunjungi Benteng Lapandewa, sebuah situs bersejarah yang dibangun dari susunan batu karang tanpa semen, saksi bisu ketangguhan masyarakat lokal melawan penjajah. Pengalaman budaya paling unik adalah menyaksikan Ritual Adat Ma’taano Manuru di Desa Lande, sebuah upacara syukur atas hasil panen yang melibatkan tarian tradisional dan doa bersama. Interaksi dengan masyarakat di desa-desa adat memberikan gambaran tentang falsafah hidup "Bolimo Karo Somanamo Lipu" (mengorbankan diri demi negeri).

##

Petualangan dan Pengalaman Unik

Bagi pencinta aktivitas luar ruangan, diving di perairan Siompu adalah keharusan. Di sini terdapat titik selam yang belum terjamah dengan keanekaragaman terumbu karang yang luar biasa. Selain itu, trekking menuju gua-gua karst yang tersebar di wilayah tengah memberikan sensasi eksplorasi yang menantang. Pengalaman yang tak terlupakan adalah melihat matahari terbenam dari atas tebing-tebing tinggi yang menghadap langsung ke arah selatan samudra.

##

Wisata Kuliner dan Keramahtamahan

Lidah Anda akan dimanjakan dengan Kasuami, olahan singkong khas Buton yang disajikan bersama ikan parende (sup ikan kuning yang segar dan pedas). Jangan lewatkan pula Jeruk Siompu yang terkenal dengan rasa manisnya yang khas dan langka. Keramahtamahan warga lokal tercermin dalam konsep penginapan berbasis homestay di desa wisata, di mana tamu diperlakukan layaknya keluarga sendiri. Beberapa resor kecil mulai berkembang di area pesisir untuk kenyamanan ekstra.

##

Waktu Terbaik untuk Berkunjung

Waktu paling ideal untuk mengunjungi Buton Selatan adalah selama musim kemarau, antara Juni hingga September. Pada periode ini, ombak cenderung tenang untuk penyeberangan ke pulau-pulau kecil, dan langit yang cerah sangat mendukung untuk aktivitas fotografi serta berkemah di area perbukitan.

Economy

#

Profil Ekonomi Kabupaten Buton Selatan: Episentrum Baru Sulawesi Tenggara

Kabupaten Buton Selatan, yang secara administratif terletak di Provinsi Sulawesi Tenggara dengan luas wilayah 548,48 km², merupakan daerah dengan karakteristik ekonomi yang unik. Meskipun narasi geografis sering kali menempatkan wilayah ini di posisi strategis "tengah" jalur perdagangan regional, Buton Selatan memiliki keunggulan komparatif yang memadukan potensi agraris dan kelautan yang sangat kuat. Sebagai daerah berkategori "Epic" dalam peta pembangunan provinsi, wilayah ini dikelilingi oleh tiga wilayah tetangga utama yang memperkuat arus distribusi barang dan jasa di daratan Buton.

##

Sektor Pertanian dan Perkebunan

Pilar utama ekonomi Buton Selatan bertumpu pada sektor pertanian lahan kering. Komoditas unggulan yang menjadi penggerak ekonomi kerakyatan adalah umbi-umbian, khususnya Ubi Kaopi yang telah mendapatkan pengakuan luas. Selain itu, produksi jagung dan kacang tanah di wilayah daratan menjadi penopang ketahanan pangan lokal. Di sektor perkebunan, kelapa dan cengkeh menjadi komoditas ekspor andalan yang dikelola oleh masyarakat lokal, memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

##

Ekonomi Maritim dan Kelautan

Walaupun wilayah daratannya cukup luas, Buton Selatan memiliki garis pantai yang menjadi pusat industri perikanan. Ekonomi maritim difokuskan pada penangkapan ikan pelagis dan budidaya rumput laut. Keberadaan Pelabuhan Rakyat dan fasilitas logistik laut di daerah ini memfasilitasi perdagangan antarpulau, menghubungkan Buton Selatan dengan pasar di Makassar dan Ambon. Industri pengolahan ikan tradisional, seperti pengasapan dan pembuatan ikan kering, menjadi mata pencaharian utama di desa-desa pesisir.

##

Industri Kreatif dan Kerajinan Tradisional

Sektor industri di Buton Selatan didominasi oleh industri kecil dan menengah (IKM). Salah satu produk kebanggaan yang memiliki nilai ekonomi tinggi adalah Tenun Buton Selatan. Kain tenun ini bukan sekadar produk budaya, melainkan penggerak ekonomi perempuan di pedesaan. Motifnya yang khas telah menembus pasar nasional, sering kali dipadukan dengan desain modern untuk meningkatkan nilai jual. Selain itu, kerajinan anyaman bambu dan rotan juga menjadi produk lokal yang stabil secara ekonomi.

##

Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah

Pemerintah daerah fokus pada peningkatan infrastruktur jalan lingkar yang menghubungkan wilayah pedalaman dengan pusat pertumbuhan ekonomi. Pengembangan transportasi darat sangat krusial mengingat posisinya yang berbatasan langsung dengan tiga wilayah strategis lainnya. Tren ketenagakerjaan menunjukkan pergeseran dari sektor primer (pertanian mentah) menuju sektor jasa dan pariwisata. Pariwisata berbasis alam dan budaya, seperti pemandangan tebing dan desa adat, mulai dikelola secara profesional untuk menarik investasi asing dan domestik, menciptakan lapangan kerja baru di sektor perhotelan dan kuliner. Dengan integrasi infrastruktur yang lebih baik, Buton Selatan bertransformasi menjadi koridor ekonomi yang vital di Sulawesi Tenggara.

Demographics

#

Profil Demografis Kabupaten Buton Selatan

Kabupaten Buton Selatan, yang terletak di posisi strategis bagian "tengah" dari konstelasi wilayah Kepulauan Buton di Sulawesi Tenggara, memiliki karakteristik kependudukan yang dinamis meskipun secara administratif tergolong wilayah daratan seluas 548,48 km². Sebagai daerah dengan status kelangkaan "Epic", wilayah ini berbatasan langsung dengan tiga entitas wilayah utama yang memengaruhi mobilitas penduduknya.

Ukuran, Kepadatan, dan Distribusi Penduduk

Berdasarkan data terbaru, jumlah penduduk Buton Selatan mencapai lebih dari 95.000 jiwa. Kepadatan penduduk terkonsentrasi di wilayah-wilayah yang menjadi pusat pelayanan publik dan perdagangan, terutama di Batauga sebagai ibu kota kabupaten. Sebaran penduduk tidak merata karena topografi wilayah yang bervariasi; beberapa distrik memiliki kepadatan tinggi sementara wilayah pedalaman yang berbukit memiliki pemukiman yang lebih jarang.

Komposisi Etnis dan Keragaman Budaya

Demografi Buton Selatan didominasi oleh suku Buton, khususnya sub-etnis Cia-Cia, Busoa, dan Masiri. Keunikan demografis yang paling menonjol adalah penggunaan aksara Hangul (Korea) untuk transliterasi bahasa Cia-Cia di beberapa desa, yang menciptakan identitas kultural hibrida yang langka di Indonesia. Selain penduduk asli, terdapat komunitas suku Bugis dan Bajo yang telah menetap lama, memperkaya keragaman linguistik dan tradisi bahari di wilayah tersebut.

Struktur Usia dan Piramida Penduduk

Buton Selatan memiliki struktur penduduk muda yang ekspansif. Piramida penduduk menunjukkan basis yang lebar pada kelompok usia 0-19 tahun, mengindikasikan angka kelahiran yang stabil. Namun, terdapat penyusutan pada kelompok usia dewasa muda (20-34 tahun) yang disebabkan oleh fenomena "merantau" yang sangat kental dalam budaya masyarakat Buton.

Pendidikan dan Literasi

Tingkat literasi di Buton Selatan terus mengalami peningkatan dengan angka melek huruf mencapai di atas 92%. Meskipun demikian, terdapat kesenjangan pada jenjang pendidikan tinggi. Mayoritas penduduk usia produktif memiliki latar belakang pendidikan menengah, sementara akses ke pendidikan vokasi mulai dikembangkan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan sektor maritim dan pertanian lokal.

Urbanisasi dan Dinamika Migrasi

Dinamika rural-urban di Buton Selatan ditandai dengan pertumbuhan Batauga yang bertransformasi dari desa menjadi pusat urban kecil. Pola migrasi bersifat sirkuler; penduduk sering bermigrasi ke Baubau atau keluar provinsi (seperti ke Maluku dan Papua) untuk mencari peluang ekonomi, namun tetap mempertahankan ikatan demografis yang kuat dengan desa asal mereka melalui remitansi dan kepulangan berkala saat hari raya besar seperti Idul Adha dan tradisi adat Adat Pesta Panen.

💡 Fakta Unik

  • 1.Wilayah daratan ini awalnya merupakan bagian dari Distrik Mowewe pada masa pemerintahan kolonial Belanda sebelum akhirnya dimekarkan menjadi daerah otonom sendiri.
  • 2.Masyarakat lokal melestarikan tradisi adat Mosehe Wonua, sebuah ritual penyucian negeri yang bertujuan untuk membuang kesialan dan menyatukan elemen masyarakat.
  • 3.Daerah ini merupakan satu-satunya kabupaten di Sulawesi Tenggara yang seluruh wilayahnya tidak berbatasan dengan garis pantai atau laut sama sekali.
  • 4.Kawasan ini dijuluki sebagai Bumi Kakao karena statusnya sebagai salah satu pusat produksi cokelat terbesar dan utama di provinsi Sulawesi Tenggara.

Destinasi di Buton Selatan

Semua Destinasi

Tempat Lainnya di Sulawesi Tenggara

Lokasi Serupa

Panduan Perjalanan Terkait

Memuat panduan terkait...

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Uji Pengetahuanmu!

Apakah kamu bisa menebak Buton Selatan dari siluet petanya?