Buton Tengah

Epic
Sulawesi Tenggara
Luas
851,99 km²
Posisi
tengah
Jumlah Tetangga
3 wilayah
Pesisir
Tidak

Dipublikasikan: Januari 2025

History

#

Sejarah dan Perkembangan Buton Tengah: Permata Tersembunyi di Jantung Kepulauan Buton

Asal-Usul dan Masa Kesultanan Buton

Buton Tengah, yang secara geografis terletak di posisi strategis "tengah" Kepulauan Buton, memiliki akar sejarah yang sangat dalam dan terikat erat dengan kejayaan Kesultanan Buton. Wilayah ini secara tradisional dikenal sebagai bagian dari Kadie (wilayah bawahan) yang krusial bagi pertahanan kesultanan. Sejarah mencatat bahwa wilayah Mawasangka dan Lakudo merupakan pilar penting dalam struktur pemerintahan kesultanan yang dipimpin oleh Sultan Murhum (Sultan Buton I) pada abad ke-16.

Masyarakat Buton Tengah memiliki identitas budaya yang kuat, yang berakar pada sistem pemerintahan Sara Patanguna. Berbeda dengan wilayah pesisir yang terbuka, pedalaman Buton Tengah dengan luas wilayah 851,99 km² ini dahulu berfungsi sebagai lumbung pangan dan benteng pertahanan alami. Karakteristik geografisnya yang didominasi oleh batuan karst menciptakan banyak gua, seperti Gua Mawasangka, yang menurut sejarah lokal pernah dijadikan tempat persembunyian dan pertapaan para bangsawan serta pejuang saat menghadapi ancaman dari luar.

Masa Kolonial dan Perlawanan Rakyat

Selama periode kolonial Belanda, Buton Tengah tidak luput dari upaya penetrasi VOC dan kemudian Pemerintah Hindia Belanda. Namun, karena topografinya yang menantang dan loyalitasnya yang tinggi terhadap Sultan di Baubau, wilayah ini menjadi zona perlawanan yang ulet. Berdasarkan catatan sejarah, para tokoh lokal dari Buton Tengah terlibat aktif dalam mendukung perjuangan Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi (Oputa Yi Koo) dalam gerilya melawan Belanda di hutan-hutan Buton pada abad ke-18. Semangat kemandirian masyarakatnya tercermin dari keteguhan mereka mempertahankan adat istiadat di tengah tekanan politik kolonial.

Era Kemerdekaan dan Pembentukan Otonomi

Pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia tahun 1945, Buton Tengah menjadi bagian dari Kabupaten Buton di Provinsi Sulawesi Tenggara. Namun, aspirasi untuk berdiri sendiri terus tumbuh seiring dengan kebutuhan percepatan pembangunan. Setelah melalui proses panjang selama puluhan tahun, momentum bersejarah terjadi pada 23 Juli 2014. Melalui Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2014, Buton Tengah resmi mekar menjadi kabupaten mandiri, terpisah dari kabupaten induknya. Mansur Amila tercatat dalam sejarah sebagai Penjabat Bupati pertama yang meletakkan fondasi administratif bagi wilayah ini.

Warisan Budaya dan Perkembangan Modern

Buton Tengah berbatasan langsung dengan Kabupaten Buton di timur, Kabupaten Muna di utara, serta Selat Buton yang memisahkannya dari daratan utama. Warisan budayanya sangat spesifik, seperti tradisi Kamomose (tradisi perjodohan remaja) dan tarian tradisional Linda yang tetap dilestarikan hingga kini. Situs sejarah seperti Benteng Kamubaho menjadi bukti bisu ketangguhan arsitektur masa lalu.

Secara modern, wilayah ini kini bertransformasi menjadi pusat agropolitan dan pariwisata berbasis gua dan budaya. Meskipun menyandang status "Epic" dalam konteks kelangkaan sejarahnya, Buton Tengah tetap mempertahankan jati dirinya sebagai jantung kebudayaan Buton yang menghubungkan masa lalu kesultanan dengan masa depan pembangunan Sulawesi Tenggara. Pertumbuhan ekonominya kini difokuskan pada optimalisasi sumber daya alam dan pariwisata sejarah yang terintegrasi dengan narasi besar sejarah nasional Indonesia.

Geography

#

Geografi Kabupaten Buton Tengah: Permata Karst di Jantung Sulawesi Tenggara

Buton Tengah, yang secara administratif merupakan bagian dari Provinsi Sulawesi Tenggara, memiliki karakteristik geografis yang unik dan distingtif. Membentang seluas 851,99 km², wilayah ini secara geomorfologis didominasi oleh bentang alam karst yang masif. Meskipun dikelilingi oleh perairan selat, secara tipologi wilayah daratannya menempatkan Buton Tengah sebagai daerah yang sangat bergantung pada struktur batuan kapur, menjadikannya salah satu kawasan dengan fenomena geologi paling menarik di jazirah tenggara Pulau Sulawesi.

##

Topografi dan Bentang Alam Karst

Wilayah Buton Tengah didominasi oleh perbukitan rendah dan dataran bergelombang dengan elevasi berkisar antara 0 hingga 500 meter di atas permukaan laut. Fitur geografi yang paling mencolok adalah keberadaan sistem gua bawah tanah dan sungai purba yang mengalir di bawah lapisan batuan karbonat. Berbeda dengan wilayah pegunungan tinggi di daratan utama Sulawesi, Buton Tengah tidak memiliki gunung berapi aktif, melainkan jajaran bukit kapur yang tajam dan lembah-lembah kering yang terbentuk melalui proses pelarutan batuan selama jutaan tahun. Kondisi ini menciptakan lanskap yang eksotis namun menantang bagi ketersediaan air permukaan.

##

Hidrologi dan Karakteristik Perairan

Secara hidrologis, Buton Tengah memiliki keterbatasan sungai permukaan yang besar. Sebagian besar aliran air bersifat musiman atau mengalir melalui jaringan sungai bawah tanah yang bermuara langsung ke laut melalui rekahan-rekahan karst. Fenomena unik yang menjadi ciri khas daerah ini adalah munculnya mata air payau dan "danau purba" di dalam gua-gua seperti yang ditemukan di kawasan Mawasangka. Posisi geografisnya yang strategis diapit oleh Teluk Bone dan Selat Buton memberikan pengaruh moderasi suhu laut terhadap iklim mikro daratannya.

##

Iklim dan Variasi Musiman

Berada di posisi khatulistiwa, Buton Tengah mengalami iklim tropis dengan dua musim yang kontras. Musim kemarau (Mei–Oktober) cenderung sangat kering karena pengaruh angin monsun timur yang membawa massa udara kering dari Australia. Sebaliknya, musim hujan (November–April) membawa curah hujan tinggi yang segera terserap ke dalam pori-pori tanah karst. Suhu rata-rata harian berkisar antara 24°C hingga 33°C dengan tingkat kelembapan yang cukup tinggi sepanjang tahun.

##

Sumber Daya Alam dan Biodiversitas

Kekayaan alam Buton Tengah terletak pada sektor non-logam dan agraris. Pertambangan batu gamping dan marmer merupakan potensi mineral utama. Di sektor pertanian, wilayah ini merupakan penghasil utama jambu mete dan kelapa. Secara ekologis, hutan di Buton Tengah merupakan rumah bagi spesies endemik Sulawesi, termasuk Anoa dan berbagai jenis burung maleo yang menghuni kawasan hutan sekunder dan belukar di wilayah tengah. Vegetasi hutan pantai dan mangrove juga tumbuh subur di sepanjang garis pantai yang berbatasan dengan kabupaten tetangga, menjaga keseimbangan ekosistem pesisir meski daratannya didominasi oleh batuan kering.

Culture

#

Pesona Budaya Buton Tengah: Negeri Seribu Goa di Jantung Sultra

Buton Tengah, yang secara administratif terletak di Provinsi Sulawesi Tenggara, merupakan wilayah unik dengan luas 851,99 km². Meskipun dikelilingi perairan, identitas kulturalnya sangat kuat berakar pada daratan karst yang ikonik. Sebagai wilayah berkategori "Epic" dengan posisi strategis di tengah, kabupaten ini menyimpan kekayaan tradisi yang merupakan perpaduan harmonis antara nilai-nilai keislaman dan adat istiadat leluhur eks-Kesultanan Buton.

##

Tradisi, Ritual, dan Upacara Adat

Salah satu tradisi paling sakral di Buton Tengah adalah Kamomose. Ini merupakan tradisi perjodohan tradisional di mana para gadis remaja (anandola) duduk berjejer mengenakan busana adat, sementara para pemuda melemparkan kacang atau permen ke dalam wadah di depan gadis yang mereka sukai. Selain itu, terdapat upacara Pidoano Kuri di Lakudo, sebuah ritual pembersihan diri dan kampung untuk menolak bala. Masyarakat juga mempraktikkan Karia, ritual pendewasaan bagi anak laki-laki dan perempuan yang melibatkan proses pingitan (posuo) untuk menanamkan nilai moral dan spiritual.

##

Seni Pertunjukan dan Musik Tradisional

Seni tari di Buton Tengah bukan sekadar hiburan, melainkan medium komunikasi spiritual. Tari Mangaru adalah tarian perang yang memperlihatkan keberanian pria dengan senjata tajam, melambangkan perlindungan terhadap negeri. Dalam aspek musik, instrumen Ganda (gendang) dan Gong mendominasi pengiringan upacara adat. Ada pula Lulo Tradisional yang dilakukan secara komunal, mempererat simpul persaudaraan antar-desa.

##

Kulinari Khas: Cita Rasa Pesisir dan Karst

Kuliner Buton Tengah sangat dipengaruhi oleh sumber daya alamnya. Kasuami (singkong parut yang dikukus berbentuk kerucut) adalah makanan pokok utama yang biasanya disantap dengan Parende, sup ikan bumbu kuning yang segar dengan aroma kunyit dan asam patikala. Hidangan unik lainnya adalah Kambewe, olahan jagung muda yang dibungkus kulit jagung, serta berbagai olahan hasil laut yang diawetkan secara tradisional.

##

Bahasa dan Ekspresi Lokal

Masyarakat Buton Tengah mayoritas menggunakan Bahasa Muna (Dialek Muna-Buton). Terdapat perbedaan dialek yang halus antara wilayah Lakudo, Mamosalane, dan Gu. Ungkapan "Poma-masiaka, Poangka-angkata, Poma-maeaka" (Saling menyayangi, saling mengangkat derajat, dan saling menjaga rasa malu/kehormatan) menjadi landasan etika bermasyarakat yang masih dipegang teguh hingga saat ini.

##

Tekstil dan Busana Tradisional

Kekayaan tekstil Buton Tengah tercermin dalam Tenun Buton dengan motif garis-garis vertikal dan kotak-kotak yang khas. Warna-warna cerah seperti kuning, merah, dan hijau mendominasi pakaian adat. Para wanita menggunakan Baju Kombo yang dihiasi manik-manik dan kepingan logam, sementara pria mengenakan Kampurui (ikat kepala) dengan lipatan tertentu yang menunjukkan status sosial atau peran dalam adat.

##

Keagamaan dan Festival Budaya

Islam adalah napas kehidupan warga Buton Tengah. Perayaan hari besar keagamaan selalu disinergikan dengan festival budaya, seperti Festival Budaya Buton Tengah yang rutin digelar untuk memamerkan kekayaan sejarah wilayah ini. Keberadaan ratusan goa (luweng) di wilayah ini juga dianggap keramat, di mana beberapa goa masih digunakan untuk meditasi atau penghormatan kepada leluhur (animisme yang berasimilasi dengan tradisi Islam lokal), menjadikan Buton Tengah sebagai destinasi budaya yang mistis sekaligus religius.

Tourism

#

Menjelajahi Pesona Buton Tengah: Negeri Seribu Goa di Sulawesi Tenggara

Buton Tengah, sebuah permata tersembunyi dengan status kelangkaan Epic di Sulawesi Tenggara, menawarkan pesona yang tak tertandingi. Memiliki luas wilayah 851,99 km², kabupaten ini secara administratif terletak di posisi tengah kepulauan Buton dan berbatasan langsung dengan tiga wilayah utama: Kabupaten Buton di timur, Muna di utara, serta Kota Baubau di selatan. Meski secara administratif tidak memiliki garis pantai daratan utama yang panjang layaknya pulau pesisir terbuka, Buton Tengah justru dikelilingi perairan eksotis dan gugusan pulau kecil yang memukau.

##

Keajaiban Alam dan Labirin Bawah Tanah

Dikenal dengan julukan "Negeri Seribu Goa", Buton Tengah adalah surga bagi pecinta geologi. Salah satu ikon utamanya adalah Goa Koo, yang memiliki kolam air tawar kristal berwarna biru pekat di dalamnya. Berbeda dengan pegunungan vulkanik, lanskap di sini didominasi oleh perbukitan karst yang menyimpan keunikan tersendiri. Bagi pecinta pantai, Pantai Mangkudu dan Pantai Katembe menawarkan hamparan pasir putih yang halus dengan gradasi air laut yang menenangkan, sangat kontras dengan struktur batu karang tajam yang melindungi daratannya.

##

Warisan Budaya dan Jejak Sejarah

Kekayaan budaya Buton Tengah tercermin dalam tradisi masyarakatnya yang masih memegang teguh adat istiadat Kesultanan Buton. Wisatawan dapat mengunjungi Benteng Bombonawulu, sebuah situs bersejarah yang menjadi saksi bisu pertahanan masyarakat lokal di masa lampau. Selain itu, pengalaman budaya yang tak boleh dilewatkan adalah festival adat Kasambu, yaitu tradisi menyuapi ibu hamil sebagai bentuk doa keselamatan, yang memberikan wawasan mendalam tentang filosofi hidup masyarakat setempat.

##

Petualangan dan Aktivitas Luar Ruangan

Bagi pencari adrenalin, cave diving di Goa Kristal adalah aktivitas wajib. Menyelam di antara stalaktit dan stalagmit dalam air yang sangat jernih memberikan sensasi petualangan epik. Selain itu, pendakian di Puncak Lakudo menawarkan pemandangan panorama seluruh wilayah Buton Tengah dari ketinggian, di mana matahari terbit akan menyapa Anda dengan latar belakang laut Banda yang luas.

##

Gastronomi: Cita Rasa Autentik

Wisata kuliner di Buton Tengah adalah tentang eksplorasi rasa. Cobalah Kambewe, olahan jagung muda yang dibungkus kulit jagung dan dikukus, memberikan rasa manis alami yang unik. Jangan lewatkan pula Kasuami, makanan pokok berbahan singkong yang disajikan dengan ikan pariwis atau ikan asap segar hasil tangkapan nelayan lokal di sekitar Selat Buton.

##

Hospitalitas dan Waktu Kunjungan Terbaik

Masyarakat Buton Tengah dikenal sangat hangat dan menjunjung tinggi nilai persaudaraan. Meskipun hotel berbintang masih terbatas, tersedia berbagai homestay yang dikelola penduduk lokal, memberikan pengalaman menginap yang autentik di tengah pemukiman warga. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pada musim kemarau antara bulan Mei hingga September, saat air goa paling jernih dan cuaca sangat mendukung untuk aktivitas luar ruangan. Di sini, Anda tidak hanya sekadar berwisata, tetapi meresapi ketenangan di salah satu titik paling eksotis di jantung Sulawesi Tenggara.

Economy

#

Profil Ekonomi Kabupaten Buton Tengah: Episentrum Baru di Sulawesi Tenggara

Kabupaten Buton Tengah, yang secara administratif terletak di Provinsi Sulawesi Tenggara, memiliki karakteristik geografis yang unik sebagai wilayah kepulauan namun memiliki pusat gravitasi ekonomi di daratan seluas 851.99 km². Meskipun statusnya dalam kategorisasi ini disebut tidak memiliki garis pantai langsung (landlocked dalam konteks administratif internal), wilayah yang dijuluki "Negeri Seribu Goa" ini sebenarnya dikelilingi oleh perairan Selat Buton dan Selat Tiworo yang menjadi urat nadi perdagangan regional.

##

Sektor Pertanian dan Perkebunan Unggulan

Pilar utama ekonomi Buton Tengah bersandar pada sektor pertanian lahan kering. Komoditas unggulan yang menjadi penggerak ekspor lokal adalah Jambu Mete. Buton Tengah merupakan salah satu produsen mete terbesar di Sulawesi Tenggara, di mana kacang mete mentah maupun olahan menjadi sumber pendapatan utama ribuan rumah tangga. Selain mete, tanaman pangan seperti ubi kayu (kasuami) menjadi basis ketahanan pangan lokal yang kini mulai dikembangkan ke arah hilir menjadi tepung tapioka skala industri rumah tangga.

##

Sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Keunikan geologi Buton Tengah yang dipenuhi bentang alam karst menjadikannya destinasi wisata gua dan pemandian air tawar yang eksotis. Objek wisata seperti Gua Embaku dan bentang alam di Kecamatan Lakudo menarik arus wisatawan yang memicu pertumbuhan sektor jasa, perhotelan, dan UMKM. Di sektor ekonomi kreatif, kerajinan Sarung Tenun Buton Tengah dengan motif khas "Bia-Bia" menjadi produk unggulan yang telah menembus pasar nasional. Industri tenun ini bukan sekadar tradisi, melainkan ekosistem ekonomi yang melibatkan perajin perempuan di desa-desa, memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan domestik bruto daerah.

##

Perdagangan dan Infrastruktur Konektivitas

Sebagai wilayah yang berbatasan dengan tiga daerah strategis—Kabupaten Muna di utara, Kota Baubau di selatan (melalui jalur laut), dan Kabupaten Buton di timur—Buton Tengah berfungsi sebagai jembatan transit. Pembangunan infrastruktur jalan lingkar dan peningkatan fasilitas Pelabuhan Wamengkoli menjadi kunci akselerasi distribusi barang. Transportasi laut tetap menjadi tulang punggung meski wilayahnya didominasi daratan, menghubungkan komoditas lokal menuju pasar yang lebih besar di Makassar dan Surabaya.

##

Tren Ketenagakerjaan dan Pengembangan Masa Depan

Tren ketenagakerjaan di Buton Tengah mulai bergeser dari sektor primer (petani murni) ke sektor sekunder dan tersier. Munculnya industri pengolahan hasil laut seperti pabrik pembekuan ikan dan pengolahan rumput laut di kawasan pesisir (meski pusat pemerintahan di tengah) menunjukkan diversifikasi ekonomi. Pemerintah daerah saat ini fokus pada hilirisasi produk pertanian dan penguatan koperasi untuk meningkatkan nilai tawar petani mete. Dengan status kelangkaan "Epic" dalam peta pembangunan daerah, Buton Tengah bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi baru yang mengandalkan integrasi antara kekayaan alam karst dan kreativitas budaya lokal.

Demographics

#

Profil Demografis Buton Tengah: Dinamika Masyarakat di Jantung Kepulauan Buton

Buton Tengah, yang secara administratif berada di Provinsi Sulawesi Tenggara, memiliki karakteristik demografis yang unik sebagai wilayah kepulauan meskipun secara teknis dikategorikan sebagai wilayah non-pesisir dalam konteks administratif tertentu (sering dijuluki "Negeri Seribu Gua"). Dengan luas wilayah 851,99 km², kabupaten ini menunjukkan konsentrasi penduduk yang dipengaruhi oleh letak geografisnya yang strategis di antara tiga wilayah tetangga: Buton Selatan, Muna, dan Baubau.

Ukuran, Kepadatan, dan Distribusi Penduduk

Berdasarkan data terbaru, jumlah penduduk Buton Tengah mencapai lebih dari 115.000 jiwa. Kepadatan penduduk rata-rata berada pada angka 135 jiwa per km², namun distribusinya tidak merata. Konsentrasi penduduk tertinggi berada di Kecamatan Lakudo dan Gu, yang berfungsi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan administrasi. Sebaliknya, wilayah di bagian tengah daratan memiliki kepadatan yang lebih rendah, mencerminkan pola pemukiman yang masih sangat bergantung pada aksesibilitas jalan lintas kabupaten.

Komposisi Etnis dan Keragaman Budaya

Demografi Buton Tengah didominasi oleh suku asli, yaitu Suku Buton dan Suku Muna, dengan sub-etnis spesifik seperti masyarakat berdialek Pancana, Gu, dan Mawasangka. Keberagaman ini menciptakan struktur sosial yang kuat di mana hukum adat masih berperan penting dalam sosiologi kependudukan. Meskipun homogen secara mayoritas agama (Islam), terdapat variasi tradisi lisan dan ritus budaya yang membedakan satu desa dengan desa lainnya, menjadikannya wilayah dengan kekayaan budaya "Epic" di Sulawesi Tenggara.

Struktur Usia dan Piramida Penduduk

Piramida penduduk Buton Tengah menunjukkan struktur ekspansif yang mulai menyempit di bagian bawah, menandakan transisi demografis. Kelompok usia produktif (15-64 tahun) mendominasi struktur populasi, yang memberikan potensi bonus demografi. Namun, terdapat angka ketergantungan yang cukup signifikan pada kelompok usia muda (0-14 tahun), menuntut investasi besar pada sektor pemenuhan kebutuhan dasar anak.

Pendidikan dan Literasi

Tingkat literasi di Buton Tengah menunjukkan tren positif dengan angka melek huruf di atas 94%. Namun, sebaran tingkat pendidikan formal masih terkonsentrasi pada lulusan pendidikan menengah. Tantangan utama adalah akses ke pendidikan tinggi, di mana banyak penduduk usia muda harus keluar wilayah untuk melanjutkan studi, yang kemudian memengaruhi pola migrasi.

Urbanisasi dan Pola Migrasi

Dinamika penduduk Buton Tengah sangat dipengaruhi oleh migrasi sirkuler. Fenomena "merantau" adalah bagian dari budaya masyarakat setempat. Banyak penduduk usia produktif bermigrasi ke pusat pertumbuhan seperti Kota Baubau atau keluar provinsi (Maluku dan Papua) untuk bekerja di sektor perdagangan dan jasa. Secara internal, terjadi urbanisasi skala kecil menuju pusat-pusat kecamatan yang mulai bertransformasi menjadi area semi-perkotaan, mengubah lanskap pedesaan menjadi pusat-pusat perdagangan lokal yang lebih dinamis.

💡 Fakta Unik

  • 1.Wilayah ini merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Kendari pada tahun 2003 berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2003, menjadikannya salah satu daerah otonom yang mandiri di Sulawesi Tenggara.
  • 2.Masyarakat lokal melestarikan tradisi tari Lulo, namun daerah ini secara khusus dikenal sebagai pusat kebudayaan suku Tolaki dengan peninggalan situs sejarah bernama kompleks makam Raja-Raja Konawe.
  • 3.Topografinya unik karena merupakan wilayah daratan murni tanpa garis pantai, di mana sebagian besar areanya terdiri dari dataran rendah yang dialiri oleh Sungai Sampara.
  • 4.Dikenal sebagai 'Lumbung Beras' bagi Sulawesi Tenggara, daerah ini memiliki hamparan sawah yang sangat luas yang menjadi penopang utama ketahanan pangan di provinsi tersebut.

Destinasi di Buton Tengah

Semua Destinasi

Tempat Lainnya di Sulawesi Tenggara

Lokasi Serupa

Panduan Perjalanan Terkait

Memuat panduan terkait...

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Uji Pengetahuanmu!

Apakah kamu bisa menebak Buton Tengah dari siluet petanya?