Situs Sejarah

Museum Bahari

di Jakarta Utara, Jakarta

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Kejayaan Maritim Nusantara: Sejarah dan Transformasi Museum Bahari Jakarta

Museum Bahari, yang berdiri kokoh di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara, bukan sekadar sebuah bangunan penyimpan artefak. Situs sejarah ini merupakan saksi bisu transformasi Jakarta dari sebuah pelabuhan kecil bernama Sunda Kelapa menjadi pusat perdagangan global di bawah kendali kolonial Belanda. Terletak tepat di muara Sungai Ciliwung, kompleks bangunan ini menyimpan memori kolektif tentang ambisi maritim, rempah-rempah, dan arsitektur pertahanan abad ke-17.

#

Asal-usul Historis dan Periode Pembangunan

Sejarah Museum Bahari tidak dapat dipisahkan dari keberadaan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Kompleks ini awalnya bukan dibangun sebagai museum, melainkan sebagai gudang penyimpanan komoditas berharga yang dikenal dengan nama Westzijdsche Pakhuizen (Gudang Sisi Barat). Pembangunannya dilakukan secara bertahap selama lebih dari satu abad, dimulai dari tahun 1652 hingga 1771.

Pada awalnya, bangunan pertama didirikan di tepi barat Sungai Ciliwung untuk menyimpan rempah-rempah seperti pala, lada, cengkih, serta kopi, teh, dan kain katun. Seiring dengan meningkatnya volume perdagangan VOC di Asia, gudang-gudang baru terus ditambahkan. Struktur tertua yang ada saat ini berasal dari pertengahan abad ke-17, menjadikannya salah satu kompleks bangunan tertua yang masih berdiri di Jakarta.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi: Benteng Logistik

Secara arsitektural, Museum Bahari menampilkan gaya bangunan kolonial Belanda awal yang sangat fungsional. Bangunan ini dirancang untuk menahan beban berat komoditas perdagangan sekaligus berfungsi sebagai bagian dari sistem pertahanan kota Batavia. Dinding luarnya sangat tebal, mencapai 50 hingga 60 sentimeter, yang dirancang untuk menjaga suhu di dalam gudang tetap stabil agar rempah-rempah tidak cepat membusuk.

Konstruksi atapnya menggunakan kayu jati berkualitas tinggi dengan sistem kuda-kuda yang sangat kuat. Salah satu ciri khas yang unik adalah penggunaan jendela-jendela kecil dengan jeruji besi yang kokoh, bertujuan untuk mencegah pencurian komoditas berharga. Jendela-jendela ini juga dirancang sedemikian rupa untuk sirkulasi udara yang optimal. Di antara komplek gudang ini, terdapat sisa-sisa tembok kota Batavia yang lama, yang dikenal sebagai Bastion Culemborg, yang mempertegas fungsi ganda situs ini sebagai gudang sekaligus benteng pertahanan sisi laut.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Museum Bahari merupakan episentrum dari jalur rempah dunia pada masanya. Di sinilah seluruh kekayaan alam dari berbagai pelosok Nusantara dikumpulkan sebelum dikapalkan ke Eropa. Signifikansi situs ini terletak pada perannya sebagai "brankas" bagi VOC. Tanpa keberadaan gudang-gudang ini, efisiensi perdagangan Belanda di Asia tidak akan mungkin tercapai.

Selama masa pendudukan Jepang (1942-1945), fungsi bangunan ini berubah drastis. Tentara Jepang memanfaatkannya sebagai gudang logistik militer dan persenjataan. Setelah kemerdekaan Indonesia, bangunan ini sempat digunakan oleh berbagai instansi pemerintah, termasuk sebagai gudang PLN dan PTT (Pos, Telegraf, dan Telepon), sebelum akhirnya diresmikan sebagai Museum Bahari oleh Gubernur Ali Sadikin pada 7 Juli 1977.

#

Tokoh dan Periode Terkait

Beberapa tokoh penting yang terkait dengan situs ini antara lain Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal VOC yang meletakkan dasar pembangunan kota Batavia di atas reruntuhan Jayakarta. Meskipun ia wafat sebelum seluruh kompleks gudang selesai, visinya tentang Batavia sebagai pusat logistik maritim terwujud dalam struktur bangunan ini.

Dalam konteks modern, Ali Sadikin adalah tokoh kunci yang menyelamatkan bangunan ini dari kehancuran. Pada tahun 1970-an, kawasan ini sempat terabaikan dan kumuh. Keputusan Sadikin untuk mengubah gudang-gudang tua ini menjadi museum adalah langkah visioner dalam pelestarian cagar budaya di Jakarta Utara.

#

Upaya Pelestarian dan Restorasi

Sebagai situs sejarah yang telah berusia lebih dari 350 tahun, Museum Bahari menghadapi tantangan besar dalam hal pelestarian. Tantangan utama adalah lokasinya yang berada di bawah permukaan laut saat pasang, yang menyebabkan masalah kelembapan dan ancaman banjir rob.

Pada Januari 2018, Museum Bahari mengalami musibah kebakaran hebat yang menghanguskan sebagian besar Blok C dan Blok A. Kebakaran ini merusak struktur atap dan beberapa koleksi navigasi bersejarah. Namun, pemerintah Provinsi DKI Jakarta segera melakukan langkah restorasi besar-besaran dengan prinsip konservasi yang ketat, menggunakan material yang sebisa mungkin mendekati aslinya, termasuk penggunaan kayu jati tua untuk mengganti penyangga yang hangus. Saat ini, museum telah dibuka kembali dengan sistem keamanan kebakaran yang lebih mutakhir.

#

Koleksi Unik dan Nilai Budaya

Museum Bahari menyimpan koleksi yang sangat spesifik mengenai dunia kemaritiman Indonesia. Salah satu fakta unik adalah keberadaan koleksi miniatur hingga kapal asli dari berbagai suku di Indonesia, seperti Pinisi dari Makassar, Lancang Kuning dari Riau, dan kano cadik dari Papua. Koleksi ini membuktikan bahwa jauh sebelum bangsa Eropa datang, bangsa Indonesia telah memiliki teknologi navigasi yang sangat maju.

Selain itu, terdapat koleksi jangkar-jangkar raksasa, kompas kuno, dan peta-peta navigasi dari abad ke-18 yang menunjukkan rute pelayaran kuno. Keberadaan Menara Syahbandar yang terletak tidak jauh dari bangunan utama (masih dalam satu manajemen museum) menambah nilai historis situs ini. Menara yang dibangun pada tahun 1839 ini dulunya berfungsi sebagai menara pengawas dan kantor pabean untuk mengatur lalu lintas kapal di Pelabuhan Batavia.

#

Kesimpulan: Menatap Masa Depan lewat Masa Lalu

Museum Bahari bukan hanya sekadar bangunan tua yang kaku. Ia adalah monumen hidup yang menceritakan bagaimana Jakarta tumbuh dari sebuah pelabuhan sungai menjadi kota metropolitan maritim. Melalui dinding-dinding tebal dan lantai kayunya yang berderit, pengunjung diajak untuk memahami bahwa kekuatan Indonesia terletak pada lautnya.

Pelestarian Museum Bahari adalah bentuk penghormatan terhadap identitas bangsa sebagai bangsa pelaut. Meskipun tantangan alam seperti penurunan muka tanah di Jakarta Utara terus mengancam, keberadaan museum ini tetap menjadi pilar penting bagi pendidikan sejarah dan pariwisata budaya di Indonesia. Mengunjungi Museum Bahari berarti menelusuri kembali jejak-jejak kejayaan maritim yang pernah menjadikan Nusantara sebagai pusat perhatian dunia.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Pasar Ikan No. 1, Penjaringan, Jakarta Utara
entrance fee
Rp 5.000 per orang
opening hours
Selasa - Minggu, 09:00 - 15:00

Tempat Menarik Lainnya di Jakarta Utara

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Jakarta Utara

Pelajari lebih lanjut tentang Jakarta Utara dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Jakarta Utara