Pelabuhan Sunda Kelapa
di Jakarta Utara, Jakarta
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Asal-usul dan Periode Pendirian
Akar sejarah Sunda Kelapa dapat ditarik hingga abad ke-12, di mana pelabuhan ini berfungsi sebagai pintu gerbang utama bagi Kerajaan Sunda (Pajajaran) yang beribu kota di Pakuan (sekarang Bogor). Nama "Sunda Kelapa" sendiri merujuk pada lokasinya yang berada di wilayah kekuasaan Sunda dan menjadi komoditas utama ekspor lada.
Pada masa itu, pelabuhan ini merupakan salah satu pelabuhan terpenting di jalur perdagangan rempah-rempah dunia. Letaknya yang strategis di muara Sungai Ciliwung menjadikannya tempat yang ideal bagi kapal-kapal dagang internasional untuk berlindung dari badai sekaligus melakukan transaksi komoditas berharga.
Arsitektur dan Detail Konstruksi Tradisional
Salah satu keunikan yang membedakan Sunda Kelapa dari pelabuhan modern lainnya adalah pelestarian gaya konstruksi dermaga yang masih menampung kapal-kapal kayu tradisional jenis Pinisi dan Lambo. Dermaga Sunda Kelapa memiliki panjang sekitar 1.100 meter dengan struktur yang kokoh untuk menahan beban kapal-kapal besar.
Meskipun telah mengalami modernisasi pada bagian beton dermaga, atmosfer abad ke-19 masih terasa kental. Secara arsitektural, situs ini dikelilingi oleh bangunan-bangunan bergaya kolonial Belanda di kawasan sekitarnya (seperti Galangan VOC). Kapal Pinisi yang bersandar di sini merupakan mahakarya arsitektur bahari suku Bugis dan Makassar, yang dikonstruksi tanpa paku besi, melainkan menggunakan pasak kayu tradisional. Visual jajaran kapal dengan tiang-tiang tinggi yang menjulang menciptakan siluet arsitektur maritim yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia.
Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting
Sunda Kelapa adalah panggung bagi berbagai peristiwa besar yang mengubah peta politik Nusantara. Salah satu peristiwa paling monumental adalah penandatanganan perjanjian dagang antara Kerajaan Sunda dan Portugis pada tahun 1522. Sebagai bukti fisik perjanjian ini, didirikan sebuah prasasti batu yang dikenal sebagai Luso-Sundanese Padrão.
Namun, aliansi ini memicu kekhawatiran dari kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Pada 22 Juni 1527, Fatahillah (seorang panglima perang dari Kesultanan Demak) memimpin pasukan gabungan Demak-Cirebon untuk menyerang dan mengambil alih pelabuhan ini dari pengaruh Portugis dan Kerajaan Sunda. Kemenangan ini kemudian membuat nama Sunda Kelapa diubah menjadi "Jayakarta" yang berarti "Kemenangan yang Gemilang". Tanggal inilah yang hingga kini diperingati sebagai hari jadi kota Jakarta.
Hampir seabad kemudian, pada 1619, Jan Pieterszoon Coen dari VOC Belanda menaklukkan Jayakarta dan membangun kota baru di atas reruntuhannya yang diberi nama Batavia. Sunda Kelapa kemudian menjadi basis utama VOC untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah di seluruh dunia.
Tokoh Penting dan Periode Kolonial
Selain Fatahillah dan Jan Pieterszoon Coen, Sunda Kelapa juga berkaitan erat dengan tokoh-tokoh seperti Tomé Pires, seorang penjelajah Portugis yang mencatat kehebatan pelabuhan ini dalam bukunya Suma Oriental. Ia mendeskripsikan Sunda Kelapa sebagai pelabuhan lada yang dikelola dengan sangat baik dan memiliki sistem administrasi yang tertata.
Selama masa kolonial Belanda, pelabuhan ini mengalami perluasan besar-besaran. Pembangunan kanal-kanal di sekitar pelabuhan dilakukan untuk mempermudah transportasi barang dari pedalaman ke dermaga. Pada periode ini, dibangun pula Menara Syahbandar (1839) yang berfungsi sebagai menara pengawas dan kantor pabean untuk mengatur lalu lintas kapal yang keluar-masuk Batavia.
Status Pelestarian dan Restorasi
Saat ini, Pelabuhan Sunda Kelapa ditetapkan sebagai cagar budaya dan situs sejarah di bawah naungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Mengingat fungsinya yang masih aktif sebagai pelabuhan bongkar muat, tantangan utama dalam pelestarian adalah menjaga keseimbangan antara operasional ekonomi dan perlindungan nilai sejarah.
Upaya restorasi terus dilakukan, terutama pada bangunan-bangunan pendukung di sekitarnya. Salah satu keberhasilan restorasi adalah transformasi bekas gudang gandum dan rempah-rempah VOC menjadi Museum Bahari yang terletak tepat di depan pintu masuk pelabuhan. Revitalisasi kawasan Kota Tua Jakarta juga berdampak positif pada integritas fisik Sunda Kelapa, di mana aksesibilitas bagi wisatawan ditingkatkan tanpa menghilangkan esensi pelabuhan rakyat.
Nilai Budaya dan Keunikan Historis
Secara budaya, Sunda Kelapa adalah simbol sinkretisme dan akulturasi. Di sini, terjadi pertemuan berbagai suku bangsa—Jawa, Sunda, Bugis, Melayu, Tionghoa, Arab, dan Eropa. Kehadiran kapal Pinisi hingga hari ini merupakan bentuk "museum hidup" bagi teknologi maritim Nusantara.
Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa meskipun Jakarta telah memiliki pelabuhan modern seperti Tanjung Priok sejak akhir abad ke-19, Sunda Kelapa tidak pernah ditinggalkan. Ia tetap bertahan sebagai pusat distribusi kebutuhan pokok ke pulau-pulau terpencil di Indonesia menggunakan kapal-kapal kayu. Hal ini menjadikan Sunda Kelapa sebagai satu-satunya pelabuhan di dunia di mana kapal layar kayu berukuran besar masih beroperasi secara komersial dalam skala besar.
Kesimpulan
Pelabuhan Sunda Kelapa bukan sekadar peninggalan masa lalu yang statis. Ia adalah monumen hidup yang menceritakan transisi dari kekuasaan kerajaan lokal menuju kolonialisme, hingga menjadi jantung ekonomi Indonesia modern. Dengan jajaran kapal Pinisi yang megah dan latar belakang sejarah yang mendalam, Sunda Kelapa tetap menjadi identitas paling otentik dari Jakarta sebagai kota maritim. Pelestariannya sangat krusial, bukan hanya untuk pariwisata, tetapi sebagai pengingat bagi generasi mendatang bahwa kejayaan bangsa ini bermula dari gelombang laut dan angin yang melintasi dermaga bersejarah di Jakarta Utara ini.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Jakarta Utara
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Jakarta Utara
Pelajari lebih lanjut tentang Jakarta Utara dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Jakarta Utara