Kuliner Legendaris

Pantai Indah Kapuk (PIK) 2 - Pantjoran PIK

di Jakarta Utara, Jakarta

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Menelusuri Jejak Rasa di Pantjoran PIK: Episentrum Kuliner Legendaris dan Akulturasi Budaya di Jakarta Utara

Pantai Indah Kapuk (PIK), khususnya kawasan Pantjoran PIK, telah bertransformasi menjadi lebih dari sekadar destinasi wisata modern. Terletak di pesisir Jakarta Utara, kawasan ini merupakan manifestasi penghormatan terhadap sejarah panjang komunitas Tionghoa di Indonesia. Mengambil inspirasi dari kawasan legendaris Glodok, Pantjoran PIK hadir sebagai "Little China" yang mengkurasi berbagai kuliner legendaris yang telah bertahan selama puluhan tahun, memboyong cita rasa autentik dari gang-gang sempit Jakarta Barat ke ruang terbuka yang megah di tepi laut.

#

Akar Sejarah dan Filosofi Arsitektur yang Menghidupkan Selera

Pantjoran PIK bukan sekadar pusat jajanan; ia adalah sebuah narasi budaya. Nama "Pantjoran" sendiri merujuk pada pancuran air di kawasan Glodok yang pada masa kolonial menjadi sumber air bersih bagi warga. Di PIK, filosofi ini diterjemahkan melalui gerbang ikonik (paifang) yang menjulang tinggi dan pagoda yang megah. Secara kultural, tempat ini menjadi jembatan bagi generasi muda untuk mengenal warisan kuliner leluhur dalam suasana yang lebih kontemporer.

Setiap sudut Pantjoran PIK dirancang untuk mencerminkan harmoni antara tradisi dan modernitas. Mural-mural yang menghiasi dinding menceritakan keseharian masyarakat Tionghoa, mulai dari proses pembuatan mi hingga tradisi minum teh. Hal ini menciptakan pengalaman sensory dining di mana pengunjung tidak hanya mengecap rasa, tetapi juga menghirup atmosfer sejarah yang kental.

#

Kurasi Kuliner Legendaris: Dari Resep Turun-Temurun hingga Teknik Tradisional

Keunikan utama Pantjoran PIK terletak pada kurasi tenant-nya. Pengelola tidak sembarang memilih gerai; banyak di antaranya adalah bisnis keluarga yang telah berjalan selama tiga hingga empat generasi.

##

1. Es Kopi Tak Kie: Legenda Sejak 1927

Salah satu ikon yang diboyong ke sini adalah Es Kopi Tak Kie. Berdiri sejak tahun 1927 di Gang Gloria, Glodok, kedai ini mempertahankan teknik penyeduhan tradisional. Biji kopi yang digunakan adalah campuran robusta dan arabika dari berbagai daerah di Indonesia yang disangrai dengan profil khusus. Teknik penyajiannya sederhana, namun konsistensi rasanya yang kuat dan tidak terlalu asam menjadi bukti keahlian keluarga Liong dalam menjaga warisan sang pendiri, Liong Kwie Tjong.

##

2. Bakmie Gang Kelinci dan Cita Rasa Mi Otentik

Bakmie adalah pilar utama kuliner di Pantjoran PIK. Salah satu yang paling menonjol adalah Bakmie Gang Kelinci yang telah melegenda sejak 1957. Teknik pembuatan mi di sini masih mengikuti standar tradisional, di mana kekenyalan mi didapat dari rasio telur dan tepung yang presisi tanpa bahan pengawet berlebih. Topping ayam bumbu kecap dan jamur yang melimpah dimasak dengan teknik slow-braising (ungkep) hingga bumbunya meresap ke dalam serat daging, menciptakan harmoni rasa gurih-manis yang ikonis.

##

3. Wong Fu Kie: Teknik Memasak Hakka Tertua

Kehadiran Wong Fu Kie membawa teknik memasak ala Hakka yang autentik. Didirikan pada tahun 1925, spesialisasi mereka adalah masakan rumahan dengan teknik stir-fry menggunakan api besar (wok hei) yang memberikan aroma asap yang khas pada setiap masakan. Salah satu menu wajib adalah Mun Kiaw Mien, mi siram dengan tekstur lembut yang membutuhkan kontrol api yang sangat presisi agar mi tidak hancur namun bumbunya mengental sempurna.

#

Bahan Unik dan Teknik Pengolahan yang Terjaga

Kekuatan kuliner di Pantjoran PIK terletak pada penggunaan bahan-bahan tradisional yang spesifik. Banyak bumbu yang masih diimpor langsung atau dibuat sendiri secara manual (homemade) untuk menjaga profil rasa asli.

  • Penggunaan Minyak Babi (Lard) dan Minyak Bawang: Untuk menu non-halal, rahasia kelezatan terletak pada penggunaan minyak babi yang diolah dengan bawang putih hingga harum. Teknik ini memberikan dimensi rasa "umami" alami yang tidak bisa digantikan oleh penyedap rasa buatan.
  • Fermentasi Tradisional: Banyak hidangan yang menggunakan bahan dasar fermentasi seperti tauco, hamchoi (sayur asin), dan angkak (beras merah China). Misalnya, pada hidangan ayam goreng angkak, beras merah difermentasi untuk memberikan warna merah alami sekaligus aroma tanah yang unik dan bermanfaat bagi kesehatan.
  • Teknik Pengasapan dan Pemanggangan: Di area ini, Anda dapat menemukan bebek panggang dengan kulit yang renyah (crispy skin) namun daging yang tetap juicy. Rahasianya terletak pada proses pengeringan kulit bebek selama minimal 12 jam sebelum dipanggang dalam oven tungku tradisional yang memastikan distribusi panas merata.

#

Akulturasi dan Inovasi Kuliner Lokal

Meskipun didominasi oleh pengaruh Tionghoa, Pantjoran PIK juga menjadi wadah akulturasi. Kita bisa menemukan bagaimana kuliner Tionghoa berpadu dengan lidah lokal Jakarta. Penggunaan cabai rawit dalam sambal pendamping dimsum atau kuah soto tangkar yang bersanding dengan cakwe adalah bukti bahwa kuliner di sini bersifat dinamis.

Selain menu berat, jajanan tradisional atau street food juga menjadi daya tarik. Mulai dari Onde-onde dengan isian kacang hijau yang diproses manual (ditumbuk halus), hingga Kue Keranjang yang digoreng dengan telur saat perayaan tertentu. Setiap camilan membawa cerita tentang perayaan, keberuntungan, dan rasa syukur.

#

Etiket Makan dan Kebiasaan Lokal

Makan di Pantjoran PIK melibatkan budaya komunal. Sebagian besar hidangan disajikan dalam porsi besar untuk berbagi (family style), mencerminkan nilai kebersamaan dalam budaya Tionghoa. Kebiasaan minum teh hangat (Gongfu Tea) setelah makan berat juga masih lazim dilakukan, yang dipercaya dapat membantu melancarkan pencernaan setelah menyantap hidangan berminyak.

Pengunjung juga akan sering menjumpai atraksi barongsai atau alunan musik guzheng pada hari-hari tertentu, yang semakin memperkuat atmosfer cultural dining. Tidak ada batasan antara pengunjung; semua orang dari berbagai latar belakang etnis berkumpul untuk menikmati satu hal yang universal: makanan yang enak.

#

Pantjoran PIK sebagai Penjaga Warisan

Kehadiran Pantjoran PIK 2 secara strategis di Jakarta Utara bukan sekadar upaya komersial, melainkan langkah konservasi kuliner. Dengan menyediakan tempat yang layak dan higienis bagi para pedagang legendaris, warisan resep-resep kuno ini terhindar dari kepunahan. Para koki senior (shifu) di setiap gerai sering terlihat masih turun tangan langsung, memastikan bahwa standar rasa yang mereka bawa dari masa lalu tetap terjaga di tengah modernitas PIK.

Bagi para pencinta kuliner, mengunjungi Pantjoran PIK adalah sebuah perjalanan melintasi waktu. Dari aroma bawang putih goreng yang menyeruak di udara hingga pemandangan pagoda yang memantulkan cahaya matahari senja, setiap elemen di sini bekerja sama untuk merayakan kekayaan rasa yang telah membentuk identitas kuliner Jakarta. Pantjoran PIK telah berhasil membuktikan bahwa kuliner legendaris tidak harus terjebak di masa lalu; ia bisa hidup, relevan, dan terus dicintai di tengah perkembangan zaman yang pesat.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Kawasan Pantai Maju, Golf Island, Jakarta Utara
entrance fee
Gratis
opening hours
Setiap hari, 07:00 - 23:00

Tempat Menarik Lainnya di Jakarta Utara

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Jakarta Utara

Pelajari lebih lanjut tentang Jakarta Utara dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Jakarta Utara