Situs Sejarah

Candi Tegowangi

di Kediri, Jawa Timur

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Candi Tegowangi: Pusara Agung Bhre Matahun di Jantung Kediri

Candi Tegowangi merupakan salah satu peninggalan purbakala paling signifikan dari era keemasan Majapahit yang terletak di Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Sebagai sebuah monumen yang memadukan keindahan arsitektur dengan narasi sastra kuno, candi ini bukan sekadar tumpukan batu andesit, melainkan sebuah simbol penghormatan terakhir bagi salah satu tokoh penting dalam hierarki kekuasaan Majapahit.

#

Latar Belakang Sejarah dan Pendirian

Berdasarkan data yang tercatat dalam kitab Nagarakretagama pupuh 82:2, Candi Tegowangi diidentifikasi sebagai tempat pendharmaan (pemujaan/penyimpanan abu) bagi Bhre Matahun. Bhre Matahun, yang memiliki nama asli Rajasawardhana, adalah saudara ipar dari Raja Hayam Wuruk. Ia menikah dengan adik perempuan Hayam Wuruk yang bernama Rajasaduhita Indudewi (Bhre Lasem).

Meskipun kitab Nagarakretagama menyebutkan bahwa Bhre Matahun wafat pada tahun 1388 Masehi, proses pembangunan candi ini diperkirakan baru selesai beberapa tahun kemudian, yakni sekitar tahun 1400 Masehi. Hal ini didasarkan pada gaya relief dan ornamen yang menunjukkan transisi dari gaya Majapahit klasik menuju gaya yang lebih detail dan naratif. Situs ini secara administratif masuk dalam wilayah kekuasaan Kadiri (Kediri) yang pada masa itu merupakan salah satu wilayah bawahan (vassal) terpenting bagi pusat pemerintahan Majapahit di Trowulan.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Candi Tegowangi dibangun menggunakan material batu andesit dengan denah dasar berbentuk bujur sangkar berukuran 11,2 x 11,2 meter. Secara struktural, candi ini menghadap ke arah barat, sebuah orientasi yang umum ditemukan pada candi-candi di Jawa Timur yang bersifat sebagai tempat pendharmaan atau pemujaan bagi arwah yang telah meninggal.

Salah satu keunikan arsitektur Candi Tegowangi terletak pada kondisinya yang tampak "belum selesai" di bagian atas. Saat ini, yang tersisa dan berdiri tegak hanyalah bagian kaki candi (sub-structure) dan sebagian kecil tubuh candi. Bagian atapnya sudah tidak ada, baik karena proses alam maupun karena pembangunannya yang memang terhenti akibat konflik internal Majapahit (seperti Perang Paregreg) yang terjadi tak lama setelah wafatnya Hayam Wuruk.

Kaki candi memiliki ketinggian sekitar 4,35 meter. Di sekeliling kaki candi terdapat pelataran luas yang terbuat dari susunan bata merah, yang berfungsi sebagai pembatas area suci. Di bagian tangga masuk sisi barat, terdapat sisa-sisa pipi tangga yang dihiasi dengan ukiran makara yang halus, mencerminkan estetika tinggi seni pahat masa itu.

#

Narasi Relief Sudamala

Daya tarik utama Candi Tegowangi terletak pada rangkaian relief yang terpahat di sekeliling kaki candinya. Relief-relief ini menceritakan kisah Sudamala, sebuah fragmen dari epos Mahabharata versi Jawa Kuno. Cerita ini berfokus pada upaya Sadewa (bungsu dari Pandawa) dalam meruwat (menyucikan) Dewi Durga yang sedang dalam wujud raksasa (Uma) kembali menjadi dewi yang cantik.

Pahatan relief Sudamala di Candi Tegowangi terdiri dari beberapa panel utama:

1. Pertemuan Sadewa dengan Kunti: Mengisahkan awal mula perintah Kunti kepada Sadewa untuk meruwat Durga.

2. Pengabdian Sadewa kepada Durga: Menggambarkan Sadewa yang diikat di pohon randu sebagai tumbal, namun tetap teguh dalam meditasinya.

3. Proses Peruwatan: Adegan puncak di mana Sadewa berhasil menyucikan Durga dengan bantuan Batara Guru.

4. Pertempuran dengan Kalantaka dan Kalanjaya: Setelah peruwatan, Sadewa harus menghadapi raksasa-raksasa lain sebagai ujian akhir.

Penggunaan kisah Sudamala pada candi ini memiliki makna simbolis yang mendalam. Karena candi ini berfungsi sebagai tempat pendharmaan Bhre Matahun, relief tersebut dimaksudkan sebagai doa atau sarana magis untuk menyucikan jiwa sang mendiang agar dapat kembali ke alam kedewatan dalam keadaan bersih dari segala noda duniawi.

#

Signifikansi Budaya dan Keagamaan

Secara religius, Candi Tegowangi bersifat Siwaistik. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya beberapa arca di sekitar situs, seperti arca Parwati, Ganesha, dan sisa-sisa lingga-yoni yang merupakan simbol kesuburan dan pemujaan terhadap Dewa Siwa. Keberadaan yoni di tengah reruntuhan tubuh candi menunjukkan bahwa fungsi utama bangunan ini adalah sebagai tempat ritus kesuburan sekaligus penghormatan kepada leluhur.

Keunikan lain dari situs ini adalah keberadaan beberapa arca "Gana" (makhluk kerdil penopang) yang dipahat di sudut-sudut kaki candi. Posisi Gana yang seolah memikul beban berat bangunan merupakan ciri khas arsitektur Jawa Timur yang jarang ditemukan dengan detail sehebat di Tegowangi.

#

Upaya Pelestarian dan Restorasi

Situs Candi Tegowangi ditemukan kembali dalam kondisi tertimbun tanah dan ditumbuhi semak belukar pada masa kolonial Belanda. Upaya pembersihan dan pendataan awal dilakukan oleh dinas purbakala pemerintah Hindia Belanda (Oudheidkundige Dienst). Namun, pemugaran secara sistematis baru dilakukan oleh Pemerintah Indonesia melalui Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala.

Saat ini, Candi Tegowangi dikelola oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI. Lingkungan sekitar candi telah ditata menjadi taman yang asri, yang tidak hanya berfungsi sebagai pelindung struktur batu dari erosi, tetapi juga sebagai destinasi wisata edukasi. Tantangan utama dalam pelestarian candi ini adalah pelapukan batu andesit akibat tumbuhnya lumut dan pengaruh cuaca ekstrem, mengingat bagian atas candi yang terbuka tanpa pelindung atap alami.

#

Fakta Unik dan Penutup

Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah adanya sisa-sisa bangunan bata di sisi tenggara candi yang diduga merupakan bagian dari kompleks hunian para pendeta atau pengelola candi pada masa lalu. Hal ini menunjukkan bahwa Candi Tegowangi bukanlah bangunan tunggal, melainkan sebuah kompleks keagamaan yang terintegrasi dengan pemukiman sekitarnya.

Candi Tegowangi tetap berdiri sebagai saksi bisu kejayaan masa lalu Kediri di bawah payung Majapahit. Melalui relief Sudamala-nya, candi ini mengajarkan tentang konsep penebusan dosa dan pemurnian jiwa, sebuah nilai luhur yang tetap relevan melintasi zaman. Sebagai peninggalan sejarah yang tak ternilai, keberadaannya menjadi jembatan bagi generasi modern untuk memahami kerumitan struktur sosial, spiritualitas, dan pencapaian artistik leluhur bangsa Indonesia di tanah Jawa Timur.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri
entrance fee
Gratis (isi buku tamu)
opening hours
Setiap hari, 07:00 - 15:00

Tempat Menarik Lainnya di Kediri

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Kediri

Pelajari lebih lanjut tentang Kediri dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Kediri