Bangunan Ikonik

Gereja Puhsarang

di Kediri, Jawa Timur

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Arsitektur Gereja Puhsarang: Simfoni Liturgi dalam Balutan Akulturasi Jawa-Eropa

Gereja Puhsarang, atau yang secara resmi dikenal sebagai Gereja Katolik Santa Maria Puhsarang, berdiri megah di lereng Gunung Wilis, tepatnya di Desa Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Bangunan ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan sebuah mahakarya arsitektur yang merepresentasikan dialog mendalam antara iman Kristiani dengan kearifan lokal Jawa. Dibangun pada tahun 1936, kompleks ini menjadi saksi bisu bagaimana material lokal dan filosofi tradisional dapat bertransformasi menjadi ruang sakral yang universal.

#

Visi Sang Arsitek dan Konteks Sejarah

Pembangunan Gereja Puhsarang tidak lepas dari kolaborasi visioner antara Romo Jan Wolters, CM, seorang misionaris Belanda, dengan Ir. Henri Maclaine Pont, seorang arsitek kenamaan yang juga merancang Museum Trowulan. Maclaine Pont dikenal karena gagasannya yang revolusioner dalam menggabungkan teknik konstruksi modern dengan estetika vernakular Nusantara.

Pada masa itu, Gereja Puhsarang dirancang sebagai pusat ziarah yang mampu merangkul masyarakat lokal tanpa membuat mereka merasa asing dengan simbol-simbol Barat. Pont melakukan riset mendalam terhadap struktur bangunan Majapahit dan rumah tradisional Jawa untuk menciptakan bahasa arsitektur baru yang ia sebut sebagai "arsitektur Indis" yang kontekstual.

#

Estetika Arkais: Materialitas dan Struktur

Salah satu ciri paling mencolok dari Gereja Puhsarang adalah penggunaan material batu kali (batu alam) yang dominan. Berbeda dengan gereja-gereja kolonial di kota besar yang menggunakan beton dan plesteran putih, dinding Puhsarang dibiarkan terekspos dengan tumpukan batu yang disusun sedemikian rupa tanpa semen yang terlihat mencolok di permukaan.

Struktur atapnya mengadopsi bentuk pegunungan atau "Gunungan" dalam pewayangan, yang dalam kosmologi Jawa melambangkan tempat tinggal para dewa atau sumber kehidupan. Atap ini tidak menggunakan genteng tanah liat biasa, melainkan sirap kayu yang memberikan kesan hangat dan menyatu dengan alam sekitar. Bentuk atap yang melengkung tajam ini juga berfungsi secara teknis untuk mengalirkan curah hujan tinggi di lereng Gunung Wilis dengan efisien.

#

Inovasi Struktur: Teknik Kabel Baja

Secara teknis, Maclaine Pont menerapkan inovasi yang sangat maju pada masanya. Interior gereja tidak menggunakan kolom-kolom penyangga tengah yang masif, sehingga menciptakan ruang yang luas dan tanpa sekat (open plan). Hal ini dicapai dengan menggunakan konstruksi kabel baja yang ditarik untuk menyangga beban atap, sebuah prinsip yang mirip dengan jembatan gantung.

Inovasi ini memungkinkan sirkulasi udara berjalan alami melalui celah-celah di bawah atap, menciptakan suhu ruangan yang sejuk meski tanpa pendingin udara buatan. Pencahayaan alami masuk melalui celah-celah sempit dan ventilasi, memberikan efek pencahayaan dramatis (chiaroscuro) yang mendukung suasana kontemplatif di dalam ruang utama.

#

Simbolisme Akulturasi pada Detail Eksterior

Memasuki area kompleks, pengunjung akan disambut oleh gerbang atau "Candi Bentar" yang identik dengan arsitektur pura di Bali atau sisa-sisa kejayaan Majapahit. Penggunaan elemen ini merupakan pernyataan visual bahwa gereja ini terbuka bagi budaya setempat. Di atas pintu masuk utama, terdapat relief-relief yang menggambarkan kisah-kisah Alkitab, namun dipahat dengan gaya pengukiran tradisional Jawa.

Salah satu elemen paling ikonik adalah menara lonceng yang berbentuk seperti tumpukan batu yang mengerucut, menyerupai struktur stupa atau candi. Lonceng ini tidak digantung di menara bergaya Gotik, melainkan diletakkan dalam struktur yang lebih membumi, menciptakan harmoni visual dengan bentang alam perbukitan di latar belakangnya.

#

Tata Ruang dan Pengalaman Spiritual

Kompleks Puhsarang dirancang sebagai sebuah rute prosesi. Tata ruangnya tidak linier, melainkan mengikuti kontur tanah yang berbukit. Pengunjung diajak untuk berjalan mendaki, melewati berbagai stasi Jalan Salib yang tersebar di area terbuka. Desain ini menciptakan pengalaman sensorik di mana peziarah bisa merasakan hembusan angin, suara air, dan tekstur batu sambil merenung.

Di dalam gereja, altar utama terbuat dari batu masif yang memberikan kesan stabil dan abadi. Ruangannya cenderung gelap dengan fokus cahaya pada area altar, menciptakan atmosfer misteri ilahi (misterium tremendum). Tidak ada kursi kayu panjang (pews) yang kaku; pada awalnya, jemaat duduk bersila di lantai, mengikuti tradisi masyarakat desa saat berkumpul, yang semakin memperkuat rasa kebersamaan dan kesetaraan di hadapan Tuhan.

#

Signifikansi Budaya dan Pelestarian

Gereja Puhsarang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya. Keunikannya terletak pada keberaniannya untuk tidak menjadi "asing" di tanah Jawa. Ia membuktikan bahwa iman dapat diekspresikan melalui budaya lokal tanpa kehilangan esensinya. Bagi masyarakat Kediri, Puhsarang adalah simbol toleransi dan kebanggaan arsitektural.

Selain gereja utama, kompleks ini juga memiliki Gua Maria Puhsarang yang menjadi replika Gua Maria Lourdes di Prancis, namun dengan sentuhan material batu lokal yang konsisten. Keberadaan amfiteater terbuka di area kompleks juga sering digunakan untuk pertunjukan seni budaya, menjadikannya pusat kegiatan sosial yang hidup.

#

Pengalaman Pengunjung Saat Ini

Saat ini, Gereja Puhsarang bukan hanya dikunjungi oleh umat Katolik untuk beribadah, tetapi juga oleh para arsitek, sejarawan, dan wisatawan umum yang mengagumi keindahan desainnya. Berjalan di selasar gereja yang dingin dengan tekstur batu kasar di bawah jemari memberikan perspektif baru tentang bagaimana bangunan dapat "berbicara" melalui materialnya.

Di malam hari, pencahayaan buatan yang ditata sedemikian rupa menonjolkan tekstur batu kali dan siluet atap yang megah, menciptakan pemandangan yang magis. Puhsarang tetap berdiri sebagai monumen keharmonisan—sebuah titik temu antara teknik arsitektur modern Barat dan jiwa spiritualitas Timur yang kental. Ia adalah bukti otentik bahwa arsitektur bukan sekadar masalah estetika, melainkan sebuah jembatan yang menghubungkan manusia, alam, dan Sang Pencipta.

📋 Informasi Kunjungan

address
Puhsarang, Semen, Kabupaten Kediri
entrance fee
Sukarela
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 18:00

Tempat Menarik Lainnya di Kediri

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Kediri

Pelajari lebih lanjut tentang Kediri dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Kediri