Bangunan Ikonik

Monumen Simpang Lima Gumul

di Kediri, Jawa Timur

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Kemegahan Arsitektur Monumen Simpang Lima Gumul: Jendela Sejarah Kediri

Berdiri kokoh di pusat pertemuan lima jalan utama yang menghubungkan Kota Kediri, Pare, Pagu, Wates, dan Pesantren, Monumen Simpang Lima Gumul (SLG) bukan sekadar marka tanah biasa. Sejak diresmikan pada tahun 2008, struktur ini telah bertransformasi menjadi ikon visual paling kuat di Jawa Timur. Dengan luas bangunan mencapai 804 meter persegi dan tinggi 25 meter, monumen ini merepresentasikan ambisi futuristik sekaligus penghormatan mendalam terhadap akar sejarah Kerajaan Kadiri yang agung.

#

Filosofi Desain dan Gaya Arsitektur Neoklasik

Secara visual, Monumen Simpang Lima Gumul sering dijuluki sebagai "Arc de Triomphe" van Java karena kemiripannya dengan monumen terkenal di Paris, Prancis. Namun, penyematan label tersebut hanya menyentuh permukaan estetikanya saja. Secara substansial, SLG mengadopsi gaya arsitektur neoklasik yang dipadukan dengan nafas lokalitas yang sangat kental.

Pilihan angka pada dimensinya tidaklah sembarang. Tinggi 25 meter merujuk pada tanggal hari jadi Kabupaten Kediri, sementara luas 804 meter persegi merepresentasikan angka tahun berdirinya Kediri pada 804 Masehi. Prinsip desain ini menunjukkan bahwa arsitekturnya berfungsi sebagai narasi angka-angka sejarah yang dibekukan dalam bentuk beton dan batu. Struktur masifnya yang berbentuk kubus memberikan kesan stabilitas dan kekuatan, mencerminkan kejayaan masa lalu yang ingin dihidupkan kembali di era modern.

#

Relief Naratif: Kronik Peradaban di Dinding Monumen

Salah satu elemen arsitektural yang paling menonjol adalah relief yang memahat keempat sisi dinding monumen. Berbeda dengan Arc de Triomphe yang menggambarkan kemenangan militer Napoleon, relief di SLG adalah ensiklopedia visual tentang kebudayaan Kediri. Pahatan-pahatan detail ini menggambarkan berbagai aspek kehidupan masyarakat mulai dari kesenian tradisional seperti Tari Reog dan Jaranan, hingga gambaran kemakmuran agraris wilayah tersebut.

Relief tersebut juga memuat penggambaran tokoh-tokoh penting dan mitologi lokal yang berkaitan dengan Kerajaan Kadiri. Penggunaan material batu alam pada bagian eksterior memberikan tekstur yang kontras dengan struktur beton bertulang di dalamnya. Detail ukiran ini tidak hanya berfungsi sebagai elemen dekoratif, tetapi juga sebagai media edukasi publik yang menceritakan bagaimana Kediri berkembang dari pusat kekuasaan kuno menjadi pusat ekonomi modern.

#

Inovasi Struktur dan Tata Ruang Interior

Meskipun dari luar tampak sebagai blok solid, bagian dalam Monumen Simpang Lima Gumul dirancang dengan kompleksitas fungsional yang tinggi. Bangunan ini terdiri dari beberapa lantai yang dihubungkan oleh tangga dan elevator. Salah satu fitur unik yang jarang diketahui pengunjung adalah adanya lorong bawah tanah (underpass) yang menghubungkan area parkir luas dengan lantai dasar monumen.

Inovasi ini bertujuan untuk menjaga estetika kawasan agar tetap bersih dari kendaraan bermotor sekaligus memastikan keamanan pejalan kaki. Di dalam gedung, terdapat ruang-ruang pertemuan (convention hall), ruang serbaguna, serta kantor informasi pariwisata. Struktur interiornya dirancang untuk menahan beban massa bangunan yang sangat berat, menggunakan teknik pengecoran beton modern yang memastikan durabilitas jangka panjang terhadap cuaca tropis ekstrem di Jawa Timur.

#

Simbolisme Budaya dan Integrasi Ruang Publik

Pembangunan SLG merupakan inisiasi dari Bupati Kediri pada masa itu, Sutrisno, yang terinspirasi oleh kejayaan Raja Jayabaya. Secara arsitektural, monumen ini diletakkan di titik sentral (axis) yang membagi ruang secara simetris. Penempatan ini menciptakan efek visual yang dramatis bagi siapapun yang berkendara menuju pusat persimpangan tersebut.

Di setiap sudut monumen, terdapat patung Ganesha—dewa dalam mitologi Hindu yang melambangkan kebijaksanaan dan pengetahuan. Kehadiran Ganesha di sini merupakan penghormatan terhadap identitas religius masa lampau Kediri yang merupakan pusat pembelajaran agama dan sastra pada masanya. Integrasi elemen religius Hindu-Jawa ke dalam struktur bangunan modern menciptakan dialog antar zaman yang harmonis.

#

Pengalaman Pengunjung dan Transformasi Kawasan

Seiring berjalannya waktu, Monumen Simpang Lima Gumul telah berkembang menjadi pusat gravitasi sosial. Area di sekitar monumen dirancang dengan konsep taman kota yang terbuka, memungkinkan angin segar berhembus melalui koridor-koridor monumen. Pada malam hari, sistem pencahayaan (lighting) yang terencana dengan baik mengubah fasad batu yang dingin menjadi struktur yang hangat dan bercahaya, menonjolkan setiap lekuk relief secara dramatis.

Bagi pengunjung, pengalaman arsitektural dimulai dari saat mereka memasuki lorong bawah tanah yang remang-remang, kemudian muncul di pelataran monumen yang luas dan terbuka. Kontras antara ruang sempit (underpass) dan ruang luas (plasa monumen) menciptakan efek psikologis kekaguman (sense of awe). Di lantai atas, terdapat balkon yang memungkinkan pengunjung melihat lanskap Kabupaten Kediri dari ketinggian, memberikan perspektif baru tentang tata ruang wilayah tersebut.

#

Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Beton

Monumen Simpang Lima Gumul adalah bukti nyata bagaimana arsitektur dapat digunakan sebagai alat untuk membangkitkan kebanggaan kolektif (civic pride). Meskipun secara bentuk meminjam tipologi Barat, jiwa di dalamnya sepenuhnya adalah Kediri. Ia adalah perpaduan antara inovasi teknik sipil modern dengan kearifan lokal yang mendalam.

Dari relief yang rumit hingga lorong bawah tanah yang fungsional, setiap inci bangunan ini bercerita tentang ambisi sebuah daerah untuk tetap relevan dalam arus modernisasi tanpa kehilangan jati diri sejarahnya. Sebagai pusat dari denyut nadi transportasi dan sosial di Jawa Timur, Monumen Simpang Lima Gumul akan terus berdiri sebagai penjaga waktu, mengingatkan setiap orang yang melintasinya bahwa di balik struktur beton ini, terdapat ribuan tahun sejarah yang tak akan pernah luntur.

📋 Informasi Kunjungan

address
Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri
entrance fee
Gratis (hanya biaya parkir)
opening hours
Setiap hari, 24 jam

Tempat Menarik Lainnya di Kediri

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Kediri

Pelajari lebih lanjut tentang Kediri dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Kediri