Taman Mayura
di Mataram, Nusa Tenggara Barat
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Taman Mayura: Jejak Kejayaan Karangasem dan Saksi Bisu Diplomasi di Jantung Mataram
Taman Mayura bukan sekadar ruang terbuka hijau di tengah hiruk-pikuk Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Situs sejarah ini merupakan personifikasi dari pertautan budaya, kekuatan militer, dan spiritualitas yang mendalam. Berlokasi di Cakranegara, Taman Mayura berdiri sebagai peninggalan paling signifikan dari era kekuasaan Kerajaan Karangasem Bali di Pulau Lombok, yang merefleksikan harmoni antara estetika arsitektur dan fungsi strategis pemerintahan.
#
Asal-Usul dan Periode Pembangunan
Taman Mayura dibangun pada tahun 1744 oleh Raja Mataram Lombok, Anak Agung Ngurah Karangasem. Pada awal pendiriannya, kompleks ini dikenal dengan nama Taman Kelepug. Nama tersebut diambil dari suara air yang muncul dari sumber mata air di dalam taman yang berbunyi "kelepug-kelepug". Namun, seiring berjalannya waktu dan dinamika politik serta alam, taman ini mengalami renovasi besar-besaran.
Pada tahun 1866, Raja Mataram saat itu, Anak Agung Gde Ngurah Karangasem, melakukan pemugaran menyeluruh. Menurut catatan sejarah setempat, perubahan nama menjadi "Mayura" berkaitan erat dengan masalah hama ular yang sempat mengganggu kenyamanan taman. Atas saran para penasihat kerajaan, raja mendatangkan burung merak (dalam bahasa Sanskerta disebut Mayura) untuk mengusir ular-ular tersebut. Sejak saat itu, taman ini dikenal sebagai Taman Mayura, sebuah nama yang melambangkan keindahan sekaligus ketenangan.
#
Arsitektur dan Detail Konstruksi: Akulturasi Budaya
Secara arsitektural, Taman Mayura menyajikan perpaduan yang sangat khas antara langgam Hindu Bali, Islam Jawa, dan pengaruh kolonial Belanda. Tata ruang taman ini mengikuti konsep tata kota kerajaan tradisional yang memisahkan area sakral dan profan secara tegas namun tetap harmonis.
Struktur paling ikonik di tengah taman adalah sebuah paviliun yang mengapung di tengah kolam besar, yang dikenal sebagai Bale Kambang. Bale Kambang berfungsi sebagai pengadilan kerajaan sekaligus tempat pertemuan penting bagi para petinggi kerajaan. Akses menuju bangunan ini adalah sebuah jembatan panjang yang lurus, melambangkan kejujuran dan ketajaman keputusan hukum.
Material bangunan Bale Kambang didominasi oleh kayu jati berkualitas tinggi dengan ukiran khas Bali pada bagian pilar dan atapnya. Di sekeliling kolam, terdapat patung-patung yang memiliki nilai simbolis. Salah satu fakta unik adalah keberadaan patung-patung yang merepresentasikan berbagai etnis, termasuk patung sosok dengan pakaian khas Tionghoa dan sosok dengan ciri fisik Eropa. Hal ini menunjukkan bahwa pada abad ke-19, Kerajaan Mataram Lombok merupakan entitas yang kosmopolitan dan terbuka terhadap hubungan internasional.
#
Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting
Taman Mayura bukan hanya tempat peristirahatan raja, melainkan pusat syaraf politik di Lombok pada masanya. Situs ini menjadi saksi bisu dari peristiwa berdarah yang mengubah peta kekuasaan di Nusantara, yaitu Perang Lombok tahun 1894.
Pada akhir abad ke-19, ketegangan antara Kerajaan Mataram Lombok dan pemerintah kolonial Belanda mencapai puncaknya. Taman Mayura menjadi lokasi negosiasi yang alot antara utusan Belanda dengan pihak kerajaan. Namun, diplomasi gagal dan berujung pada pertempuran hebat. Di sekitar area Mayura inilah, pasukan Belanda di bawah pimpinan Jenderal P.P.H. van Ham sempat terdesak habis-habisan oleh serangan mendadak pasukan Sasak dan Bali yang setia pada raja. Jenderal van Ham sendiri tewas dalam pertempuran di Lombok, sebuah kekalahan memalukan yang memaksa Belanda mengirimkan ekspedisi militer lebih besar untuk menundukkan kerajaan ini.
#
Tokoh Penting dan Pengaruh Kekuasaan
Sosok Anak Agung Gde Ngurah Karangasem adalah figur sentral yang memberikan karakteristik kuat pada Mayura. Beliau dikenal sebagai pemimpin yang visioner namun teguh mempertahankan kedaulatan. Di bawah kepemimpinannya, Mayura menjadi simbol kemakmuran ekonomi yang didorong oleh perdagangan beras dan hasil bumi.
Selain itu, keberadaan Taman Mayura juga tidak lepas dari peran komunitas masyarakat Sasak. Meskipun dibangun oleh penguasa keturunan Bali, pembangunannya melibatkan pengrajin dan tenaga kerja lokal, yang secara tidak langsung menciptakan asimilasi budaya yang kuat di Lombok, yang kemudian dikenal dengan konsep "Lombok Mirah Sasak Adi".
#
Dimensi Religius dan Budaya
Hingga saat ini, Taman Mayura tetap memegang fungsi religius yang sangat penting bagi umat Hindu di Lombok. Di bagian utara taman, terdapat kompleks Pura Meru, pura terbesar di Lombok yang letaknya berseberangan dengan area taman. Air dari kolam Mayura sering digunakan dalam upacara keagamaan sebagai sarana penyucian (melasti).
Keberadaan empat buah mata air di sudut-sudut taman juga dianggap memiliki nilai filosofis "Catur Lokapala", atau penjuru mata angin. Hal ini menegaskan bahwa Mayura didesain sebagai mikrokosmos dari alam semesta, di mana elemen air, tanah, dan udara harus berada dalam keseimbangan sempurna.
#
Status Preservasi dan Upaya Restorasi
Sebagai Situs Cagar Budaya, Taman Mayura dikelola dengan pengawasan ketat dari Balai Pelestarian Kebudayaan. Pemerintah daerah Nusa Tenggara Barat secara berkala melakukan restorasi, terutama pada bagian Bale Kambang yang rentan terhadap pelapukan kayu karena kelembapan tinggi dari kolam di bawahnya.
Pemugaran terakhir difokuskan pada pengembalian detail ukiran dan pengecatan ulang sesuai dengan standar konservasi sejarah. Meskipun telah dikelilingi oleh bangunan modern dan pusat perbelanjaan di Mataram, otoritas setempat berhasil mempertahankan zona penyangga (buffer zone) agar atmosfer historis taman tetap terjaga. Pohon-pohon manggis kuno yang telah berusia ratusan tahun masih dibiarkan tumbuh subur di area taman, memberikan keteduhan alami yang sama seperti saat raja-raja dahulu berjalan di sana.
#
Fakta Unik dan Warisan Tradisi
Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa sistem irigasi di sekitar Taman Mayura merupakan bagian dari jaringan Subak yang sangat maju pada masanya. Air yang mengalir ke kolam diatur sedemikian rupa sehingga tidak pernah kering meskipun di musim kemarau panjang, mencerminkan kearifan lokal dalam manajemen sumber daya air.
Kini, selain sebagai objek wisata sejarah, Taman Mayura juga menjadi lokasi bagi berbagai festival budaya tahunan. Perayaan seperti Perang Topat atau upacara keagamaan Hindu seringkali menjadikan area ini sebagai titik kumpul massa. Hal ini membuktikan bahwa Taman Mayura bukanlah sekadar fosil sejarah yang mati, melainkan sebuah ruang publik yang dinamis di mana masa lalu dan masa kini berdialog secara harmonis. Pengunjung yang datang tidak hanya disuguhi pemandangan asri, tetapi juga diajak merenungi jejak heroisme dan diplomasi yang pernah menentukan nasib Pulau Lombok di masa silam.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Mataram
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Mataram
Pelajari lebih lanjut tentang Mataram dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Mataram