Makam Opu Daeng Manambon
di Mempawah, Kalimantan Barat
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Asal-Usul Historis dan Pendirian
Sejarah situs ini bermula pada awal abad ke-18, tepatnya sekitar tahun 1737 Masehi. Opu Daeng Manambon adalah seorang bangsawan tinggi dari Kerajaan Luwu, Sulawesi Selatan. Beliau merupakan salah satu dari lima bersaudara putra dari Opu Tenri Borong Daeng Rilekke yang dikenal sebagai "Opu Bugis Lima Bersaudara" (Daeng Parani, Daeng Marewa, Daeng Chelak, Daeng Manambon, dan Daeng Kamase).
Kedatangan Opu Daeng Manambon ke wilayah yang saat itu dikenal sebagai Kerajaan Bangkule Rajakng bermula dari undangan Sultan Muhammad Zainuddin dari Mataram (Kalimantan Barat) untuk membantu meredam konflik internal. Berkat keberhasilannya, beliau kemudian dinikahkan dengan Putri Kesumba, putri dari Sultan Muhammad Zainuddin. Pernikahan ini menjadi tonggak berdirinya Kesultanan Mempawah yang bercorak Islam, menggantikan pengaruh kerajaan lokal sebelumnya. Beliau memerintah dengan gelar Pangeran Mas Surya Negara dan menetapkan pusat pemerintahan di Sebakul.
Arsitektur dan Detail Konstruksi
Kompleks Makam Opu Daeng Manambon menampilkan gaya arsitektur yang khas, menggabungkan elemen tradisional Bugis-Melayu dengan sentuhan Islam yang kental. Untuk mencapai situs utama, pengunjung harus menapaki ratusan anak tangga yang membelah rimbunnya hutan Bukit Sebakul, melambangkan perjalanan spiritual menuju ketinggian.
Struktur utama makam berada di dalam sebuah bangunan kayu (cungkup) yang kokoh. Penggunaan kayu ulin (kayu besi) yang merupakan material khas Kalimantan sangat dominan, memberikan daya tahan selama berabad-abad terhadap cuaca tropis yang ekstrem. Nisan pada makam utama memiliki bentuk yang khas, mencerminkan strata sosial tinggi serta pengaruh seni ukir Sulawesi Selatan yang dipadukan dengan pola lokal. Area di sekitar makam dikelilingi oleh pagar kayu yang tertata rapi, menciptakan suasana yang sakral dan intim.
Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting
Situs ini memiliki signifikansi yang luar biasa dalam peta sejarah Nusantara. Opu Daeng Manambon dianggap sebagai tokoh yang melakukan "Islamitas" secara sistematis di wilayah Mempawah. Beliau berhasil menyatukan faksi-faksi yang bertikai dan menciptakan stabilitas politik yang memungkinkan perdagangan dan dakwah Islam berkembang pesat.
Salah satu peristiwa sejarah yang paling erat kaitannya dengan situs ini adalah tradisi "Robo-Robo". Upacara adat ini dilakukan untuk mengenang kedatangan Opu Daeng Manambon di Mempawah pada hari Rabu terakhir bulan Safar. Tradisi ini dimulai dengan ziarah ke makam di Bukit Sebakul dan dilanjutkan dengan perjamuan makan bersama di sungai. Situs makam ini menjadi titik sentral dalam memelihara ingatan kolektif masyarakat Mempawah terhadap leluhur mereka.
Tokoh dan Periode Terkait
Selain Opu Daeng Manambon, kompleks ini juga menjadi tempat peristirahat terakhir bagi beberapa anggota keluarga kerajaan dan tokoh-tokoh penting kesultanan. Keberadaan situs ini sangat terkait erat dengan periode keemasan Kesultanan Mempawah pada abad ke-18 hingga ke-19, di mana Mempawah menjadi salah satu pusat intelektual Islam di Kalimantan Barat. Nama-nama besar seperti Syekh Ali bin Abdullah al-Banjari dikabarkan memiliki keterkaitan spiritual dengan lingkungan kesultanan yang dibangun oleh keturunan Opu Daeng Manambon.
Status Pelestarian dan Restoran
Saat ini, Makam Opu Daeng Manambon telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya oleh Pemerintah Indonesia melalui Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XII. Upaya restorasi telah dilakukan beberapa kali untuk menjaga integritas struktur kayu ulin dan aksesibilitas jalan menuju puncak bukit.
Pemerintah Kabupaten Mempawah secara rutin mengalokasikan dana pemeliharaan untuk memastikan lingkungan sekitar makam tetap asri dan tidak tergerus oleh erosi lahan di perbukitan. Meskipun dilakukan pemugaran, keaslian bentuk nisan dan tata letak makam tetap dijaga sesuai dengan bentuk aslinya guna mempertahankan nilai historis dan autentisitas situs.
Kepentingan Budaya dan Religi
Bagi masyarakat Kalimantan Barat, khususnya warga Mempawah, makam ini bukan sekadar objek wisata sejarah. Ia adalah situs ziarah religius yang sakral. Setiap hari besar Islam atau menjelang perhelatan Robo-Robo, ribuan peziarah datang untuk memanjatkan doa. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh spiritual Opu Daeng Manambon melintasi batas zaman.
Situs ini juga menjadi simbol kerukunan etnis. Meskipun Opu Daeng Manambon adalah seorang Bugis, ia diterima dengan tangan terbuka oleh masyarakat Dayak dan Melayu setempat. Sinkretisme budaya yang harmonis ini tercermin dalam cara masyarakat dari berbagai latar belakang etnis menjaga dan menghormati makam tersebut sebagai identitas bersama.
Fakta Sejarah Unik
Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa Opu Daeng Manambon membawa serta lima puluh prajurit elit Bugis beserta persenjataan meriam saat pertama kali menginjakkan kaki di Mempawah. Kehadiran mereka tidak hanya membawa stabilitas militer, tetapi juga memperkenalkan teknologi pembuatan kapal dan navigasi yang lebih maju kepada penduduk lokal. Selain itu, penempatan makam di atas bukit (Bukit Sebakul) merupakan perpaduan antara tradisi pemujaan leluhur di puncak gunung (tradisi lokal Kalimantan) dengan penghormatan terhadap ulama dan pemimpin dalam tradisi Islam.
Dengan segala kemegahan sejarah dan nilai spiritual yang terkandung di dalamnya, Makam Opu Daeng Manambon berdiri sebagai monumen abadi yang mengingatkan generasi masa depan tentang pentingnya persatuan dalam keberagaman dan keberanian dalam menegakkan peradaban.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Mempawah
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Mempawah
Pelajari lebih lanjut tentang Mempawah dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Mempawah