Candi Bajang Ratu
di Mojokerto, Jawa Timur
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Asal-usul Nama dan Konteks Historis
Nama "Bajang Ratu" secara etimologis berasal dari bahasa Jawa. "Bajang" berarti kerdil atau kecil, sementara "Ratu" merujuk pada gelar penguasa. Menurut legenda setempat dan catatan sejarah, nama ini erat kaitannya dengan Raja Jayanegara, raja kedua Majapahit. Konon, Jayanegara dinobatkan menjadi raja saat masih berusia belia (anak-anak), sehingga ia dijuluki sebagai "Raja Bajang".
Namun, dalam perspektif arkeologis yang lebih mendalam, istilah "Bajang Ratu" diyakini berhubungan dengan fungsi situs ini sebagai pintu gerbang menuju bangunan suci untuk memperingati wafatnya Raja Jayanegara pada tahun 1328 Masehi. Kitab Negarakertagama menyebutkan adanya upacara pendarmaan bagi raja-raja Majapahit, dan Bajang Ratu dipercaya sebagai salah satu elemen penting dalam kompleksitas ritual penghormatan terhadap leluhur tersebut.
Arsitektur dan Detail Konstruksi
Candi Bajang Ratu memiliki struktur bangunan yang menjulang tinggi, mencapai sekitar 16,1 meter dengan panjang 11,5 meter dan lebar 10,5 meter. Material utamanya terdiri dari batu bata merah berkualitas tinggi, yang merupakan ciri khas material bangunan di wilayah Trowulan. Teknik penyusunan bata pada masa itu sangat canggih, menggunakan metode "gosok" di mana antar permukaan bata saling direkatkan tanpa menggunakan semen atau luluh, melainkan hanya dengan air dan tekanan gesek hingga menyatu secara kimiawi.
Secara vertikal, bangunan ini terbagi menjadi tiga bagian utama: kaki, tubuh, dan atap. Bagian kaki candi memiliki denah persegi empas dengan tangga naik di sisi timur dan barat. Bagian tubuh candi merupakan lorong atau pintu gerbang yang dapat dilalui. Keunikan utama terletak pada bagian atapnya yang bertingkat-tingkat, semakin ke atas semakin mengecil, menyerupai bentuk gunung atau Meru yang melambangkan tempat tinggal para dewa.
Relief dan Ornamen Simbolis
Detail hiasan pada Candi Bajang Ratu mengandung nilai simbolis yang sangat kaya. Di atas ambang pintu, terdapat relief kepala Kala yang berfungsi sebagai pengusir kekuatan jahat. Relief ini diapit oleh relief singa dan naga yang melambangkan perlindungan terhadap kawasan suci.
Salah satu fakta unik yang membedakan Bajang Ratu dari situs lain adalah keberadaan relief naratif yang dipahat di bagian sayap candi. Di sana terdapat relief yang menggambarkan fragmen cerita Sri Tanjung dan Sayap Garuda. Cerita Sri Tanjung sering diasosiasikan dengan tema ruwatan atau penyucian jiwa, yang semakin memperkuat dugaan bahwa gapura ini adalah gerbang menuju tempat pendarmaan atau area suci untuk melepaskan keterikatan duniawi.
Signifikansi Sejarah dan Hubungan Tokoh
Meskipun sering dikaitkan dengan Jayanegara, pembangunan Bajang Ratu diperkirakan terjadi pada masa pemerintahan Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi atau awal pemerintahan Hayam Wuruk. Situs ini merupakan bagian dari tata kota pusat pemerintahan Majapahit di Trowulan. Berdasarkan lokasinya, para ahli menduga bahwa gapura ini merupakan pintu masuk menuju kompleks bangunan penting, kemungkinan besar kraton atau tempat suci kediaman kaum brahmana.
Keberadaan Bajang Ratu juga menunjukkan masa transisi gaya arsitektur. Bentuknya yang berupa gapura beratap (paduraksa) menjadi cikal bakal desain gerbang yang hingga kini masih sering ditemukan pada arsitektur tradisional Bali dan bangunan-bangunan Islam awal di Jawa, seperti pada Masjid Menara Kudus. Ini membuktikan bahwa Bajang Ratu adalah titik puncak evolusi desain pintu gerbang di Nusantara.
Fungsi Sosial dan Keagamaan
Dalam konteks budaya Majapahit yang bercorak Hindu-Buddha, Candi Bajang Ratu bukan sekadar pembatas fisik. Ia adalah simbol batas antara dunia profan (biasa) dan dunia sakral (suci). Setiap orang yang melewati gerbang ini diharapkan telah melakukan pembersihan diri secara spiritual. Penggunaan motif hiasan yang rumit pada bagian atas gapura menunjukkan bahwa semakin tinggi suatu bagian bangunan, semakin suci pula makna yang dikandungnya.
Upaya Pelestarian dan Restorasi
Pada masa kolonial Belanda, Candi Bajang Ratu sempat mengalami kerusakan akibat faktor alam dan pertumbuhan vegetasi yang merusak struktur bata. Restorasi besar pertama dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda melalui Oudheidkundige Dienst (Dinas Purbakala). Setelah Indonesia merdeka, pemugaran dilanjutkan oleh pemerintah Republik Indonesia melalui Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala (sekarang di bawah Kemendikbudristek).
Saat ini, Candi Bajang Ratu berdiri megah di tengah taman yang terawat dengan sangat baik. Lingkungan di sekitar candi telah ditata sedemikian rupa untuk mencegah abrasi tanah dan memastikan sistem drainase berfungsi dengan baik guna melindungi pondasi bata merah dari kelembapan ekstrem. Statusnya sebagai bagian dari Kawasan Cagar Budaya Nasional Trowulan menjadikannya salah satu prioritas utama pelestarian sejarah Indonesia.
Kesimpulan Keunikan
Candi Bajang Ratu tetap menjadi salah satu struktur paling fotogenik dan bermakna di Jawa Timur. Keunikan faktualnya terletak pada integrasi antara fungsi praktis sebagai gerbang dan fungsi simbolis sebagai monumen penghormatan. Dengan bata merahnya yang menyala di bawah sinar matahari sore, Bajang Ratu tidak hanya menyajikan keindahan estetika, tetapi juga menyimpan narasi tentang kejayaan, spiritualitas, dan transisi kebudayaan yang membentuk identitas bangsa Indonesia di masa kini.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Mojokerto
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Mojokerto
Pelajari lebih lanjut tentang Mojokerto dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Mojokerto