Situs Sejarah

Candi Tikus

di Mojokerto, Jawa Timur

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Candi Tikus: Kemegahan Petirtaan Suci dari Era Keemasan Majapahit

Candi Tikus merupakan salah satu peninggalan arkeologis paling unik dan memikat yang terletak di Kompleks Percandian Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Berbeda dengan candi-candi di Jawa Timur pada umumnya yang menjulang tinggi ke angkasa sebagai tempat pemujaan dewa atau pendarmaan raja, Candi Tikus justru dibangun menjorok ke bawah permukaan tanah. Situs ini bukan sekadar bangunan batu, melainkan sebuah mahakarya hidrolik kuno yang merepresentasikan kecerdasan teknik sipil dan kedalaman spiritual masyarakat Majapahit.

#

Sejarah Penemuan dan Asal-usul Nama

Nama "Candi Tikus" bukanlah nama asli dari situs ini pada masa lampau. Nama tersebut muncul berdasarkan peristiwa penemuannya yang unik pada tahun 1914. Kala itu, wilayah Trowulan sedang dilanda wabah hama tikus yang sangat hebat. Penduduk setempat yang berupaya membasmi sarang tikus menemukan bahwa hewan-hewan tersebut masuk ke dalam sebuah gundukan tanah di atas lahan milik rakyat.

Setelah dilakukan penggalian oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda (Bupati Mojokerto Kromojoyo Adinegoro), ditemukanlah sebuah bangunan megah yang terkubur bermeter-meter di bawah permukaan tanah. Karena menjadi tempat persembunyian ribuan tikus sebelum ditemukan, masyarakat kemudian menyebutnya Candi Tikus. Secara kronologis, para arkeolog memperkirakan candi ini dibangun pada abad ke-13 atau ke-14 Masehi, bertepatan dengan masa kejayaan Kerajaan Majapahit.

#

Arsitektur dan Struktur Hidrolik

Candi Tikus dibangun menggunakan material utama bata merah, yang merupakan ciri khas arsitektur Majapahit. Bentuk fisiknya menyerupai sebuah kolam pemandian atau petirtaan berbentuk persegi empat dengan ukuran sekitar 22,5 x 22,5 meter. Seluruh bangunan ini terletak di dalam sebuah ceruk sedalam sekitar 3,5 meter dari permukaan tanah sekitarnya.

Di sisi utara, terdapat tangga masuk yang menurun menuju dasar kolam. Fokus utama dari situs ini adalah bangunan di sisi selatan yang menempel pada dinding. Struktur ini menyerupai miniatur Gunung Penanggungan atau Gunung Mahameru, yang dalam kosmologi Hindu-Buddha dianggap sebagai pusat alam semesta. Di puncak struktur utama ini terdapat sebuah menara besar yang dikelilingi oleh delapan menara yang lebih kecil (anak menara).

Salah satu fitur teknis yang paling mengagumkan adalah sistem drainasenya. Candi Tikus dilengkapi dengan pancuran air atau jaladwara yang terbuat dari batu andesit dan bata merah. Air dialirkan melalui pipa-pipa terakota kuno yang tersusun rapi di balik dinding candi, menunjukkan bahwa insinyur Majapahit telah memahami prinsip tekanan air dan distribusi hidrolik dengan sangat baik.

#

Makna Simbolis dan Fungsi Keagamaan

Dalam konteks budaya Jawa Kuno, air dianggap sebagai unsur penyuci yang sangat vital. Candi Tikus diyakini berfungsi sebagai petirtaan atau tempat pemandian suci. Namun, fungsi ini lebih dari sekadar pembersihan fisik. Keberadaan miniatur Meru menunjukkan bahwa tempat ini adalah replika dunia para dewa di bumi.

Air yang mengalir dari pancuran-pancuran di candi ini dianggap sebagai air suci (amrta) yang turun dari puncak gunung suci. Para bangsawan atau pendeta Majapahit kemungkinan besar menggunakan tempat ini untuk ritual penyucian diri (ruwat) sebelum melakukan upacara keagamaan besar di ibu kota kerajaan. Selain itu, sistem pengairan di Candi Tikus juga diduga memiliki fungsi praktis sebagai pengatur debit air untuk lahan pertanian di sekitarnya, mencerminkan harmoni antara kebutuhan spiritual dan ekologi.

#

Hubungan dengan Tokoh dan Periode Sejarah

Meskipun tidak ada prasasti spesifik yang menyebutkan siapa pembangun Candi Tikus, gaya arsitekturnya yang menggunakan bata merah halus dengan teknik gosok sangat identik dengan masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1350–1389 M) atau masa jabatan Mahapatih Gajah Mada. Beberapa ahli sejarah mengaitkan desain candi ini dengan deskripsi dalam kitab Negarakertagama karya Prapanca, yang menyebutkan adanya kolam-kolam indah di kawasan keraton Majapahit.

Ada pula teori yang menyebutkan bahwa Candi Tikus mungkin merupakan tempat pemandian bagi keluarga kerajaan sebelum mereka menuju ke Candi Bajang Ratu, yang letaknya tidak terlalu jauh dari situs ini. Keterkaitan antara situs-situs di Trowulan menunjukkan bahwa Candi Tikus adalah bagian integral dari tata kota pusat pemerintahan Majapahit yang sangat terencana.

#

Upaya Pelestarian dan Restoran

Setelah ditemukan pada 1914, Candi Tikus mengalami beberapa tahap pemugaran. Pemugaran besar-besaran dilakukan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1984 hingga 1985. Tantangan utama dalam pelestarian situs ini adalah lokasinya yang berada di bawah permukaan tanah, sehingga rentan terhadap genangan air hujan dan lumut.

Saat ini, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur secara rutin melakukan perawatan terhadap bata-bata kuno agar tidak keropos akibat cuaca. Area di sekitar candi juga telah ditata dengan taman yang asri, menjadikannya salah satu destinasi wisata sejarah unggulan di Mojokerto. Pengunjung diwajibkan untuk menjaga kebersihan dan tidak menginjak struktur bata yang rapuh demi menjaga keaslian situs.

#

Kesimpulan dan Warisan Budaya

Candi Tikus adalah bukti nyata bahwa Kerajaan Majapahit bukan hanya unggul dalam diplomasi dan militer, tetapi juga dalam seni arsitektur dan manajemen sumber daya air. Keberadaannya memberikan wawasan berharga tentang bagaimana masyarakat masa lalu memuliakan alam, khususnya air, sebagai sumber kehidupan sekaligus sarana spiritual.

Sebagai situs sejarah, Candi Tikus mengajak generasi saat ini untuk merenungkan kembali kejayaan masa lalu Nusantara. Struktur yang terkubur berabad-abad ini menjadi saksi bisu bagaimana sebuah peradaban besar mampu menciptakan teknologi yang selaras dengan nilai-nilai ketuhanan dan kelestarian lingkungan. Mempelajari Candi Tikus berarti mempelajari identitas bangsa yang kaya akan inovasi dan penghormatan terhadap tradisi leluhur.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Temon, Trowulan, Kabupaten Mojokerto
entrance fee
Rp 10.000 per orang
opening hours
Setiap hari, 07:00 - 16:00

Tempat Menarik Lainnya di Mojokerto

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Mojokerto

Pelajari lebih lanjut tentang Mojokerto dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Mojokerto