Pusat Kebudayaan

Wilangan Museum (Museum Anjuk Ladang)

di Nganjuk, Jawa Timur

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Menelusuri Jejak Peradaban di Museum Anjuk Ladang: Jantung Budaya Nganjuk

Museum Anjuk Ladang, yang secara administratif terletak di kawasan strategis Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, bukan sekadar ruang penyimpanan benda kuno. Bagi masyarakat lokal, museum ini adalah "Pusat Kebudayaan" (Cultural Center) yang menjadi jembatan antara kejayaan masa lalu Kerajaan Medang (Mataram Kuno) dengan identitas modern masyarakat Nganjuk. Nama "Anjuk Ladang" sendiri merujuk pada Prasasti Anjuk Ladang yang berangka tahun 937 Masehi, yang menjadi bukti autentik hari jadi Kabupaten Nganjuk sekaligus tonggak sejarah penting di Jawa Timur.

#

Pelestarian Warisan Arkeologis dan Etnografis

Museum Anjuk Ladang memiliki peran vital dalam pelestarian artefak yang mencakup berbagai era, mulai dari masa pra-aksara, klasik (Hindu-Buddha), hingga masa kolonial. Koleksi unggulannya meliputi arca-arca batu seperti Arca Siwa dan Durga, fragmen terakota, hingga koleksi keramik peninggalan Dinasti Ming dan Ching.

Upaya preservasi di sini tidak bersifat pasif. Museum menjalankan program konservasi rutin yang melibatkan tenaga ahli untuk memastikan artefak batu andesit dan logam tetap terjaga dari pelapukan. Uniknya, museum ini juga menyimpan koleksi etnografis seperti peralatan pertanian tradisional dan batik khas Nganjuk, yang menjelaskan bagaimana ekosistem budaya agraris membentuk karakter masyarakat setempat.

#

Program Edukasi dan Literasi Sejarah

Sebagai pusat kebudayaan, Museum Anjuk Ladang menjadi laboratorium hidup bagi para pelajar dan mahasiswa. Program edukasi yang ditawarkan sangat terstruktur, salah satunya adalah "Museum Goes to School" dan tur edukasi tematik. Dalam program ini, pemandu museum tidak hanya menjelaskan fungsi objek secara teknis, tetapi juga filosofi di balik nama "Anjuk Ladang" yang berarti "Tanah Kemenangan".

Siswa diajak untuk memahami peristiwa heroik Mpu Sindok dalam menghalau serangan tentara Melayu (Sriwijaya), yang kemudian diabadikan dalam Jayastambha (tugu kemenangan). Edukasi ini bertujuan menanamkan rasa bangga dan memupuk jati diri generasi muda Nganjuk agar tidak kehilangan akar budayanya di tengah arus globalisasi.

#

Pengembangan Seni Tradisional dan Pertunjukan

Museum Anjuk Ladang berfungsi sebagai panggung terbuka bagi ekspresi seni lokal. Salah satu kesenian yang rutin ditampilkan dan dikaji di sini adalah Wayang Timplong. Berbeda dengan wayang kulit pada umumnya, Wayang Timplong terbuat dari kayu (mirip wayang klitik) dan menggunakan iringan musik yang lebih sederhana namun magis. Museum menyediakan ruang bagi para seniman Wayang Timplong untuk berlatih dan mementaskan lakon-lakon yang bersumber dari cerita Panji.

Selain itu, museum ini menjadi titik temu bagi komunitas tari tradisional, khususnya Tari Tayub Nganjuk. Meskipun Tayub seringkali dianggap sebagai hiburan rakyat, di lingkungan museum, tarian ini diletakkan dalam konteks ritual kesuburan dan penyambutan tamu, lengkap dengan penjelasan mengenai pakem busana dan geraknya.

#

Workshop Kerajinan dan Pemberdayaan Komunitas

Untuk menjaga keberlangsungan kriya lokal, Museum Anjuk Ladang menyelenggarakan workshop berkala yang melibatkan perajin lokal. Program ini mencakup:

1. Workshop Batik Anjuk Ladang: Peserta diajarkan membatik dengan motif khas seperti motif Stupa atau motif Bawang Merah (komoditas utama Nganjuk).

2. Pelatihan Kurasi Awam: Mengajak masyarakat yang menemukan benda purbakala di lahan mereka untuk belajar cara penanganan awal benda cagar budaya sebelum dilaporkan ke pihak berwenang.

3. Seni Pahat Batu: Mengingat banyaknya temuan arca di wilayah Nganjuk, museum kadang mengundang pemahat untuk mendemonstrasikan teknik pembuatan replika sebagai upaya edukasi teknis.

#

Perhelatan Budaya dan Festival Tahunan

Museum Anjuk Ladang menjadi pusat gravitasi saat perayaan Hari Jadi Nganjuk. Salah satu agenda yang paling dinanti adalah ritual "Boyongan", sebuah prosesi budaya yang merekonstruksi perpindahan pusat pemerintahan Nganjuk dari Berbek ke tempat yang sekarang. Dalam festival ini, museum bertindak sebagai titik akhir atau pusat pameran pusaka-pusaka daerah.

Selain itu, terdapat kegiatan "Gelar Budaya Anjuk Ladang" yang menampilkan parade kostum karnaval berbasis sejarah, lomba mendongeng bahasa Jawa bagi anak-anak, dan pameran temporer yang mengundang kolektor numismatik (mata uang kuno) serta filateli dari seluruh Jawa Timur.

#

Peran dalam Pengembangan Kebudayaan Lokal

Keberadaan Museum Anjuk Ladang telah mendorong munculnya komunitas-komunitas kreatif di sekitarnya. Museum berperan sebagai fasilitator atau "incubator" budaya. Misalnya, komunitas fotografi sering menjadikan latar museum sebagai objek eksplorasi visual, sementara komunitas literasi menggunakan taman museum untuk diskusi buku-buku sejarah lokal.

Pihak pengelola museum juga aktif berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata, Kepemudaan, Olahraga, dan Kebudayaan (Disparporabud) Nganjuk untuk memetakan potensi cagar budaya di desa-desa terpencil. Museum bertindak sebagai pangkalan data utama yang mendokumentasikan situs-situs seperti Candi Lor dan Candi Ngetos, sehingga informasi mengenai situs tersebut dapat diakses secara terpadu di pusat informasi museum.

#

Revitalisasi dan Modernisasi Pengalaman Pengunjung

Menyadari pentingnya daya tarik visual bagi generasi milenial dan Gen Z, Museum Anjuk Ladang terus melakukan pembenahan fasilitas. Penataan koleksi kini lebih tematik dengan pencahayaan yang dramatis dan informatif. Pemanfaatan teknologi digital, seperti kode QR pada setiap label koleksi, memungkinkan pengunjung mengakses informasi mendalam melalui ponsel pintar mereka, termasuk audio visual mengenai proses ekskavasi artefak tertentu.

Ruang terbuka hijau di sekitar museum juga ditata sedemikian rupa sebagai ruang publik yang inklusif. Hal ini mengubah citra museum yang dulunya dianggap angker menjadi ruang kreatif yang nyaman untuk berkumpul. Di sore hari, area museum sering dipenuhi oleh warga yang sekadar ingin menikmati arsitektur bangunan yang memadukan unsur modern dengan replika tugu kemenangan.

#

Penutup: Harapan dari Tanah Kemenangan

Secara keseluruhan, Museum Anjuk Ladang bukan sekadar gedung yang sunyi, melainkan sebuah entitas budaya yang dinamis. Melalui integrasi antara pelestarian artefak, pertunjukan seni, edukasi publik, dan pemberdayaan komunitas, museum ini berhasil menjalankan fungsinya sebagai garda terdepan dalam menjaga marwah kebudayaan Nganjuk.

Sebagai "Tanah Kemenangan", Museum Anjuk Ladang terus berupaya memenangkan hati masyarakatnya agar tetap mencintai warisan leluhur. Dengan semangat revitalisasi, museum ini diproyeksikan tidak hanya menjadi destinasi wisata lokal, tetapi juga pusat studi arkeologi dan budaya yang diperhitungkan di tingkat nasional, membawa nama Nganjuk harum melalui narasi sejarahnya yang agung.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Gatot Subroto, Ringin Anom, Kauman, Kec. Nganjuk
entrance fee
Gratis
opening hours
Senin - Sabtu, 08:00 - 14:00

Tempat Menarik Lainnya di Nganjuk

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Nganjuk

Pelajari lebih lanjut tentang Nganjuk dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Nganjuk