Nasi Becek Jalan Kartini
di Nganjuk, Jawa Timur
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Menelusuri Jejak Rasa Nasi Becek Jalan Kartini: Ikon Kuliner Legendaris Nganjuk
Kabupaten Nganjuk, yang sering dijuluki sebagai Kota Angin, menyimpan sebuah harta karun gastronomi yang telah melintasi berbagai generasi. Di antara deretan warung makan yang memadati pusat kota, terdapat satu nama yang menjadi destinasi wajib bagi para pencinta kuliner Nusantara: Nasi Becek Jalan Kartini. Terletak strategis di kawasan Jalan Kartini, tidak jauh dari alun-alun kota, hidangan ini bukan sekadar makanan pengganjal lapar, melainkan simbol identitas budaya masyarakat Nganjuk yang tetap terjaga keasliannya selama berpuluh-puluh tahun.
#
Akar Sejarah dan Filosofi Nasi Becek
Nasi Becek, atau dalam bahasa lokal sering disebut "Sego Becek," memiliki sejarah yang berakar kuat pada masa kolonial. Konon, hidangan ini sudah mulai dijajakan sejak tahun 1940-an. Nama "Becek" sendiri diambil dari bahasa Jawa yang berarti becek atau berair, merujuk pada penyajian nasi yang diguyur kuah gulai kental dalam jumlah yang melimpah hingga nasi seolah terendam.
Secara kultural, Nasi Becek mencerminkan perpaduan unik antara pengaruh kuliner Arab dan Jawa. Kuah gulainya yang kaya rempah mengingatkan pada pengaruh Timur Tengah, sementara penggunaan kecap manis, tauge, dan kubis mentah mencerminkan karakter masakan Jawa Timur yang segar dan seimbang. Di Jalan Kartini, tradisi ini dijaga dengan ketat oleh keluarga turun-temurun, memastikan bahwa rasa yang dinikmati pelanggan hari ini tetap sama dengan rasa yang dinikmati kakek-nenek mereka dulu.
#
Anatomi Rasa: Komposisi dan Keunikan Hidangan
Nasi Becek Jalan Kartini memiliki karakteristik visual dan rasa yang sangat spesifik yang membedakannya dari gulai kambing biasa atau soto daging. Satu porsi Nasi Becek terdiri dari beberapa komponen utama yang disusun dengan presisi:
1. Nasi Putih: Berfungsi sebagai dasar yang menyerap kuah.
2. Irisan Daging dan Jeroan Kambing: Daging yang digunakan dipilih dengan teliti, biasanya bagian paha atau iga yang dimasak hingga empuk (palan).
3. Sayuran Segar: Irisan kol (kubis) tipis dan tauge pendek (kecambah) mentah memberikan tekstur renyah (crunchy) yang kontras dengan kelembutan daging.
4. Bawang Merah Goreng dan Seledri: Sebagai penambah aroma.
5. Kuah Gulai Kuning: Inilah jiwa dari Nasi Becek. Kuahnya berwarna kuning kecokelatan, kaya akan santan namun tetap terasa ringan di lidah karena pengaruh bumbu rempah yang kuat.
Salah satu keunikan yang paling menonjol dari Nasi Becek Jalan Kartini adalah penambahan Sate Kambing yang disajikan tanpa tusuk di atas nasi. Sate ini dibumbui dengan bumbu kacang yang halus dan kecap manis, menciptakan lapisan rasa manis-gurih yang berpadu dengan kuah gulai yang asin-rempah.
#
Rahasia Dapur: Teknik Memasak Tradisional
Keistimewaan Nasi Becek Jalan Kartini terletak pada proses persiapannya yang masih mempertahankan cara-cara tradisional. Dapur warung ini tidak menggunakan kompor gas modern untuk mengolah kuah gulai dalam skala besar, melainkan tetap setia menggunakan luweng (tungku kayu bakar).
Penggunaan kayu bakar memberikan aroma smoky (asap) yang samar namun esensial pada kuah gulai. Proses memasak daging kambing dilakukan dalam waktu yang sangat lama (slow cooking) bersama dengan bumbu "jangkep" (lengkap). Bumbu ini terdiri dari kunyit, jahe, lengkuas, ketumbar, jintan, kapulaga, kayu manis, dan cengkeh. Teknik ini memastikan bahwa aroma prengus khas kambing hilang sepenuhnya, berganti dengan aroma rempah yang harum dan menggugah selera.
Daging kambing yang digunakan adalah kambing muda untuk memastikan tekstur yang tidak liat. Sebelum dimasukkan ke dalam kuah, daging seringkali direbus terlebih dahulu dengan daun jati atau daun jambu biji untuk membantu pengempukan secara alami, sebuah kearifan lokal yang masih dipertahankan hingga kini.
#
Tradisi Penyajian dan Etika Makan Lokal
Menikmati Nasi Becek di Jalan Kartini bukan sekadar urusan mengisi perut, melainkan sebuah pengalaman budaya. Warung-warung di kawasan ini biasanya mulai ramai menjelang jam makan siang hingga malam hari. Suasana yang dihadirkan adalah suasana kekeluargaan dengan meja-meja panjang yang memungkinkan interaksi antar pengunjung.
Ada kebiasaan unik di kalangan pelanggan setia: mereka jarang meminta sendok dan garpu jika tidak terpaksa. Banyak warga lokal yang lebih memilih menikmati Nasi Becek dengan tangan (muluk), meskipun hidangan ini berkuah. Namun, bagi wisatawan, sendok tetap disediakan. Selain itu, pendamping wajib saat menyantap Nasi Becek adalah kerupuk udang atau emping melinjo yang menambah dimensi tekstur pada hidangan.
Satu elemen yang tidak boleh dilewatkan adalah sambal khasnya. Sambal Nasi Becek biasanya berupa sambal kecap dengan irisan bawang merah segar dan cabai rawit yang diulek kasar, memberikan sensasi pedas yang memotong kekentalan santan.
#
Pelestari Warisan: Dinasti Kuliner Jalan Kartini
Eksistensi Nasi Becek di Jalan Kartini tidak lepas dari peran keluarga pengelola yang telah menjaga resep ini selama tiga hingga empat generasi. Salah satu nama yang paling melegenda adalah warung milik Haji Sudarmi (atau penerusnya). Konsistensi rasa adalah kunci mengapa tempat ini tidak pernah sepi. Mereka tidak membuka cabang di banyak tempat untuk menjaga kontrol kualitas yang ketat.
Para koki di sini biasanya adalah anggota keluarga sendiri atau asisten kepercayaan yang sudah bekerja selama puluhan tahun. Mereka memiliki insting dalam menentukan takaran bumbu tanpa perlu timbangan digital, sebuah keahlian yang hanya didapat dari pengalaman panjang "ngulek" bumbu setiap hari.
#
Nasi Becek dalam Konteks Pariwisata Nganjuk
Bagi Pemerintah Kabupaten Nganjuk, Nasi Becek Jalan Kartini telah ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya takbenda yang harus dilestarikan. Kawasan Jalan Kartini sendiri telah berkembang menjadi sentra kuliner malam yang menghidupkan ekonomi lokal. Nasi Becek menjadi daya tarik utama yang mendatangkan wisatawan dari luar kota seperti Kediri, Madiun, hingga Surabaya.
Keberhasilan Nasi Becek bertahan di tengah gempuran makanan cepat saji modern membuktikan bahwa lidah masyarakat tetap merindukan keaslian rasa. Ada nilai nostalgia yang dijual di setiap porsinya. Bagi perantau asal Nganjuk, pulang kampung belum lengkap rasanya tanpa "nbecek" (istilah lokal untuk makan nasi becek) di Jalan Kartini.
#
Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Gulai
Nasi Becek Jalan Kartini adalah perwujudan dari ketekunan dalam menjaga tradisi. Dari pemilihan kayu bakar yang tepat hingga perpaduan harmonis antara sate bumbu kacang dan kuah gulai, setiap elemen di dalam piring tersebut bercerita tentang sejarah panjang Nganjuk.
Jika Anda berkesempatan mengunjungi Jawa Timur, sempatkanlah menepi di Jalan Kartini, Nganjuk. Di sana, di bawah temaram lampu warung dan aroma rempah yang menguar dari kuali besar, Anda akan menemukan bahwa Nasi Becek bukan hanya tentang rasa kenyang, melainkan tentang penghormatan terhadap warisan leluhur yang disajikan dalam kesederhanaan sepiring nasi berkuah. Inilah mahakarya kuliner yang memastikan bahwa identitas Nganjuk akan terus dikenang melalui indra perasa.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Nganjuk
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Nganjuk
Pelajari lebih lanjut tentang Nganjuk dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Nganjuk