Nganjuk

Common
Jawa Timur
Luas
1.295,64 km²
Posisi
tengah
Jumlah Tetangga
6 wilayah
Pesisir
Tidak

Dipublikasikan: Januari 2025

History

#

Sejarah Kabupaten Nganjuk: Dari Bumi Kemenangan hingga Kota Bayu

Kabupaten Nganjuk, yang terletak di bagian tengah Provinsi Jawa Timur dengan luas wilayah 1.295,64 km², memiliki akar sejarah yang sangat dalam dan krusial bagi narasi besar Nusantara. Wilayah ini tidak memiliki garis pantai, namun posisinya yang strategis diapit oleh enam wilayah tetangga—Bojonegoro, Madiun, Ponorogo, Kediri, Jombang, dan Lamongan—menjadikannya sebagai titik temu budaya dan kekuatan politik sejak masa kerajaan kuno.

##

Cikal Bakal: Anjuk Ladang dan Prasasti Kemenangan

Sejarah Nganjuk secara resmi bermula dari peristiwa heroik pada abad ke-10. Nama "Nganjuk" berasal dari kata "Anjuk Ladang," yang berarti "Tanah Kemenangan." Berdasarkan Prasasti Anjuk Ladang yang berangka tahun 859 Saka atau 10 April 937 Masehi, Raja Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isyana Wikrama Dharmottunggadewa (Mpu Sindok) menetapkan wilayah ini sebagai Sima atau daerah swatantra. Status ini diberikan sebagai penghargaan kepada penduduk Anjuk Ladang yang telah membantu Mpu Sindok menghalau serangan tentara Melayu (Sriwijaya). Sebagai monumen kemenangan, didirikanlah Candi Lor di Desa Candirejo, yang kini menjadi saksi bisu hari jadi Kabupaten Nganjuk.

##

Masa Kolonial dan Peralihan Kekuasaan

Memasuki era kolonial, wilayah Nganjuk dikenal dengan nama Berbek. Berdasarkan Staatsblad Tahun 1885 No. 211, Nganjuk secara administratif merupakan bagian dari Karesidenan Kediri. Tokoh sentral pada masa ini adalah Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Sosrokoesoemo I, bupati pertama yang memerintah saat ibu kota masih berada di Berbek. Baru pada tahun 1880, di bawah kepemimpinan KRT Sosrokoesoemo II, pusat pemerintahan dipindahkan dari Berbek ke Nganjuk seiring dengan pembangunan jalur kereta api oleh pemerintah Hindia Belanda yang menghubungkan Surabaya dan Solo. Keberadaan stasiun kereta api ini mengubah Nganjuk menjadi pusat distribusi logistik dan komoditas perkebunan yang vital.

##

Perjuangan Kemerdekaan dan Tokoh Nasional

Nganjuk memainkan peran penting dalam pergerakan nasional Indonesia. Wilayah ini merupakan tempat kelahiran Dr. Soetomo (Desa Ngepeh, Loceret), tokoh pendiri Budi Utomo yang menjadi pemantik kebangkitan nasional 1908. Selama masa revolusi fisik, hutan-hutan di sekitar Gunung Wilis menjadi basis pertahanan gerilya. Letak geografisnya yang berada di jalur utama Jawa menjadikannya medan tempur sengit melawan agresi militer Belanda untuk mempertahankan kedaulatan di Jawa Timur.

##

Warisan Budaya dan Dinamika Modern

Selain sejarah politiknya, Nganjuk memiliki kekayaan budaya yang unik, seperti Tari Wayang Timplong dan tradisi ritual di Air Terjun Sedudo. Ritual Parna Prahista di Sedudo yang dilakukan setiap bulan Suro merupakan sinkretisme budaya yang telah berlangsung sejak zaman Majapahit, di mana air terjun tersebut diyakini sebagai tempat pembersihan diri para petinggi kerajaan.

Kini, Nganjuk bertransformasi menjadi daerah agraris-industri yang maju, dengan julukan "Kota Bayu" karena hembusan anginnya yang kencang. Sebagai penghasil bawang merah terbesar di Jawa Timur, Nganjuk tidak hanya merawat identitasnya sebagai "Bumi Kemenangan" masa lalu, tetapi juga menjadi pilar ketahanan pangan nasional di masa kini. Pembangunan Monumen Dr. Soetomo dan pelestarian Candi Lor terus dilakukan untuk memastikan bahwa generasi mendatang tidak melupakan peran besar Nganjuk dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Geography

#

Profil Geografis Kabupaten Nganjuk: Jantung Kesuburan Jawa Timur

Kabupaten Nganjuk merupakan wilayah yang terletak strategis di bagian tengah Provinsi Jawa Timur, tepatnya pada koordinat 111°45' hingga 112°13' Bujur Timur dan 7°20' hingga 7°50' Lintang Selatan. Dengan luas wilayah mencapai 1295,64 km², Nganjuk merupakan daerah pedalaman (landlocked) yang tidak memiliki garis pantai. Wilayah ini dikelilingi oleh enam wilayah administrasi: Kabupaten Bojonegoro di utara, Kabupaten Jombang di timur, Kabupaten Kediri dan Kabupaten Tulungagung di selatan, serta Kabupaten Madiun dan Kabupaten Ponorogo di sebelah barat.

##

Topografi dan bentang Alam

Topografi Nganjuk sangat bervariasi, menciptakan gradasi pemandangan alam yang kontras. Bagian utara didominasi oleh perbukitan kapur yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng, sementara bagian selatan wilayah ini dilingkupi oleh lereng Gunung Wilis yang menjulang tinggi. Di antara kedua zona dataran tinggi ini, membentang dataran rendah yang sangat subur. Salah satu fitur geografis yang paling menonjol adalah keberadaan lembah sungai yang dialiri oleh Sungai Brantas di sisi timur dan Sungai Widas yang membelah jantung kabupaten. Sungai Widas berperan krusial sebagai sistem drainase alami sekaligus sumber irigasi utama bagi lahan pertanian di sekitarnya.

##

Iklim dan Pola Cuaca

Nganjuk memiliki iklim tropis dengan dua musim yang dipengaruhi oleh pergerakan angin muson. Variasi curah hujan di wilayah ini cukup unik; wilayah selatan yang berada di kaki Gunung Wilis cenderung memiliki curah hujan lebih tinggi dan suhu udara yang lebih sejuk (berkisar 18°C - 28°C) dibandingkan wilayah tengah dan utara yang lebih panas dan kering (mencapai 34°C pada puncak musim kemarau). Fenomena angin lokal yang dikenal sebagai "Angin Gending" terkadang berhembus kencang di wilayah ini, memengaruhi pola tanam para petani setempat.

##

Sumber Daya Alam dan Zonasi Ekologi

Kekayaan sumber daya alam Nganjuk bertumpu pada sektor agraris dan kehutanan. Tanah aluvial yang kaya nutrisi menjadikan Nganjuk sebagai pusat produksi bawang merah terbesar di Jawa Timur. Secara ekologis, wilayah utara yang gersang ditanami hutan jati (Tectona grandis) yang dikelola oleh Perhutani, sedangkan lereng Gunung Wilis di selatan merupakan zona biodiversitas tinggi yang menyimpan cadangan air serta hutan lindung. Selain itu, terdapat potensi mineral non-logam seperti batu gamping dan pasir urug di kawasan perbukitan.

##

Fitur Geografis Unik

Salah satu keunikan geografis Nganjuk adalah keberadaan Air Terjun Sedudo yang terletak di ketinggian 1.438 meter di atas permukaan laut pada lereng Gunung Wilis. Secara hidrologis, topografi Nganjuk yang menyerupai cekungan di bagian tengah menjadikannya sebagai daerah tangkapan air yang vital. Posisi sentralnya di lintas utama Surabaya-Yogyakarta menjadikannya titik simpul geografis yang penting bagi konektivitas di bagian tengah Pulau Jawa.

Culture

#

Kekayaan Budaya Kabupaten Nganjuk: Jantung Budaya Jawa Timur

Kabupaten Nganjuk, yang secara historis dikenal sebagai "Anjuk Ladang" atau Tanah Kemenangan, merupakan wilayah agraris di bagian tengah Jawa Timur yang menyimpan kedalaman tradisi Jawa Mataraman yang kental. Dengan luas wilayah 1295,64 km², Nganjuk menjadi titik temu budaya yang unik antara pengaruh pesisir utara dan pedalaman selatan Jawa.

##

Tradisi dan Upacara Adat

Salah satu pilar budaya Nganjuk yang paling sakral adalah upacara Siraman Sedudo. Berlokasi di Air Terjun Sedudo, lereng Gunung Wilis, ritual ini dilakukan setiap bulan Suro dalam penanggalan Jawa. Masyarakat meyakini bahwa air terjun ini membawa berkah awet muda. Selain itu, terdapat tradisi Nyadran atau bersih desa, seperti yang dilakukan secara kolosal di Desa Rejoso, di mana warga membawa ambeng (nasi tumpeng) sebagai bentuk syukur atas hasil panen bawang merah yang melimpah.

##

Seni Pertunjukan dan Musik

Nganjuk memiliki identitas kesenian yang sangat kuat melalui Wayang Timplong. Berbeda dengan wayang kulit pada umumnya, Wayang Timplong terbuat dari kayu (mirip wayang klitik) dengan iringan gamelan yang sangat sederhana, didominasi oleh suara gambang dan kendang. Narasi yang dibawakan biasanya berfokus pada serat Panji, mencerminkan kejayaan kerajaan masa lalu di wilayah ini. Selain itu, kesenian Jaranan Selfit dan Tari Mung Dhe menjadi sajian khas yang menggabungkan unsur bela diri dan tari komunal, sering kali ditampilkan dalam penyambutan tamu kehormatan.

##

Kuliner Khas dan Cita Rasa Lokal

Geografi Nganjuk yang subur melahirkan kuliner ikonik bernama Nasi Becek. Hidangan ini sekilas mirip dengan gulai kambing, namun memiliki perbedaan mendasar pada penggunaan bumbu kacang yang dihaluskan, memberikan tekstur kuah yang lebih kental dan aroma yang khas. Selain itu, Ayam Panggang Bledug dan Sego Banting menjadi pilihan kuliner malam yang digemari. Dalam hal kudapan, Nganjuk dikenal sebagai penghasil utama Bawang Merah, yang kemudian diolah menjadi bawang goreng kualitas premium yang menjadi buah tangan wajib.

##

Bahasa dan Dialek

Meskipun berada di Jawa Timur, masyarakat Nganjuk menggunakan bahasa Jawa dialek Mataraman. Dialek ini cenderung lebih halus dan berayun dibandingkan dialek "Suroboyoan", namun tetap memiliki kosakata khas seperti penggunaan kata "ndak" untuk mengganti kata "ora" (tidak), serta istilah-istilah lokal dalam pertanian bawang merah yang tidak ditemukan di daerah lain.

##

Busana dan Tekstil Tradisional

Dalam hal sandang, Nganjuk memiliki motif batik khas yang dikenal dengan Batik Anjuk Ladang. Motif ini sering kali memvisualisasikan Prasasti Anjuk Ladang, bawang merah, dan bunga melati. Busana tradisional yang dikenakan dalam acara resmi biasanya merujuk pada gaya Beskap untuk pria dan Kebaya untuk wanita, dengan ciri khas penggunaan blangkon model Jawa Tengahan yang mencerminkan kedekatan budaya dengan wilayah Solo-Yogyakarta.

##

Kehidupan Beragama dan Festival Budaya

Kehidupan religius di Nganjuk ditandai dengan harmonisasi antara peninggalan Hindu-Buddha dan Islam. Keberadaan Candi Lor sebagai situs berdirinya Nganjuk menjadi pusat perhatian saat perayaan hari jadi kabupaten. Festival budaya tahunan seperti Pawai Alegoris sering kali menampilkan fragmen sejarah kemenangan Mpu Sindok, memperkuat identitas Nganjuk sebagai kota pejuang yang tangguh di jantung Jawa Timur.

Tourism

#

Menjelajahi Pesona Nganjuk: "Kota Angin" di Jantung Jawa Timur

Terletak strategis di bagian tengah Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Nganjuk menawarkan pesona wisata yang autentik di lahan seluas 1.295,64 km². Meskipun tidak memiliki garis pantai, wilayah yang berbatasan dengan enam kabupaten (Bojonegoro, Jombang, Kediri, Ponorogo, Madiun, dan Ngawi) ini menyimpan kekayaan alam pegunungan dan warisan sejarah yang megah.

##

Keajaiban Alam: Dari Air Terjun Sedudo hingga Lereng Wilis

Nganjuk adalah surga bagi pencinta wisata air terjun. Destinasi yang paling ikonik adalah Air Terjun Sedudo di lereng Gunung Wilis. Terkenal dengan mitos awet muda, air terjun setinggi 105 meter ini menawarkan udara pegunungan yang sejuk. Tak jauh dari sana, terdapat Air Terjun Roro Kuning yang dikelilingi taman pinus serta kolam renang alami. Bagi mereka yang menyukai suasana perbukitan, Mega Wisata Selopark menyajikan pemandangan lanskap kota dari ketinggian yang sangat fotogenik.

##

Melacak Jejak Sejarah: Candi Lor dan Museum Anjuk Ladang

Nganjuk memiliki peran krusial dalam sejarah Nusantara. Wisatawan wajib mengunjungi Candi Lor, bangunan bata merah peninggalan Mpu Sindok yang menjadi cikal bakal berdirinya Nganjuk (Anjuk Ladang). Di pusat kota, Museum Anjuk Ladang menyimpan Prasasti Anjuk Ladang serta berbagai artefak purbakala yang menceritakan kejayaan Kerajaan Mataram Kuno di tanah ini.

##

Petualangan dan Aktivitas Luar Ruangan

Bagi pencari adrenalin, jalur pendakian Gunung Wilis via Nganjuk menawarkan medan yang menantang namun indah dengan keanekaragaman flora dan fauna. Jika Anda menginginkan pengalaman yang lebih santai namun edukatif, Taman Nyawiji di pusat kota menjadi ruang publik modern untuk bersepeda atau sekadar menikmati tata kota yang rapi. Jangan lewatkan sensasi memetik buah langsung di Agrowisata Perkebunan Mawar atau kebun bawang merah, yang merupakan komoditas unggulan daerah ini.

##

Wisata Kuliner Khas: Sensasi Nasi Becek

Pengalaman ke Nganjuk belum lengkap tanpa mencicipi Nasi Becek. Kuliner legendaris ini menyerupai gulai kambing dengan kuah santan kental yang kaya rempah, disajikan dengan sate kambing tanpa lemak. Selain itu, Ayam Bakar Pedas khas Nganjuk dan camilan Dumbleg—makanan manis berbahan tepung beras dan gula kelapa yang dibungkus pelepah pinang—adalah oleh-oleh wajib yang unik.

##

Keramahtamahan dan Waktu Kunjungan Terbaik

Masyarakat Nganjuk dikenal dengan dialek khasnya yang lugas namun sangat ramah terhadap pendatang. Pilihan akomodasi berkisar dari hotel berbintang di pusat kota hingga *homestay* bernuansa pedesaan di kawasan Sawahan. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pada musim kemarau (Mei - September) untuk memastikan jalur pendakian dan akses ke air terjun tetap aman. Jika beruntung, datanglah bertepatan dengan ritual Siraman Sedudo setiap bulan Suro untuk menyaksikan prosesi budaya lokal yang sakral.

Economy

#

Profil Ekonomi Kabupaten Nganjuk: Pusat Agribisnis dan Koridor Industri Jawa Timur

Kabupaten Nganjuk, yang terletak di jantung Provinsi Jawa Timur dengan luas wilayah 1.295,64 km², memainkan peran strategis sebagai simpul penghubung antara wilayah barat dan timur pulau Jawa. Sebagai daerah yang tidak memiliki garis pantai (landlocked), kekuatan ekonomi Nganjuk bertumpu pada optimalisasi lahan daratan, khususnya melalui sektor agraris yang sangat dominan dan transformasi menuju kawasan industri baru.

##

Sektor Pertanian: Lumbung Bawang Merah Nasional

Nganjuk dikenal secara nasional sebagai salah satu penghasil bawang merah terbesar di Indonesia, khususnya di Kecamatan Rejoso, Bagor, dan Sukomoro. Komoditas ini menjadi tulang punggung ekonomi kerakyatan dengan sistem lelang di pasar-pasar lokal yang memengaruhi stabilitas harga nasional. Selain bawang merah, Kabupaten Nganjuk unggul dalam produksi padi dan jagung yang didukung oleh sistem irigasi teknis dari aliran sungai serta pembangunan Bendungan Semantok. Bendungan terpanjang di Asia Tenggara ini diproyeksikan menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi melalui penyediaan air baku dan potensi pariwisata air.

##

Transformasi Industri dan Infrastruktur

Kehadiran Jalan Tol Trans-Jawa yang melintasi Nganjuk (Gerbang Tol Nganjuk dan Kertosono) telah mengubah lanskap ekonomi daerah. Pemerintah Kabupaten Nganjuk kini secara masif mengembangkan Kawasan Peruntukan Industri (KPI) di wilayah utara dan timur. Industri manufaktur, mulai dari pengolahan makanan, alas kaki, hingga perakitan kabel otomotif, mulai bermunculan dan menyerap ribuan tenaga kerja lokal. Hal ini berdampak pada pergeseran tren lapangan kerja dari sektor primer (pertanian) menuju sektor sekunder (manufaktur), yang secara otomatis meningkatkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah.

##

Kerajinan Tradisional dan Produk Lokal

Sektor ekonomi kreatif Nganjuk diwakili oleh industri kerajinan kuningan di Desa Juwono dan industri tas di beberapa kecamatan. Selain itu, Nganjuk memiliki produk khas yang bernilai ekonomi tinggi seperti Kerupuk Upil (kerupuk pasir) dan olahan Daging Se'i atau Nasi Becek yang mendukung sektor kuliner. Pengembangan UMKM berbasis potensi desa kini menjadi prioritas untuk memperkuat daya saing produk lokal di pasar digital.

##

Sektor Jasa dan Pariwisata

Meskipun tidak memiliki wisata bahari, Nganjuk mengandalkan wisata alam pegunungan di lereng Gunung Wilis. Destinasi seperti Air Terjun Sedudo dan Roro Kuning memberikan kontribusi signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui retribusi dan pertumbuhan ekosistem jasa perhotelan serta kuliner di sekitarnya.

Secara keseluruhan, ekonomi Nganjuk sedang berada dalam fase transisi yang positif. Dengan berbatasan langsung dengan enam wilayah (Bojonegoro, Madiun, Ponorogo, Kediri, Jombang, dan Lamongan), Nganjuk memposisikan diri bukan sekadar sebagai daerah perlintasan, melainkan pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mengintegrasikan ketahanan pangan dengan kemajuan industrialisasi.

Demographics

#

Profil Demografis Kabupaten Nganjuk: Dinamika Penduduk di Jantung Jawa Timur

Kabupaten Nganjuk, yang secara geografis terletak di posisi tengah (central) Provinsi Jawa Timur, memiliki karakteristik demografis yang unik sebagai wilayah agraris yang sedang bertransisi menuju industrialisasi. Dengan luas wilayah sebesar 1.295,64 km², kabupaten yang dijuluki "Kota Angin" ini mencatatkan populasi yang melampaui angka 1,1 juta jiwa.

##

Kepadatan dan Distribusi Penduduk

Kepadatan penduduk Nganjuk mencapai rata-rata 850 hingga 900 jiwa per km². Distribusi penduduk terkonsentrasi di koridor tengah yang dilintasi jalur arteri nasional, mencakup Kecamatan Nganjuk, Kertosono, dan Baron. Berbeda dengan wilayah utara yang berbukit (Pegunungan Kendeng) dan wilayah selatan (lereng Gunung Wilis) yang lebih jarang penduduknya, wilayah dataran rendah menjadi pusat pemukiman padat karena aksesibilitas ekonomi yang tinggi.

##

Komposisi Etnis dan Budaya

Secara etnis, mayoritas mutlak penduduk Nganjuk adalah suku Jawa (Mataraman). Hal ini memberikan warna budaya yang kental dengan dialek bahasa Jawa yang halus namun memiliki cengkok khas. Keberagaman budaya tercermin dari tradisi Siraman Sedudo dan Nyadran, yang menunjukkan keterikatan kuat penduduk dengan kearifan lokal. Meskipun homogen secara etnis, terdapat komunitas Tionghoa dan Arab yang signifikan di pusat perkotaan seperti Kertosono, yang berperan penting dalam sektor perdagangan.

##

Struktur Usia dan Pendidikan

Struktur kependudukan Nganjuk membentuk piramida ekspansif dengan basis yang mulai menyempit, menandakan keberhasilan program keluarga berencana namun masih didominasi oleh kelompok usia produktif (15-64 tahun). Angka literasi di Nganjuk sangat tinggi, mencapai di atas 95%, didukung oleh persebaran institusi pendidikan formal dan pondok pesantren yang merata. Namun, terdapat tantangan dalam tingkat pendidikan tinggi, di mana sebagian besar penduduk usia muda cenderung merantau setelah menyelesaikan pendidikan menengah.

##

Urbanisasi dan Pola Migrasi

Nganjuk mengalami fenomena "rurbanisasi," di mana batas antara wilayah pedesaan dan perkotaan semakin kabur akibat pembangunan industri di wilayah timur. Migrasi keluar (out-migration) masih dominan, terutama migrasi sirkuler ke Surabaya atau Jakarta, serta pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri. Transformasi lahan pertanian menjadi kawasan industri di wilayah Rejoso dan Gondang kini mulai memicu arus migrasi masuk (in-migration) tenaga kerja dari daerah tetangga seperti Bojonegoro, Madiun, dan Jombang, yang mengubah dinamika sosial-ekonomi lokal secara signifikan.

💡 Fakta Unik

  • 1.Wilayah ini pernah menjadi pusat pemerintahan Kadipaten Terung pada abad ke-15, sebuah pelabuhan sungai penting yang berfungsi sebagai pintu masuk utama menuju ibu kota Kerajaan Majapahit.
  • 2.Tradisi Lelang Bandeng yang diadakan setiap menjelang Idul Fitri merupakan warisan budaya unik untuk menghormati jasa para penyebar agama Islam di tanah Jawa.
  • 3.Letak geografisnya sangat unik karena terjepit di antara dua aliran sungai besar, yaitu Sungai Mas dan Sungai Porong, yang membentuk kawasan delta yang subur.
  • 4.Dikenal secara nasional sebagai pusat industri kerajinan tas dan koper unggulan yang berpusat di Desa Tanggulangin.

Destinasi di Nganjuk

Semua Destinasi

Tempat Lainnya di Jawa Timur

Lokasi Serupa

Panduan Perjalanan Terkait

Memuat panduan terkait...

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Uji Pengetahuanmu!

Apakah kamu bisa menebak Nganjuk dari siluet petanya?