Parepare
RareDipublikasikan: Januari 2025
History
#
Sejarah dan Perkembangan Kota Parepare: Gerbang Niaga Sulawesi Selatan
Asal-usul dan Masa Kerajaan
Kota Parepare, yang terletak di pesisir barat semenanjung Sulawesi Selatan, memiliki akar sejarah yang erat dengan konfederasi kerajaan lokal. Nama "Parepare" secara etimologis berasal dari ungkapan Raja Gowa yang terpukau saat melihat pelabuhan alami di wilayah ini, lalu berucap "Bajiki Ni Pare", yang berarti "pelabuhan ini dibuat dengan baik." Secara historis, wilayah seluas 87,71 km² ini merupakan titik temu strategis antara Kerajaan Bone, Kerajaan Sawitto (Pinrang), Kerajaan Rappang (Sidenreng Rappang), dan Kerajaan Barru. Sebagai wilayah tengah yang menghubungkan daratan utama dengan jalur laut, Parepare berkembang sebagai pelabuhan penampungan hasil bumi dari pedalaman Ajatappareng.
Masa Kolonial Belanda
Keberadaan pelabuhan yang tenang dan dalam membuat Pemerintah Hindia Belanda sangat tertarik pada wilayah ini. Pada awal abad ke-20, setelah penandatanganan Plakat Pendek (Korte Verklaring), Belanda mulai menata Parepare sebagai pusat administrasi dan ekonomi di wilayah utara Sulawesi Selatan. Belanda membangun infrastruktur kota dengan pola raster yang masih terlihat hingga kini di kawasan pelabuhan. Parepare menjadi kedudukan Asisten Residen yang membawahi wilayah Afdeling Parepare. Selama periode ini, kota ini bertransformasi menjadi titik ekspor utama untuk komoditas kopra dan beras, menjadikannya salah satu kota paling kosmopolitan di Sulawesi selain Makassar.
Era Perjuangan Kemerdekaan
Memasuki masa perjuangan kemerdekaan, Parepare menjadi saksi kegigihan para pejuang lokal dalam melawan agresi militer Belanda. Tokoh-tokoh seperti Andi Makkasau memainkan peran krusial dalam memobilisasi rakyat melawan pendudukan NICA melalui organisasi laskar perjuangan. Peristiwa heroik terjadi saat pasukan Belanda di bawah pimpinan Raymond Westerling melakukan operasi militer di wilayah ini; namun, semangat perlawanan rakyat tetap berkobar. Pada masa awal kemerdekaan, Parepare ditetapkan sebagai Kota Madya berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959, yang mempertegas statusnya sebagai entitas politik independen di bawah Provinsi Sulawesi Selatan.
Warisan Budaya dan Tokoh Bangsa
Salah satu fakta sejarah yang paling membanggakan adalah posisi Parepare sebagai tempat kelahiran Presiden ke-3 Republik Indonesia, Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie, pada 25 Juni 1936. Hubungan emosional ini diabadikan melalui Monumen Cinta Sejati Habibie-Ainun di pusat kota. Secara kultural, Parepare merupakan melting pot etnis Bugis yang memegang teguh falsafah Siri’ na Pesse. Tradisi maritim yang kuat tercermin dalam arsitektur rumah panggung di pesisir dan pelestarian nilai-nilai kearifan lokal dalam berdagang.
Pembangunan Modern dan Signifikansi Strategis
Kini, Parepare tumbuh menjadi kota jasa dan niaga yang modern. Meskipun berbatasan langsung dengan empat wilayah utama—Pinrang di utara, Sidrap di timur, dan Barru di selatan—kota ini tetap mempertahankan identitasnya sebagai "Kota Bandar Madani". Pembangunan infrastruktur seperti Pelabuhan Nusantara dan Stasiun Kereta Api jalur Makassar-Parepare menandai babak baru sejarah kota ini sebagai simpul logistik utama di Indonesia Tengah, menghubungkan daratan Sulawesi dengan Kalimantan dan wilayah timur Indonesia secara masif.
Geography
#
Geografi dan Lanskap Alam Kota Parepare
Kota Parepare merupakan entitas administratif unik di Sulawesi Selatan yang memiliki karakteristik geografis yang sangat spesifik. Secara administratif, kota ini mencakup wilayah seluas 87,71 km² yang terletak di pesisir barat semenanjung selatan Sulawesi. Meskipun berbatasan langsung dengan Selat Makassar, secara konseptual dalam konteks kewilayahan regional, Parepare sering dianggap sebagai titik simpul yang terletak di bagian tengah provinsi Sulawesi Selatan, menghubungkan jalur transportasi utama antara Makassar di selatan dan wilayah Toraja serta Luwu di bagian utara.
##
Topografi dan Bentang Alam
Topografi Parepare didominasi oleh perpaduan antara dataran rendah yang sempit dan perbukitan yang bergelombang. Wilayah ini memiliki elevasi yang bervariasi mulai dari 0 hingga 500 meter di atas permukaan laut. Di sebelah timur, lanskap mulai menanjak membentuk zona perbukitan yang menjadi batas alami dengan wilayah tetangga. Uniknya, meskipun memiliki garis pantai, struktur tanah di Parepare cenderung keras dengan batuan kapur dan vulkanik purba yang mencuat di beberapa titik. Kota ini dikelilingi oleh empat wilayah utama yang secara geografis mengunci posisinya sebagai hub strategis, yakni Kabupaten Pinrang di utara, Kabupaten Sidrap di timur, serta Kabupaten Barru di selatan.
##
Hidrologi dan Gunung
Sistem hidrologi Parepare didukung oleh beberapa aliran sungai penting seperti Sungai Karajae yang memiliki peran krusial dalam drainase kota dan ekosistem lokal. Di sisi timur, terdapat deretan perbukitan yang sering disebut sebagai "Gunung" oleh penduduk setempat, seperti kawasan perbukitan Bacukiki yang menawarkan lembah-lembah hijau dan menjadi daerah tangkapan air alami. Struktur lembah di kawasan ini menciptakan mikroklimat yang lebih sejuk dibandingkan dengan area pusat kota yang padat.
##
Iklim dan Variasi Musiman
Parepare memiliki iklim tropis basah dengan pengaruh angin muson yang kuat. Secara astronomis, wilayah ini berada pada koordinat 3°57′39″–4°04′49″ Lintang Selatan. Curah hujan tertinggi biasanya terjadi antara bulan November hingga April, didorong oleh angin barat yang membawa uap air dari Selat Makassar. Sebaliknya, musim kemarau yang signifikan terjadi pada bulan Agustus hingga September. Suhu udara rata-rata berkisar antara 24°C hingga 33°C dengan tingkat kelembapan yang cukup tinggi sepanjang tahun.
##
Sumber Daya Alam dan Biodiversitas
Kekayaan alam Parepare tidak terletak pada pertambangan mineral skala besar, melainkan pada sektor agraris dan kehutanan fungsional. Lahan-lahan di perbukitan Bacukiki dimanfaatkan untuk perkebunan palawija, kakao, dan buah-buahan tropis. Kawasan hutan lindung di perbukitan tersebut juga menjadi rumah bagi biodiversitas lokal, termasuk spesies burung endemik Sulawesi dan monyet hitam (Macaca maura). Zona ekologis ini berfungsi sebagai paru-paru kota sekaligus penjaga keseimbangan ekosistem daratan yang dikelilingi oleh pemukiman padat. Keberadaan ekosistem mangrove di beberapa titik muara sungai juga menambah keragaman hayati, berfungsi sebagai tempat pemijahan alami bagi biota laut meskipun wilayah daratannya mendominasi aktivitas ekonomi kota.
Culture
#
Pesona Budaya Parepare: Sang Bandar Madani di Jantung Sulawesi
Parepare, sebuah kota seluas 87,71 km² yang terletak di posisi tengah pesisir barat Sulawesi Selatan, merupakan simpul kebudayaan yang unik. Meskipun dikenal sebagai kota pelabuhan yang strategis, Parepare memiliki kedalaman nilai kultural yang berakar pada filosofi Bugis, namun tetap adaptif terhadap pengaruh luar karena perannya sebagai titik temu empat wilayah penyangga di sekitarnya.
Tradisi, Adat Istiadat, dan Upacara Lokal
Masyarakat Parepare memegang teguh falsafah Pangngaderreng, sebuah sistem norma yang mencakup Ade (adat), Bicara (hukum), dan Rapang (contoh perilaku). Salah satu tradisi yang masih terjaga adalah Mappalette Bola, yaitu ritual memindahkan rumah panggung kayu secara gotong royong sebagai simbol solidaritas komunal. Selain itu, tradisi Maccera Tappareng sering dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil laut dan perairan, mengingat posisi geografisnya yang bersentuhan langsung dengan Selat Makassar.
Seni Pertunjukan dan Kerajinan
Kesenian di Parepare merupakan perpaduan harmonis antara gerak dan ritme. Tari Padduppa menjadi tarian wajib untuk menyambut tamu kehormatan dengan taburan beras sebagai simbol keberkahan. Selain itu, Pusaka Bugis seperti pembuatan Badik (senjata tradisional) masih ditekuni oleh pengrajin lokal sebagai simbol harga diri (Siri’). Dalam bidang musik, dentuman Gendang Bulo dan petikan Kecapi sering mengiringi pembacaan Meong Palo Karellae, sebuah sastra lisan yang mengisahkan kemakmuran.
Kuliner Khas dan Kekayaan Rasa
Identitas kuliner Parepare sangat dipengaruhi oleh sumber daya laut. Roti Mantao Parepare adalah ikon kuliner yang unik; roti kukus atau goreng bertekstur lembut ini merupakan hasil akulturasi budaya Tionghoa yang telah menyatu dengan lidah lokal. Menu lain yang wajib dicicipi adalah Kapurung dan Ikan Bakar dengan sambal mangga muda yang segar. Tak lupa, Balla’ Kanrejawa menyediakan berbagai kue tradisional seperti Sikaporo dan Barongko yang manis dan gurih.
Bahasa dan Dialek Lokal
Bahasa Bugis dialek Parepare memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan dialek Bone atau Wajo. Intonasi atau "logat" masyarakatnya cenderung lebih tegas namun tetap santun. Penggunaan partikel seperti "je", "mi", dan "ki" dalam percakapan sehari-hari menjadi identitas linguistik yang kental. Ungkapan "Reppa To Riolo" sering digunakan untuk mengingatkan generasi muda agar tidak melupakan petuah leluhur.
Busana dan Tekstil Tradisional
Baju Bodo tetap menjadi primadona dalam upacara adat dan pernikahan. Kain tenun Sutra Mandar dan Sutra Bugis (Lipa’ Sabbe) dengan motif Cacculu atau Mallo’ menjadi perangkat busana utama. Warna busana tradisional di sini memiliki makna hierarkis; misalnya, warna jingga untuk remaja dan warna ungu untuk janda atau wanita tua.
Praktik Keagamaan dan Festival Budaya
Sebagai kota yang religius, napas Islam sangat mewarnai tradisi di Parepare. Perayaan Maulid Nabi biasanya dimeriahkan dengan Maudu’, yaitu menghias telur berwarna-warni yang disusun dalam replika perahu pinisi. Selain itu, pemerintah setempat rutin menggelar Festival Salo Karajae, sebuah pesta rakyat yang menampilkan balap perahu hias dan pameran budaya, mempertegas posisi Parepare sebagai kota "Bandar Madani" yang modern namun tetap berpijak pada akar tradisi.
Tourism
#
Menjelajahi Pesona Parepare: Permata Strategis di Jantung Sulawesi Selatan
Kota Parepare, sebuah wilayah seluas 87,71 km², memegang peranan vital sebagai simpul transportasi dan gerbang perdagangan di posisi tengah Sulawesi Selatan. Meskipun secara geografis didominasi oleh perbukitan dan garis pantai yang landai, Parepare menawarkan pengalaman wisata "langka" yang memadukan romantisme sejarah, panorama alam yang tenang, dan keramahan khas masyarakat Bugis. Berbatasan dengan Kabupaten Pinrang, Enrekang, Sidrap, dan Barru, kota ini menjadi titik temu budaya yang dinamis.
##
Keajaiban Alam dan Ruang Terbuka
Meskipun bukan kota pegunungan tinggi, Parepare memiliki Kebun Raya Jombang yang menawarkan kesejukan vegetasi lokal di dataran tinggi kota. Untuk penikmat senja, Pantai Mattirotasi dan Pantai Senggol menjadi magnet utama. Di sini, pengunjung bisa menikmati pemandangan Teluk Pare yang tenang dengan latar belakang kapal-kapal besar yang bersandar. Bagi pencari ketenangan, Lumpue menawarkan hamparan pasir yang bersih, sementara kawasan perbukitan di Bacukiki menyajikan pemandangan lembah hijau dan sungai yang masih asri, cocok untuk melepas penat dari hiruk-pikuk perkotaan.
##
Jejak Budaya dan Romantisme Sejarah
Daya tarik budaya paling ikonik di Parepare adalah Monumen Cinta Sejati Habibie-Ainun. Berada di pusat kota, monumen ini dibangun untuk mengenang kelahiran Presiden ke-3 RI, B.J. Habibie, sekaligus menjadi simbol kesetiaan. Wisatawan juga dapat mengunjungi Museum B.J. Habibie, yang merupakan rumah masa kecil sang profesor, guna melihat memorabilia eksklusif. Selain itu, arsitektur Masjid Terapung BJ. Habibie yang megah di tepi pantai menjadi landmark religi yang memadukan estetika modern dengan spiritualitas.
##
Petualangan Kuliner dan Pengalaman Lokal
Wisata kuliner di Parepare adalah petualangan rasa yang autentik. Jangan lewatkan Roti Mantao, roti khas Parepare yang bisa dinikmati dengan cara digoreng atau dikukus. Untuk hidangan berat, Nasi Campur khas pelabuhan dan olahan seafood segar di sepanjang pesisir pantai menawarkan cita rasa rempah Bugis yang kuat. Kehidupan malam di Pasar Senggol juga memberikan pengalaman unik, di mana wisatawan bisa berburu barang "cakar" (pakaian bekas impor berkualitas) sambil mencicipi jajanan lokal.
##
Akomodasi dan Waktu Kunjungan Terbaik
Masyarakat Parepare dikenal dengan filosofi *Sipakatau* (saling menghormati). Berbagai pilihan akomodasi tersedia, mulai dari hotel berbintang dengan pemandangan laut hingga *homestay* yang dikelola warga lokal. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah antara bulan Mei hingga September saat cuaca cenderung cerah, memudahkan wisatawan untuk mengeksplorasi garis pantai dan perbukitan. Menghadiri festival tahunan seperti Festival Salo Karajae akan memberikan pengalaman luar biasa, di mana sungai dihiasi lampu dekoratif dan berbagai lomba perahu tradisional digelar. Parepare bukan sekadar kota transit, melainkan destinasi penuh kenangan di tengah Sulawesi.
Economy
#
Profil Ekonomi Kota Parepare, Sulawesi Selatan
Kota Parepare merupakan entitas ekonomi yang unik di Sulawesi Selatan. Meskipun secara geografis memiliki garis pantai yang strategis di Teluk Parepare, kota seluas 87,71 km² ini berfungsi sebagai simpul integrasi ekonomi bagi empat wilayah penyangganya, yaitu Kabupaten Pinrang, Enrekang, Tana Toraja, dan Barru. Sebagai kota jasa dan perdagangan, Parepare memegang peranan vital sebagai pintu gerbang ekspor-impor untuk komoditas dari wilayah utara Sulawesi Selatan.
##
Sektor Jasa, Perdagangan, dan Distribusi
Struktur ekonomi Parepare didominasi oleh sektor tersier, khususnya perdagangan besar dan eceran. Karena letaknya yang berada di tengah jalur trans-Sulawesi, kota ini menjadi pusat distribusi logistik. Keberadaan Pelabuhan Nusantara dan Pelabuhan Rakyat menjadikannya hub maritim utama yang melayani rute pelayaran hingga ke Kalimantan dan Jawa. Aktivitas bongkar muat komoditas pertanian seperti beras, jagung, dan cokelat dari daerah tetangga menjadi penggerak utama Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kota ini.
##
Transformasi Industri dan Produk Lokal
Di sektor industri, Parepare fokus pada pengolahan hasil alam. Salah satu perusahaan kunci adalah PT. Cahaya Bahari yang bergerak di bidang pembekuan ikan, memanfaatkan potensi laut Selat Makassar. Selain itu, terdapat industri pengolahan pakan ternak dan penggilingan padi skala besar. Dalam bidang kerajinan tradisional, Parepare dikenal dengan produksi kain tenun Mandar dan kerajinan berbahan kerang yang dipasarkan sebagai cenderamata khas pesisir. Produk lokal unggulan lainnya mencakup olahan makanan seperti Roti Mantao yang telah menjadi ikon kuliner sekaligus komoditas ekonomi kreatif bagi UMKM setempat.
##
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
Visi "Kota Industri Tanpa Cerobong Asap" diimplementasikan melalui pengembangan sektor pariwisata medis dan edukasi. Pembangunan Rumah Sakit Regional dr. Hasri Ainun Habibie dan monumen Cinta Sejati Habibie-Ainun menciptakan efek pengganda ekonomi bagi sektor perhotelan dan kuliner. Sektor ini menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah signifikan, mengalihkan tren lapangan kerja dari sektor pertanian tradisional ke sektor jasa modern.
##
Infrastruktur dan Konektivitas
Pertumbuhan ekonomi Parepare didukung oleh infrastruktur transportasi yang masif. Selain pelabuhan yang dalam, kehadiran jalur Kereta Api Makassar-Parepare menjadi tonggak sejarah baru dalam efisiensi distribusi barang. Konektivitas darat yang kuat dengan empat wilayah tetangga memastikan arus suplai bahan baku industri tetap stabil. Dengan tren pembangunan yang berorientasi pada konsep Smart City, Parepare terus memperkuat posisinya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di luar Kota Makassar, menciptakan iklim investasi yang kondusif bagi pengusaha nasional maupun lokal.
Demographics
#
Profil Demografis Kota Parepare: Pusat Pertumbuhan Tengah Sulawesi Selatan
Kota Parepare, yang terletak secara strategis di posisi tengah pesisir barat Sulawesi Selatan, merupakan entitas urban yang unik dengan luas wilayah 87,71 km². Sebagai kota pelabuhan utama yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Pinrang di utara, Kabupaten Enrekang di timur, dan Kabupaten Barru di selatan, Parepare berfungsi sebagai simpul ekonomi krusial yang menghubungkan wilayah utara dan selatan provinsi.
Struktur Penduduk dan Kepadatan
Berdasarkan data terkini, populasi Parepare telah melampaui angka 154.000 jiwa. Dengan luas wilayah yang relatif kompak, tingkat kepadatan penduduk mencapai sekitar 1.760 jiwa per km². Distribusi penduduk terkonsentrasi di empat kecamatan utama: Bacukiki, Bacukiki Barat, Ujung, dan Soreang. Kecamatan Soreang dan Ujung mencatatkan kepadatan tertinggi karena peranannya sebagai pusat aktivitas komersial dan pemerintahan.
Komposisi Etnis dan Keberagaman Budaya
Demografi Parepare didominasi oleh etnis Bugis yang merupakan penduduk asli, disusul oleh suku Makassar, Mandar, dan Toraja. Sebagai kota transit, terdapat pula komunitas etnis Tionghoa, Jawa, dan Arab yang telah menetap selama beberapa generasi. Keberagaman ini menciptakan lanskap budaya yang pluralistik namun harmonis, di mana nilai-nilai Siri’ na Pesse tetap menjadi landasan sosial masyarakat.
Struktur Usia dan Piramida Penduduk
Parepare memiliki struktur penduduk yang didominasi oleh usia produktif (15-64 tahun), yang mencakup sekitar 68% dari total populasi. Piramida penduduk menunjukkan tren ekspansif menuju stasioner, dengan angka kelahiran yang mulai terkendali namun tetap memiliki basis pemuda yang besar. Hal ini memberikan dividen demografi yang signifikan bagi pengembangan sektor jasa dan industri kreatif lokal.
Pendidikan dan Literasi
Kota ini dikenal sebagai "Kota Pendidikan" di wilayah utara Sulawesi Selatan. Tingkat literasi penduduk dewasa mencapai di atas 98%, didukung oleh keberadaan berbagai institusi pendidikan tinggi seperti Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare dan Universitas Muhammadiyah Parepare. Mayoritas penduduk usia kerja memiliki latar belakang pendidikan minimal tingkat menengah atas.
Urbanisasi dan Pola Migrasi
Dinamika urbanisasi di Parepare sangat dipengaruhi oleh fungsi Pelabuhan Nusantara. Kota ini mengalami arus migrasi masuk yang konsisten dari daerah tetangga (Ajatappareng) untuk mencari peluang kerja di sektor maritim dan perdagangan. Uniknya, pola migrasi di Parepare bersifat sirkuler, di mana banyak penduduk yang bekerja di kota namun tetap mempertahankan ikatan kuat dengan daerah asal di wilayah pedalaman Sulawesi Selatan.
💡 Fakta Unik
- 1.Wilayah ini merupakan satu-satunya daerah di Sulawesi Selatan yang seluruh batas administratifnya bersentuhan langsung dengan satu kabupaten induk yang sama.
- 2.Sebuah monumen berbentuk payung raksasa dibangun di pusat kota untuk mengenang peristiwa penyerahan kedaulatan dari Kerajaan Luwu kepada pemerintah Republik Indonesia.
- 3.Masyarakat setempat memiliki tradisi kuliner unik berbahan dasar sagu yang disajikan dalam bentuk bola-bola kecil kenyal di dalam kuah ikan berbumbu kuning.
- 4.Kota ini dikenal dengan julukan Kota Idaman dan secara historis memegang peranan penting sebagai ibu kota dari kedatuan tertua di tanah Sulawesi.
Destinasi di Parepare
Semua Destinasi→Monumen Cinta Sejati Habibie-Ainun
Berdiri megah di sudut Alun-alun Kota Parepare, monumen ini melambangkan dedikasi cinta abadi Presid...
Tempat RekreasiPantai Senggol
Pusat kehidupan malam dan rekreasi warga Parepare yang menawarkan pemandangan pesisir Teluk Parepare...
Situs SejarahMuseum B.J. Habibie
Satu-satunya museum di Indonesia yang didedikasikan sepenuhnya untuk perjalanan hidup B.J. Habibie, ...
Wisata AlamKebun Raya Jompie
Hutan kota seluas 13,5 hektar ini merupakan pusat konservasi tumbuhan kawasan pesisir Wallacea yang ...
Kuliner LegendarisRoti Mantao Parepare
Kuliner khas yang menjadi buah tangan wajib saat berkunjung ke Parepare, berupa roti kukus tanpa isi...
Tempat RekreasiTonrangeng River Side
Destinasi wisata tepi sungai yang memadukan konsep ruang publik modern dengan keindahan ekosistem ba...
Tempat Lainnya di Sulawesi Selatan
Lokasi Serupa
Panduan Perjalanan Terkait
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiUji Pengetahuanmu!
Apakah kamu bisa menebak Parepare dari siluet petanya?