Klenteng Tjoe Tik Kiong
di Pasuruan, Jawa Timur
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Menelusuri Kemegahan Arsitektur Klenteng Tjoe Tik Kiong: Permata Pesisir Pasuruan
Klenteng Tjoe Tik Kiong bukan sekadar tempat ibadah; ia adalah monumen hidup yang merekam jejak peradaban Tionghoa di pesisir utara Jawa Timur, khususnya di Kota Pasuruan. Berdiri megah di dekat muara pelabuhan kuno, bangunan ini menjadi titik temu antara estetika oriental klasik, sejarah kolonial, dan dinamika sosial masyarakat urban Pasuruan. Arsitekturnya yang khas menjadikannya salah satu ikon budaya paling signifikan di Provinsi Jawa Timur.
#
Konteks Sejarah dan Lokasi Strategis
Didirikan sekitar abad ke-17 atau ke-18 (dengan catatan renovasi besar pada tahun 1894), Klenteng Tjoe Tik Kiong terletak di Jalan Lombok, kawasan yang dulunya merupakan jantung ekonomi Pasuruan. Lokasinya yang berdekatan dengan Pelabuhan Tanjung Tembikar mencerminkan fungsi tradisional klenteng sebagai pelindung para pelaut dan pedagang. Secara historis, klenteng ini didedikasikan untuk Dewi Ma Cho (Tian Shang Sheng Mu), dewi pelindung laut, yang menunjukkan betapa eratnya hubungan komunitas Tionghoa Pasuruan dengan aktivitas maritim.
Pemilihan lokasi di dekat sungai dan pelabuhan bukan tanpa alasan filosofis. Dalam prinsip Feng Shui, kehadiran elemen air (sungai) di depan bangunan dipercaya membawa keberuntungan dan aliran energi positif (Qi). Hal ini membuat struktur bangunan tidak hanya kokoh secara fisik, tetapi juga dianggap harmonis secara spiritual dengan lingkungan sekitarnya.
#
Tipologi dan Prinsip Desain Arsitektur
Klenteng Tjoe Tik Kiong mengadopsi gaya arsitektur Tiongkok Selatan, khususnya gaya Hokkien, yang ditandai dengan garis atap yang melengkung tajam dan dekorasi yang sangat detail. Bangunan ini mengikuti pola tata ruang tradisional Tiongkok yang bersifat aksial dan simetris.
Struktur utama klenteng terdiri dari beberapa bagian: gerbang luar, halaman tengah (courtyard), dan bangunan inti yang terbagi menjadi ruang depan, ruang tengah, dan altar utama. Prinsip keterbukaan ruang di bagian tengah (sumur udara atau tian jing) memungkinkan sirkulasi udara alami dan pencahayaan matahari masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi asap dupa, sebuah inovasi fungsional yang menggabungkan aspek religius dan kenyamanan termal.
#
Detail Ornamen dan Struktur Atap
Salah satu fitur paling mencolok dari Klenteng Tjoe Tik Kiong adalah atapnya yang bertipe Yanwei (ekor walet). Kelengkungan atap ini dihiasi dengan teknik Chien-nien, yaitu seni memotong keramik atau kaca berwarna-warni untuk membentuk mosaik naga, burung phoenix, dan bunga-bungaan. Naga-naga yang saling berhadapan di puncak atap melambangkan perlindungan terhadap api dan roh jahat.
Konstruksi atap didukung oleh sistem Tou-kung, yaitu susunan balok kayu yang saling mengunci tanpa menggunakan paku besi. Sistem ini tidak hanya berfungsi sebagai penyangga beban yang fleksibel terhadap getaran gempa, tetapi juga menjadi elemen estetika yang memperlihatkan kerumitan pertukangan kayu tradisional. Di bawah atap, terdapat kirmir atau balok melintang yang dihiasi ukiran kayu berlapis emas (prada), menceritakan fragmen-fragmen kisah klasik Tiongkok seperti "Kisah Tiga Negara" (Sam Kok).
#
Inovasi Struktural dan Material
Meskipun didominasi oleh elemen kayu jati berkualitas tinggi yang didatangkan dari pedalaman Jawa, Klenteng Tjoe Tik Kiong juga menunjukkan pengaruh material lokal dan kolonial. Lantai klenteng menggunakan ubin terakota kuno yang memberikan kesan sejuk di tengah cuaca panas Kota Pasuruan. Pintu gerbang utama yang tinggi dan tebal diperkuat dengan mekanisme engsel kayu tradisional yang masih berfungsi dengan baik hingga saat ini.
Keunikan lainnya terletak pada sepasang singa batu (Cishi) yang menjaga pintu masuk. Patung ini dipahat dengan detail yang sangat halus dari batu granit, mencerminkan strata sosial dan kemakmuran komunitas yang membangunnya. Selain itu, terdapat lukisan dinding (mural) yang menggunakan pigmen warna alami, menggambarkan dewa-dewi dan simbol-simbol keberuntungan yang tetap cerah meskipun telah berusia lebih dari satu abad.
#
Makna Budaya dan Simbolisme Ruang
Setiap elemen arsitektur di Tjoe Tik Kiong membawa pesan simbolis. Warna merah yang dominan melambangkan kebahagiaan dan vitalitas, sementara warna emas melambangkan kemuliaan. Di ruang utama, keberadaan tiang-tiang penyangga besar yang tidak dicat namun diukir halus menunjukkan kejujuran material.
Klenteng ini juga menjadi saksi akulturasi budaya. Di beberapa sudut bangunan, terdapat sentuhan ornamen yang dipengaruhi gaya Hindia Belanda, seperti bentuk jendela atau pola jeruji besi, yang menunjukkan bahwa bangunan ini tumbuh bersama perkembangan zaman di Pasuruan. Hal ini menjadikannya contoh dari "arsitektur transisi" yang unik di pesisir utara Jawa.
#
Signifikansi Sosial dan Pengalaman Pengunjung
Bagi pengunjung, memasuki Klenteng Tjoe Tik Kiong adalah perjalanan menembus waktu. Transisi dari kebisingan jalanan kota menuju ketenangan halaman dalam memberikan pengalaman ruang yang dramatis. Atmosfer yang tercipta dari perpaduan aroma hio, pencahayaan remang dari lampion merah, dan bayangan ukiran kayu menciptakan kesan sakral yang mendalam.
Saat ini, Klenteng Tjoe Tik Kiong berfungsi sebagai Cagar Budaya yang dilindungi. Selain sebagai pusat ibadah bagi umat Tri Dharma, klenteng ini menjadi pusat kegiatan sosial dan budaya, seperti pertunjukan Wayang Potehi yang kerap digelar di panggung khusus di area depan. Panggung ini sendiri merupakan elemen arsitektural penting yang jarang ditemukan di klenteng-klenteng kecil, menandakan status Tjoe Tik Kiong sebagai klenteng utama (major temple) di wilayah tersebut.
#
Kesimpulan
Klenteng Tjoe Tik Kiong di Pasuruan adalah mahakarya arsitektur yang melampaui fungsinya sebagai tempat peribadatan. Ia adalah perpaduan antara teknik konstruksi kuno Tiongkok, kearifan lokal Jawa, dan sejarah maritim Nusantara. Melalui detail atap ekor waletnya, kekuatan sistem Tou-kung, serta kekayaan filosofi di setiap sudut ruangnya, klenteng ini berdiri sebagai pengingat akan kemajemukan identitas bangsa. Menjaga kelestarian arsitektur Tjoe Tik Kiong berarti menjaga kepingan sejarah penting yang membentuk wajah Kota Pasuruan hingga hari ini.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Pasuruan
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Pasuruan
Pelajari lebih lanjut tentang Pasuruan dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Pasuruan