Pasuruan

Common
Jawa Timur
Luas
1.497,44 km²
Posisi
tengah
Jumlah Tetangga
7 wilayah
Pesisir
Tidak

Dipublikasikan: Januari 2025

History

#

Sejarah Pasuruan: Dari Gerbang Kerajaan hingga Pusat Industri Jawa Timur

Pasuruan, sebuah wilayah strategis di jantung Jawa Timur dengan luas 1497,44 km², memiliki rekam jejak sejarah yang mendalam sebagai salah satu pusat peradaban tertua di Nusantara. Berada di posisi tengah yang menghubungkan jalur utama pantai utara menuju wilayah pedalaman, Pasuruan dikelilingi oleh tujuh wilayah tetangga, termasuk Probolinggo, Malang, dan Sidoarjo, yang menjadikannya simpul penting dalam dinamika sosial-politik Jawa Timur.

##

Asal-usul dan Era Kerajaan

Nama "Pasuruan" dipercaya berasal dari kata "Pasuruhan" yang berarti tempat berkumpulnya para tamu atau tempat luruhnya air. Secara historis, wilayah ini merupakan bagian penting dari Kerajaan Kanjuruhan dan kemudian berada di bawah pengaruh Kerajaan Majapahit. Salah satu bukti sejarah tertua adalah Prasasti Cunggrang yang berangka tahun 929 Masehi di Dusun Sukci, yang menyebutkan penetapan wilayah simas (tanah perdikan) oleh Mpu Sindok. Pada masa Majapahit, Pasuruan berfungsi sebagai pelabuhan transit yang vital bagi perdagangan komoditas hasil bumi dari arah Malang menuju dunia luar.

##

Masa Kolonial dan Kejayaan Industri Gula

Memasuki abad ke-17, Pasuruan menjadi rebutan antara Kesultanan Mataram dan kekuatan lokal. Pada tahun 1616, Sultan Agung menaklukkan wilayah ini untuk memperkuat pengaruh Mataram di Jawa Timur. Namun, perubahan drastis terjadi saat VOC mulai menancapkan kuku kekuasaannya. Di bawah administrasi Belanda, Pasuruan bertransformasi menjadi pusat industri gula dunia.

Pada abad ke-19, Pasuruan dikenal sebagai *Suikerstad* (Kota Gula). Keberadaan Proefstation Oost Java (POJ) atau Balai Penyelidikan Perusahaan Perkebunan Gula yang didirikan pada tahun 1887 menjadi tonggak ilmu pengetahuan agraria di Indonesia. Tokoh-tokoh seperti Untung Surapati, pahlawan nasional yang gugur dalam pertempuran melawan Belanda di Bangil pada tahun 1706, menjadi simbol perlawanan heroik rakyat Pasuruan terhadap penjajahan.

##

Era Kemerdekaan dan Perjuangan Rakyat

Selama masa revolusi fisik (1945-1949), Pasuruan menjadi medan pertempuran sengit. Masyarakat Pasuruan, yang dikenal dengan religiusitasnya yang kuat, bergerak di bawah komando ulama dan tokoh masyarakat. Peristiwa perebutan kekuasaan dari tangan Jepang dan perlawanan terhadap Agresi Militer Belanda melibatkan laskar-laskar rakyat yang tangguh. Keberadaan Monumen Sektor Selatan di wilayah Purwosari menjadi saksi bisu perjuangan para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan dari serbuan tentara sekutu yang datang dari arah Surabaya.

##

Warisan Budaya dan Perkembangan Modern

Hingga saat ini, Pasuruan tetap mempertahankan identitasnya sebagai "Kota Santri". Keberadaan pondok pesantren besar seperti Pondok Pesantren Sidogiri (salah satu yang tertua di Indonesia, berdiri sejak 1745) memberikan warna kuat pada karakter sosial masyarakatnya. Selain itu, tradisi seperti Petik Laut di wilayah pesisir (meski kabupaten ini memiliki akses laut, identitas utamanya tetap sebagai daerah agraris dan industri tengah) dan kesenian Pencak Kliningan terus dilestarikan.

Secara modern, Pasuruan telah bertransformasi menjadi pilar industri Jawa Timur melalui kawasan PIER (Pasuruan Industrial Estate Rembang). Integrasi antara sejarah sebagai pusat gula kolonial, warisan religi yang kental, dan kemajuan industri manufaktur menjadikan Pasuruan sebagai entitas unik yang berkontribusi signifikan terhadap ekonomi dan stabilitas nasional Indonesia.

Geography

#

Profil Geografis Kabupaten Pasuruan: Jantung Terestrial Jawa Timur

Kabupaten Pasuruan merupakan salah satu wilayah strategis yang terletak di bagian tengah Provinsi Jawa Timur. Dengan luas wilayah mencapai 1.497,44 km², kabupaten ini memiliki karakteristik geografis yang unik karena posisinya yang terkunci di daratan (landlocked) dalam konteks administratif inti, serta menjadi titik temu jalur transportasi utama antara Surabaya, Malang, dan Banyuwangi. Secara astronomis, wilayah ini membentang pada koordinat 112°33'5" hingga 113°05'37" Bujur Timur dan 7°32'34" hingga 8°03'20" Lintang Selatan.

##

Topografi dan Bentang Alam

Topografi Pasuruan sangat bervariasi, membentuk gradien alami dari dataran rendah di utara hingga pegunungan tinggi di sisi selatan. Wilayah ini dikelilingi oleh tujuh wilayah administratif yang berbatasan langsung, menjadikannya hub geografis yang padat. Bagian selatan didominasi oleh kompleks pegunungan vulkanik aktif dan non-aktif, termasuk lereng Gunung Arjuno, Gunung Welirang, dan bagian dari Pegunungan Tengger. Fenomena geologi yang paling menonjol adalah keberadaan dataran tinggi Tosari yang menjadi salah satu pintu gerbang menuju Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Lembah-lembah curam dan perbukitan bergelombang di kaki gunung memberikan sistem drainase alami bagi wilayah di bawahnya.

##

Hidrologi dan Sistem Perairan

Meskipun tidak berbatasan langsung dengan laut dalam cakupan administratif kabupaten yang spesifik untuk narasi daratan ini, Pasuruan memiliki jaringan hidrologi yang vital. Sungai-sungai besar seperti Sungai Rejoso, Sungai Welang, dan Sungai Kedunglarangan mengalir membelah wilayah ini. Sungai-sungai ini bersumber dari mata air pegunungan di selatan, menyediakan irigasi bagi lahan pertanian luas dan menjadi sumber air industri utama di kawasan PIER (Pasuruan Industrial Estate Rembang).

##

Iklim dan Variasi Musiman

Pasuruan memiliki iklim tropis dengan perbedaan musim yang kontras antara wilayah utara yang cenderung panas dan kering dengan wilayah selatan yang sejuk dan lembap. Suhu di dataran rendah berkisar antara 24°C hingga 34°C, sementara di wilayah pegunungan seperti Prigen dan Tosari, suhu dapat turun hingga 10°C pada musim kemarau. Curah hujan tertinggi biasanya terjadi antara bulan Desember hingga Maret, dipengaruhi oleh angin monsun barat yang membawa massa uap air dari Laut Jawa.

##

Sumber Daya Alam dan Biodiversitas

Kekayaan alam Pasuruan terbagi dalam beberapa sektor kunci. Di sektor mineral, wilayah ini kaya akan agregat batuan andesit dan pasir vulkanik hasil aktivitas gunung berapi. Sektor agraris mendominasi penggunaan lahan dengan komoditas unggulan seperti mangga gadung klonal 21 di daerah pesisir daratan serta apel dan sayuran dataran tinggi di wilayah pegunungan. Secara ekologis, Pasuruan memiliki zona biodiversitas yang kaya, terutama di kawasan hutan lindung Arjuno-Lalijiwo yang menjadi habitat bagi elang jawa dan berbagai flora endemik pegunungan. Hutan produksi yang dikelola Perhutani juga menyumbang komoditas kayu jati dan mahoni yang signifikan bagi ekonomi lokal.

Culture

#

Kekayaan Budaya Pasuruan: Perpaduan Tradisi Pegunungan dan Pesisir

Pasuruan, sebuah wilayah strategis di jantung Jawa Timur, merupakan titik temu budaya yang unik. Meskipun secara administratif terbagi menjadi Kabupaten dan Kota, identitas budayanya menyatu dalam harmoni antara masyarakat agraris, pegunungan, dan santri. Luas wilayahnya yang mencapai 1497,44 km² membentang dari lereng Gunung Bromo hingga dataran rendah, menciptakan keragaman tradisi yang spesifik dan autentik.

##

Tradisi dan Upacara Adat

Salah satu pilar budaya Pasuruan yang paling menonjol adalah tradisi masyarakat Tengger di wilayah Tosari. Upacara Yadnya Kasada merupakan ritual kurban ke kawah Gunung Bromo sebagai bentuk syukur kepada Sang Hyang Widhi. Selain itu, terdapat tradisi Petik Laut di wilayah pesisir (seperti Lekok dan Ngadiwono) yang dilakukan oleh para nelayan sebagai permohonan keselamatan dan kelimpahan rezeki. Di bidang sosial, masyarakat Pasuruan mengenal budaya Tahlilan dan Manaqiban yang sangat kental, mencerminkan julukan Pasuruan sebagai "Kota Santri".

##

Kesenian dan Seni Pertunjukan

Pasuruan memiliki kesenian khas yang disebut Terbang Bandung, sebuah seni musik perkusi rebana yang dipadukan dengan lantunan selawat dan syair-syair pujian. Dalam seni pertunjukan, Tari Terbang Jidor menjadi identitas penting yang menggabungkan unsur gerakan tari dengan iringan musik jidor yang ritmis. Tak kalah menarik adalah kesenian Kuda Lumping dan Bantengan yang sering dipentaskan dalam acara hajatan warga. Di wilayah pegunungan, kesenian Ujung—sebuah ritual adu fisik menggunakan rotan untuk meminta hujan—masih dilestarikan oleh masyarakat pedesaan.

##

Kuliner Khas dan Gastronomi

Identitas kuliner Pasuruan sangat spesifik. Kupang Kraton adalah hidangan wajib yang terdiri dari kerang kecil (kupang) dengan kuah petis yang gurih, disajikan bersama lepet dan sate kerang. Untuk buah tangan, Bipang Jangkar yang legendaris sejak tahun 1940-an menjadi camilan ikonik berbahan dasar nasi yang diolah menjadi berondong manis. Jangan lupakan Klepon Bulang yang terkenal dengan tekstur kenyal dan ledakan gula merah di dalamnya, serta Nasi Punel Bangil yang pulen dengan aneka lauk pauk seperti empal dan dendeng.

##

Bahasa, Dialek, dan Busana tradisional

Masyarakat Pasuruan menggunakan Bahasa Jawa dialek Jawa Timuran dengan aksen yang lugas dan tegas, namun sering menyelipkan kosakata khas seperti penggunaan kata *"Gak Rek"* atau *"Iyo Ta?"* dengan intonasi tertentu. Di wilayah tertentu, pengaruh Bahasa Madura juga cukup kuat (dialek Pandhalungan). Dalam berpakaian, masyarakat pria sering mengenakan Sarung dan Peci sebagai busana harian yang mencerminkan religiositas. Untuk pakaian adat, Batik Pasuruan memiliki motif unik seperti Batik Podhek yang menampilkan corak flora dan fauna lokal seperti burung kepodang dan kembang sirih.

##

Festival Budaya dan Praktik Keagamaan

Sebagai pusat pendidikan Islam di Jawa Timur dengan banyaknya pondok pesantren besar (seperti Sidogiri), festival keagamaan seperti Haul Sayyid Arif dan perayaan Maulid Nabi dirayakan dengan sangat meriah dan melibatkan ribuan peziarah. Selain itu, Pawai Alegoris dan Pasuruan Carnival kini menjadi agenda tahunan yang menampilkan kreativitas modern tanpa meninggalkan akar budaya lokal yang luhur.

Tourism

#

Menjelajahi Pesona Pasuruan: Permata di Jantung Jawa Timur

Terletak strategis di posisi tengah peta Jawa Timur, Kabupaten Pasuruan merupakan destinasi yang menawarkan harmoni sempurna antara pegunungan yang sejuk dan warisan sejarah yang agung. Berbatasan dengan tujuh wilayah administratif (Sidoarjo, Probolinggo, Malang, Batu, Mojokerto, serta Laut Jawa di sisi Utara), Pasuruan menjadi titik temu budaya dan alam yang memikat.

##

Keajaiban Alam: Dari Puncak Bromo hingga Tirta yang Segar

Pasuruan adalah salah satu pintu masuk utama menuju Taman Nasional Bromo Tengger Semeru melalui jalur Tosari. Di sini, wisatawan dapat menikmati matahari terbit yang ikonik tanpa kepadatan yang berlebih. Selain Bromo, Gunung Arjuno-Welirang menawarkan lanskap pendakian yang menantang. Bagi pencinta air, Air Terjun Putuk Truno dan Kakek Bodo di kawasan Prigen menyuguhkan kesegaran alami di balik rimbunnya hutan pinus. Jangan lewatkan pula pengalaman edukatif di Taman Safari Indonesia II Jatim, di mana satwa liar hidup di habitat yang menyerupai alam aslinya di lereng gunung.

##

Jejak Sejarah dan Akulturasi Budaya

Cakrawala budaya Pasuruan dihiasi oleh peninggalan masa lampau yang masih berdiri kokoh. Candi Jawi di Prigen adalah mahakarya arsitektur abad ke-13 yang memadukan unsur Hindu dan Buddha, mencerminkan toleransi beragama sejak zaman Kertanegara. Di pusat kota, nuansa kolonial terasa kental melalui bangunan bersejarah seperti P3GI (Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia) yang mengingatkan kita pada masa kejayaan industri gula dunia. Wisata religi juga sangat kuat di sini, terutama dengan keberadaan Makam KH Abdul Hamid yang menjadi magnet bagi ribuan peziarah setiap tahunnya.

##

Petualangan dan Pengalaman Unik

Bagi pencari adrenalin, Pasuruan menawarkan jalur off-road jeep di hamparan pasir Bromo atau paralayang dari bukit-bukit di kawasan Tutur. Pengalaman unik yang wajib dicoba adalah memetik apel dan bunga krisan langsung di perkebunan rakyat di wilayah Nongkojajar. Udara pegunungan yang bersih menjadikan aktivitas luar ruangan di sini sangat menyegarkan bagi fisik dan pikiran.

##

Gastronomi dan Keramahtamahan Lokal

Perjalanan ke Pasuruan belum lengkap tanpa mencicipi Kupang Kraton yang gurih atau Rawon Nguling yang melegenda dengan potongan daging besarnya. Sebagai buah tangan, Bipang Jangkar yang manis dan renyah adalah camilan ikonik yang telah ada sejak tahun 1949. Untuk akomodasi, Pasuruan memiliki pilihan lengkap, mulai dari resor mewah di kaki gunung hingga homestay ramah kantong milik penduduk lokal yang dikenal sangat terbuka dan hangat.

##

Waktu Terbaik untuk Berkunjung

Waktu ideal untuk mengeksplorasi Pasuruan adalah saat musim kemarau antara bulan Mei hingga September. Pada periode ini, langit di atas Bromo cenderung cerah, dan jalur pendakian sangat aman untuk dijelajahi. Pasuruan bukan sekadar perlintasan, melainkan destinasi yang menjanjikan pengalaman autentik di jantung Jawa Timur.

Economy

#

Profil Ekonomi Kabupaten Pasuruan: Hubungan Strategis Industri dan Agraris

Kabupaten Pasuruan, yang terletak di posisi strategis bagian tengah Jawa Timur dengan luas wilayah 1.497,44 km², merupakan salah satu pilar ekonomi utama di koridor Surabaya-Malang. Sebagai wilayah landlocked yang dikelilingi oleh tujuh wilayah administratif—Probolinggo, Malang, Batu, Mojokerto, Sidoarjo, serta memiliki akses ke Selat Madura di utara—Pasuruan telah bertransformasi menjadi pusat industri manufaktur sekaligus daerah penyangga pangan yang krusial.

##

Aglomerasi Industri dan Investasi

Sektor industri pengolahan menyumbang kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Pasuruan. Kehadiran Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER) menjadi magnet bagi investasi asing (PMA) dan dalam negeri (PMDN). Industri skala besar mendominasi wilayah ini, mencakup sektor makanan-minuman (seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur), industri kimia, farmasi, hingga suku cadang otomotif. Konektivitas infrastruktur melalui Jalan Tol Gempol-Pasuruan dan Tol Pandaan-Malang mempercepat arus logistik, menjadikan wilayah ini pusat distribusi barang di Jawa Timur.

##

Sektor Pertanian dan Hortikultura Unggulan

Meskipun industrialisasi masif, Pasuruan tetap mempertahankan identitas agrarisnya, terutama di wilayah dataran tinggi seperti Tutur dan Prigen. Produk unggulan yang memiliki nilai ekonomi tinggi meliputi Apel Tutur, Durian khas Pasuruan, serta Mangga Gadung Klonal 21 yang telah menembus pasar ekspor. Selain itu, Pasuruan merupakan sentra penghasil bunga sedap malam dan krisan terbesar di Jawa Timur, yang memasok kebutuhan pasar dekorasi di berbagai kota besar. Di sektor peternakan, wilayah Grati dikenal sebagai pusat pengembangan sapi perah yang menyuplai bahan baku bagi industri pengolahan susu nasional.

##

Ekonomi Kreatif dan Kerajinan Tradisional

Ekonomi kerakyatan tumbuh subur melalui sentra kerajinan spesifik. Wilayah Bangil dikenal luas sebagai "Kota Bordir," di mana UMKM lokal memproduksi mukena dan kain bordir berkualitas ekspor. Sementara itu, Kecamatan Rejoso dan Lekok mengembangkan ekonomi berbasis pengolahan hasil perikanan darat dan payau, seperti kupang dan ikan asap. Di sektor furnitur, pengrajin kayu dari wilayah Bukir (daerah perbatasan kota) memiliki reputasi kuat dalam memproduksi mebel ukir tradisional yang bersaing di pasar domestik.

##

Pariwisata dan Penyerapan Tenaga Kerja

Sektor jasa dan pariwisata terkonsentrasi di kawasan pegunungan. Taman Safari Indonesia II di Prigen dan kawasan wisata Cimory Dairyland menjadi mesin penggerak ekonomi yang menyerap ribuan tenaga kerja lokal. Tren ketenagakerjaan di Pasuruan menunjukkan pergeseran bertahap dari sektor pertanian ke sektor manufaktur dan jasa, yang didorong oleh peningkatan upah minimum kabupaten (UMK) yang kompetitif. Dengan integrasi infrastruktur transportasi yang mapan dan diversifikasi sektor ekonomi dari hulu ke hilir, Kabupaten Pasuruan terus memperkokoh posisinya sebagai kawasan pertumbuhan ekonomi paling dinamis di Jawa Timur.

Demographics

#

Demografi Kabupaten Pasuruan: Dinamika Penduduk di Jantung Jawa Timur

Kabupaten Pasuruan merupakan salah satu wilayah strategis di Provinsi Jawa Timur dengan luas wilayah mencapai 1.497,44 km². Sebagai daerah yang terletak di posisi "tengah" atau jantung penghubung antara Surabaya, Malang, dan Probolinggo, Pasuruan memiliki karakteristik demografis yang unik sebagai kawasan industri sekaligus penyangga ketahanan pangan.

Ukuran, Kepadatan, dan Distribusi Penduduk

Berdasarkan data terbaru, populasi Kabupaten Pasuruan telah melampaui 1,6 juta jiwa. Kepadatan penduduk rata-rata mencapai kisaran 1.100 jiwa per km², namun distribusinya tidak merata. Konsentrasi penduduk tertinggi berada di wilayah dataran rendah bagian utara dan tengah seperti Kecamatan Gempol, Beji, dan Bangil yang merupakan koridor industri utama. Sebaliknya, wilayah selatan yang mencakup lereng Gunung Arjuno dan Bromo, seperti Tosari dan Puspo, memiliki kepadatan yang jauh lebih rendah dengan pola pemukiman agraris yang tersebar.

Komposisi Etnis dan Keberagaman Budaya

Pasuruan merupakan titik temu budaya yang kaya. Secara mayoritas, penduduknya adalah etnis Jawa dan Madura yang hidup berdampingan secara harmonis, menciptakan dialek khas "Pasuruanan". Karakteristik unik ditemukan di wilayah pegunungan Tosari yang dihuni oleh suku Tengger dengan tradisi Hindu yang kuat, memberikan kontribusi signifikan terhadap keragaman religi dan budaya di tengah mayoritas masyarakat santri yang kental di wilayah dataran.

Struktur Usia dan Pendidikan

Struktur kependudukan Pasuruan menunjukkan pola piramida ekspansif, didominasi oleh kelompok usia produktif (15-64 tahun). Hal ini menjadi modal "bonus demografi" bagi sektor industri manufaktur daerah. Pemerintah daerah terus mengupayakan peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) melalui pemberantasan buta aksara, di mana angka literasi saat ini telah mencapai lebih dari 95%. Namun, terdapat disparitas tingkat pendidikan; lulusan pendidikan menengah ke atas lebih banyak terkonsentrasi di wilayah perkotaan dibandingkan wilayah pelosok lereng gunung.

Urbanisasi dan Pola Migrasi

Sebagai daerah non-pesisir yang dikelilingi oleh tujuh wilayah tetangga (termasuk Sidoarjo, Malang, dan Probolinggo), Pasuruan menjadi magnet migrasi masuk. Pola urbanisasi didorong oleh keberadaan Kawasan Industri PIER (Pasuruan Industrial Estate Rembang). Migrasi ini bersifat sirkuler, di mana banyak pekerja dari daerah sekitar menetap atau melakukan komuter harian. Fenomena ini menciptakan dinamika masyarakat yang heterogen dan mendorong pertumbuhan sektor jasa serta hunian vertikal di pusat-pusat pertumbuhan baru.

💡 Fakta Unik

  • 1.Wilayah ini merupakan lokasi penandatanganan Piagam Sarusa pada tahun 1289 Masehi, sebuah prasasti yang menandai pembagian kerajaan oleh Raja Kertanegara untuk kedua putranya.
  • 2.Terdapat tradisi unik bernama Reog Bulkiyo yang diciptakan oleh prajurit Pangeran Diponegoro, di mana tarian ini menggabungkan unsur bela diri dan gerakan peperangan yang sangat lincah.
  • 3.Gunung Kelud yang aktif secara vulkanik terletak di perbatasan wilayah ini, menjadikannya salah satu daerah dengan tanah vulkanik paling subur untuk perkebunan nanas.
  • 4.Daerah ini dijuluki sebagai Kota Tahu karena menjadi pusat industri tahu kuning atau tahu takwa yang memiliki tekstur padat dan warna kuning alami dari kunyit.

Destinasi di Pasuruan

Semua Destinasi

Tempat Lainnya di Jawa Timur

Lokasi Serupa

Panduan Perjalanan Terkait

Memuat panduan terkait...

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Uji Pengetahuanmu!

Apakah kamu bisa menebak Pasuruan dari siluet petanya?