Kawasan Pecinan Lasem
di Rembang, Jawa Tengah
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Menelusuri Jejak Akulturasi di Kawasan Pecinan Lasem: Tiongkok Kecil di Pesisir Jawa
Kawasan Pecinan Lasem, yang terletak di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, bukan sekadar sebuah pemukiman tua. Wilayah ini merupakan sebuah pusat kebudayaan hidup yang sering dijuluki sebagai "Le Petit Chinois" atau Tiongkok Kecil. Sebagai salah satu titik pendaratan awal masyarakat Tionghoa di Tanah Jawa, Lasem menawarkan narasi unik tentang harmoni, akulturasi, dan ketahanan budaya yang terpahat pada dinding-dinding rumah berpintu ganda dan gang-gang sempit di Desa Karangturi, Babagan, dan Soditan.
#
Episentrum Akulturasi: Arsitektur dan Tata Ruang
Kawasan Pecinan Lasem berfungsi sebagai museum terbuka yang menampilkan kemegahan arsitektur Indische Empire yang bercampur dengan gaya Tiongkok Selatan. Karakteristik utama pusat kebudayaan ini terletak pada tembok-tembok tinggi yang mengelilingi rumah-rumah besar dengan atap pelana kuda (ngang shan).
Di sini, aktivitas budaya tidak terkurung dalam gedung modern, melainkan tersebar di rumah-rumah kuno yang kini dialihfungsikan menjadi ruang publik, seperti Rumah Merah Karangturi dan Nyah Lasem Museum. Di tempat-tempat inilah, pengunjung dapat menyaksikan bagaimana elemen budaya Tionghoa berpadu selaras dengan tradisi Jawa dan pengaruh kolonial Belanda, menciptakan sebuah identitas visual yang hanya bisa ditemukan di Lasem.
#
Seni Tradisional: Batik Tulis Lasem yang Legendaris
Salah satu pilar utama kebudayaan Lasem adalah industri Batik Tulis Lasem. Berbeda dengan batik dari Solo atau Yogyakarta, Batik Lasem dikenal dengan warna "Abang Getih Pitik" (merah darah ayam) yang khas, sebuah rahasia pewarnaan yang diwariskan secara turun-temurun.
Program budaya di kawasan ini sangat menitikberatkan pada pelestarian seni membatik. Wisatawan dan peneliti dapat mengikuti lokakarya langsung bersama para pengrajin di bengkel-bengkel batik legendaris. Motif-motif seperti Sekar Jagad, Kendoro Kendiri, dan Latohan (rumput laut khas Lasem) bercampur dengan simbol-simbol Tionghoa seperti burung feniks (Liong) dan bunga krisan. Aktivitas ini bukan sekadar simulasi wisata, melainkan upaya transfer pengetahuan dari generasi tua ke generasi muda untuk memastikan teknik pewarnaan alami dan filosofi di balik setiap motif tetap terjaga.
#
Program Edukasi dan Keterlibatan Komunitas
Sebagai pusat kebudayaan, Kawasan Pecinan Lasem menawarkan berbagai program edukasi yang mendalam. Komunitas lokal seperti Lasem Heritage aktif menyelenggarakan "Walking Tour" yang bukan hanya sekadar jalan-jalan, tetapi sesi pembelajaran sejarah mengenai jalur perdagangan candu, penyebaran agama Islam oleh Walisongo di Lasem, serta sejarah masuknya masyarakat Tionghoa.
Keterlibatan komunitas juga terlihat dalam pengelolaan museum-museum privat. Museum Nyah Lasem, misalnya, menyajikan koleksi artefak rumah tangga masa lalu, surat-surat tua, hingga kebaya encim, yang memberikan gambaran tentang kehidupan domestik yang multikultural. Program residensi bagi seniman dan peneliti juga sering diadakan, menjadikan Lasem sebagai laboratorium hidup bagi siapa saja yang ingin mempelajari sosiologi pedesaan dan sejarah maritim Jawa.
#
Perayaan Budaya dan Festival Tahunan
Kawasan Pecinan Lasem mencapai puncak kemeriahannya saat perayaan Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh. Berbeda dengan kota besar, perayaan di sini sangat kental dengan nuansa lokal. Festival kebudayaan biasanya melibatkan kirab budaya yang menampilkan Barongsai dan Liong yang bersanding dengan kesenian tradisional Jawa seperti Reog dan Tari Orek-Orek.
Salah satu acara yang paling dinanti adalah ritual di Klenteng Cu An Kiong, klenteng tertua di Lasem yang memiliki lukisan dinding (mural) kuno menceritakan kisah dewa-dewi Tiongkok. Kehadiran ribuan orang dari berbagai latar belakang etnis dalam festival ini menjadi bukti nyata bahwa Kawasan Pecinan Lasem adalah katalisator kerukunan antarumat beragama di Rembang.
#
Pelestarian Warisan Budaya dan Konservasi Fisik
Pelestarian di Lasem menghadapi tantangan besar antara modernisasi dan konservasi. Namun, upaya revitalisasi yang dilakukan oleh pemerintah pusat dan komunitas lokal telah membuahkan hasil. Program restorasi tidak hanya menyasar pada perbaikan fisik bangunan, tetapi juga pada "roh" dari bangunan tersebut.
Banyak rumah tua yang sebelumnya terbengkalai kini diubah menjadi penginapan (homestay) berbasis budaya. Hal ini memungkinkan pelestarian melalui pemanfaatan ekonomi kreatif. Wisatawan dapat menginap di kamar-kamar dengan furnitur kayu jati ukir kuno, merasakan atmosfer masa lalu, sambil memberikan kontribusi ekonomi langsung kepada pemilik rumah untuk biaya perawatan bangunan yang sangat mahal.
#
Peran dalam Pembangunan Kebudayaan Lokal
Kawasan Pecinan Lasem berperan vital dalam memposisikan Kabupaten Rembang sebagai destinasi wisata sejarah tingkat internasional. Keberadaan pusat kebudayaan ini mendorong tumbuhnya ekosistem ekonomi kreatif di sekitarnya. Industri kuliner khas, seperti Yode (es santan), Lontong Tuyuhan, dan kopi lelet, ikut terangkat seiring dengan populernya kawasan Pecinan.
Lebih jauh lagi, Lasem menjadi simbol "Bhineka Tunggal Ika" yang konkret. Di sini, masjid dan klenteng berdiri berdampingan, dan masyarakatnya telah mempraktikkan toleransi selama berabad-abad. Peran edukatif kawasan ini dalam mengajarkan keberagaman kepada generasi muda Indonesia sangatlah krusial, terutama di tengah arus polarisasi budaya yang meningkat.
#
Kuliner: Jembatan Rasa Tradisi
Tidak lengkap membahas pusat kebudayaan Lasem tanpa menyinggung diplomasi kulinernya. Program kuliner di kawasan ini sering kali melibatkan demonstrasi pembuatan makanan tradisional. Adaptasi kuliner terlihat jelas pada penggunaan rempah-rempah Jawa dalam masakan Tionghoa, atau sebaliknya. Kopi Lelet yang menjadi ikon Rembang, menemukan ruang uniknya di teras-teras rumah Pecinan, di mana warga dari berbagai etnis duduk bersama sambil "nglelet" (membatik rokok dengan ampas kopi), menciptakan ruang dialog informal yang mempererat ikatan sosial.
#
Kesimpulan: Menatap Masa Depan Lasem
Kawasan Pecinan Lasem adalah bukti bahwa sebuah warisan budaya dapat bertahan jika masyarakatnya merasa memiliki dan menghidupinya. Dengan kombinasi antara keagungan arsitektur, kedalaman seni batik, dan kekuatan narasi sejarahnya, Lasem bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia adalah sebuah pusat kebudayaan dinamis yang terus beradaptasi, mengedukasi, dan menginspirasi. Upaya berkelanjutan dalam mengintegrasikan pariwisata, pendidikan, dan konservasi akan memastikan bahwa "Tiongkok Kecil" di pesisir utara Jawa ini akan terus bercerita kepada dunia tentang indahnya keberagaman Indonesia.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Rembang
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Rembang
Pelajari lebih lanjut tentang Rembang dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Rembang