Situs Perahu Kuno Punjulharjo
di Rembang, Jawa Tengah
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Jejak Bahari Nusantara: Mengulas Sejarah Situs Perahu Kuno Punjulharjo
Situs Perahu Kuno Punjulharjo merupakan salah satu temuan arkeologi bawah air dan maritim paling signifikan di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Terletak di Desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, situs ini menyimpan bukti fisik tentang kejayaan teknologi perkapalan Nusantara pada masa lampau. Penemuan ini bukan sekadar tumpukan kayu tua, melainkan sebuah artefak raksasa yang mengubah peta pemahaman sejarawan mengenai konektivitas perdagangan global di pesisir utara Jawa.
#
Kronologi Penemuan dan Periode Sejarah
Perahu kuno ini ditemukan secara tidak sengaja pada tanggal 26 Juli 2008 oleh warga setempat yang sedang menggali tanah untuk pembuatan tambak garam. Pada kedalaman sekitar dua meter di bawah permukaan tanah, cangkul warga membentur struktur kayu yang sangat keras dan besar. Setelah dilakukan identifikasi awal oleh Balai Arkeologi Yogyakarta dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, diketahui bahwa temuan tersebut adalah bangkai kapal kayu yang masih dalam kondisi sangat utuh.
Melalui uji penanggalan karbon (Carbon-14) yang dilakukan di laboratorium di Miami, Amerika Serikat, diketahui bahwa perahu ini berasal dari abad ke-7 hingga ke-8 Masehi, tepatnya sekitar tahun 660-780 M. Rentang waktu ini sezaman dengan masa keemasan Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah dan awal berdirinya Kerajaan Sriwijaya di Sumatera. Temuan ini menegaskan bahwa pada abad ke-7, masyarakat di pesisir Rembang sudah memiliki kemampuan navigasi jarak jauh dan terlibat aktif dalam jaringan perdagangan maritim internasional.
#
Arsitektur dan Teknik Konstruksi Khas Nusantara
Salah satu keunikan utama Situs Perahu Kuno Punjulharjo terletak pada teknik pembuatannya. Perahu ini memiliki panjang sekitar 15 meter dan lebar 4,6 meter. Yang membuatnya istimewa secara arkeologis adalah penggunaan teknik "papan ikat dan kupingan pengikat" (sewn-plank and lashed-lug technique).
Dalam teknik ini, papan-papan kayu disambung tanpa menggunakan paku besi. Alih-alih besi, pembuat kapal menggunakan pasak kayu dan tali ijuk (serat pohon aren) untuk menyatukan lambung kapal. Kayu yang digunakan diidentifikasi sebagai kayu jati (Tectona grandis) dan kayu laban, yang dikenal memiliki ketahanan luar biasa terhadap air laut. Pada bagian dalam papan, terdapat tonjolan-tonjolan kayu yang disebut "kupingan" yang dilubangi untuk memasukkan tali ijuk guna mengikat papan pada gading-gading (kerangka) kapal. Teknik ini merupakan ciri khas teknologi perkapalan tradisional Asia Tenggara atau yang sering disebut oleh para pakar sebagai "Tradisi Perahu Nusantara".
#
Signifikansi Historis dan Hubungan Internasional
Situs Punjulharjo memberikan bukti nyata bahwa wilayah Rembang merupakan pelabuhan penting sebelum munculnya pelabuhan-pelabuhan besar di era kemudian seperti Tuban atau Gresik. Keberadaan perahu ini membuktikan adanya interaksi ekonomi yang intens di sepanjang jalur rempah.
Meskipun tidak ditemukan muatan emas dalam jumlah besar, para arkeolog menemukan fragmen keramik, sisa-sisa tali ijuk, dan tempurung kelapa di sekitar situs. Berdasarkan struktur dan ukurannya, perahu ini diprediksi bukan merupakan kapal perang, melainkan kapal dagang jarak menengah yang mampu mengarungi laut Jawa hingga mencapai selat Malaka atau kepulauan rempah di timur Nusantara. Perahu ini menjadi saksi bisu transisi kebudayaan di Jawa, di mana pengaruh Hindu-Buddha mulai menguat dan perdagangan lintas samudera menjadi tulang punggung ekonomi kerajaan-kerajaan besar.
#
Tokoh dan Konteks Pemerintahan
Walaupun tidak ada prasasti spesifik yang menyebutkan nama pemilik perahu ini, para ahli sejarah mengaitkan periode perahu Punjulharjo dengan masa pemerintahan Dinasti Syailendra di Jawa Tengah. Pada masa itu, penguasa Jawa dikenal memiliki ambisi maritim yang besar, yang juga tercermin dalam relief-relief kapal di Candi Borobudur. Perahu Punjulharjo sering dianggap sebagai versi nyata dari "Kapal Borobudur" yang legendaris, memberikan gambaran fisik tentang bagaimana kapal-kapal yang digambarkan di relief candi tersebut dibangun dan dioperasikan.
#
Pelestarian dan Upaya Konservasi
Karena ditemukan di lahan yang tadinya merupakan rawa dan tambak, kayu perahu ini mengalami proses pelapukan yang cepat saat terpapar udara (oksigen). Oleh karena itu, pemerintah melalui Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah melakukan langkah konservasi yang masif. Saat ini, perahu tersebut dilindungi di dalam sebuah bangunan khusus (shrine/museum lapangan) untuk menjaga kelembapan dan suhu agar kayu tidak hancur.
Proses pengawetan dilakukan dengan merendam kayu menggunakan bahan kimia khusus seperti Polyethylene Glycol (PEG) untuk menggantikan molekul air di dalam sel kayu agar struktur kayu tetap stabil dan tidak mengerut. Situs ini kini telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional, yang berarti perlindungannya berada langsung di bawah pengawasan kementerian terkait.
#
Nilai Budaya dan Edukasi
Bagi masyarakat Rembang, Situs Perahu Kuno Punjulharjo bukan sekadar objek wisata, melainkan simbol identitas sebagai masyarakat pesisir yang tangguh. Keberadaan situs ini memicu kebanggaan lokal akan sejarah bahari nenek moyang mereka. Secara edukatif, situs ini menjadi laboratorium hidup bagi para mahasiswa arkeologi, sejarah, dan teknik perkapalan untuk mempelajari bagaimana manusia masa lalu beradaptasi dengan lingkungan laut.
Secara religius dan sosiologis, penemuan ini juga memberikan gambaran tentang bagaimana distribusi komoditas untuk keperluan ritual keagamaan (seperti dupa atau perlengkapan pemujaan) mungkin dibawa melalui jalur laut ini. Situs ini menghubungkan narasi besar sejarah Nusantara dengan bukti material yang tak terbantahkan.
#
Kesimpulan dan Fakta Unik
Situs Perahu Kuno Punjulharjo tetap berdiri sebagai penemuan perahu kuno terlengkap di Indonesia yang masih berada di lokasi aslinya (in situ). Fakta unik lainnya adalah bahwa meskipun telah terpendam selama lebih dari 1.300 tahun, serat-serat tali ijuk yang digunakan untuk mengikat papan kapal masih dapat terlihat dengan jelas, menunjukkan betapa majunya pengetahuan material masyarakat lokal pada masa itu.
Keberlanjutan situs ini sangat bergantung pada dukungan masyarakat dan pemerintah. Sebagai warisan dunia yang tak ternilai, Situs Punjulharjo adalah pengingat bahwa jauh sebelum teknologi modern masuk, bangsa Indonesia telah menjadi maestro di lautan, merajut hubungan antarpulau dan antarnegara melalui keberanian dan kecerdasan teknik yang luar biasa.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Rembang
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Rembang
Pelajari lebih lanjut tentang Rembang dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Rembang