Kuliner Legendaris

Lontong Tuyuhan

di Rembang, Jawa Tengah

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Asal-Usul dan Filosofi di Balik Nama Tuyuhan

Nama "Lontong Tuyuhan" diambil dari nama desa asalnya, yaitu Desa Tuyuhan yang terletak di Kecamatan Pancur, Rembang. Secara etimologi lokal, kata "Tuyuhan" diyakini berasal dari kata "Tuyu" atau "Tuyo" yang berarti air. Konon, keberadaan kuliner ini berkaitan erat dengan masa dakwah para wali di tanah Jawa.

Cerita tutur yang berkembang di masyarakat menyebutkan bahwa Lontong Tuyuhan pertama kali diperkenalkan oleh seorang tokoh ulama bernama Mbah Sholeh. Beliau menggunakan hidangan ini sebagai sarana berkumpul dan berdakwah. Bentuk lontongnya yang unik—berbentuk segitiga—bukanlah tanpa makna. Segitiga tersebut melambangkan tiga pilar utama dalam ajaran Islam, yaitu Iman, Islam, dan Ihsan. Selain itu, ada pula yang mengartikannya sebagai simbol hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam semesta.

Anatomi Rasa: Karakteristik Khas Lontong Tuyuhan

Sekilas, Lontong Tuyuhan mungkin terlihat mirip dengan opor ayam atau gulai. Namun, begitu sendok pertama menyentuh lidah, perbedaan karakter rasanya akan terasa sangat kontras. Lontong Tuyuhan memiliki profil rasa yang cenderung pedas, gurih, dan sarat akan rempah-rempah (medok), berbeda dengan opor Jawa Tengah pada umumnya yang cenderung manis.

Ciri khas utama yang paling menonjol adalah penggunaan ayam kampung asli yang dimasak hingga sangat empuk namun tetap memiliki tekstur serat yang kuat. Kuah santannya berwarna kuning kemerahan yang pekat, dihasilkan dari perpaduan cabai merah, kunyit, dan kemiri. Kekentalan kuahnya memberikan sensasi creamy yang menyatu sempurna dengan kelembutan lontongnya.

Lontongnya sendiri memiliki tekstur yang sangat halus dan padat. Proses perebusan lontong yang memakan waktu hingga 4-6 jam membuat aromanya menjadi sangat harum karena terbungkus daun pisang pilihan. Bentuk segitiga yang pipih memungkinkan kuah santan meresap lebih baik ke dalam sela-sela lontong saat dipotong-potong.

Rahasia Dapur: Bahan dan Teknik Memasak Tradisional

Kelezatan Lontong Tuyuhan terletak pada keteguhan para pedagangnya dalam mempertahankan resep warisan leluhur. Tidak ada penggunaan penyedap rasa instan yang berlebihan; semua rasa gurih berasal dari kaldu ayam kampung dan rempah-rempah segar.

Bumbu Utama (Bumbu Jangkep):

Bumbu yang digunakan meliputi bawang merah, bawang putih, ketumbar, jintan, merica, pala, jahe, lengkuas, kunyit, dan cabai merah keriting. Salah satu rahasia aromanya adalah penambahan daun salam dan serai yang memadai.

Proses Pengolahan:

1. Pemilihan Ayam: Hanya ayam kampung jantan atau betina yang sudah tua yang digunakan. Hal ini dilakukan agar kaldu yang dihasilkan lebih gurih dan daging tidak hancur saat dimasak lama.

2. Pengolahan Santan: Santan diperas secara manual dari kelapa tua pilihan. Proses pemasakan santan dilakukan dengan api kecil (slow cooking) agar santan tidak pecah dan bumbu meresap hingga ke tulang ayam.

3. Teknik Pengasapan: Secara tradisional, beberapa pengrajin Lontong Tuyuhan masih menggunakan kayu bakar sebagai sumber api. Aroma asap (smoky) yang dihasilkan dari kayu bakar memberikan dimensi rasa unik yang tidak bisa didapatkan dari kompor gas.

Pusat Kuliner Desa Tuyuhan: Warisan Keluarga

Jika Anda berkunjung ke Rembang, pusat otentik untuk menikmati hidangan ini berada di sepanjang jalan Desa Tuyuhan, Kecamatan Pancur. Di sana, terdapat sebuah kompleks pujasera khusus yang menampung puluhan pedagang Lontong Tuyuhan. Uniknya, sebagian besar pedagang di sini adalah generasi ketiga atau keempat dari keluarga pembuat Lontong Tuyuhan pertama.

Sebut saja beberapa nama legendaris yang sudah berjualan selama puluhan tahun. Mereka menjaga konsistensi rasa dengan tidak membuka cabang di luar kota demi menjaga kontrol kualitas. Setiap pagi, sebelum matahari terbit, mereka sudah memulai proses perebusan ayam dan pembuatan lontong agar siap disajikan pada jam makan siang.

Adat dan Tradisi Menyantap Lontong Tuyuhan

Ada sebuah tradisi unik dalam penyajian Lontong Tuyuhan. Secara tradisional, pembeli tidak memesan berdasarkan porsi standar, melainkan bisa memilih bagian ayam tertentu sesuai selera. Bagian yang paling dicari biasanya adalah paha, dada, atau "brutu" (ekor ayam).

Satu hal yang membedakan Lontong Tuyuhan dengan kuliner lainnya adalah keberadaan "Lontong Tambahan". Biasanya, pedagang akan menyediakan piring berisi potongan lontong ekstra di tengah meja. Pelanggan bebas mengambil tambahan lontong tersebut jika merasa satu porsi belum cukup, dan pembayarannya dihitung secara manual berdasarkan jumlah potongan yang dimakan (mirip sistem makan di warung nasi Padang).

Suasana makan di Desa Tuyuhan juga sangat kental dengan nuansa pedesaan. Meja-meja kayu panjang dan kursi bambu (lincak) menghiasi area makan. Para pedagang biasanya mengenakan pakaian sederhana dan melayani dengan keramahan khas masyarakat pesisir yang terbuka.

Lontong Tuyuhan dalam Konteks Sosial Budaya

Bagi masyarakat Rembang, Lontong Tuyuhan adalah menu wajib saat perayaan Idul Fitri (Lebaran Lontong) atau acara-acara hajatan besar. Keberadaannya telah menjadi jembatan sosial yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat. Di pusat kuliner Tuyuhan, Anda akan melihat pejabat daerah duduk bersebelahan dengan supir truk atau petani, semuanya menikmati hidangan yang sama dengan cara yang sama.

Keaslian Lontong Tuyuhan tetap terjaga meski zaman berganti. Para pemuda Desa Tuyuhan banyak yang memilih untuk meneruskan usaha orang tuanya daripada merantau ke kota besar. Hal ini menjadikan Lontong Tuyuhan sebagai salah satu contoh sukses pelestarian warisan kuliner berbasis komunitas.

Tips Menikmati Lontong Tuyuhan

Untuk mendapatkan pengalaman terbaik, disarankan datang ke pusat kuliner Desa Tuyuhan antara pukul 10 pagi hingga 2 siang. Di atas jam tersebut, bagian-bagian ayam favorit biasanya sudah habis terjual. Jangan lupa untuk memesan segelas teh hangat yang diseduh dengan gula batu untuk menyeimbangkan rasa gurih dan pedas dari kuah santan.

Keunikan lain yang sering ditemukan adalah sajian pendamping berupa kerupuk udang atau kerupuk mlarat (kerupuk pasir) khas Rembang. Tekstur kerupuk yang renyah ketika dicelupkan ke dalam kuah Lontong Tuyuhan yang kental menciptakan harmoni rasa yang sulit dilupakan.

Penutup: Konsistensi Sang Legenda

Lontong Tuyuhan adalah bukti nyata bahwa kuliner tradisional mampu bertahan di tengah gempuran makanan modern karena kekuatan rasa dan nilai sejarahnya. Ia bukan sekadar perpaduan beras, ayam, dan santan, melainkan sebuah narasi panjang tentang identitas Desa Tuyuhan dan kearifan masyarakat Rembang.

Setiap mangkuk Lontong Tuyuhan yang disajikan adalah penghormatan terhadap leluhur. Dengan bumbu yang tetap berani (bold) dan teknik memasak yang tetap manual, Lontong Tuyuhan akan terus menjadi destinasi wajib bagi siapa pun yang mendambakan cita rasa asli Nusantara di pesisir utara Jawa. Jika Anda berada di Rembang, sempatkanlah mampir ke Kecamatan Pancur, ikuti aroma rempah yang menguar di udara, dan biarkan Lontong Tuyuhan menceritakan kisahnya melalui setiap suapan.

📋 Informasi Kunjungan

address
Desa Tuyuhan, Kec. Pancur, Kabupaten Rembang
entrance fee
Mulai dari Rp 15.000 per porsi
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 21:00

Tempat Menarik Lainnya di Rembang

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Rembang

Pelajari lebih lanjut tentang Rembang dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Rembang