Situs Sejarah

Istana Alwatzikoebillah

di Sambas, Kalimantan Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Asal-Usul dan Periode Pembangunan

Istana Alwatzikoebillah yang berdiri saat ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Syafiuddin (1922–1943), Sultan Sambas ke-15. Nama "Alwatzikoebillah" sendiri diambil dari gelar kebesaran Sultan, yang memiliki makna religius mendalam, mencerminkan ketaatan kepada Allah SWT. Pembangunan istana ini selesai pada tahun 1933, menggantikan struktur istana lama yang telah ada sejak masa Sultan Muhammad Saifuddin I pada abad ke-17.

Pembangunan istana pada tahun 1930-an tersebut menandai era modernisasi Kesultanan Sambas. Meskipun dibangun di bawah bayang-bayang administrasi kolonial Hindia Belanda, Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Syafiuddin berhasil mempertahankan otonomi budaya dan simbolis melalui pembangunan istana yang megah ini. Istana ini menjadi pusat administrasi tradisional yang mengoordinasi wilayah-wilayah bawahan di sepanjang pesisir dan pedalaman Kalimantan Barat.

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Secara arsitektural, Istana Alwatzikoebillah menunjukkan perpaduan harmonis antara gaya tradisional Melayu, elemen lokal Kalimantan, dan pengaruh kolonial Eropa. Material utama bangunan adalah kayu belian (kayu besi) yang terkenal sangat kuat dan tahan lama, mencerminkan ketangguhan masyarakat Sambas.

Kompleks istana dicat dengan warna kuning khas Melayu yang melambangkan kemuliaan dan kehormatan. Struktur bangunan utamanya terdiri dari tiga bagian:

1. Balairung (Ruang Depan): Digunakan untuk menerima tamu resmi, audiensi publik, dan upacara adat.

2. Rumah Tengah: Ruang pribadi bagi sultan dan keluarga inti, tempat berlangsungnya aktivitas rumah tangga kesultanan.

3. Rumah Burung: Bagian belakang yang berfungsi sebagai dapur dan ruang pelayan.

Salah satu fitur unik adalah keberadaan dua menara pengawas dan pintu gerbang yang megah. Di depan istana, terdapat deretan meriam kuno, termasuk meriam yang dinamai "Si Guntur" dan "Si Jalu," yang merupakan pemberian dari kerajaan-kerajaan sahabat maupun peninggalan masa peperangan. Selain itu, tepat di depan istana, berdiri Masjid Jami' Sultan Syafiuddin, yang membentuk poros spiritual-politik yang lazim ditemukan dalam tata kota kesultanan Islam di Nusantara.

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Istana Alwatzikoebillah merupakan pusat perlawanan diplomatik dan fisik. Selama masa penjajahan Belanda, Kesultanan Sambas memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas perdagangan di Selat Karimata. Pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), istana ini mengalami masa-masa kelam. Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Syafiuddin menjadi salah satu korban dalam Peristiwa Mandor, sebuah tragedi pembantaian kaum intelektual dan penguasa lokal di Kalimantan Barat oleh tentara Jepang.

Kematian Sultan dalam peristiwa tersebut sempat mengguncang tatanan kesultanan, namun Istana Alwatzikoebillah tetap berdiri sebagai simbol identitas rakyat Sambas. Pasca-kemerdekaan Indonesia, istana ini bertransformasi dari pusat pemerintahan menjadi situs sejarah yang dihormati, mewakili kontribusi Kalimantan Barat terhadap pembentukan identitas nasional Indonesia.

Tokoh Penting dan Warisan Budaya

Selain Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Syafiuddin, tokoh lain yang tak terpisahkan dari sejarah istana ini adalah Pangeran Ratu Muhammad Syafiuddin II. Ia dikenal sebagai sosok yang membawa kemajuan dalam bidang pendidikan dan agama. Di bawah pengaruh para sultan, Sambas menjadi pusat pembelajaran Islam yang disegani di Nusantara, melahirkan ulama-ulama besar seperti Syekh Ahmad Khatib Sambas, pendiri Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang memiliki pengikut hingga ke Timur Tengah.

Istana ini juga menyimpan berbagai artefak berharga, termasuk singgasana emas, pakaian kebesaran sultan, payung kuning kerajaan, serta naskah-naskah kuno yang ditulis dalam huruf Jawi. Keberadaan benda-benda ini menegaskan bahwa Sambas pada masa lalu adalah entitas yang berdaulat dengan sistem hukum dan birokrasi yang mapan.

Pentingnya Budaya dan Agama

Hubungan antara istana dan agama Islam sangatlah erat. Gelar "Alwatzikoebillah" yang berarti "Orang yang percaya kepada Allah" menegaskan bahwa sultan bukan hanya pemimpin politik (Amir), tetapi juga pemimpin agama. Setiap hari besar Islam, seperti Idul Fitri dan Idul Adha, istana menjadi pusat perayaan di mana tradisi "Saprahan" (makan bersama secara lesehan dengan menu khas Sambas) dilakukan. Tradisi ini mempererat hubungan antara bangsawan dan rakyat jelata, menghapuskan sekat sosial dalam bingkai persaudaraan Islam.

Status Pelestarian dan Restorasi

Saat ini, Istana Alwatzikoebillah dikelola sebagai museum dan situs cagar budaya di bawah perlindungan Undang-Undang Cagar Budaya Indonesia. Pemerintah daerah Kabupaten Sambas bersama keluarga ahli waris kesultanan terus berupaya melakukan pemeliharaan rutin. Restorasi dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menjaga keaslian material kayu belian dan ornamen-ornamen aslinya.

Meskipun beberapa bagian kayu mulai mengalami pelapukan karena usia dan faktor cuaca tropis, keaslian bentuk bangunan tetap terjaga. Istana ini kini menjadi destinasi wisata sejarah utama di Kalimantan Barat, menarik wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin mempelajari kejayaan Melayu di Pulau Borneo. Upaya digitalisasi arsip dan promosi melalui festival budaya tahunan terus dilakukan untuk memastikan bahwa generasi muda tetap mengenal akar sejarah mereka.

Fakta Unik dan Penutup

Sebuah fakta unik yang jarang diketahui adalah tata letak bangunan istana yang menghadap ke arah barat (kiblat), selaras dengan posisi Masjid Jami' di depannya. Hal ini menunjukkan bahwa sejak perancangannya, istana ini dibangun dengan filosofi "Adat Bersendikan Syarak, Syarak Bersendikan Kitabullah." Selain itu, keberadaan sumur tua di area kompleks istana konon memiliki air yang tidak pernah kering meskipun musim kemarau panjang melanda wilayah Sambas.

Istana Alwatzikoebillah bukan sekadar monumen mati. Ia adalah lambang keberlanjutan sebuah peradaban. Melalui tiang-tiang kayu beliannya yang kokoh, istana ini terus membisikkan kisah tentang kejayaan, perjuangan, dan identitas luhur masyarakat Sambas yang tak lekang oleh waktu. Sebagai salah satu situs sejarah paling penting di Kalimantan Barat, keberadaannya menjadi pengingat akan pentingnya menjaga warisan leluhur di tengah arus modernisasi.

📋 Informasi Kunjungan

address
Desa Dalam Kaum, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas
entrance fee
Donasi sukarela
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 16:00

Tempat Menarik Lainnya di Sambas

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Sambas

Pelajari lebih lanjut tentang Sambas dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Sambas