Bangunan Ikonik

Masjid Jami' Sultan Syafiuddin

di Sambas, Kalimantan Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Kemegahan Arsitektur Kayu: Eksplorasi Masjid Jami' Sultan Syafiuddin Sambas

Masjid Jami' Sultan Syafiuddin, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Jami' Sambas, merupakan sebuah mahakarya arsitektur vernakular yang berdiri kokoh di tepian persimpangan sungai kecil dan Sungai Sambas Besar. Terletak di Desa Dalam Kaum, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan simbol kejayaan Kesultanan Sambas dan manifestasi kecerdasan arsitektur kayu nusantara yang melampaui zamannya.

#

Konteks Sejarah dan Evolusi Pembangunan

Pembangunan Masjid Jami' Sultan Syafiuddin tidak lepas dari sejarah panjang penyebaran Islam di Borneo Barat. Struktur yang berdiri saat ini merupakan hasil renovasi dan perluasan besar-besaran yang diprakarsai oleh Sultan Muhammad Syafiuddin II pada akhir abad ke-19 (sekitar tahun 1885). Sebelumnya, masjid ini merupakan bangunan kayu yang lebih kecil yang didirikan oleh Sultan Umar Akamuddin II.

Keputusan Sultan Syafiuddin II untuk membangun masjid yang lebih megah didorong oleh kebutuhan akan pusat spiritual yang mampu menampung jamaah yang kian bertambah serta keinginan untuk mempertegas identitas Kesultanan Sambas sebagai pusat peradaban Islam di wilayah tersebut. Pembangunannya melibatkan pengrajin kayu terbaik di masanya, yang menggunakan teknik sambungan tradisional tanpa paku logam yang dominan.

#

Prinsip Desain dan Gaya Arsitektur

Secara tipologi, Masjid Jami' Sultan Syafiuddin mengadopsi gaya arsitektur tradisional Melayu-Nusantara dengan pengaruh kuat dari konsep bangunan tropis. Ciri khas utama yang langsung terlihat adalah penggunaan struktur panggung dan atap tumpang (bertingkat).

Masjid ini memiliki atap tiga tingkat (tumpang tiga). Dalam kosmologi arsitektur Islam Nusantara, tiga tingkatan atap ini sering diinterpretasikan sebagai simbolisasi dari jenjang spiritual: Syariat, Tarekat, dan Hakikat/Ma'rifat. Puncak atap dihiasi dengan mustaka atau memolo yang memberikan penegasan vertikal pada bangunan. Material penutup atap aslinya menggunakan sirap dari kayu ulin (kayu besi) yang mampu bertahan selama ratusan tahun meskipun terpapar cuaca ekstrem Kalimantan.

#

Struktur Kayu Ulin dan Inovasi Konstruksi

Hal yang paling mengagumkan dari Masjid Jami' Sambas adalah material penyusunnya. Hampir seluruh bagian bangunan, mulai dari tiang pondasi, lantai, dinding, hingga rangka atap, terbuat dari kayu ulin (Eusideroxylon zwageri). Kayu ini dipilih karena sifatnya yang semakin kuat jika terkena air, sangat relevan dengan lokasinya yang berada di lahan basah tepian sungai.

Sistem struktur masjid ini didukung oleh total 16 tiang utama yang melambangkan angka-angka sakral dalam tradisi lokal. Empat tiang utama di bagian tengah (saka guru) memiliki diameter yang sangat besar dan menjulang tinggi hingga menyangga atap tingkat teratas. Inovasi konstruksi terlihat pada sistem sambungan "pen dan lubang" serta pasak kayu yang memungkinkan bangunan tetap fleksibel namun stabil terhadap getaran atau pergeseran tanah di bantaran sungai.

Salah satu fitur unik adalah desain ventilasi dan sirkulasi udara. Dinding masjid tidak tertutup rapat secara masif; terdapat kisi-kisi kayu (jeruji) yang diukir halus, memungkinkan angin sungai masuk ke dalam ruang utama secara konstan. Hal ini menciptakan mikroklimat yang sejuk di dalam masjid tanpa bantuan pendingin udara modern.

#

Ornamen dan Detail Interior

Interior masjid memancarkan estetika kesederhanaan namun penuh makna. Mihrab atau tempat imam memimpin shalat dibuat menjorok ke luar dan dihiasi dengan ukiran motif flora khas Melayu, seperti sulur-suluran dan bunga melati. Tidak ditemukan motif makhluk hidup (figuratif), sesuai dengan prinsip anikonisme dalam seni Islam.

Mimbar masjid merupakan salah satu elemen paling bernilai sejarah. Terbuat dari kayu ulin dengan ukiran emas yang rumit, mimbar ini merupakan hadiah dari Sultan Brunei pada masa itu sebagai bentuk persahabatan antar-kesultanan Melayu. Ketinggian mimbar dan posisinya dirancang sedemikian rupa agar suara khatib dapat terdengar jelas ke seluruh penjuru ruangan sebelum adanya teknologi pengeras suara.

#

Signifikansi Budaya dan Sosial

Masjid Jami' Sultan Syafiuddin berfungsi sebagai jantung dari tata kota tradisional Sambas yang menganut konsep "Manunggalnya Istana, Masjid, dan Pasar". Lokasinya yang berdekatan dengan Keraton Alwatzikoebillah menunjukkan hubungan erat antara kekuasaan politik (Sultan) dan otoritas agama.

Secara sosial, masjid ini adalah titik temu masyarakat Sambas dari berbagai lapisan. Tradisi-tradisi besar seperti perayaan Maulid Nabi, Isra' Mi'raj, dan upacara adat lokal seringkali dimulai atau dipusatkan di halaman masjid ini. Keberadaan masjid di tepi sungai juga mencerminkan budaya sungai masyarakat Sambas, di mana pada masa lalu, jamaah datang menggunakan sampan dan menambatkannya di dermaga khusus masjid.

#

Pengalaman Pengunjung dan Preservasi Saat Ini

Saat ini, Masjid Jami' Sultan Syafiuddin tetap berfungsi sebagai masjid utama di Kabupaten Sambas. Pengunjung yang datang akan merasakan suasana hening dan sakral saat melangkah di atas lantai kayu ulin yang terasa dingin dan halus karena gesekan kaki jamaah selama berabad-abad. Aroma kayu tua yang khas menyelimuti ruangan, memberikan pengalaman sensorik yang mendalam.

Pemerintah dan pengelola yayasan masjid terus berupaya menjaga keaslian struktur ini. Meskipun beberapa renovasi telah dilakukan, seperti penggantian beberapa keping sirap dan pengecatan ulang, integritas struktur kayunya tetap dipertahankan. Masjid ini telah ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya, yang menjamin perlindungannya dari perubahan arsitektur yang dapat merusak nilai historisnya.

Sebagai ikon arsitektur, Masjid Jami' Sultan Syafiuddin adalah bukti nyata bahwa material lokal dan kearifan tradisional mampu menciptakan bangunan monumental yang tahan lama. Ia berdiri sebagai monumen hidup yang menceritakan kejayaan masa lalu Sambas sekaligus menjadi inspirasi bagi arsitektur berkelanjutan di masa depan yang menghargai material alam dan keselarasan dengan lingkungan air.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Desa Dalam Kaum, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas
entrance fee
Gratis
opening hours
24 Jam (Waktu Shalat)

Tempat Menarik Lainnya di Sambas

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Sambas

Pelajari lebih lanjut tentang Sambas dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Sambas