Kuliner Legendaris

Kawasan Tradisional Marga Tjhia (Kuliner Choipan)

di Singkawang, Kalimantan Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Sejarah dan Warisan Arsitektur Marga Tjhia

Kawasan Marga Tjhia merupakan kompleks rumah keluarga yang dibangun oleh Tjhia Hiap Seng pada tahun 1902. Bangunan ini berdiri kokoh dengan gaya arsitektur campuran Tionghoa dan kolonial, menggunakan kayu ulin pilihan yang masih asli hingga saat ini. Di tengah hiruk-pikuk modernisasi Singkawang, gerbang bertuliskan "Rumah Keluarga Tjhia" menjadi pembatas antara dunia luar yang cepat dengan tradisi yang tenang di dalam.

Sejarah kuliner di tempat ini bermula dari kebiasaan keluarga besar Tjhia yang menyajikan kudapan tradisional bagi para tamu dan kerabat. Seiring berjalannya waktu, kelezatan Choipan buatan keluarga ini menyebar dari mulut ke mulut, hingga akhirnya menjadi destinasi wajib bagi siapa pun yang menginjakkan kaki di Singkawang. Bagi masyarakat setempat, menyantap Choipan di teras rumah Marga Tjhia bukan sekadar makan, melainkan bentuk penghormatan terhadap leluhur dan pelestarian budaya.

Choipan: Mahakarya Sederhana dengan Cita Rasa Mendalam

Bintang utama dari kawasan ini adalah Choipan (atau dalam bahasa Hakka disebut Chai Kue). Secara etimologi, "Choi" berarti sayur dan "Pan" berarti kue atau kue keranjang. Meskipun terlihat sederhana, Choipan Marga Tjhia memiliki karakteristik yang membedakannya dari varian serupa di daerah lain.

Ciri khas utama terletak pada kulitnya. Kulit Choipan di sini sangat tipis, transparan, namun memiliki tekstur yang kenyal dan tidak mudah pecah. Melalui kulit yang bening tersebut, kita dapat melihat isian di dalamnya yang padat dan berwarna warni. Ada tiga varian isian utama yang menjadi favorit:

1. Isian Bengkuang: Merupakan varian paling klasik. Bengkuang diiris korek api tipis, kemudian ditumis dengan ebi (udang kering) hingga layu namun tetap memiliki tekstur crunchy.

2. Isian Kucai: Memberikan aroma yang tajam dan segar, sangat digemari oleh mereka yang menyukai rasa herbal yang kuat.

3. Isian Rebung: Memiliki tekstur yang lebih padat dan rasa gurih yang unik, memberikan variasi rasa yang lebih kompleks.

Rahasia Dapur: Bahan Baku dan Teknik Pembuatan Tradisional

Keunggulan Choipan Marga Tjhia terletak pada penggunaan bahan-bahan lokal berkualitas tinggi dan teknik pembuatan yang masih mempertahankan cara-cara tradisional.

#

Komposisi Kulit yang Presisi

Kulit Choipan dibuat dari campuran tepung beras dan tepung tapioka (kanji). Rahasianya terletak pada kualitas tepung beras yang digiling sendiri untuk memastikan kesegarannya. Air mendidih dicampurkan ke dalam tepung secara perlahan sambil terus diaduk hingga menjadi kalis. Proses pengulenan dilakukan manual dengan tangan untuk mendapatkan tingkat kelenturan yang pas.

#

Pengolahan Isian (Filling)

Untuk varian bengkuang, kunci kelezatannya ada pada proses pemerasan air bengkuang setelah diparut. Hal ini dilakukan agar saat dikukus, air dari bengkuang tidak merembes dan merusak tekstur kulit. Ebi yang digunakan adalah ebi pilihan dari pesisir Kalimantan Barat yang memiliki rasa manis alami dan aroma laut yang segar.

#

Teknik Mengukus dan Topping

Setelah dibentuk menyerupai bulan sabit atau setengah lingkaran kecil, Choipan ditata di atas nampan bambu yang telah dialasi daun pisang. Daun pisang yang diolesi sedikit minyak ini memberikan aroma harum yang khas saat terkena uap panas. Proses pengukusan hanya memakan waktu sekitar 5 hingga 7 menit.

Begitu keluar dari kukusan, Choipan segera diolesi dengan minyak bawang putih. Minyak ini bukan sembarang minyak; bawang putih dicincang halus dan digoreng hingga berwarna kuning keemasan (golden brown). Taburan bawang putih goreng inilah yang memberikan ledakan rasa gurih dan aroma yang membangkitkan selera.

Sambal Cuka: Jiwa dari Choipan

Sebuah porsi Choipan di Marga Tjhia tidak akan sempurna tanpa kehadiran sambal cairnya yang legendaris. Sambal ini memiliki profil rasa pedas, asam, dan sedikit manis. Terbuat dari cabai rawit merah yang dihaluskan, dicampur dengan cuka alami dan sedikit gula pasir. Rasa asam yang tajam dari sambal ini berfungsi sebagai penyeimbang (palate cleanser) dari minyak bawang putih yang gurih, menciptakan harmoni rasa yang membuat penikmatnya sulit untuk berhenti pada satu suapan.

Budaya Makan dan Atmosfer di Marga Tjhia

Menikmati kuliner di Kawasan Tradisional Marga Tjhia menawarkan pengalaman sensorik yang lengkap. Pengunjung biasanya duduk di meja-meja kayu tua di area teras atau halaman dalam (inner courtyard) bangunan. Di sini, interaksi antara penjual (yang merupakan keturunan langsung keluarga Tjhia) dengan pembeli berlangsung sangat hangat.

Ada sebuah etika tidak tertulis saat menikmati Choipan di sini: sabar menunggu. Karena Choipan dibuat secara dadakan (freshly made), pengunjung sering kali harus menunggu giliran saat pesanan sedang membludak, terutama pada musim libur Imlek atau Cap Go Meh. Namun, pemandangan para perajin Choipan yang dengan lincah melipat kulit dan mengisi bahan di dapur terbuka menjadi tontonan budaya yang menarik tersendiri.

Signifikansi Budaya dan Pelestarian

Kawasan Tradisional Marga Tjhia dan kuliner Choipan-nya adalah simbol dari asimilasi budaya dan ketahanan tradisi. Choipan sendiri merupakan hasil adaptasi kuliner Tionghoa Hakka dengan ketersediaan bahan pangan lokal di Kalimantan. Keberadaan tempat ini juga menunjukkan bagaimana sebuah keluarga besar mampu mempertahankan warisan arsitektur dan kuliner mereka selama lebih dari satu abad.

Bagi Kota Singkawang, Marga Tjhia adalah aset pariwisata yang tak ternilai. Kawasan ini membuktikan bahwa kuliner legendaris tidak hanya soal rasa, tetapi juga soal cerita di baliknya. Setiap gigitan Choipan menyimpan narasi tentang kerja keras, kebersamaan keluarga, dan kecintaan terhadap tanah air yang ditempati.

Kesimpulan

Kawasan Tradisional Marga Tjhia (Kuliner Choipan) bukan sekadar tempat makan, melainkan museum hidup bagi kebudayaan Tionghoa di Singkawang. Keaslian rasa yang tetap terjaga sejak puluhan tahun lalu, dipadukan dengan suasana bangunan bersejarah yang megah, menjadikan setiap kunjungan ke sini sebagai pengalaman kuliner yang spiritual. Jika Anda mencari jati diri rasa dari Singkawang, maka sepiring Choipan hangat dengan taburan bawang putih melimpah di teras rumah Marga Tjhia adalah jawabannya. Sebuah bukti nyata bahwa tradisi, jika dirawat dengan cinta, akan tetap relevan dan dicintai melintasi zaman.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Budi Utomo, Condong, Kec. Singkawang Bar., Kota Singkawang
entrance fee
Harga menu mulai dari Rp 2.000 per buah
opening hours
Setiap hari, 09:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Singkawang

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Singkawang

Pelajari lebih lanjut tentang Singkawang dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Singkawang