Situs Sejarah

Rumah Keluarga Tjhia

di Singkawang, Kalimantan Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Warisan Peradaban Tionghoa: Sejarah Lengkap Rumah Keluarga Tjhia di Singkawang

Rumah Keluarga Tjhia bukan sekadar bangunan tua yang berdiri kokoh di tengah hiruk-pikuk Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Terletak di Jalan Tradisional (sekarang Jalan Budi Utomo), situs sejarah ini merupakan monumen hidup yang merekam jejak migrasi, keberhasilan ekonomi, dan asimilasi budaya masyarakat Tionghoa di tanah Borneo. Sebagai salah satu cagar budaya terpenting di Kota Seribu Kelenteng, Rumah Keluarga Tjhia menawarkan narasi mendalam tentang bagaimana sebuah dinasti keluarga membangun pengaruhnya sejak masa kolonial hingga era modern.

#

Asal-usul dan Pendirian: Jejak Langkah Tjhia Hiap Seng

Sejarah Rumah Keluarga Tjhia berakar pada sosok Tjhia Hiap Seng, seorang imigran asal Fujian, Tiongkok, yang datang ke Kalimantan Barat pada pertengahan abad ke-19. Kedatangannya merupakan bagian dari gelombang migrasi besar warga Tiongkok yang tertarik oleh potensi pertambangan emas di wilayah Monterado dan sekitarnya. Namun, alih-alih bertahan di sektor pertambangan yang mulai meredup, Tjhia Hiap Seng memilih jalur perdagangan dan perkebunan.

Pembangunan kompleks rumah ini dimulai pada tahun 1901 dan selesai sekitar tahun 1902. Lokasinya dipilih secara strategis di pinggiran Sungai Singkawang, yang saat itu merupakan urat nadi transportasi barang dan manusia. Tjhia Hiap Seng membangun rumah ini tidak hanya sebagai tempat tinggal bagi keturunannya, tetapi juga sebagai pusat operasional bisnis ekspor-impor yang mencakup komoditas karet, kopra, dan lada. Keberhasilan ekonomi Tjhia Hiap Seng membuatnya menjadi salah satu tokoh terpandang dan dihormati baik oleh Pemerintah Kolonial Belanda maupun masyarakat lokal.

#

Arsitektur: Harmoni Tipologi Tiongkok dan Adaptasi Tropis

Secara arsitektural, Rumah Keluarga Tjhia adalah contoh luar biasa dari gaya "Si He Yuan" atau rumah halaman tertutup yang dimodifikasi. Kompleks ini berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 5.000 meter persegi, terdiri dari dua bangunan utama yang dipisahkan oleh sebuah halaman tengah (courtyard) yang luas.

Struktur bangunan didominasi oleh penggunaan material kayu belian (kayu besi) yang terkenal sangat kuat dan tahan terhadap cuaca ekstrem Kalimantan. Atapnya berbentuk pelana dengan ornamen "ekor walet" yang khas pada bagian bubungan, mencerminkan strata sosial pemiliknya yang berasal dari golongan berada. Salah satu keunikan teknisnya adalah sistem penguncian kayu tanpa paku (pantek) yang masih bertahan hingga saat ini.

Meskipun kental dengan gaya arsitektur Tiongkok Selatan, terdapat adaptasi lokal yang signifikan. Langit-langit dibuat tinggi untuk sirkulasi udara di iklim tropis yang panas, serta penggunaan jendela-jendela besar yang memungkinkan cahaya alami masuk ke dalam ruangan. Di dalam rumah, pembagian ruang mengikuti hierarki tradisional: bagian depan untuk menerima tamu, bagian tengah untuk altar leluhur, dan bagian belakang untuk area privat keluarga.

#

Signifikansi Historis dan Peran dalam Komunitas

Rumah Keluarga Tjhia memegang peranan penting dalam sejarah perkembangan Kota Singkawang. Selama masa penjajahan Belanda, rumah ini sering menjadi tempat pertemuan antara para pedagang lintas negara dan pejabat kolonial. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga Tjhia berfungsi sebagai jembatan ekonomi antara pedalaman Kalimantan dengan pasar internasional melalui pelabuhan Singkawang.

Pada masa pendudukan Jepang, kompleks ini sempat mengalami masa-masa sulit, namun tetap berdiri tegak berkat soliditas keluarga besar Tjhia. Nilai sejarahnya semakin kuat karena rumah ini menjadi saksi bisu evolusi Singkawang dari sebuah pelabuhan kecil menjadi kota perdagangan yang kosmopolitan. Di sini, tradisi Tionghoa dijaga dengan ketat, mulai dari perayaan Imlek hingga ritual penghormatan leluhur yang dilakukan setiap hari di altar utama.

#

Tokoh Penting dan Warisan Budaya

Selain Tjhia Hiap Seng sebagai pendiri, generasi-generasi berikutnya terus menjaga eksistensi rumah ini. Keberadaan marga Tjhia di Singkawang identik dengan kedermawanan dan kontribusi sosial. Mereka berperan dalam pembangunan fasilitas publik di sekitarnya, termasuk dukungan terhadap operasional kelenteng-kelenteng tua di Singkawang.

Salah satu fakta unik adalah Rumah Keluarga Tjhia tetap dihuni oleh keturunan langsung Tjhia Hiap Seng hingga generasi ketujuh. Hal ini menjadikannya salah satu rumah keluarga tertua di Indonesia yang masih berfungsi sebagai tempat tinggal sekaligus museum hidup. Keberadaan "Choi Pan" (makanan khas Singkawang) yang dijual di area belakang rumah oleh keturunan keluarga juga menjadi daya tarik tersendiri, menghubungkan warisan sejarah dengan gastronomi lokal.

#

Pelestarian dan Status Cagar Budaya

Sadar akan nilai historisnya yang tak ternilai, Pemerintah Kota Singkawang dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) telah menetapkan Rumah Keluarga Tjhia sebagai Situs Cagar Budaya. Upaya konservasi dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menjaga keaslian material bangunan. Kayu belian yang sudah berusia lebih dari satu abad dipertahankan, sementara pengecatan ulang dilakukan dengan warna-warna tradisional yang tidak menghilangkan kesan antik.

Restoran dan area publik yang dikelola oleh keluarga di dalam kompleks merupakan strategi adaptasi agar situs sejarah ini tetap relevan dan memiliki biaya mandiri untuk perawatan. Pengunjung tidak hanya melihat bangunan, tetapi bisa merasakan atmosfer kehidupan keluarga Tionghoa masa lalu melalui foto-foto tua, perabot antik, dan silsilah keluarga yang dipajang di dinding ruang utama.

#

Makna Budaya dan Religi

Rumah ini juga berfungsi sebagai pusat spiritual bagi keluarga besar Tjhia. Di ruang tengah, terdapat altar leluhur yang megah dengan papan nama (sinci) para pendahulu. Ritual Ceng Beng (ziarah kubur) dan ibadah harian tetap dijalankan secara turun-temurun. Bagi masyarakat Singkawang secara luas, Rumah Keluarga Tjhia adalah simbol keharmonisan dan ketahanan budaya. Ia menjadi bukti bagaimana identitas etnis Tionghoa dapat tumbuh berdampingan dengan budaya Melayu dan Dayak di Kalimantan Barat, menciptakan apa yang sekarang dikenal sebagai semangat toleransi Singkawang.

#

Kesimpulan

Rumah Keluarga Tjhia bukan sekadar tumpukan kayu dan batu. Ia adalah manifestasi dari kerja keras, nilai-nilai kekeluargaan, dan sejarah panjang perantauan Tionghoa di Nusantara. Dengan arsitekturnya yang megah dan cerita-cerita yang tersimpan di setiap sudut ruangnya, rumah ini akan terus menjadi mercusuar sejarah bagi generasi mendatang yang ingin mempelajari akar identitas Kota Singkawang. Menjaga Rumah Keluarga Tjhia berarti menjaga sepotong ingatan kolektif tentang kejayaan perdagangan dan kedalaman budaya di tanah Borneo.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Budi Utomo No.45, Condong, Kec. Singkawang Bar., Kota Singkawang
entrance fee
Gratis
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 18:00

Tempat Menarik Lainnya di Singkawang

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Singkawang

Pelajari lebih lanjut tentang Singkawang dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Singkawang