Situs Sejarah

Makam Cut Nyak Dhien

di Sumedang, Jawa Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Latar Belakang Sejarah: Dari Tanah Rencong ke Bumi Sumedang

Perjalanan Cut Nyak Dhien menuju Sumedang dimulai dari pertempuran sengit di hutan-hutan Aceh. Setelah kematian suaminya, Teuku Umar, pada tahun 1899, Cut Nyak Dhien melanjutkan gerilya memimpin pasukan melawan Belanda. Namun, seiring bertambahnya usia dan menurunnya kesehatan—termasuk gangguan penglihatan dan penyakit encok—kondisi fisiknya melemah. Pada tahun 1905, ia ditangkap oleh pasukan Belanda di bawah pimpinan Pang Laot untuk mencegah pengaruhnya yang terus membakar semangat perlawanan rakyat Aceh.

Karena khawatir keberadaannya di Aceh akan memicu pemberontakan baru, pemerintah kolonial Belanda memutuskan untuk mengasingkannya sejauh mungkin. Pada tanggal 11 Desember 1906, Cut Nyak Dhien tiba di Sumedang sebagai tahanan politik. Namun, sosoknya yang karismatik membuat masyarakat setempat tidak melihatnya sebagai tahanan, melainkan sebagai ulama wanita yang dihormati. Selama masa pengasingannya, ia tinggal di rumah milik Haji Sanusi, seorang tokoh agama setempat, dan kemudian menetap di bawah pengawasan Bupati Sumedang saat itu, Pangeran Aria Suria Atmadja (Pangeran Mekah).

Arsitektur dan Detail Konstruksi Makam

Makam Cut Nyak Dhien terletak di kompleks pemakaman keluarga Bupati Sumedang di Gunung Puyuh. Secara arsitektural, situs ini telah mengalami beberapa kali renovasi untuk memberikan penghormatan yang layak bagi sang pahlawan. Cungkup atau bangunan pelindung makam menampilkan perpaduan gaya arsitektur tradisional Aceh dan Jawa Barat. Atapnya yang berbentuk limasan memberikan kesan keteduhan, sementara tiang-tiang penyangga kayu yang kokoh mencerminkan simbol kekuatan karakter sang tokoh.

Batu nisan Cut Nyak Dhien memiliki ciri khas yang unik. Pada bagian nisan, terdapat pahatan kaligrafi Arab yang sangat halus, yang mencantumkan riwayat singkat serta ayat-ayat suci Al-Qur'an. Lantai di sekitar makam dilapisi ubin marmer yang selalu terjaga kebersihannya. Di sekeliling area utama, terdapat pagar besi tempa yang membatasi area inti makam untuk menjaga kekhusyukan para peziarah. Desain keseluruhannya menonjolkan estetika Islam yang kental, selaras dengan identitas Cut Nyak Dhien sebagai seorang pejuang yang berlandaskan agama.

Makna Historis dan Peristiwa Penting

Hal yang paling unik dari sejarah makam ini adalah fakta bahwa identitas asli Cut Nyak Dhien sempat tersembunyi selama puluhan tahun. Selama masa pengasingannya di Sumedang (1906–1908), masyarakat setempat hanya mengenalnya dengan sebutan "Ibu Perbu" atau "Ibu Suci" karena kefasihan beliau dalam mengajarkan Al-Qur'an dan bahasa Arab, meskipun ia tidak bisa berbahasa Sunda. Identitas aslinya sebagai pemimpin perang dari Aceh baru terungkap secara luas pada tahun 1960-an setelah dilakukan penelitian mendalam oleh pemerintah Indonesia dan pemerintah daerah Aceh.

Pada tahun 1964, melalui Keputusan Presiden No. 106, Cut Nyak Dhien secara resmi diakui sebagai Pahlawan Nasional. Pencarian makam yang tepat melibatkan penelusuran data dari arsip Belanda (Koloniaal Verslag) serta kesaksian lisan dari keturunan keluarga Haji Sanusi yang merawatnya hingga beliau wafat pada 6 November 1908. Penemuan kembali makam ini menjadi momentum penting dalam sejarah persatuan nasional, menghubungkan ujung barat Sumatra dengan jantung Jawa Barat.

Tokoh Terkait dan Periode Pengasingan

Selama di Sumedang, Cut Nyak Dhien tidak pernah diperlakukan layaknya narapidana biasa oleh warga setempat. Pangeran Aria Suria Atmadja, Bupati Sumedang yang sangat progresif, memastikan bahwa kenyamanan dan kebutuhan sang pejuang terpenuhi. Interaksi antara Cut Nyak Dhien dengan keluarga bupati dan ulama Sumedang menciptakan sinergi budaya. Meskipun ia berada dalam pengasingan, periode ini justru menjadi masa penyebaran ilmu agama yang intensif di Sumedang. Keberadaan beliau memperkuat tradisi literasi Islam di wilayah tersebut, di mana beliau menjadi rujukan bagi kaum perempuan Sumedang untuk belajar mengaji.

Status Pelestarian dan Restoran

Saat ini, Makam Cut Nyak Dhien dikelola dengan baik oleh Pemerintah Kabupaten Sumedang bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Aceh. Situs ini telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya. Upaya restorasi besar-besaran dilakukan pada tahun 1980-an, di mana area makam diperluas dan fasilitas pendukung bagi peziarah dibangun. Pembangunan jalan akses yang lebih baik dan area parkir mempermudah ribuan peziarah yang datang setiap tahunnya, terutama pada hari-hari besar Islam atau hari pahlawan.

Satu fakta unik dalam pelestarian situs ini adalah tanah di sekitar makam yang dianggap sakral oleh masyarakat. Pemeliharaan fisik bangunan dilakukan secara berkala untuk mencegah kerusakan akibat cuaca, mengingat lokasi Gunung Puyuh yang memiliki kelembapan tinggi. Pemerintah Aceh juga rutin memberikan dukungan finansial dan pendampingan sejarah guna memastikan narasi yang disampaikan kepada pengunjung tetap akurat sesuai dengan fakta sejarah Aceh.

Signifikansi Budaya dan Religi

Secara kultural, Makam Cut Nyak Dhien menjadi simbol "perekat" antara suku Aceh dan suku Sunda. Setiap tahun, pemerintah Aceh sering mengadakan upacara peringatan atau kunjungan resmi ke Sumedang, yang mempererat hubungan diplomatik antar-daerah. Bagi masyarakat lokal, makam ini adalah situs religi yang penting. Banyak peziarah datang untuk mendoakan almarhumah sekaligus mengambil ibrah (pelajaran) dari keteguhan iman dan keberaniannya melawan ketidakadilan.

Julukan "Ibu Perbu" yang melekat pada beliau hingga kini di Sumedang menunjukkan betapa tingginya asimilasi budaya yang terjadi. Ia tidak dianggap sebagai orang asing, melainkan bagian dari keluarga besar Sumedang. Warisan non-fisik berupa semangat juang dan kecintaan terhadap Al-Qur'an yang beliau tanamkan selama dua tahun di Sumedang menjadi warisan abadi yang lebih besar daripada sekadar bangunan fisik makam itu sendiri.

Makam Cut Nyak Dhien di Gunung Puyuh tetap berdiri tegak sebagai saksi bisu bahwa meski raga bisa diasingkan dan dipenjara, semangat perlawanan terhadap penjajahan dan pengabdian kepada Tuhan tidak akan pernah bisa diredam. Situs ini menjadi pengingat bagi generasi muda Indonesia tentang harga sebuah kemerdekaan dan pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman suku bangsa.

📋 Informasi Kunjungan

address
Jl. Pangeran Santri, Gunung Puyuh, Kec. Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang
entrance fee
Sukarela
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Sumedang

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Sumedang

Pelajari lebih lanjut tentang Sumedang dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Sumedang