Situs Sejarah

Museum Prabu Geusan Ulun

di Sumedang, Jawa Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Kejayaan Kerajaan Pajajaran di Museum Prabu Geusan Ulun

Museum Prabu Geusan Ulun bukan sekadar bangunan penyimpan artefak, melainkan jantung sejarah yang memelihara memori kolektif masyarakat Sunda, khususnya trah Kerajaan Sumedang Larang. Terletak di pusat Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, museum ini berdiri megah di dalam kompleks Pendopo Kabupaten Sumedang sebagai saksi bisu transisi kekuasaan dari sisa-sisa Kerajaan Pajajaran menuju era Kesultanan Islam dan masa kolonial.

#

Asal-Usul dan Fondasi Sejarah

Museum ini secara resmi didirikan pada tanggal 13 Maret 1973 atas inisiatif Yayasan Pangeran Sumedang (YPS). Nama "Prabu Geusan Ulun" diambil dari sosok raja terakhir Kerajaan Sumedang Larang yang memerintah antara tahun 1578–1601. Nama ini dipilih bukan tanpa alasan; di bawah kepemimpinan Prabu Geusan Ulun, Sumedang Larang menerima mandat "Mahkota Binokasih Sanghyang Pake" dari Kerajaan Pajajaran yang mulai runtuh akibat serangan Banten. Penyerahan mahkota ini menandakan bahwa Sumedang Larang adalah penerus sah (legitimate successor) dari trah Prabu Siliwangi.

Gedung-gedung yang membentuk kompleks museum ini memiliki usia yang bervariasi, dimulai dari bangunan tertua yang didirikan pada masa pemerintahan Pangeran Kornel (Pangeran Kusumadinata IX) pada abad ke-18 hingga awal abad ke-19.

#

Arsitektur dan Kompleks Bangunan

Secara arsitektural, Museum Prabu Geusan Ulun merupakan perpaduan harmonis antara gaya tradisional Sunda, pengaruh Islam Jawa, dan sentuhan kolonial "Indische". Museum ini tidak menempati satu bangunan tunggal, melainkan terdiri dari lima gedung utama yang masing-masing memiliki fungsi dan karakteristik unik:

1. Gedung Srimanganti: Dibangun pada tahun 1706 oleh Dalem Adipati Tanamubaya. Bangunan ini awalnya berfungsi sebagai tempat tinggal bupati dan tempat menerima tamu kehormatan. Arsitekturnya mencerminkan gaya rumah panggung bangsawan Sunda dengan sentuhan Eropa pada bagian jendela dan pintunya.

2. Gedung Bumi Kaler: Didirikan pada tahun 1850 di masa Pangeran Suria Kusumah Adinata. Bangunan ini menyimpan aura sakral karena sering digunakan untuk upacara adat dan penyimpanan benda-benda pusaka paling penting.

3. Gedung Kutamaya: Bangunan yang lebih modern namun tetap mempertahankan estetika klasik, berfungsi sebagai ruang pameran utama untuk benda-benda sejarah umum.

4. Gedung Gamelan: Ruang khusus yang menampung koleksi alat musik tradisional yang sangat tua dan masih berfungsi dengan baik.

5. Gedung Kereta: Bangunan yang dirancang khusus untuk menyimpan kereta-kereta kencana milik bupati Sumedang terdahulu.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Nilai historis museum ini berpijak pada peristiwa "Pajajaran Anyar". Ketika Kerajaan Pajajaran di Pakuan (Bogor) hampir runtuh, empat orang patih (Kandaga Lante) membawa Mahkota Binokasih dan menyerahkannya kepada Prabu Geusan Ulun. Peristiwa ini mengubah status Sumedang Larang dari kerajaan bawahan menjadi kerajaan berdaulat penuh yang mewarisi otoritas kebudayaan Sunda.

Selain itu, museum ini mencatat sejarah perlawanan heroik Pangeran Kornel terhadap kebijakan kerja paksa (Rodi) Gubernur Jenderal Daendels dalam pembangunan Jalan Raya Pos (Grote Postweg) di Cadas Pangeran. Keberanian Pangeran Kornel yang berjabat tangan dengan tangan kiri sementara tangan kanannya memegang hulu keris saat bertemu Daendels diabadikan melalui narasi dan benda-benda peninggalannya di museum ini.

#

Koleksi Pusaka dan Tokoh Utama

Tokoh sentral yang terkait erat dengan museum ini tentu saja adalah Prabu Geusan Ulun dan Pangeran Kornel. Namun, koleksi di dalamnya mencakup spektrum yang lebih luas, termasuk peninggalan Pangeran Sugih dan Pangeran Mekah.

Koleksi paling spektakuler dan tak ternilai harganya adalah Mahkota Binokasih Sanghyang Pake. Mahkota ini terbuat dari emas murni 18 karat dengan berat sekitar 8 kilogram. Selain mahkota, museum ini menyimpan berbagai jenis senjata pusaka seperti Keris Ki Naga Sasra, Keris Ki Gajah Dumung, serta berbagai jenis pedang dan tombak peninggalan masa Pajajaran dan Mataram Islam.

Museum ini juga memiliki koleksi Gamelan Sari Oneng yang sangat terkenal, yang konon pernah dimainkan di Pameran Dunia di Paris pada akhir abad ke-19. Keunikan lain adalah koleksi naskah kuno (manuskrip) yang ditulis di atas daun lontar dan kertas kuno yang menceritakan silsilah (sajarah) serta ajaran moral masyarakat Sunda lama.

#

Kelestarian dan Fungsi Budaya-Religius

Hingga saat ini, Museum Prabu Geusan Ulun dikelola dengan sangat baik oleh Yayasan Pangeran Sumedang. Upaya konservasi dilakukan secara berkala, terutama untuk pembersihan benda-benda logam (jamasan) yang dilakukan setiap bulan Maulud dalam kalender Hijriah. Ritual Nyalira atau pencucian benda pusaka ini bukan sekadar perawatan teknis, melainkan bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai luhur nenek moyang.

Restoran dan pemugaran bangunan dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menjaga keaslian material kayu dan bentuk atapnya. Museum ini juga berfungsi sebagai pusat edukasi bagi peneliti sejarah dari dalam dan luar negeri yang ingin mendalami transisi kekuasaan di Jawa bagian barat.

Secara kultural, museum ini dianggap sebagai "Puseur Budaya" (Pusat Budaya) Sumedang. Keberadaannya memperkuat identitas Sumedang sebagai "Puser Budaya Sunda". Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat benda mati, tetapi sering kali menyaksikan latihan tari klasik atau permainan gamelan yang masih dihidupkan oleh komunitas seni setempat di lingkungan museum.

#

Fakta Unik: Kereta Kencana Naga Paksi

Salah satu fakta unik yang jarang ditemukan di museum lain adalah keberadaan Kereta Kencana Naga Paksi. Kereta ini memiliki desain yang sangat kompleks, menggabungkan unsur mitis tiga hewan: Naga (simbol kekuatan laut/bumi), Paksi atau burung (simbol kekuatan udara), dan Liman atau gajah (simbol kekuatan darat). Desain ini mencerminkan kedaulatan wilayah Sumedang Larang yang mencakup berbagai dimensi alam.

Melalui keberadaan Museum Prabu Geusan Ulun, sejarah tidak hanya dibaca melalui buku, tetapi dirasakan melalui aura bangunan dan pancaran fisik benda-benda pusakanya. Museum ini tetap berdiri teguh sebagai penjaga marwah Sunda di tengah arus modernisasi Jawa Barat.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Prabu Geusan Ulun No.40, Regol Wetan, Kec. Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang
entrance fee
Rp 10.000 - Rp 20.000
opening hours
Selasa - Minggu, 08:00 - 14:00

Tempat Menarik Lainnya di Sumedang

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Sumedang

Pelajari lebih lanjut tentang Sumedang dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Sumedang