Masjid Agung Sumedang
di Sumedang, Jawa Barat
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Kemegahan Arsitektur Masjid Agung Sumedang: Harmoni Akulturasi di Jantung Kota Tahu
Masjid Agung Sumedang bukan sekadar tempat ibadah; ia adalah narasi visual tentang perjalanan panjang sejarah, budaya, dan spiritualitas masyarakat Sumedang. Berdiri kokoh di sisi barat Alun-alun Sumedang, bangunan ini menjadi saksi bisu transisi kekuasaan dari masa Kerajaan Sumedang Larang hingga era modern. Keunikan arsitekturnya mencerminkan perpaduan estetika tradisional Nusantara, pengaruh kolonial, dan sentuhan oriental yang menyatu dalam harmoni fungsional.
#
Konteks Historis dan Filosofi Pembangunan
Didirikan pada masa pemerintahan Pangeran Soeria Koesoemah Adinata, yang lebih dikenal sebagai Pangeran Sugih, pada tahun 1850, Masjid Agung Sumedang dirancang sebagai pusat spiritualitas yang terintegrasi dengan pusat pemerintahan (Kecamatan Sumedang Selatan). Pembangunan masjid ini merupakan bagian dari konsep Catur Gatra Tunggal, sebuah tata kota tradisional Jawa yang menempatkan alun-alun sebagai pusat, dengan keraton (Gedung Negara), masjid, penjara, dan pasar sebagai pilar-pilar utamanya.
Pangeran Sugih menginginkan sebuah bangunan yang tidak hanya mampu menampung jamaah, tetapi juga merepresentasikan martabat dan kedaulatan Sumedang. Oleh karena itu, pemilihan material dan detail ornamen dilakukan dengan ketelitian yang tinggi, melibatkan pengrajin lokal berbakat serta pengaruh gaya bangunan yang berkembang pada abad ke-19.
#
Karakteristik Arsitektur dan Akulturasi Gaya
Secara arsitektural, Masjid Agung Sumedang menampilkan gaya "Indisch" yang unik—sebuah percampuran antara elemen lokal Sunda-Jawa dengan sentuhan Eropa dan Cina. Salah satu ciri yang paling mencolok adalah atapnya yang berbentuk tumpang atau tajug tiga tingkat. Bentuk atap ini merupakan warisan arsitektur pra-Islam di Nusantara yang melambangkan tingkatan spiritual dalam Islam: Syariat, Thariqat, dan Hakikat.
Struktur atap ditopang oleh tiang-tiang kayu jati yang sangat besar dan kokoh. Penggunaan kayu jati pilihan ini memberikan kesan hangat sekaligus megah pada interior masjid. Keunikan lainnya terletak pada mahkota atau mustaka di puncak atap yang memiliki detail ukiran halus, menunjukkan pengaruh seni rupa pesisiran.
#
Detail Fasad dan Pengaruh Kolonial
Meskipun struktur utamanya sangat tradisional, pengaruh kolonial Belanda terlihat jelas pada desain jendela dan pintu. Jendela-jendela masjid berukuran besar dengan kusen kayu yang tinggi serta penggunaan kaca patri (stained glass) di beberapa sudut. Desain ini bukan tanpa alasan; jendela besar berfungsi sebagai sistem ventilasi alami yang krusial untuk kenyamanan jamaah di iklim tropis, sekaligus memberikan pencahayaan alami yang dramatis ke dalam ruang utama.
Dinding masjid terbuat dari susunan bata tebal dengan plesteran halus yang menunjukkan teknik konstruksi maju pada zamannya. Fasad depan masjid memiliki serambi atau emperan yang luas, sebuah ciri khas rumah panggung Sunda yang diadaptasi ke dalam bangunan permanen. Serambi ini berfungsi sebagai ruang transisi sosial sebelum memasuki ruang sakral di dalam.
#
Inovasi Struktural dan Keunikan Interior
Memasuki ruang utama, pengunjung akan disambut oleh deretan tiang penyangga (saka guru) yang berjumlah 16 buah. Angka ini sering dikaitkan dengan simbol-simbol filosofis masyarakat setempat. Hal unik yang jarang ditemukan di masjid lain adalah detail pada kolom-kolom ini yang tidak hanya berfungsi sebagai penahan beban, tetapi juga sebagai elemen dekoratif dengan ukiran motif bunga dan sulur-suluran.
Mimbar masjid merupakan salah satu mahakarya seni ukir. Terbuat dari kayu jati tua, mimbar ini memiliki detail ornamen yang sangat rumit, menggabungkan motif flora tradisional dengan sentuhan gaya Tiongkok yang terlihat pada beberapa lengkungan dan pemilihan warna. Keberadaan ornamen ini membuktikan bahwa Sumedang pada masa itu adalah titik temu berbagai budaya yang saling menghormati.
Bagian mihrab (tempat imam) juga didesain dengan lengkungan yang megah, memberikan fokus visual bagi siapapun yang masuk. Langit-langit masjid dibiarkan terbuka sehingga struktur rangka kayu penyangga atap tumpang dapat terlihat dengan jelas, menciptakan kesan ruang yang luas dan megah (grandeur).
#
Signifikansi Budaya dan Sosial
Masjid Agung Sumedang tidak hanya berfungsi sebagai tempat salat lima waktu. Ia adalah pusat kegiatan sosial dan budaya. Pada masa lalu, masjid ini menjadi tempat pelantikan pejabat daerah serta pusat edukasi agama. Tradisi "Gembyung" dan pengajian rutin yang telah berlangsung selama lebih dari satu abad terus dijaga keberlangsungannya di sini.
Bagi masyarakat Sumedang, masjid ini adalah identitas. Keberadaannya yang berdampingan dengan Alun-alun dan Museum Prabu Geusan Ulun menciptakan sebuah kompleks sejarah yang komprehensif. Arsitekturnya yang tidak berubah secara drastis meskipun telah melalui beberapa kali renovasi menunjukkan komitmen kuat pemerintah daerah dan masyarakat dalam menjaga warisan leluhur.
#
Pengalaman Pengunjung dan Keberlanjutan
Saat ini, Masjid Agung Sumedang telah mengalami beberapa tahap revitalisasi, terutama pada bagian eksterior dan area pendukung seperti tempat wudhu dan halaman. Namun, struktur utama bangunan tetap dipertahankan keasliannya. Pengunjung yang datang tidak hanya akan merasakan ketenangan spiritual, tetapi juga dapat menikmati estetika arsitektur masa lalu yang masih relevan hingga kini.
Halaman masjid yang kini lebih tertata dengan ubin batu alam dan pencahayaan yang estetis di malam hari membuat masjid ini tampak semakin ikonik. Pada waktu-waktu tertentu, seperti bulan Ramadan atau hari besar Islam, masjid ini menjadi magnet bagi ribuan warga, menciptakan pemandangan yang memukau di mana arsitektur klasik bersatu dengan dinamika masyarakat modern.
Sebagai bangunan ikonik, Masjid Agung Sumedang adalah representasi sempurna dari "Sumedang Puseur Budaya Sunda". Ia adalah monumen hidup yang membuktikan bahwa arsitektur dapat menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu yang agung dengan masa depan yang penuh harapan, sambil tetap berpijak pada nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Sumedang
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Sumedang
Pelajari lebih lanjut tentang Sumedang dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Sumedang