Benteng Oranje
di Ternate, Maluku Utara
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Jejak Kejayaan VOC di Tanah Rempah: Narasi Sejarah Benteng Oranje Ternate
Benteng Oranje, yang berdiri kokoh di pusat Kota Ternate, Maluku Utara, bukan sekadar tumpukan batu andesit dan karang. Ia adalah monumen bisu yang merekam dinamika ambisi kolonialisme Eropa, persaingan dagang global, dan titik balik sejarah Nusantara yang mengubah peta ekonomi dunia. Sebagai benteng Belanda pertama di Nusantara, Oranje memegang predikat sebagai "pusat komando" sebelum Batavia didirikan, menjadikannya salah satu situs paling krusial dalam historiografi kolonial di Asia Tenggara.
#
Akar Sejarah dan Periode Pendirian
Lahirnya Benteng Oranje berawal dari puing-puing kegagalan bangsa Portugis. Sebelum Belanda menancapkan kukunya, lokasi ini merupakan tempat berdirinya sebuah benteng Melayu yang dibangun oleh penduduk setempat, yang kemudian sempat dikuasai oleh Portugis. Namun, titik balik terjadi pada tahun 1607. Laksamana Cornelis Matelief de Jonge, seorang perwira tinggi VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), membantu Sultan Ternate mengusir bangsa Spanyol dari wilayah tersebut.
Sebagai imbalan atas bantuan militer Belanda, Sultan Ternate memberikan izin kepada VOC untuk mendirikan markas tetap. Pada tahun 1607 itu juga, di bawah instruksi Cornelis Matelief de Jonge, pembangunan benteng dimulai. Nama "Oranje" diambil sebagai penghormatan kepada House of Orange, dinasti kerajaan Belanda. Selama periode 1610 hingga 1619, Benteng Oranje menyandang status terhormat sebagai pusat pemerintahan tertinggi VOC di Hindia Timur (Gouverneur-Generaal) sebelum akhirnya Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen memindahkan pusat administrasi ke Batavia (Jakarta).
#
Arsitektur dan Detail Konstruksi
Secara struktural, Benteng Oranje menampilkan gaya arsitektur militer Eropa abad ke-17 yang diadaptasi dengan material lokal. Benteng ini memiliki bentuk trapesium dengan empat bastion (menara penjuru) yang menonjol di setiap sudutnya. Bastion-bastion ini dirancang untuk memberikan sudut tembak meriam yang luas guna menghalau serangan dari arah laut maupun darat.
Material utama konstruksi benteng terdiri dari kombinasi batu karang, batu kali, dan batu andesit yang direkatkan dengan campuran kapur dan pasir. Ketebalan dindingnya mencapai lebih dari satu meter, dirancang untuk menahan gempuran meriam berat. Di dalam kompleks benteng, terdapat berbagai bangunan fungsional, termasuk rumah tinggal bagi Gubernur Jenderal, barak prajurit, gudang penyimpanan rempah-rempah (khususnya cengkeh), serta sebuah gereja kecil. Struktur bangunan di dalamnya mencerminkan gaya transisi antara fungsionalitas militer dan kenyamanan residensial pejabat tinggi Belanda.
#
Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting
Benteng Oranje adalah saksi bisu dari "Perang Rempah" yang brutal. Di sinilah keputusan-keputusan besar mengenai monopoli cengkeh diambil. Salah satu peristiwa paling signifikan dalam sejarah benteng ini adalah perannya sebagai basis operasi pemusnahan pohon cengkeh di wilayah yang tidak diizinkan oleh Belanda, yang dikenal dengan kebijakan Ekstirpasi.
Selain itu, benteng ini juga menjadi tempat penahanan tokoh-tokoh penting. Salah satu fakta sejarah yang paling menonjol adalah penahanan Sultan Mahmud Badaruddin II dari Palembang. Setelah kekalahannya melawan Belanda dalam Perang Palembang, beliau dibuang ke Ternate dan diasingkan di dalam kompleks Benteng Oranje hingga wafatnya pada tahun 1852. Keberadaan makam dan jejak pengasingan sang Sultan memberikan dimensi emosional dan nasionalisme yang kuat bagi situs ini.
#
Tokoh dan Masa Keemasan
Beberapa Gubernur Jenderal VOC pertama pernah berkantor di sini, termasuk Pieter Both, Gerard Reynst, dan Laurens Reael. Pada masa itu, Oranje bukan hanya sekadar pangkalan militer, melainkan jantung diplomatik di mana perjanjian-perjanjian dengan sultan-sultan di Maluku ditandatangani. Kehidupan di dalam benteng pada abad ke-17 sangat kosmopolitan; prajurit dari berbagai bangsa Eropa, budak dari Asia Selatan, dan pedagang lokal berinteraksi di sekitar gerbang benteng yang menghadap ke pelabuhan.
#
Upaya Konservasi dan Status Saat Ini
Setelah berabad-abad mengalami degradasi akibat cuaca tropis dan kurangnya perawatan, Benteng Oranje mendapatkan perhatian serius dari pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Pemerintah Kota Ternate. Restorasi besar-besaran dilakukan untuk mengembalikan integritas struktural benteng tanpa menghilangkan nilai historisnya.
Saat ini, Benteng Oranje telah bertransformasi menjadi ruang publik yang hidup. Area di sekitar benteng ditata menjadi taman kota, sementara beberapa bangunan di dalam benteng difungsikan kembali sebagai kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta museum kecil. Upaya revitalisasi ini bertujuan untuk menjadikan Oranje sebagai pusat edukasi sejarah bagi generasi muda Maluku Utara. Meskipun beberapa bagian dinding telah ditumbuhi lumut, karakter aslinya sebagai benteng pertahanan tetap terjaga dengan baik.
#
Makna Budaya dan Sosial
Bagi masyarakat Ternate, Benteng Oranje adalah pengingat akan masa lalu yang kompleks—perpaduan antara kejayaan perdagangan rempah lokal dan pahitnya kolonialisme. Benteng ini menjadi simbol ketahanan kota Ternate yang mampu bertahan di tengah pusaran kepentingan global selama berabad-abad. Secara budaya, situs ini sering digunakan untuk festival seni dan kegiatan komunitas, menjadikannya jembatan yang menghubungkan narasi masa lalu dengan kehidupan modern.
#
Fakta Unik dan Penutup
Salah satu fakta unik mengenai Benteng Oranje adalah letaknya yang secara geografis sangat dekat dengan garis pantai pada masa lalu, namun akibat reklamasi dan pendangkalan, kini benteng tersebut seolah berada di tengah kota, agak menjauh dari bibir pantai. Selain itu, sistem drainase kuno yang dibangun Belanda di dalam benteng masih dapat dipelajari sebagai bukti kecanggihan teknik sipil masa itu.
Secara keseluruhan, Benteng Oranje bukan hanya sekadar objek wisata sejarah. Ia adalah jangkar identitas bagi Ternate sebagai "The Spice Island". Dengan luas area sekitar 1,1 hektar, benteng ini berdiri sebagai monumen yang mengajarkan bahwa rempah-rempah pernah menjadi komoditas yang lebih berharga daripada emas, dan Ternate adalah titik nol dari perebutan kekuasaan tersebut. Menjaga Benteng Oranje berarti menjaga memori kolektif bangsa Indonesia tentang asal-usul kedaulatan dan kekayaan alam yang harus senantiasa dipertahankan.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Ternate
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Ternate
Pelajari lebih lanjut tentang Ternate dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Ternate