Pusat Kebudayaan

Kedaton Kesultanan Ternate

di Ternate, Maluku Utara

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Pelestarian Warisan Intangible melalui Ritual dan Adat

Fungsi utama Kedaton Kesultanan Ternate adalah menjaga kelangsungan adat Se Atoran (hukum adat). Salah satu aktivitas budaya yang paling sakral dan tetap dipertahankan adalah Kololi Kie. Ritual ini melibatkan perjalanan mengelilingi Gunung Gamalama sebagai bentuk penghormatan terhadap alam dan leluhur. Di dalam lingkungan Kedaton, tata krama protokoler kesultanan atau Bobato tetap dijalankan dengan ketat, memberikan gambaran nyata tentang struktur sosial Ternate yang hierarkis namun harmonis.

Setiap malam Jumat, Kedaton menyelenggarakan doa bersama dan ritual spiritual yang melibatkan perangkat adat. Aktivitas ini bukan sekadar rutinitas keagamaan, melainkan upaya memelihara hubungan antara manusia, pencipta, dan sejarah kesultanan yang kental dengan nafas Islam. Pengunjung sering kali berkesempatan melihat bagaimana prosesi pergantian penjaga Kedaton yang mengenakan pakaian adat khusus, mempertahankan disiplin militer tradisional kesultanan.

Kesenian Tradisional dan Pertunjukan Kolosal

Kedaton berfungsi sebagai sekolah alam bagi pelestarian seni pertunjukan. Salah satu tarian yang paling ikonik adalah Tari Soya-Soya. Tarian pembebasan ini diciptakan pada masa Sultan Baabullah untuk merayakan kemenangan atas Portugis. Di bawah naungan Kedaton, pelatihan tari ini diberikan kepada pemuda-pemuda setempat, memastikan gerakan kinetik yang melambangkan keberanian dan strategi perang tidak punah.

Selain itu, terdapat Tari Lalayon, sebuah tarian pergaulan yang mengandung pesan-pesan filosofis tentang cinta dan persaudaraan. Musik pengiringnya menggunakan instrumen tradisional seperti tifa, gong, dan stambul. Kedaton secara rutin menggelar pertunjukan ini dalam menyambut tamu agung atau saat perayaan hari besar kesultanan. Keunikan seni pertunjukan di sini terletak pada pakemnya yang tidak boleh diubah, karena setiap gerakan dianggap memiliki muatan sejarah dan doa.

Kriya dan Artefak: Menjaga Identitas Visual

Sebagai pusat kebudayaan, Kedaton menyimpan koleksi artefak yang tak ternilai harganya. Di dalamnya terdapat museum yang memamerkan singgasana emas, perhiasan permaisuri, senjata tradisional seperti parang dan salawaku, serta naskah-naskah kuno yang ditulis di atas kulit kayu atau kertas Eropa kuno.

Salah satu aspek kriya yang sangat ditekankan adalah pelestarian motif batik Ternate dan tenun tradisional. Kedaton mendorong para perajin lokal untuk menggali kembali motif-motif yang terinspirasi dari rempah-rempah (cengkih dan pala) serta lambang burung berkepala dua (Garoa). Program pengembangan kriya ini bertujuan agar simbol-simbol kesultanan tidak hanya menjadi pajangan di museum, tetapi juga menjadi bagian dari industri kreatif yang menghidupi masyarakat lokal tanpa menghilangkan nilai sakralnya.

Program Edukasi dan Literasi Sejarah

Kedaton Kesultanan Ternate aktif dalam menyelenggarakan program edukasi bagi pelajar dan peneliti. Terdapat perpustakaan naskah kuno yang menjadi rujukan bagi akademisi dari seluruh dunia untuk mempelajari sejarah perdagangan rempah dunia. Program "Kedaton Mengajar" sering kali melibatkan para perangkat adat atau Joguru untuk memberikan ceramah tentang filosofi Adat Se Atoran kepada mahasiswa.

Pusat kebudayaan ini juga memfasilitasi diskusi-diskusi kebudayaan yang membahas tentang peran Ternate dalam jaringan jalur rempah global. Edukasi ini penting untuk menanamkan rasa bangga pada generasi muda Ternate bahwa daerah mereka pernah menjadi pusat politik dan ekonomi internasional yang disegani oleh bangsa-bangsa Eropa.

Festival Budaya: Legu Gam dan Hari Jadi Ternate

Puncak dari seluruh aktivitas kebudayaan di Kedaton adalah perayaan Legu Gam. Festival ini diadakan setiap tahun untuk memperingati hari ulang tahun Sultan. Selama hampir satu bulan, area di sekitar Kedaton berubah menjadi panggung raksasa yang menampilkan seluruh kekayaan budaya Maluku Utara.

Dalam festival ini, warga dari berbagai pelosok—bahkan dari pulau-pulau terpencil—datang untuk memberikan penghormatan kepada Sultan. Acara ini menampilkan pameran kuliner tradisional seperti Popeda, Gohu Ikan, dan berbagai jenis olahan sagu. Legu Gam bukan sekadar pesta rakyat, melainkan mekanisme sosial untuk memperkuat ikatan antara pemimpin dan rakyatnya, serta sarana promosi pariwisata budaya yang paling efektif di Maluku Utara.

Konservasi Mahkota Berambut: Keunikan yang Tiada Dua

Salah satu aspek kebudayaan yang paling unik dan hanya terdapat di Kedaton Ternate adalah keberadaan Stampa atau Mahkota Sultan yang memiliki rambut. Rambut pada mahkota ini diyakini terus tumbuh dan hanya dipotong melalui ritual khusus yang sangat rahasia pada saat-saat tertentu.

Prosesi pemotongan rambut mahkota ini merupakan peristiwa budaya yang sangat tertutup namun sangat dihormati. Hal ini menunjukkan bahwa Kedaton bukan hanya menjaga benda mati, tetapi juga memelihara "kehidupan" dalam benda-benda pusaka yang dianggap memiliki nilai spiritual tinggi. Konservasi mahkota ini melibatkan teknik tradisional yang diwariskan secara turun-temurun oleh keluarga tertentu di dalam kesultanan.

Peran Kedaton dalam Pembangunan Kebudayaan Lokal

Di era otonomi daerah, Kedaton Kesultanan Ternate memainkan peran krusial sebagai mitra pemerintah dalam pembangunan kebudayaan. Kedaton memberikan legitimasi adat terhadap berbagai kebijakan publik yang berkaitan dengan sosial kemasyarakatan. Sebagai pusat kebudayaan, ia menjadi filter terhadap pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan nilai-nilai lokal.

Kedaton juga menjadi wadah bagi rekonsiliasi sosial. Jika terjadi konflik antarwarga, pendekatan adat yang dilakukan di dalam lingkungan Kedaton sering kali lebih efektif dibandingkan jalur hukum formal. Hal ini membuktikan bahwa fungsi Kedaton sebagai pusat kebudayaan merambah hingga ke wilayah harmoni sosial dan stabilitas keamanan.

Upaya Pelestarian di Tengah Modernitas

Tantangan zaman tidak membuat Kedaton menutup diri. Saat ini, Kedaton mulai merambah dunia digital untuk mendokumentasikan arsip-arsip kesultanan. Digitalisasi naskah dan pembuatan konten kreatif mengenai sejarah kesultanan merupakan langkah maju untuk menjangkau audiens milenial.

Renovasi bangunan Kedaton dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menjaga keaslian arsitekturnya yang memadukan gaya kolonial dengan filosofi lokal. Penggunaan bahan-bahan material tertentu tetap dipertahankan sesuai dengan petunjuk adat, karena setiap sudut bangunan Kedaton memiliki makna filosofis—mulai dari jumlah anak tangga hingga arah hadap bangunan yang menghadap ke laut, melambangkan kesiapan Ternate menyambut dunia namun tetap berpijak pada akarnya.

Penutup

Kedaton Kesultanan Ternate adalah jantung yang memompa darah kebudayaan ke seluruh nadi kehidupan masyarakat Maluku Utara. Sebagai pusat kebudayaan, ia berhasil menjalankan fungsi ganda: sebagai museum yang menyimpan memori kolektif bangsa, dan sebagai lembaga hidup yang terus memproduksi nilai-nilai baru tanpa meninggalkan tradisi. Keberadaannya memastikan bahwa identitas Ternate sebagai "Negeri Para Raja" akan terus abadi, menjadikannya destinasi budaya yang wajib dikunjungi bagi siapa saja yang ingin memahami esensi sejarah dan kearifan lokal Nusantara.

📋 Informasi Kunjungan

address
Jl. Sultan Khairun, Soa Sio, Kec. Kota Ternate Utara
entrance fee
Donasi sukarela
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Ternate

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Ternate

Pelajari lebih lanjut tentang Ternate dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Ternate