Situs Sejarah

Benteng Tolukko

di Ternate, Maluku Utara

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Megah Benteng Tolukko: Saksi Bisu Kejayaan dan Perebutan Rempah di Ternate

Benteng Tolukko berdiri kokoh di atas sebuah bukit batu andesit di Kelurahan Sangadji, Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate, Maluku Utara. Sebagai salah satu struktur pertahanan tertua di Nusantara, benteng ini bukan sekadar tumpukan batu karang dan perekat kapur, melainkan sebuah monumen hidup yang merekam dinamika kolonialisme, persaingan perdagangan rempah global, serta ketangguhan Kesultanan Ternate dalam menjaga kedaulatan wilayahnya.

#

Asal-usul dan Periode Pendirian

Sejarah berdirinya Benteng Tolukko diselimuti oleh perdebatan historis yang menarik. Mayoritas catatan sejarah menghubungkan pembangunan awal benteng ini dengan bangsa Portugis. Diperkirakan pada tahun 1540, seorang panglima perang Portugis bernama Francisco Serao membangun struktur pertahanan ini sebagai basis perlindungan sekaligus gudang penyimpanan cengkih. Lokasinya yang strategis di ketinggian memberikan sudut pandang 360 derajat untuk memantau pergerakan kapal di perairan Maluku serta mengawasi aktivitas di pusat pemerintahan Kesultanan Ternate.

Namun, nama "Tolukko" sendiri baru melekat jauh setelah masa pembangunan awalnya. Ada dua versi populer mengenai asal nama ini. Versi pertama menyebutkan bahwa nama tersebut berasal dari nama Sultan Ternate ke-10, Sultan Kaicil Tolukko, yang memerintah sekitar tahun 1692. Versi kedua mengaitkan nama ini dengan istilah "Tolu" yang berarti tiga, merujuk pada tiga menara bastion yang menjadi ciri khas utama arsitekturnya. Sebelum dikenal sebagai Tolukko, Belanda sempat menamainya Fort Hollandia setelah mereka merebutnya dari tangan Portugis dan Spanyol.

#

Karakteristik Arsitektur yang Unik

Salah satu aspek yang paling membedakan Benteng Tolukko dari benteng-benteng lain di Indonesia adalah bentuk denah fondasinya. Jika dilihat dari udara, benteng ini memiliki desain yang menyerupai alat kelamin pria atau dalam perspektif lain menyerupai bentuk tubuh manusia dengan kepala dan tangan. Bentuk ini bukan tanpa alasan; desain aerodinamis dan organik ini disesuaikan dengan kontur bukit batu yang sempit dan terjal.

Material utama konstruksi benteng ini terdiri dari kombinasi batu karang, batu kali, dan pecahan batu andesit yang direkatkan menggunakan campuran kapur dan pasir. Benteng ini memiliki tiga bastion berbentuk bulat di sisi utara, selatan, dan barat. Di bagian tengah, terdapat sebuah halaman dalam (inner courtyard) yang dulunya berfungsi sebagai tempat apel prajurit. Di bawah salah satu bagian benteng, terdapat ruang bawah tanah atau casemate yang digunakan sebagai gudang amunisi dan logistik. Keunikan lainnya adalah ketiadaan parit pertahanan di sekeliling benteng, karena ketinggian bukit dan kecuraman tebing sudah menjadi pertahanan alami yang sulit ditembus musuh.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Benteng Tolukko adalah saksi dari periode "The Spice Wars" atau Perang Rempah-rempah yang melibatkan kekuatan besar dunia. Setelah Portugis terusir dari Ternate pada tahun 1575 akibat perlawanan rakyat yang dipimpin oleh Sultan Baabullah, benteng ini sempat terbengkalai. Namun, pada awal abad ke-17, ketika persaingan antara Spanyol dan Belanda memuncak di Maluku, benteng ini kembali menjadi objek rebutan yang vital.

Belanda melalui VOC menyadari bahwa siapa pun yang menguasai titik Tolukko akan menguasai jalur logistik cengkih di pesisir timur Ternate. Pada tahun 1610, Belanda merenovasi benteng ini di bawah perintah Pieter Both. Benteng ini menjadi garis depan pertahanan Belanda untuk menangkal serangan Spanyol yang saat itu berpangkalan di Benteng Gamma Lamo (Benteng Kalamata). Peristiwa bersejarah lainnya terjadi ketika Sultan Ternate menggunakan benteng ini sebagai basis pertahanan rakyat saat mencoba melepaskan diri dari pengaruh monopoli VOC yang mencekik.

#

Tokoh dan Periode Terkait

Nama Sultan Baabullah tidak dapat dipisahkan dari sejarah Tolukko. Meskipun dibangun oleh Portugis, keberhasilan Sultan Baabullah mengepung dan merebut benteng-benteng Portugis di Ternate (termasuk Tolukko) selama lima tahun pengepungan merupakan titik balik sejarah yang luar biasa, di mana kekuatan lokal mampu mengusir kekuatan Eropa. Selain itu, sosok Pieter Both dan Jan Pieterzoon Coen dari pihak Belanda juga tercatat pernah memberikan perhatian khusus pada renovasi benteng ini guna memperkuat hegemoni VOC di wilayah timur.

Pada masa pemerintahan Sultan Kaicil Tolukko, benteng ini mencapai puncak fungsi administratifnya. Di masa inilah integrasi antara fungsi militer kolonial dan kepentingan Kesultanan mulai terlihat lebih cair, meskipun ketegangan politik tetap ada di bawah permukaan.

#

Pelestarian dan Upaya Restorasi

Sebagai situs yang telah berusia hampir lima abad, Benteng Tolukko telah mengalami beberapa kali fase kerusakan dan pemugaran. Pada tahun 1996, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia melakukan restorasi besar-besaran. Tantangan utama dalam pelestarian benteng ini adalah faktor alam, mengingat Ternate merupakan daerah rawan gempa tektonik karena keberadaan Gunung Gamalama.

Saat ini, Benteng Tolukko dikelola di bawah naungan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XXI. Upaya pelestarian tidak hanya berfokus pada struktur fisik, tetapi juga pada penataan lansekap di sekitarnya. Taman-taman bunga yang rapi kini mengelilingi benteng, mengubah citra angker peninggalan perang menjadi destinasi wisata sejarah yang edukatif. Meskipun telah dipugar, keaslian tekstur batu karang dan tata ruang aslinya tetap dipertahankan sesuai dengan kaidah konservasi cagar budaya.

#

Nilai Budaya dan Edukasi

Bagi masyarakat Maluku Utara, Benteng Tolukko adalah simbol harga diri dan pengingat akan masa lalu Ternate sebagai pusat perdagangan dunia. Benteng ini sering menjadi lokasi upacara adat atau kegiatan budaya yang menghubungkan generasi muda dengan akar sejarah mereka. Secara edukatif, benteng ini memberikan gambaran nyata mengenai teknologi militer abad ke-16 dan bagaimana adaptasi arsitektur Eropa dilakukan di wilayah tropis.

Keunikan fakta sejarah menunjukkan bahwa Benteng Tolukko adalah salah satu dari sedikit benteng di dunia yang dibangun di atas formasi geologi yang sangat terbatas namun mampu bertahan dari guncangan gempa selama berabad-abad. Hal ini membuktikan kecerdasan para pembangun masa lalu dalam memahami karakteristik tanah dan material lokal.

#

Penutup: Warisan untuk Masa Depan

Berdiri di atas bastion Benteng Tolukko saat matahari terbenam menyuguhkan pemandangan yang tak ternilai: birunya laut Maluku, siluet Pulau Halmahera di kejauhan, dan kemegahan Gunung Gamalama di belakangnya. Benteng ini bukan sekadar objek wisata, melainkan narasi panjang tentang pertemuan peradaban Barat dan Timur. Melalui pelestarian Benteng Tolukko, Indonesia menjaga bagian penting dari sejarah maritim dunia, memastikan bahwa cerita tentang kejayaan Ternate dan harumnya cengkih akan terus tercium oleh generasi-generasi mendatang.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Sangaji, Kec. Kota Ternate Utara, Kota Ternate
entrance fee
Rp 5.000 - Rp 10.000 per orang
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 18:00

Tempat Menarik Lainnya di Ternate

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Ternate

Pelajari lebih lanjut tentang Ternate dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Ternate