Wisata Alam

Puncak Kie Matubu

di Tidore Kepulauan, Maluku Utara

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Menembus Awan di Puncak Kie Matubu: Atap Tertinggi Maluku Utara

Terletak gagah di jantung Pulau Tidore, Puncak Kie Matubu bukan sekadar titik geografis tertinggi di Maluku Utara, melainkan sebuah simbol kemegahan alam yang memadukan spiritualitas lokal dengan keindahan vulkanik yang dramatis. Dengan ketinggian mencapai 1.730 meter di atas permukaan laut (mdpl), gunung berapi kerucut ini menawarkan panorama 360 derajat yang mencakup gugusan pulau-pulau legendaris di Kepulauan Rempah.

#

Kemegahan Vulkanik dan Geologi Kie Matubu

Secara geologis, Kie Matubu adalah gunung api strato yang mendominasi morfologi Pulau Tidore. Nama "Kie Matubu" sendiri dalam bahasa lokal berarti "Gunung Besar" atau "Gunung Induk". Karakteristik fisiknya yang simetris menjadikannya salah satu ikon visual paling mencolok di wilayah Maluku Utara. Lereng-lerengnya yang curam diselimuti oleh vegetasi yang berubah seiring bertambahnya ketinggian, menciptakan zonasi ekosistem yang menarik bagi para peneliti dan pecinta alam.

Berbeda dengan gunung-gunung api aktif lainnya di Indonesia yang memiliki kawah terbuka luas dengan aktivitas vulkanik tinggi, Kie Matubu saat ini berada dalam fase istirahat (dormant), memberikan rasa aman bagi para pendaki untuk mengeksplorasi hingga ke titik kawah puncaknya yang kini telah dipenuhi vegetasi hijau. Batuan andesit dan jejak aliran lava purba dapat ditemukan di sepanjang jalur pendakian, menceritakan sejarah pembentukan pulau ini jutaan tahun yang lalu.

#

Kekayaan Biodiversitas dan Ekosistem Hutan Hujan

Mendaki Kie Matubu adalah perjalanan melintasi berbagai lapisan kehidupan. Di kaki gunung, pengunjung akan disambut oleh perkebunan rakyat yang didominasi oleh pohon cengkih dan pala yang harumnya semerbak—komoditas yang dahulu memicu penjelajahan samudra oleh bangsa Eropa. Semakin tinggi melangkah, hutan produksi ini berganti menjadi hutan hujan tropis pegunungan yang lembap dan lebat.

Ekosistem di Puncak Kie Matubu merupakan rumah bagi flora dan fauna endemik Wallacea. Para pendaki yang beruntung dapat mendengar suara burung Kakatua Putih (Cacatua alba) atau melihat sekilas Kasturi Ternate (Lorius garrulus) yang memiliki warna bulu merah menyala. Di zona sub-alpin mendekati puncak, pohon-pohon cenderung mengecil dan tertutup lumut tebal karena kelembapan yang tinggi dari kabut yang sering menyelimuti gunung ini. Anggrek hutan liar juga kerap ditemukan bersembunyi di balik pepohonan, menambah kekayaan botani destinasi ini.

#

Pengalaman Pendakian dan Aktivitas Luar Ruangan

Aktivitas utama di Kie Matubu tentu saja adalah pendakian (hiking). Terdapat beberapa jalur, namun jalur yang paling populer dimulai dari Kelurahan Gurabunga. Gurabunga sendiri adalah desa yang unik, berada di ketinggian sekitar 800 mdpl, di mana suhu udara terasa sejuk dan awan seringkali sejajar dengan teras rumah warga.

Perjalanan dari Gurabunga menuju puncak memakan waktu sekitar 3 hingga 5 jam, tergantung pada fisik pendaki. Jalurnya cukup menantang dengan kemiringan yang konsisten, namun kelelahan tersebut akan terbayar lunas saat mencapai puncak. Dari atas, pengunjung dapat melihat pemandangan spektakuler: ke arah utara terdapat Gunung Gamalama di Pulau Ternate, ke arah selatan terlihat Pulau Mare dan Moti, sementara di kejauhan nampak daratan besar Pulau Halmahera.

Momen yang paling dicari adalah sunrise (matahari terbit). Banyak pendaki memilih untuk berkemah (camping) di area dekat puncak untuk menyaksikan fenomena "Samudra Awan", di mana seluruh kota di bawahnya tertutup kabut putih tebal, menyisakan puncak-puncak gunung yang menyembul seperti pulau di tengah laut awan.

#

Waktu Terbaik untuk Berkunjung

Waktu terbaik untuk menaklukkan Kie Matubu adalah pada musim kemarau, yang biasanya jatuh antara bulan Juni hingga September. Pada periode ini, jalur pendakian cenderung lebih kering dan tidak licin, serta peluang untuk mendapatkan langit cerah tanpa kabut di puncak jauh lebih besar. Sebaliknya, pada musim penghujan (Desember - Maret), pendakian sangat tidak disarankan karena jalur yang sangat curam menjadi berbahaya dan jarak pandang di puncak seringkali tertutup total oleh kabut pekat.

Saran bagi para pendaki adalah memulai perjalanan dari Gurabunga pada dini hari sekitar pukul 02.00 WIT jika ingin mengejar matahari terbit tanpa menginap, atau mulai mendaki sore hari jika ingin berkemah.

#

Fasilitas dan Aksesibilitas

Akses menuju Puncak Kie Matubu dimulai dari Kota Tidore (Soasio). Pengunjung dapat menggunakan transportasi lokal menuju Kelurahan Gurabunga. Di Gurabunga, fasilitas bagi wisatawan sudah cukup memadai, mulai dari ketersediaan pemandu lokal (guide) yang sangat disarankan untuk digunakan demi keamanan, hingga penginapan berupa homestay di rumah-rumah penduduk setempat yang ramah.

Area puncak sendiri adalah area alami yang minim fasilitas buatan guna menjaga keaslian ekosistem. Tidak ada sumber air di jalur pendakian setelah melewati batas perkebunan warga, sehingga pendaki wajib membawa persediaan air yang cukup dari desa.

#

Upaya Konservasi dan Kearifan Lokal

Masyarakat Tidore, khususnya warga Gurabunga, memiliki keterikatan spiritual yang kuat dengan Puncak Kie Matubu. Gunung ini dianggap sakral, sehingga ada norma-norma adat yang harus dipatuhi oleh setiap pengunjung, seperti larangan berkata kasar atau merusak tanaman.

Kesadaran akan kelestarian lingkungan mulai meningkat di kalangan komunitas pecinta alam setempat. Upaya konservasi difokuskan pada kampanye "Bawa Turun Sampahmu", di mana setiap pendaki diwajibkan membawa kembali sampah plastik mereka. Perlindungan terhadap burung endemik juga terus digalakkan agar Kie Matubu tetap menjadi tempat perlindungan terakhir bagi biodiversitas Maluku Utara di tengah ancaman perubahan iklim dan pembukaan lahan.

Puncak Kie Matubu bukan sekadar destinasi wisata fisik, melainkan sebuah perjalanan batin yang mempertemukan manusia dengan kemurnian alam Maluku Utara. Berdiri di titik tertingginya memberikan perspektif baru tentang betapa kecilnya manusia di hadapan ciptaan Tuhan yang luar biasa agung di ufuk timur Indonesia.

📋 Informasi Kunjungan

address
Gunung Tidore, Tidore Kepulauan
entrance fee
Gratis (disarankan melapor ke juru kunci)
opening hours
Setiap hari, 24 jam

Tempat Menarik Lainnya di Tidore Kepulauan

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Tidore Kepulauan

Pelajari lebih lanjut tentang Tidore Kepulauan dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Tidore Kepulauan