Patung Empat Marga
di Tulang Bawang Barat, Lampung
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Asal-Usul Historis dan Latar Belakang Pendirian
Pembangunan Patung Empat Marga diinisiasi pada masa kepemimpinan Bupati Umar Ahmad sebagai bagian dari proyek besar pembangunan karakter daerah melalui arsitektur. Secara historis, keberadaan patung ini merujuk pada pembagian wilayah adat di Tulang Bawang yang dihuni oleh empat marga besar (Margo Pak). Keempat marga tersebut adalah Marga Buay Bulan, Marga Buay Tegamoan, Marga Buay Suway Umpu, dan Marga Buay Aji.
Secara genealogi, masyarakat Lampung Tulang Bawang meyakini bahwa nenek moyang mereka berasal dari dataran tinggi Sekala Brak. Migrasi besar-besaran di masa lampau menyebabkan terbentuknya permukiman-permukiman di sepanjang aliran sungai (Way) Tulang Bawang. Pendirian patung ini pada medio 2015-2016 bertujuan untuk mematri memori kolektif masyarakat agar tidak melupakan struktur sosial asli yang telah membentuk tatanan hukum adat di wilayah tersebut selama berabad-abad.
Arsitektur dan Detail Konstruksi yang Monumental
Berbeda dengan monumen konvensional yang biasanya berupa patung utuh, Patung Empat Marga mengadopsi gaya relief raksasa yang dipahat pada dinding batu setinggi kurang lebih 10 hingga 15 meter. Keunikan utama dari situs ini adalah teknik pengerjaannya yang melibatkan seniman patung profesional, di mana wajah-wajah tokoh mewakili empat marga tersebut dipahat dengan ekspresi yang sangat detail dan tegas.
Gaya arsitekturnya memadukan unsur realisme dengan sentuhan kontemporer. Wajah-wajah yang dipahat mengenakan Kikat atau Siger (penutup kepala khas Lampung) yang menunjukkan strata sosial dan kehormatan. Material utama yang digunakan adalah beton bertulang dengan finishing tekstur batu alam, memberikan kesan bahwa wajah-wajah tersebut muncul langsung dari tebing bumi. Penggunaan relief berskala besar ini seringkali dibanding-bandingkan oleh wisatawan dengan Mount Rushmore di Amerika Serikat, namun dengan konteks kearifan lokal yang kental.
Signifikansi Sejarah dan Federasi Margo Pak
Secara historis, "Margo Pak" atau Empat Marga merupakan pilar kekuasaan politik dan sosial di Tulang Bawang sebelum masa kolonialisme Belanda memperlemah struktur adat. Masing-masing marga memiliki wilayah ulayat dan pemimpin adat yang disebut Penyimbang.
1. Marga Buay Bulan: Dikenal sebagai marga yang memiliki peran penting dalam diplomasi antarsuku.
2. Marga Buay Tegamoan: Sering dikaitkan dengan ketangguhan dalam menjaga wilayah perbatasan.
3. Marga Buay Suway Umpu: Memiliki kaitan erat dengan silsilah bangsawan dari luar wilayah yang berintegrasi dengan budaya lokal.
4. Marga Buay Aji: Dikenal sebagai pilar dalam bidang keagamaan dan tatanan hukum moral.
Situs ini menjadi pengingat akan masa kejayaan di mana keempat marga ini hidup berdampingan dalam sistem pemerintahan adat yang demokratis, jauh sebelum terbentuknya birokrasi pemerintahan modern di Provinsi Lampung.
Tokoh dan Periode Terkait
Meskipun wajah yang dipahat tidak merujuk pada individu spesifik secara fotografis, mereka merepresentasikan sosok Penyimbang atau tokoh adat legendaris dari masing-masing marga. Keberadaan situs ini juga berkaitan erat dengan periode transformasi Tulang Bawang Barat dari kabupaten administratif baru menjadi destinasi wisata budaya nasional.
Dalam proses perancangannya, pemerintah daerah melibatkan dewan adat untuk memastikan bahwa atribut-atribut yang dikenakan pada patung, seperti motif hiasan kepala dan garis wajah, tidak menyimpang dari pakem budaya Lampung Pepadun. Hal ini penting karena bagi masyarakat setempat, patung ini adalah representasi harga diri dan kehormatan leluhur.
Status Pelestarian dan Upaya Restorasi
Sebagai situs sejarah kontemporer, Patung Empat Marga dikelola langsung oleh Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang Barat melalui Dinas Pariwisata. Pelestarian situs ini dilakukan melalui perawatan rutin pada detail pahatan untuk mencegah tumbuhnya lumut dan kerusakan akibat cuaca tropis yang ekstrem. Area di sekitar patung juga telah ditata menjadi taman publik yang asri, yang berfungsi sebagai ruang edukasi bagi generasi muda.
Pemerintah setempat secara konsisten menjaga agar area di sekitar patung tidak tergerus oleh pembangunan komersial yang tidak terkendali. Hal ini dilakukan untuk menjaga "aura" sakral dan wibawa dari relief tersebut sebagai pusat identitas daerah.
Nilai Budaya dan Keagamaan
Bagi masyarakat Lampung, khususnya di Tubaba, Patung Empat Marga memiliki nilai filosofis "Piil Pesenggiri". Ini adalah prinsip moral yang mengedepankan harga diri, kehormatan, dan perilaku luhur. Patung ini berdiri sebagai pengingat bahwa meskipun masyarakat Tubaba kini bersifat heterogen dengan banyaknya transmigran dari Jawa dan Bali, akar budaya asli Lampung harus tetap dihormati dan dijunjung tinggi.
Secara budaya, situs ini sering menjadi titik awal atau lokasi prosesi dalam upacara adat tertentu, seperti penyambutan tamu agung atau festival budaya tahunan. Meskipun tidak memiliki fungsi religius spesifik dalam Islam (agama mayoritas penduduk), keberadaan patung ini berdampingan harmonis dengan arsitektur Masjid Baitus Shobur yang berada tidak jauh darinya, melambangkan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan (religiusitas) dan manusia dengan leluhurnya (budaya).
Fakta Unik dan Dampak Sosial
Salah satu fakta unik dari Patung Empat Marga adalah teknik pencahayaannya saat malam hari. Lampu sorot yang ditempatkan secara strategis menciptakan efek bayangan yang membuat ekspresi wajah pada relief tampak lebih hidup dan dramatis. Hal ini menjadikannya salah satu objek fotografi paling populer di Provinsi Lampung.
Sejak berdirinya situs ini, kesadaran pemuda lokal terhadap sejarah marga mereka meningkat signifikan. Kurikulum sekolah lokal seringkali menyertakan kunjungan ke situs ini untuk mempelajari struktur sosial Margo Pak. Patung Empat Marga telah berhasil mengubah persepsi tentang monumen sejarah; ia bukan sekadar benda mati, melainkan sebuah narasi visual yang terus menceritakan kejayaan masa lalu kepada generasi masa depan.
Dengan segala kemegahan dan nilai historis yang dikandungnya, Patung Empat Marga tetap berdiri kokoh sebagai penjaga gerbang peradaban Tulang Bawang Barat, memastikan bahwa identitas empat marga besar Lampung akan terus abadi dalam ingatan zaman.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Tulang Bawang Barat
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Tulang Bawang Barat
Pelajari lebih lanjut tentang Tulang Bawang Barat dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Tulang Bawang Barat