Tulang Bawang Barat

Common
Lampung
Luas
1.272,66 km²
Posisi
tengah
Jumlah Tetangga
7 wilayah
Pesisir
Tidak

Dipublikasikan: Januari 2025

History

#

Sejarah dan Perkembangan Kabupaten Tulang Bawang Barat

Asal-Usul dan Masa Tradisional

Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) berakar pada sejarah besar Kerajaan Tulang Bawang, salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang jejaknya tercatat dalam catatan penjelajah Tiongkok, I-Tsing, pada abad ke-7 dengan nama "To-Lang P'oh-Huang". Secara tradisional, wilayah ini merupakan bagian inti dari adat Megalouw (Empat Marga) yang terdiri dari Marga Buay Bulan, Buay Tegamoan, Buay Suway Umpu, dan Buay Aji. Kehidupan masyarakat masa lalu berpusat di sepanjang aliran sungai (Way) Kiri dan Way Kanan, yang menjadi urat nadi transportasi dan perdagangan komoditas hutan serta lada.

Masa Kolonial dan Perjuangan Kemerdekaan

Pada masa kolonial Belanda, wilayah ini masuk dalam administrasi Onderafdeling Tulang Bawang. Pemerintah kolonial mulai melirik potensi agraris kawasan ini untuk perkebunan skala besar. Memasuki era kemerdekaan, peran tokoh-tokoh lokal dari Lampung Utara dan Tulang Bawang sangat krusial dalam mempertahankan kedaulatan dari agresi militer. Wilayah ini menjadi jalur gerilya bagi para pejuang yang bergerak di pedalaman Lampung untuk menghindari patroli Belanda di jalur pesisir.

Pembentukan Daerah Otonom

Sejarah modern Tulang Bawang Barat sebagai entitas administratif mandiri dimulai dari aspirasi masyarakat untuk mempercepat pembangunan di pedalaman Lampung. Setelah sebelumnya menjadi bagian dari Kabupaten Lampung Utara dan kemudian Kabupaten Tulang Bawang, Tubaba resmi berdiri sebagai kabupaten sendiri berdasarkan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2008. Peresmian ini dilakukan pada 29 Oktober 2008 oleh Menteri Dalam Negeri Mardiyanto, dengan Bachtiar Basri sebagai Penjabat Bupati pertama yang kemudian menjadi tokoh kunci pembangunan fondasi daerah.

Perkembangan Modern dan Arsitektur Ikonik

Memiliki luas wilayah 1.272,66 km² di posisi tengah (jantung) Provinsi Lampung, Tubaba berbatasan dengan tujuh wilayah administratif, termasuk Mesuji, Way Kanan, dan Lampung Tengah. Di bawah kepemimpinan Bupati Umar Ahmad, Tubaba mengalami transformasi budaya dan arsitektur yang unik. Pembangunan tidak hanya fisik, tetapi juga nilai. Berdirinya Kompleks Dunia Akhirat yang mencakup Masjid Baitus Shobur (Masjid 99 Cahaya) dan Balai Adat Sesat Agung menjadi simbol sinkretisme nilai religius dan kearifan lokal. Monumen Megalouw, yang menampilkan relief wajah tokoh-tokoh adat di tebing batu, menjadi pengingat akan silsilah dan kehormatan marga.

Warisan Budaya dan Identitas

Masyarakat Tubaba tetap memegang teguh filosofi Nengah Nyappur (keterbukaan dalam bergaul) dan Piil Pesenggiri (menjaga harga diri dan kehormatan). Meski tidak memiliki wilayah pesisir, kekayaan budayanya tercermin dalam tari-tarian tradisional seperti Tari Sembah dan tradisi lisan Pepadun. Kini, Tubaba bertransformasi dari wilayah transmigrasi dan perkebunan karet menjadi destinasi wisata berbasis arsitektur filosofis, menghubungkan narasi sejarah masa lalu dengan visi masa depan yang berkelanjutan di jantung Lampung.

Geography

#

Profil Geografis Kabupaten Tulang Bawang Barat

Tulang Bawang Barat merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Lampung yang memiliki karakteristik geografis unik sebagai wilayah pedalaman. Secara administratif, kabupaten ini terletak pada posisi koordinat antara 104°55’ – 105°10’ Bujur Timur dan 3°45’ – 4°15’ Lintang Selatan. Dengan luas wilayah mencapai 1.272,66 km², daerah ini sepenuhnya merupakan wilayah daratan (landlocked) dan tidak memiliki garis pantai. Terletak di bagian tengah Provinsi Lampung, Tulang Bawang Barat berbatasan langsung dengan tujuh wilayah administratif, yaitu Kabupaten Mesuji di utara, Kabupaten Tulang Bawang di timur, Kabupaten Lampung Tengah di selatan, serta Kabupaten Lampung Utara dan Way Kanan di sisi barat.

##

Topografi dan bentang Alam

Topografi Tulang Bawang Barat didominasi oleh dataran rendah yang relatif landai dengan ketinggian berkisar antara 11 hingga 90 meter di atas permukaan laut. Meskipun tidak memiliki pegunungan tinggi, relief wilayah ini bervariasi dari datar hingga bergelombang halus. Salah satu fitur geografis yang paling menonjol adalah sistem hidrologinya. Wilayah ini dibelah oleh aliran sungai besar, yakni Way Kanan dan Way Kiri, yang kemudian menyatu membentuk Daerah Aliran Sungai (DAS) Tulang Bawang. Keberadaan sungai-sungai ini menciptakan lembah-lembah sungai yang subur serta daerah rawa lebak yang berfungsi sebagai penampung air alami saat musim penghujan.

##

Iklim dan Variasi Musiman

Kabupaten ini memiliki iklim tropis basah dengan tipe iklim A/B berdasarkan klasifikasi Schmidt-Ferguson. Suhu udara rata-rata berkisar antara 24°C hingga 33°C dengan tingkat kelembapan yang cukup tinggi. Pola curah hujan di Tulang Bawang Barat sangat dipengaruhi oleh angin muson, di mana musim kemarau biasanya terjadi antara bulan Mei hingga September, sementara musim penghujan berlangsung dari Oktober hingga April. Curah hujan tahunan yang tinggi (sekitar 2.000 - 3.000 mm) mendukung sistem irigasi alami bagi ekosistem lahan basah di sepanjang bantaran sungai.

##

Sumber Daya Alam dan Biodiversitas

Kekayaan alam utama Tulang Bawang Barat terletak pada sektor agraris dan perkebunan. Tanah di wilayah ini didominasi oleh jenis tanah podsolik merah kuning yang sangat cocok untuk tanaman industri. Komoditas unggulannya meliputi karet, kelapa sawit, dan tebu. Selain itu, wilayah rawa lebak di daerah hilir sungai menyimpan potensi perikanan air tawar yang melimpah, seperti ikan baung dan belida. Secara ekologis, daerah ini masih memiliki kantong-kantong biodiversitas berupa hutan sekunder dan kawasan konservasi terbatas yang menjadi habitat bagi berbagai jenis burung air dan fauna sungai.

##

Keunikan Geografis: "Kota Budaya di Tengah Perkebunan"

Secara spasial, Tulang Bawang Barat mengembangkan konsep integrasi antara bentang alam agraris dengan arsitektur ikonik. Penempatan bangunan-bangunan monumental seperti Kompleks Dunia Akhirat di atas lahan yang sebelumnya merupakan dataran terbuka menciptakan kontras geografis yang menarik. Posisi sentralnya di Lampung menjadikan wilayah ini sebagai simpul transportasi darat yang menghubungkan jalur lintas timur dan jalur konektivitas menuju wilayah tengah Sumatra, mempertegas statusnya sebagai koridor ekonomi daratan yang strategis.

Culture

#

Kekayaan Budaya Tulang Bawang Barat: Jantung Tradisi Lampung

Tulang Bawang Barat (Tubaba), sebuah kabupaten yang terletak di posisi tengah Provinsi Lampung, merupakan wilayah seluas 1272,66 km² yang menyimpan kedalaman nilai filosofis dan budaya. Meskipun tidak memiliki garis pantai, Tubaba menjadi muara bagi pertemuan sejarah masyarakat asli Lampung, khususnya masyarakat Pepadun, dengan keberagaman masyarakat pendatang.

##

Struktur Sosial dan Adat Istiadat

Masyarakat asli Tubaba didominasi oleh penganut adat Lampung Pepadun yang mengenal sistem keningratan bernama Pepadun. Salah satu tradisi yang paling sakral adalah Begawi, sebuah upacara adat besar yang dilakukan untuk pemberian gelar adat (Adok). Begawi bukan sekadar pesta, melainkan prosesi hukum adat yang melibatkan penyembelihan kerbau dan musyawarah para penyimbang (pemimpin adat). Di daerah ini, terdapat tradisi Cakak Pepadun, yakni prosesi seseorang naik ke kursi kayu ukir (Pepadun) sebagai simbol pencapaian status sosial yang sah dalam tatanan adat.

##

Kesenian dan Arsitektur Ikonik

Dalam bidang seni pertunjukan, Tari Ngediyo dan Tari Sigeh Penguten sering dipentaskan untuk menyambut tamu agung. Musik tradisional didominasi oleh dentuman Talo Balak, set gong besar yang mengiringi setiap upacara adat. Uniknya, Tubaba kini dikenal berkat revolusi arsitektur budayanya. Kehadiran Selasar Kompleks Dunia Akhirat yang mencakup Masjid Baitul Shobur dan Balai Adat Sesat Agung Bumi Gayo menjadi manifestasi modern dari nilai-nilai lokal. Sesat Agung ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat pertemuan, tetapi juga simbol persatuan sembilan marga melalui ornamen atapnya yang khas.

##

Tekstil dan Pakaian Tradisional

Kain Tapis tetap menjadi mahkota budaya tekstil di Tubaba. Tapis yang dihasilkan di wilayah ini sering kali menggunakan motif flora dan fauna yang ditenun dengan benang emas di atas kain tenun manual. Dalam upacara adat, kaum pria mengenakan Kopiah Tapis dan kain sarung Tumpal, sementara kaum wanita mengenakan Siger (mahkota logam berwarna emas) dengan sembilan lekukan yang melambangkan kehormatan dan keagungan perempuan Lampung.

##

Kuliner dan Cita Rasa Lokal

Kuliner Tubaba identik dengan olahan sungai dan fermentasi. Seruit adalah hidangan wajib yang terdiri dari ikan bakar (seperti ikan baung atau belida) yang dicampur dengan sambal terasi, tempoyak (durian fermentasi), dan berbagai lalapan segar. Selain itu, terdapat Gabing, kuliner unik berbahan dasar batang kelapa muda yang dimasak kuah santan, memberikan tekstur renyah dan rasa manis alami yang jarang ditemukan di daerah lain.

##

Bahasa dan Kepercayaan

Bahasa yang digunakan adalah dialek Lampung Api atau dialek "O" dan "A" tergantung pada garis keturunan marganya. Ungkapan "Nemu Nyimah" (sikap murah hati dan terbuka kepada tamu) menjadi landasan etis masyarakat setempat. Secara religius, mayoritas penduduk beragama Islam, namun praktik keagamaan di sini sangat kental dengan sinkretisme budaya, di mana nilai-nilai religius berpadu harmonis dengan hukum adat dalam setiap festival budaya tahunan, seperti Festival Tubaba yang merayakan kreativitas seni kontemporer di atas pondasi tradisi.

Tourism

#

Menjelajah Tulang Bawang Barat: Permata Arsitektur di Jantung Lampung

Tulang Bawang Barat (Tubaba) merupakan kabupaten unik di Provinsi Lampung yang bertransformasi dari wilayah agraris menjadi destinasi wisata berbasis filosofi dan desain arsitektur kontemporer. Dengan luas wilayah 1.272,66 km², kabupaten yang terletak di bagian tengah Lampung ini menawarkan pengalaman wisata yang jauh dari kesan konvensional. Meski tidak memiliki garis pantai, Tubaba menyulap lanskap daratannya menjadi galeri seni raksasa yang menyatu dengan alam.

##

Destinasi Arsitektur dan Budaya yang Ikonik

Daya tarik utama Tubaba terletak pada kompleksitas desain bangunannya. Masjid Agung Baitul Shobur atau yang dikenal sebagai "Masjid 99 Cahaya" berdiri megah tanpa kubah, mengusung arsitektur vertikal yang sarat makna spiritual. Di sebelahnya, terdapat Sessat Agung, sebuah balai adat modern yang menjadi pusat kegiatan budaya dan seni. Kedua bangunan ini berdiri di atas air, menciptakan refleksi visual yang memukau bagi pecinta fotografi.

Beranjak ke sisi lain, Anda akan menemukan Patung Megalith Relief Empat Marga. Relief raksasa yang dipahat di tebing batu ini menggambarkan empat tokoh adat Lampung, menjadi simbol penghormatan terhadap leluhur. Selain itu, Uluan Nughik menyuguhkan konsep permukiman berbasis budaya dengan rumah-rumah kayu tradisional yang asri, menggambarkan harmonisasi antara manusia dan ekosistem hutan kota.

##

Petualangan Alam dan Ruang Terbuka Hijau

Bagi pencinta aktivitas luar ruangan, Taman Kura-Kura (Tortoise Park) menawarkan ruang terbuka hijau yang edukatif dengan koleksi kura-kura dari berbagai daerah. Anda juga bisa mengeksplorasi Las Sengok, sebuah kawasan hutan lindung yang kini dikembangkan sebagai destinasi ekowisata. Di sini, pengunjung dapat menikmati udara segar sambil mempelajari vegetasi lokal dalam suasana yang tenang dan rimbun, jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.

##

Pengalaman Kuliner Khas

Perjalanan ke Tubaba belum lengkap tanpa mencicipi kuliner khasnya. Anda wajib mencoba Seruit, hidangan ikan bakar khas Lampung yang disajikan dengan sambal terasi, tempoyak (durian fermentasi), dan aneka lalapan segar. Selain itu, Pindang Baung dengan kuah kuning yang asam pedas menjadi favorit wisatawan yang berkunjung ke kawasan ini. Untuk buah tangan, kopi robusta Lampung dan keripik pisang dengan berbagai varian rasa tetap menjadi primadona.

##

Keramahtamahan dan Akomodasi

Masyarakat Tubaba dikenal dengan filosofi "Nengah Nyappur", yaitu keterbukaan dalam bergaul dan keramahan terhadap pendatang. Untuk akomodasi, tersedia berbagai pilihan mulai dari hotel melati hingga homestay di desa wisata yang menawarkan pengalaman menginap lebih otentik.

##

Waktu Kunjungan Terbaik

Waktu terbaik untuk mengunjungi Tubaba adalah saat musim kemarau antara bulan Mei hingga September, agar Anda dapat mengeksplorasi situs-situs luar ruangan dengan nyaman. Selain itu, datanglah saat pelaksanaan Tubaba Art Festival untuk menyaksikan kolaborasi seniman lokal dan mancanegara yang menampilkan pertunjukan teater, musik, dan tari di tengah arsitektur ikonik kabupaten ini.

Economy

#

Profil Ekonomi Kabupaten Tulang Bawang Barat

Tulang Bawang Barat (Tubaba) merupakan daerah otonom di Provinsi Lampung yang memiliki karakteristik ekonomi daratan yang kuat. Dengan luas wilayah 1.272,66 km², kabupaten ini terletak di posisi tengah (central) yang strategis, berbatasan langsung dengan tujuh wilayah administratif, termasuk Lampung Tengah, Mesuji, dan Tulang Bawang. Sebagai wilayah landlocked yang tidak memiliki garis pantai, struktur ekonominya sangat bergantung pada optimalisasi sumber daya agraria dan integrasi logistik regional.

##

Sektor Pertanian dan Perkebunan Unggulan

Sektor pertanian dan perkebunan merupakan tulang punggung utama PDRB Tulang Bawang Barat. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi karet dan kelapa sawit terbesar di Lampung. Komoditas karet menjadi andalan masyarakat lokal, di mana sebagian besar lahan dikelola melalui perkebunan rakyat maupun perusahaan besar. Selain itu, singkong (ubi kayu) menjadi komoditas strategis yang mendukung industri pengolahan tepung tapioka di tingkat lokal. Keberadaan lahan basah di beberapa kecamatan juga mendukung swasembada pangan melalui produksi padi dan jagung.

##

Industrialisasi dan Perusahaan Kunci

Transformasi ekonomi di Tubaba didorong oleh hilirisasi produk pertanian. Kehadiran perusahaan-perusahaan besar seperti PT Sweet Indolampung (SIL) dan PT Indo Lampung Perkasa (ILP) di wilayah sekitar memberikan dampak rembesan (spillover effect) pada penyerapan tenaga kerja lokal dan aktivitas perdagangan. Industri pengolahan karet dan pabrik tapioka tersebar di beberapa titik strategis untuk memangkas biaya logistik hasil panen petani. Hal ini menciptakan tren lapangan kerja yang bergeser dari buruh tani mentah menjadi tenaga operator industri dan teknisi.

##

Kerajinan Tradisional dan Ekonomi Kreatif

Salah satu keunikan ekonomi Tubaba terletak pada pengembangan ekonomi kreatif yang berbasis kearifan lokal. Produk kerajinan anyaman bambu dan kain tenun khas Tubaba mulai menembus pasar nasional. Pemerintah daerah secara spesifik mengembangkan ikon wisata arsitektural seperti Kompleks Dunia Akhir (Masjid As-Sobur dan Sesat Agung) yang kini memicu pertumbuhan sektor jasa, perhotelan, dan UMKM kuliner. Produk lokal seperti olahan ikan sungai (ikan baung dan gabus) dalam bentuk kemplang atau sambal seruit menjadi komoditas oleh-oleh yang menggerakkan ekonomi mikro.

##

Infrastruktur dan Konektivitas Wilayah

Pembangunan Jalan Tol Trans-Sumatera (JTTS) yang melintasi wilayah ini telah mengubah lanskap ekonomi Tubaba secara drastis. Akses pintu tol di KM 184 (Lambu Kibang) dan KM 215 (Way Kenanga) mempercepat mobilisasi barang menuju Pelabuhan Bakauheni maupun ke arah Palembang. Konektivitas ini menurunkan biaya distribusi logistik bagi perusahaan manufaktur dan meningkatkan daya tarik investasi di sektor properti serta pergudangan.

##

Tren Pembangunan Ekonomi

Saat ini, Tulang Bawang Barat sedang bertransisi menuju ekonomi berkelanjutan dengan mengintegrasikan sektor pariwisata budaya dan agribisnis. Meskipun tidak memiliki ekonomi maritim, optimalisasi sungai-sungai besar seperti Way Kiri untuk budidaya perikanan air tawar menjadi alternatif penguatan ketahanan pangan. Dengan stabilitas pertumbuhan ekonomi yang konsisten, Tubaba memposisikan diri sebagai pusat pertumbuhan baru di jantung Provinsi Lampung.

Demographics

#

Demografi Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung

Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) merupakan wilayah daratan di bagian tengah Provinsi Lampung yang memiliki karakteristik demografis unik sebagai hasil dari perpaduan masyarakat adat lokal dan program transmigrasi historis. Dengan luas wilayah 1.272,66 km², kabupaten ini berfungsi sebagai simpul penghubung bagi tujuh wilayah di sekitarnya, menjadikannya titik pertemuan lintas budaya yang dinamis.

Populasi, Kepadatan, dan Distribusi

Hingga data terbaru, jumlah penduduk Tulang Bawang Barat mendekati angka 300.000 jiwa. Kepadatan penduduk rata-rata berkisar di angka 230 jiwa/km². Distribusi penduduk terkonsentrasi di kecamatan-kecamatan yang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi seperti Tulang Bawang Tengah dan Tumijajar. Berbeda dengan wilayah pesisir, pemukiman di Tubaba cenderung mengikuti jalur infrastruktur darat dan sungai-sungai pedalaman yang dahulu menjadi urat nadi transportasi.

Komposisi Etnis dan Keragaman Budaya

Demografi Tubaba adalah potret keberagaman Indonesia. Secara garis besar, penduduk terbagi menjadi dua kelompok utama: masyarakat asli Lampung (khususnya Pepadun) dan masyarakat pendatang (Jawa, Sunda, dan Bali). Keberadaan "Tiyuh" (desa adat) tetap lestari berdampingan dengan unit-unit pemukiman transmigrasi. Harmonisasi ini menciptakan lanskap budaya yang kaya, di mana arsitektur modern berbasis kearifan lokal, seperti yang terlihat di kawasan Islamic Center dan Uluan Nughik, menjadi simbol identitas baru masyarakatnya.

Struktur Usia dan Pendidikan

Struktur kependudukan Tubaba didominasi oleh kelompok usia produktif (15-64 tahun), membentuk piramida penduduk ekspansif yang melebar di bagian tengah. Hal ini menunjukkan potensi bonus demografi yang besar. Dalam sektor pendidikan, angka melek huruf telah mencapai lebih dari 98%. Pemerintah daerah secara progresif meningkatkan akses pendidikan formal dan non-formal melalui program-program inovatif seperti "Tubaba Cerdas" guna menekan angka putus sekolah di wilayah pedesaan.

Urbanisasi dan Pola Migrasi

Meskipun secara administratif merupakan daerah agraris, Tubaba mengalami pola urbanisasi yang unik di mana pusat-pusat kecamatan mulai bertransformasi menjadi area semi-perkotaan. Migrasi masuk kini tidak lagi didorong oleh program pemerintah, melainkan oleh sektor perkebunan karet dan sawit serta pengembangan pariwisata berbasis budaya. Mobilitas penduduk keluar biasanya didorong oleh pencarian pendidikan tinggi ke Bandar Lampung atau Pulau Jawa, namun terdapat tren migrasi kembali (return migration) dari kaum muda yang ingin membangun daerah asalnya melalui sektor kreatif dan pertanian modern.

💡 Fakta Unik

  • 1.Wilayah ini merupakan lokasi penempatan pertama program transmigrasi zaman kolonial Belanda pada tahun 1905, yang awalnya dikenal dengan nama Gedong Tataan.
  • 2.Tradisi lisan masyarakat setempat mengenal legenda Pohon Kepampang, sebuah pohon raksasa yang konon pucuknya dapat menyentuh awan dan menjadi asal-usul penamaan daerah ini.
  • 3.Kabupaten ini secara geografis terletak tepat di jantung Provinsi Lampung dan menjadi satu-satunya wilayah yang berbatasan langsung dengan ibu kota provinsi di sebelah timur serta tujuh kabupaten lainnya.
  • 4.Daerah ini sangat terkenal sebagai pusat penghasil kerajinan tenun Tapis yang khas dan merupakan salah satu lumbung pangan terbesar di Lampung berkat sistem irigasi Way Seputih.

Destinasi di Tulang Bawang Barat

Semua Destinasi

Tempat Lainnya di Lampung

Lokasi Serupa

Panduan Perjalanan Terkait

Memuat panduan terkait...

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Uji Pengetahuanmu!

Apakah kamu bisa menebak Tulang Bawang Barat dari siluet petanya?