Bangunan Ikonik

Bendungan Wonorejo

di Tulungagung, Jawa Timur

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Bendungan Wonorejo: Mahakarya Arsitektur Hidrologi dan Ikon Modernitas Tulungagung

Bendungan Wonorejo bukan sekadar infrastruktur pengairan biasa; ia adalah manifestasi dari keahlian teknik sipil tingkat tinggi dan visi arsitektur lanskap yang menyatu dengan topografi Pegunungan Wilis. Terletak di Desa Wonorejo, Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, bendungan ini memegang predikat sebagai salah satu bendungan urugan batu (rockfill dam) terbesar di Asia Tenggara. Sebagai ikon kebanggaan masyarakat Tulungagung, Wonorejo merepresentasikan harmoni antara fungsi utilitarian dan estetika monumental.

#

Konteks Historis dan Latar Belakang Pembangunan

Pembangunan Bendungan Wonorejo dimulai pada awal dekade 1990-an dan diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada tahun 2001. Secara historis, proyek ini merupakan bagian dari pengembangan wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas. Tujuan utamanya bersifat multifungsi: mulai dari pengendalian banjir yang kerap menghantui wilayah Tulungagung, penyediaan air baku untuk industri dan domestik di Surabaya serta sekitarnya, hingga pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Secara teknis, pembangunan ini melibatkan kolaborasi internasional, termasuk bantuan teknis dari konsultan asal Jepang. Hal ini memberikan sentuhan presisi teknis khas Jepang yang dipadukan dengan pemahaman mendalam terhadap geologi lokal Indonesia. Proyek ini memakan waktu hampir satu dekade, mencerminkan kompleksitas medan dan ketelitian struktural yang dibutuhkan untuk menahan debit air hingga 122 juta meter kubik.

#

Prinsip Desain dan Gaya Arsitektur

Secara arsitektural, Bendungan Wonorejo mengadopsi gaya Industrial-Functionalist yang masif. Desainnya didominasi oleh struktur bendungan tipe urugan batu dengan inti kedap air (central core rockfill dam). Pilihan desain ini bukan tanpa alasan estetika; tekstur batu alam yang menyusun dinding bendungan memberikan kesan organik yang menyatu dengan perbukitan hijau di sekelilingnya.

Berbeda dengan bendungan beton murni yang terkesan kaku, struktur urugan batu Wonorejo memiliki kemiringan (slope) yang landai, menciptakan garis diagonal raksasa yang memecah cakrawala. Mahkota bendungan (crest) membentang sepanjang 545 meter dengan lebar 12 meter, berfungsi sebagai jalur sirkulasi yang menawarkan perspektif linear tak terhingga bagi siapa pun yang berdiri di atasnya.

#

Inovasi Struktural dan Elemen Unik

Salah satu elemen arsitektur paling ikonik dari Wonorejo adalah struktur Spillway atau saluran pelimpah. Desain spillway di sini menggunakan tipe terbuka tanpa pintu (un-gated), yang dirancang untuk mengalirkan kelebihan air secara otomatis saat mencapai elevasi tertentu. Bentuk lengkungan beton pada saluran pelimpah ini menunjukkan keanggunan geometris di tengah kekokohan struktur batu.

Keunikan lainnya terletak pada menara pengambilan air (Intake Tower). Menara ini berdiri tegak di tengah genangan waduk, menampilkan gaya arsitektur menara fungsional dengan sentuhan brutalist minimalis. Jembatan penghubung menuju menara ini memberikan elemen garis horizontal yang kontras dengan permukaan air yang tenang, menciptakan komposisi visual yang dramatis, terutama saat kabut pagi turun menyelimuti waduk.

Kedalaman bendungan yang mencapai 100 meter dari dasar sungai menuntut inovasi dalam sistem instrumentasi pemantauan. Di balik permukaan batu yang terlihat statis, tertanam jaringan sensor piezometer dan inklinometer canggih yang memantau tekanan air pori dan pergeseran struktur secara real-time, menjadikan bendungan ini sebagai "organisme cerdas" dalam konteks teknik sipil.

#

Makna Budaya dan Sosial

Bagi masyarakat Tulungagung, Bendungan Wonorejo telah bergeser maknanya dari sekadar objek infrastruktur menjadi identitas kultural. Bendungan ini sering disebut sebagai "Paru-paru Biru" Tulungagung. Secara sosial, keberadaan bendungan ini menciptakan ruang publik baru yang masif. Arsitektur bendungan yang megah sering kali menjadi latar belakang bagi ekspresi seni lokal, fotografi, hingga kegiatan komunitas.

Secara simbolis, Wonorejo melambangkan kedaulatan air. Di daerah yang dulunya rawan kekeringan dan banjir, kehadiran struktur ini memberikan rasa aman dan kemakmuran bagi para petani di hilir. Struktur ini adalah monumen bagi kerja keras ribuan pekerja dan insinyur yang berhasil menaklukkan tantangan alam demi kemaslahatan publik.

#

Estetika Lanskap dan Pengalaman Pengunjung

Pengalaman ruang di Bendungan Wonorejo dimulai sejak perjalanan mendaki menuju lokasi. Jalan akses yang berkelok-kelok dirancang mengikuti kontur bukit, memberikan sequence pemandangan yang berubah-ubah (cinematic experience). Begitu tiba di puncak bendungan, pengunjung disuguhi pemandangan kontras: di satu sisi terdapat hamparan air waduk yang tenang menyerupai danau alami yang luas, sementara di sisi lain terdapat lembah dalam dengan struktur PLTA dan aliran sungai yang terkendali.

Area di sekitar bendungan telah dikembangkan dengan prinsip arsitektur lanskap yang mendukung pariwisata. Adanya helipad, taman-taman tropis, dan dermaga perahu memberikan variasi skala ruang, dari yang sangat masif (tubuh bendungan) hingga skala manusia (area pejalan kaki). Kehadiran fasilitas "Waduk Wonorejo Resort" di dekat area bendungan juga menunjukkan bagaimana arsitektur infrastruktur dapat berintegrasi dengan arsitektur hospitality.

#

Pemanfaatan Saat Ini dan Keberlanjutan

Saat ini, Bendungan Wonorejo berfungsi sebagai pusat energi melalui PLTA Wonorejo yang menghasilkan daya sekitar 6,02 MW. Secara arsitektural, gedung pembangkit listriknya menampilkan estetika utilitas yang bersih, dengan turbin-turbin besar yang tersusun rapi, mencerminkan efisiensi modern.

Sebagai destinasi wisata, bendungan ini tetap menjadi magnet utama di Jawa Timur. Pengelolaannya terus memperhatikan aspek konservasi lingkungan. Penanaman pohon di sabuk hijau (green belt) waduk merupakan bagian dari desain ekosistem jangka panjang untuk mencegah sedimentasi yang dapat mengancam integritas struktur bendungan.

#

Kesimpulan

Bendungan Wonorejo adalah bukti nyata bahwa arsitektur skala besar tidak harus merusak alam, melainkan bisa melengkapinya. Melalui kombinasi antara kekuatan teknik urugan batu, elegansi saluran pelimpah beton, dan integrasi lanskap yang apik, Wonorejo berdiri tegak sebagai ikon arsitektur Tulungagung. Ia adalah monumen yang berbicara tentang peradaban manusia yang belajar untuk mengelola anugerah air dengan bijak, menciptakan harmoni antara kebutuhan fungsional, keamanan struktural, dan keindahan visual yang abadi.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Desa Wonorejo, Kecamatan Pagerwojo, Tulungagung
entrance fee
Rp 10.000 per orang
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Tulungagung

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Tulungagung

Pelajari lebih lanjut tentang Tulungagung dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Tulungagung